
Bunda memperhatikan sosok Arga yang diam membisu duduk di serambi depan. Ditemani Indra, Arga hanya menatap kosong ke arah keluar gerbang. Berharap seseorang yang sangat ia rindukan mendorong pintu gerbang tersebut dan masuk menemukannya disini.
Nggak nyangka....
Dia anak Bima.
Dunia ini kecil ya....
Sekian lama mengenalnya sebagai pacar Qirani, ternyata dia anak seseorang yang pernah menjadi pujaan hatiku.
" Sudah malam... kalian nggak pulang ? "
Tanya Bunda akhirnya setelah untuk beberapa saat saling diam tak bersuara.
" Ga, ayo kita pulang... "
Kata Indra seraya kakinya menyenggol kaki Arga yang berada di bawah meja.
" Satu jam lagi, siapa tau dia pulang... "
Sahut Arga dengan tatapan kosongnya.
" Sadarlah ! Dari sore kita disini, ini udah jam sembilan malam... Jangan ngigau ! "
Ujar Indra mencoba menyadarkan Arga.
Bunda ikut merasa sedih melihat kondisi Arga. Tapi ada rasa marah juga dalam hatinya, mengingat apa yang telah Arga lakukan sebelumnya pada Qirani.
" Pulanglah... Bunda yakin, malam ini Qirani nggak akan pulang kesini. Tunggulah dirumah, kapanpun Qirani pulang, Bunda akan menelponmu. "
Kata Bunda mencoba ikut membujuk Arga.
" Satu jam lagi, baru saya mau pulang. "
Arga keras kepala, tak mau dibujuk.
" Pulanglah ! Apa masih kurang kamu menyakiti Qirani ?! Kamu merasa bersalah dan menyeret kami semua ikut bersalah bersamamu ?! Bunda pikir sebelumnya, kamu yang akan gantiin Bunda jagain Qirani, tapi apa yang kamu lakukan ?! Kamu menyakitinya, kamu memperkosanya ?!! "
" Dan sekarang, semua harus ikut menanggung rasa bersalahmu !!! Kamu pikir, dengan kamu kayak gini, Qirani masih akan datang padamu dan dengan penuh cinta menerimamu kembali ??? "
" Nggak, Arga ! Itu nggak akan terjadi !!! Bunda kenal Qirani, Bunda tau kayak apa Qirani, Bunda paling paham siapa Qirani !!! "
Bunda berdiri dan mengeluarkan semua isi hatinya.
Indra melongo tak percaya. Bunda yang begitu ramah dan lemah lembut itu bisa jadi seseorang yang begitu berbeda sekarang.
Arga mengangkat wajahnya, menatap mata Bunda yang berapi-api melihat ke arahnya. Apa yang dikatakan Bunda panjang lebar membuatnya semakin merasa bersalah.
" Bunda, kami... "
" Diam, Indra ! Bunda belum selesai bicara. "
" Ma-maaf... "
" Semua hal demi menemukan Qirani sudah kamu lakukan, sudah kamu coba. Tapi apa kamu pernah berpikir, bisa jadi Qirani bukannya hilang, dia cuma pingin pergi darimu ! Menjauh darimu ! Menghindari kamu ! Nggak mau lagi ketemu kamu ! Karena dia sakit hati ! Merasa dikhianati ! Merasa dipermainkan sama kamu !! "
" Jadi kenapa dia harus pulang ? Menemui kamu dan disakiti oleh kamu ? Qirani cuma anak panti asuhan, bukan siapa-siapa, apa harus terus disakiti lagi sama kamu ? Dia udah hancur, Arga. Nggak ada lagi alasan buat dia pulang. Disini bukan keluarga kandungnya, kamu juga bukan suaminya. Jadi kenapa dia masih mau pulang kesini dan ketemu kamu ?! "
Bunda terus mengeluarkan uneg-unegnya.
Membuat Arga semakin merasa terpuruk dan menyadari sikapnya yang salah kepada Qirani selama ini.
Arga mengingat kejadian malam itu. Menyadari betapa kejamnya dia saat menyeret Qirani masuk ke kamar hotel. Dan melihat betapa berontaknya Qirani saat ia melakukan sesuatu yang bukan sepantasnya.
Indra yang mendengar semua perkataan Bunda, merasakan betapa pedihnya hidup Qirani.
Semua itu benar...
Apa alasannya Qirani mau pulang dan ketemu Arga ?
__ADS_1
Dia beda dengan cewek-cewek biasa.
Qirani lebih sensitif, lebih rapuh...
Nggak pernah sekalipun bilang nggak pada Arga, apapun yang Arga lakuin ke dia.
Qirani itu sangat polos...
Cewek seusia dia yang udah kenal yang nggak-nggak, Qirani malah lebih ke cupu, nggak ngerti yang aneh-aneh...
Dan Arga ngelakuin sesuatu yang di luar batas !
Itu sama saja bikin cewek serapuh Qirani hancur !
" Maaf... Hikss... Maaf... "
Arga terisak perlahan. Terdengar menyedihkan. Apalagi saat dia tiba-tiba merosot dari duduknya dan bersimpuh di lantai. Membekap wajahnya dengan kedua tangannya.
Bunda merasa tersentuh melihat Arga yang begitu terpuruk dalam kesedihannya. Masih banyak yang ingin Bunda ungkapkan, tapi dibatalkannya melihat kondisi Arga tersebut.
" Pulanglah... Jangan terus menyiksa diri sendiri. Pikirkanlah sekitarmu, keluargamu, sahabat-sahabatmu. Mereka masih peduli dan kuatir padamu. Hiduplah lebih baik... Bunda yakin, dimanapun Qirani berada sekarang, dia juga akan belajar hidup lebih baik lagi. "
Ya, Qirani pasti akan hidup dengan lebih baik lagi bersama keluarga sesungguhnya.
Sambung Bunda dalam hati.
" Iya, Ga... Betul kata Bunda... "
Sambung Indra yang memeluk bahu sahabatnya, ingin berbagi beban dengannya.
" Jika kamu bisa hidup lebih baik dari sekarang, dan Qirani emang jodohmu, kalian pasti akan dipertemukan lagi, entah bagaimana caranya. Begitu ketemu lagi, bukankah lebih baik pada saat kamu berada pada kehidupanmu yang mapan dan bisa membuat Qirani bahagia ? "
" Nggak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan... Paling nggak, perbaikilah semua kesalahanmu, kekuranganmu... "
Kembali Bunda menasehati Arga dengan penuh kebijaksanaan.
" Ayo, kita pulang... "
" Bun... kami pamit dulu. "
Kata Indra sambil menganggukkan kepalanya dan tetap memapah Arga berjalan.
" Ya, hati-hati... Suruh dia istirahat dan makan dengan baik. "
Pesan Bunda.
" Ya, Bun... "
Jawab Indra.
Dan dengan sabar, Indra membawa Arga melangkah keluar melewati pintu gerbang.
Bunda menggelengkan kepalanya, menghela nafas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan.
Sikapnya yang kayak gini bikin aku inget sama ayahnya.
Bima...
HOTEL X
Qirani memeriksa semua berkas-berkas yang ada dihadapannya. Dilihatnya dengan teliti satu persatu. Kemudian ditatapnya beberapa foto bayi yang ada di atas meja.
Kepalanya masih berdengung dan terasa nyeri saat ia melihat foto-foto tersebut. Tapi ia tak mempedulikan rasa nyerinya. Ia masih terus menatap satu persatu bergantian apa yang ada di hadapannya.
Ini akta lahirku... Divya Naura.
Foto-foto bayi Divya yang diberikan Bu Citra persis sama dengan foto bayi yang didapat Bu Citra dari panti asuhan tempatku dibesarkan dengan nama Qirani Asha.
Kepalaku nyeri tapi nggak ada satu memoripun yang terlintas dengan melihat ini semua...
__ADS_1
Apa ingatan ku benar-benar menghilang dan tak kembali lagi ?
Surat-surat ini... berkas dataku dari TK hingga lulus SMU dengan nama Qirani Asha.
Jadi aku baru lulus kemarin ini...
Cerita Bu Citra yang didapat dari Bunda di panti asuhan, aku hilang selama dua minggu setelah kelulusan.
Dan ternyata aku kecelakaan dan amnesia sampai hari ini, kata kak Adit.
Dan... yang paling menyakitkan, aku korban pemerkosaan ?!
Pacarku sendiri yang memperkosaku ?
Apa mungkin seperti itu ?
Apa bisa pacar sendiri memperkosa ?
Apa yang terjadi emangnya ?
Tapi Bundalah yang menceritakannya kepada Bu Citra.
Bunda ini... dia nggak mungkin berbohong kan ?
Bunda... Bunda...
" Aduh... "
" Ada apa sayang ? Kamu... apa yang sakit ? Kepalamu sakit lagi ? "
Bu Citra tampak cemas melihat Qirani tiba-tiba meringis kesakitan dan memegangi kepalanya.
Qirani merasakan kepalanya makin terasa nyeri dan bagaikan ditusuk-tusuk. Ia terus memegangi kepalanya dan ada sekilas kisah yang muncul mendadak hanya dalam sekian detik.
Itu... siapa ?
Aku memanggil nya Bunda, tapi wajahnya nggak jelas...
Apa itukan Bunda yang disebut Bu Citra ?
Panti Asuhan... Mentari ?
Dalam sepotong ingatan yang mendadak muncul, Qirani melihat dengan jelas sebuah papan nama berwarna putih yang terpampang di depan sebuah rumah besar dengan gerbang berwarna coklat.
" Sayang... kamu nggak papa ? "
Suara Bu Citra membuat Qirani kembali dari bayang-bayang ingatan lamanya.
Qirani menurunkan kedua tangan dari kepalanya. Rasa nyeri yang sangat menusuk itu telah hilang. Namun, nafasnya terengah-engah seperti seseorang yang baru saja berlari jauh.
Bu Citra memperhatikan Qirani semakin khawatir.
" Ja-jadi... saya, saya... "
Qirani tak bisa melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya tercekat. Matanya mulai berkaca-kaca menatap Bu Citra. Bu Citra mengambil tangannya, menggenggam jari jemarinya begitu erat.
" Iya, nak... Kamu ternyata anak ku, anak ku yang hilang waktu itu. Allah sangat adil, maha besar... Aku terus mencari mu, sampai akhirnya aku menyerah, sepuluh tahun lalu, aku menyerah... Maafin aku, harusnya aku nggak boleh menyerah mencarimu. Jadi kamu nggak akan mengalami kejadian yang menyakitkan itu... Maaf... Maaf... "
Kata Bu Citra setengah terisak.
Qirani beranjak bangun dari sofa dan memeluk Bu Citra dan menangis di bahunya.
Bu Citra membelai rambut Qirani, membalas pelukan Qirani dengan penuh kasih sayang.
" Panggil aku, mama... Panggil mama... "
Kata Bu Citra dengan suara terisak.
Qirani menganggukkan kepala berkali-kali dan kali ini, airmatanya tumpah. Membasahi pipinya hingga ke bahu Bu Citra.
__ADS_1
" Mama.... Mama.... "
Isak Qirani bahagia.