
Arga mendadak merasa bersalah. Sangat bersalah. Ingatan tentang semalam kembali menari di benaknya.
Sahabatnya yang habis-habisan menghajar Galih, jerit tangis Qirani, sampai di mana Qirani jatuh pingsan di tempat tidurnya. Semua kembali berputar-putar di benak Arga.
" Kak... kakak.... "
Ketukan di jendela mobil dan suara panggilan membuatnya kembali sadar. Dilihat Qirani tepat di samping mobilnya dengan seorang wanita paruh baya.
" Ya... ? "
Kata Arga, setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.
" Ini bundaku, bunda pingin berterimakasih... "
Qirani memperkenalkan sosok wanita di sampingnya.
Arga segera membuka pintu mobilnya dan berusaha sesopan mungkin mengulurkan tangannya dengan kepala setengah menunduk.
" Maaf... Saya Arga. Mm, teman Qirani, Bu... "
Bu Rima menyambut uluran tangan Arga dengan senyum yang mengembang. Arga merasakan kehangatan dari jabatan tangan Bu Rima.
" Saya Bu Rima. Terimakasih ya nak, sudah nganterin Qirani pulang. Mau masuk ke dalam ? "
Dengan ramahnya Bu Rima menawarkan Arga untuk singgah.
Arga merasa tak enak hati untuk menolak. Iapun tersenyum dengan sopan.
" Ya, Bu.. Terimakasih... "
" Mari, masuk... "
Segera Arga mengunci mobilnya dan mengikuti Bu Rima melangkah masuk.
Halaman panti asuhan itu tampak sejuk dan asri. Banyak bunga dan tumbuhan yang menghiasi halaman tersebut dan semuanya tertata dengan rapi. Tanda bahwa ada yang selalu bertanggungjawab atas hal itu.
Tepat di sebuah pintu besar dengan dua daun pintu, Bu Rima membuka pintu tersebut. Dan beberapa anak kecil langsung berhamburan menghampiri Qirani dan Bu Rima.
" Qiran, ajak teman mu cari tempat duduk ya, bunda bikinin minum dulu. "
Kata Bu Rima diikuti anggukan Qirani.
Arga masih terus di sisi kanan Qirani dengan rasa bersalahnya. Qirani menunjuk ke bangku panjang di dekat mereka. Arga pun memilih duduk disudut bangku tersebut. Dan Qirani di sisi sebaliknya.
Iihh, duduknya jauh amat...
Biar deket juga nggak mungkin kan aku aneh-aneh...
Takut amat sih...
" Kakak, kok baru pulang ? "
" Kakak bohong... "
" Iya, kakak bohong ih... Kan udah janji pagi ini mau temenin aku beli buku. "
" Peer matematikaku belum selesai juga, kak... Kakak bilangnya mau bantuin... "
" Kakak juga janji mau ngajarin aku bikin bolu... "
" Kakak, seragam aku sobek. "
" Kakak... "
" Kakak... "
Beberapa anak-anak datang menyerbu ke arah Qirani.
" Maaf, kakak nginep di rumah teman, semalem mau pulang, eh udah kemaleman... Sudah, sudah, jangan pada merajuka, ah ! Ini ada banyak ayam, makan rame-rame yaa... "
Kata Qirani memberi alasan sembari melirik ke arah Arga.
Mendapati dirinya dilirik dengan sengit, Arga semakin merasa bersalah. Teramat sangat bersalah, saat mendengar ucapan Qirani.
Ingin rasanya Arga bangun dari duduknya dan segera memutar tubuh untuk pergi. Tak sanggup melihat apa yang terjadi, mengingat apa yang telah dilakukannya pada Qirani.
" Kak, ini adik-adikku... "
Kata Qirani dengan tersenyum.
Makin manis kalo dia tersenyum...
Sayang, senyumnya nggak tulus.
Kata Arga dalam hati.
" Ya, salam kenal... "
Kata Arga sambil melambaikan tangannya kepada anak-anak kecil yang disebut sebagai adik-adik oleh Qirani.
__ADS_1
Tapi sambutan anak-anak itu di luar dugaan. Nggak ada yang tersenyum pada Arga. Malah serempak memasang tampang tak suka ke arahnya.
" Kakak tinggi, kamu mau ambil kak Qiran ya dari aku ? "
" Eh, bu-bukan.... "
" Kalo aku udah gede nanti, kak Qiran itu akan jadi istriku, tau ! "
" Hah, a-apa ?? "
" Ditto.... Kamu ini... "
Qirani tersenyum geli mendengar ucapan Ditto dan melihat Arga yang terkejut dengan Ditto.
" Nggak koq, tenang aja. Aku nggak akan ngrebut kak Qirani mu. Hehehe... Tenang saja, ya. Oke ? "
Sahut Arga sembari cengar-cengir.
" Kakak boleh sih cakep, ganteng... Tapi aku bilangin ya, kak Qiran itu nggak suka cowok cakep ! Kata kak Qiran, cowok cakep itu kebanyakan punya banyak pacar... "
Kata seorang gadis kecil dengan judesnya.
" Sasa, ssstt !... "
Qirani langsung membekap mulut gadis kecil yang baru saja mendekati Arga.
" Ayo, belajar lagi.... "
Kata Qirani sembari mendorong Sasa ke arah meja belajarnya.
Arga hanya bisa tersenyum kecut.
" Kakak suka sama kak Qiran ? Jangan harap ya, kak Qiran udah punya Mas Galih !! "
" Luki... "
Kali ini seorang anak remaja yang berkata pedas kepada Arga.
" Luki, kamu udah selesai masak nasi ? "
Tegur Bu Rima dengan membawa segelas teh hangat di nampan.
Luki pun segera menyingkir dari hadapan Arga dan Qirani. Arga kembali tersenyum. Tentu saja senyum yang kecut. Sementara Luki dan beberapa anak yang lain menatap Arga dengan tatapan kesal.
" Kak Qiran kemajuan yaa... Udah bisa punya pacar dua, kereenn.... "
Wajah Qirani langsung memerah. Bu Rima langsung mencubit lengan gadis remaja tersebut.
" Aduuhh, bundaaa.... Sakit ! "
" Kamu itu kalo ngomong sembarangan. Mana ada kakakmu punya pacar dua ?! Kamu itu yang punya pacar banyak... "
Tegur Bu Rima kepada gadis itu.
" Bunda, Lina cuma bilang gitu doang koq. Tapi kan bener, kak Qiran udah kemajuan lho... Sekarang dia bisa bergaul dengan dua cowok. Sebelumnya, mana ada kak Qiran mau kenal sama cowok ? Pacaran pertamanya juga sama mas Galih baru sebulan ini... Padahal udah mau lulus SMK. Coba bandingin sama temen-temennya, umur segitu udah nggak perawan kali... "
Celoteh Lina panjang lebar, membuat Qirani semakin malu.
Arga melihat bagaimana merahnya muka Qirani. Sejenak keduanya beradu pandang dan Qirani lah yang terlebih dahulu membuang muka ke arah lain.
Ya... ya... ya...
Udah terbukti koq, dia emang masih virgin, sampai sekarang...
Batin Arga.
" Sudah masuk sana ! "
Usir Bu Rima kepada Lina.
" Hai, kakak ganteng... Kalo kak Qiran nggak mau dicium, paksa aja ! Sebagai adik, aku takut, dia jadi perawan tua, hehehe... "
" Lina .... "
Qirani berkata dengan nada lirih tapi menahan kesal.
" Kakakku ini cantik dan lugu, nggak bisa pacaran, hehehe... "
Sambung Lina sambil mengencangkan pelukannya di bahu Qirani.
Arga semakin salah tingkah mendapatkan sebuah dukungan dari Lina. Iapun mengangguk perlahan sembari tersenyum.
" Tahun ini, kalo kakak bisa pacaran lebih dari dua orang cowoknya, aku kasih kado deh ntar di lulusan kamu... "
" Lina ! "
Jerit Qirani yang langsung bangkit berdiri berniat mengejar Lina yang lebih dulu kabur.
Alhasil, Qirani dan Lina langsung berkejaran makin masuk ke dalam rumah. Tak lama terdengar tertawa lebar Lina diselingi suaranya yang mengaduh.
__ADS_1
" Maaf ya, main malah mendengar yang nggak-nggak. "
" Ya, bu... Nggak papa. "
" Silahkan diminum... "
" Ya, bu... Makasih. "
Kemudian Arga pun menyeruput minuman yang telah disuguhkan untuknya.
" Sepertinya Arga ini lebih dewasa ya... umurnya... "
" Ah iya, saya 23 tahun Bu... "
" Oh, kerja ? "
" Uhhuukk !! "
Pertanyaan pendek dari Bu Rima membuat Arga tersedak.
Segera ia mengambil minumannya dan meminumnya lagi hingga habis.
Kenapa sih kalo orang kalo udah tau berapa umurku pasti nanyain kerja apa belumnya ?
Ya sih, aku emang udah waktunya kerja, papa aja setiap ketemu selalu teriak buat buruan kelarin kuliah terus kerja di perusahaan papa.
" Masih kuliah, Bu... semester akhir, jurusan arsitek... "
" Oh, calon insinyur ya... "
" Ah, iya... "
" Qiran sebenarnya juga pingin kuliah, tapi dia anak baik yang penurut. Kondisi panti ini memang tak stabil soal keuangan, jadi Qiran paham harus menahan diri untuk kuliah... "
Ya, dia bilang dia pingin kerja buat bantu bundanya...
Batin Arga mengingat obrolannya dengan Qirani tadi di restoran cepat saji.
" Sudah kenal lama sama Qiran ? "
Pertanyaan menjebak...
Kalo aku bilang sudah lama kenal, pasti nggak akan percaya, secara dari cerita cewek yang tadi, Qirani nggak pernah mau kenal cowok...
Tapi kalo bilang baru kenal, pasti nanti Qirani bakal dicecar sama bundanya ini...
" Saya cuma teman kampus dari Galih, Bu... Tadi sore saya ditelepon Galih, dia minta tolong saya buat nganter Qirani pulang. Galihnya kecelakaan semalam. Kayaknya Qirani nginep di rumah sakit nemenin Galih, Bu... Makanya baru bisa pulang sekarang. Jadi saya sebenarnya nggak kenal Qirani. "
Yess, lancar biarpun ngebohong !
Semoga nggak jadi masalah buat Qirani.
" Oh gitu... "
" Iya... "
" Galihnya masih di rumah sakit ? "
" Masih Bu, parah dia... "
Gimana nggak parah, orang mukanya sampai bonyok gitu...
Indra kan gila !
Doyan sama darah...
Kalo mukul orang belum sampai pingsan, terus aja...
Sambung Arga dalam hati.
" Oh, kasihan ya... Qiran pasti sedih. Galih kan cowok pertama yang dia suka. "
Bukan sedih lagi, Bu...
Nangis sampai jejeritan malah...
Cewek itu umur 18 tahun baru mau suka sama cowok ?
Hidupnya pasti monoton banget.
Nggak seru ih...
Mending cowoknya cakep, biasa doang...
Jauh banget dari aku lah !!!
Tapi, dia ketakutan kalo sama aku ?
Emang cewek bodoh !
__ADS_1