
" Kamu siap ? "
Tanya Aditya kepada Qirani.
Qirani menganggukkan kepalanya, dan menunjuk ke tiga koper besar di sebelahnya.
" Baiklah, itu akan dibawa Steve nanti. Mama ? "
Kata Aditya sambil melihat ke kanan dan kiri.
" Ada bersama Steve, sedang di resepsionis tadi. "
Jawab Qirani sambil menunjuk ke arah pintu utama hotel.
" Oh, check out... Sini, aku rapihin penampilanmu dulu. "
Sahut Aditya dengan akrab.
Qirani melangkah mendekat ke arah Aditya. Dan seperti kata Aditya, dia pun merapikan rambut Qirani yang tampak beberapa helai menyembul keluar dari dalam topi pantainya.
" Orang terdekatmu pun nggak akan mengenalimu meskipun kalian berpapasan. Wajah kecilmu hampir tertutup dengan topi dan kacamata ini... "
Komentar Aditya.
" Iya... "
" Wah, aku bener-bener surprise tahun ini datang ke sini lagi. Urusan mama beres, dan aku punya satu adik cantik pula... "
Kata Aditya dengan senyum sumringah.
" Kak Adit bisa aja... "
Sahut Qirani juga tersenyum.
" Kak Adit ?... Mmm, itu bagus juga kedengaran nya. Hehehe... Aku seorang kakak sekarang. Jadi tenang saja adik cantikku, selama ada kakak disisimu, kamu nggak akan disakiti siapapun lagi ! "
Kata Aditya dengan bangga.
Qirani menanggapinya dengan tawa kecilnya. Ada rasa bahagia, saat dirinya kehilangan ingatan saat ini. Meski tak ingat apapun tentang sebelumnya, tapi kini ia mendapatkan keluarga yang sebenarnya.
" Apa ini... Kalian berbahagia tanpa mama ? Mama cemburu lho... "
Tiba-tiba Bu Citra muncul dan berada di antara mereka bersama Steve.
" Mana mungkin kita bahagia tanpa mama, justru mamalah alasan utama kita bisa sebahagia begini... Betul kan, Qiran ? "
Sahut Aditya sambil mengecup kening ibunya.
" Saat ini, panggil dia, Divy, Adit..... Namanya Divya Naura. "
Kata Bu Citra dengan nada serius.
" Mm, Divya... Baiklah, itu juga bagus. Jadi, semua... Siap ? Kita pulang pagi ini ! "
Sahut Aditya dan dengan jentikan jarinya, memberi tanda pada Steve.
Steve paham dengan tanda dari Aditya, dan dengan tersenyum segera mengangkat koper-koper di sebelah Qirani, memasukkannya ke dalam bagasi mobil bandara yang telah siap.
__ADS_1
Qirani mengambil tas kulit milik ibunya yang berada di pangkuan, dan Aditya menggendong sang ibu ke dalam mobil. Kemudian dengan cekatan, Qirani melipat kursi roda ibunya. Memberikannya kepada Steve untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil bandara.
Setelah semuanya siap dan masuk ke dalam mobil, sang sopir pun mulai mengemudi menuju bandara.
" Rumah kita di Inggri, nggak begitu besar, tapi mama yakin, kamu akan menyukainya. Kata Bundamu di panti asuhan, kamu paling suka menanam, di belakang rumah kita, kamu boleh menanam apa saja. "
" Pasti menyenangkan ya, ma... Tinggal di luar negri. "
" Divya... Tinggal di luar negri ataupun di Indonesia, sama saja rasanya. Bukan tempatnya yang membuat kita nyaman dan bahagia, tapi bersama siapa kita tinggal. Kali ini, akan jadi awal kebahagiaan mama yang terbesar, karena kamu ada disisi mama sekarang. Ada kamu, ada Adit, apalagi yang mama inginkan ?... Ini puncak kebahagiaan mama. "
Kata Bu Citra penuh dengan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya.
Aditya memeluk pinggang Bu Citra, dan berkali-kali mencium pipi sang ibu. Qirani mengambil jari jemari Bu Citra dan menciumnya dengan lembut dan hangat.
" Terimakasih mama... Divy emang amnesia, tapi Divy sangat bahagia dan bersyukur Allah mempertemukan kita kembali. "
" Ya, kamu benar... Sangat benar. Kita harus bersyukur pada-Nya. "
" Satu lagi... Aku akan mengajarimu menjadi cewek yang kuat, dan bisa berantem. Di Inggris, aku punya guru beladiri, kamu bisa belajar dengan guruku nanti. Jadi kamu bisa jaga dirimu dan menghajar siapa saja yang berani kurang ajar padamu. "
" Adit, adikmu ini mau kamu jadiin tukang pukul, hah ? "
" Ah, mama... Ini demi Divya juga. Kalo denger cerita dari Bundanya, Divya ini lemah dan penakut... Lihat, dia bahkan diper... "
" Adit... "
Bunda Citra langsung memotong ucapan Aditya, khawatir Divya akan merasa sedih.
" Nggak papa, ma... Kak Adit benar, Divya harus belajar kuat sekarang. "
" Betul, kamu harus kuat ! "
" Iya, aku harus kuat ! "
Kata Qirani bersemangat pula.
" Nanti kamu harus kuliah ya, kamu pikirkan, pingin ambil jurusan apa, mama akan dukung pilihanmu. "
" Iya, ma... "
" Kamu juga harus belajar tentang perusahaan kita. Mama memiliki perusahaan di bidang perhotelan dan restoran di Inggris. Dan satu bulan ini, di Indonesia, mama membeli beberapa hotel yang bangkrut dan menjadikannya cabang perusahaan mama. Adit lah yang mengurus berkas-berkasnya. Mama pingin, nantinya kamu bisa bantu mama juga kayak kakakmu ini. Semua yang mama miliki sekarang dan di masa depan, itu buat kamu dan Adit. "
Bu Citra pun menjelaskan panjang lebar tentang perusahaannya.
Jadi mama itu orang kaya raya ya...
Tapi kenapa menginap di hotel bagus cuma kamar yang ditempatinya kamar biasa, bukan kelas satu, atau VIP atau VVIP... ?
Apa agar mereka tak mencolok ?
Bukankah orang kaya selalu tampil mencolok ?
Apa mama orangnya nggak suka mencolok, tapi sederhana saja ?
"... itulah kenapa kamu harus... mmm, Div... Divya... Sayang ? Kamu melamun ? "
Bu Citra menyenggol tangan Qirani setelah mendapati Qirani yang tengah bengong dengan tatapannya yang kosong.
__ADS_1
" Ah, i-iya ma .... "
Jawab Qirani setengah terkejut.
" Kamu ini... malah melamun. "
" Nggak koq, Divy cuma penasaran... "
Sahut Qirani jujur.
" Penasaran ? Tentang apa ? "
Bu Citra bertanya dengan nada menyelidik.
" Mm... itu... "
" Bilang saja apa yang bikin kamu penasaran. Jangan dipendam dalam hati. "
Kata Bu Citra dengan bijaksana kali ini.
" Itu... dari cerita mama, Divy pikir, mama itu orang kaya. Lalu hotel yang mama tempati, itu hotel bagus kan ? Tapi mama pilih kamar yang biasa, bukan kelas satu atau... "
" Oohh.. soal itu. Kamu mau tau kenapa ? Karena tujuan mama nginep di hotel itu dengan tak memilih kamar kelas utama atau VIP atau apalah ya... Agar Adit dan mama bebas keluar masuk tanpa mencolok. Jujur aja, hotel itu juga ada sejarahnya buat mama dan almarhum papamu. Hotel itu menyediakan sepuluh kamar kelas satu atau utama di lantai sepuluh, tujuh kamar kelas VIP di lantai sebelas, dan lima kamar VVIP di lantai dua belas. Kamar di lantai dua belas, itu kamar khusus yang cuma member utamalah yang memilikinya. Jadi nggak bisa disewa lagi. Member utama ini adalah para pemilik saham terbesar di perusahaan X. Yang salah satu pemiliknya adalah orang yang... "
Bu Citra tidak melanjutkan kalimat terakhirnya.
Tapi Qirani mengetahui kelanjutan kalimat Bu Citra dan ia melempar senyum simpulnya.
" Qirani akan belajar menerima kenyataan, ma. Nggak papa ma... "
" Ya, mama yakin kamu pasti bisa mengatasinya. Tenang saja, saat waktunya tiba nanti, kita akan kembali ke Indonesia dan membuat orang kurang ajar itu menerima pembalasan mu berkali-kali lipat. Mama pastikan itu ! "
" Iya, Div... Kakak juga akan bantu kamu balas dendam sama orang brengsek yang menyakitimu itu ! "
Sambung Aditya memandangi Qirani dengan tajam.
Qirani mengangguk dan merasa bersyukur dalam hati. Dia merasa, inilah karunia Tuhan yang paling besar untuknya. Memiliki keluarga baru yang sangat peduli padanya disaat dia kehilangan ingatannya.
" Ada banyak hal yang diurus Adit, yang harus membuat Adit mondar-mandir keluar hotel. Kalo mama memilih menyewa kamar di lantai sepuluh atau lantai sebelas, itu akan menari perhatian sekitar penghuni hotel yang hanya sedikit jumlahnya dan juga pegawai hotel. Beberapa rencana Mama, tidak boleh tercium oleh beberapa orang yang ada hubungannya dengan rencana mama. Jadi mama memilih kamar biasa di lantai tiga dengan banyak penghuni di lantai yang sama, agar nggak menarik perhatian karena kan banyak orang lalu lalang dan berganti-ganti penghuni di kamar yang murah itu kan biasa.... "
Jelas Bu Citra.
" Oh, gitu. Mama nggak ingin menarik perhatian orang karena harus bolak-balik keluar hotel mengurus sesuatu. "
" Betul... "
" Kalo Qirani boleh tau, apa rencana mama yang nggak boleh menarik perhatian itu ? "
Pertanyaan Qirani membuat Aditya dan Bu Citra saling melempar pandangan.
" Tentu saja kamu boleh tau... "
" Maaf kalo Divy banyak nanya... "
" Nggak papa. Kamu ini kan anak mama, kamu emang harus tau semuanya. Karena mulai sekarang, kamu harus ikut ambil bagian dari rencana mama. "
" Qirani akan bantu mama apapun itu, ma. "
__ADS_1
" Bagus. Rencana mama itu adalah... mengakusisi semua usaha perusahaan X !! '
Jawab Bu Citra dengan serius dan tegas.