
Masih nggak berubah...
Sudah setahun nggak kesini, tapi kayak baru kemarin terakhir main.
" Kak Arga ? "
Arga menoleh, mendapati seorang gadis ABG yang sedang melihat ke arahnya.
" Hai, Lina... Wah, makin cantik aja kamu. Pulang sekolah ? "
Tanya Arga mengenali gadis yang menegurnya tadi.
" Iya... Apa kabar, Kak ? Sudah lama nggak main kesini... "
Sahut Lina tersenyum ramah.
" Alhamdulillah, baik. "
" Kapan sampai Jakarta ? "
" Baru semalam... "
" Kenapa bengong di depan sini ? Ayo, masuk ! "
Kata Lina mengajak Arga masuk ke dalam rumah.
" Disini aja. Pingin santai doang koq. Tadi juga udah ketemu Bunda. Tuh kopi juga belum abis... "
Sahut Arga seraya menunjuk secangkir kopi di atas meja.
" Oh gitu... Jadi udah dari tadi main ? Bawa oleh-oleh nggak dari Bandung ? "
Tanya Lina dengan mata berbinar-binar.
" Kamu ini, nggak pernah lupa ya minta oleh-oleh... Tuh, udah dibawa ke dalam sama Bunda. "
" Asyiiikkk... Kak Arga terbaik ! "
Ucap Lina sembari mengacungkan dua jempolnya ke arah Arga.
" Hahaha... Bisa aja ! "
Timpal Arga tertawa lepas.
Lina duduk di bangku di seberang Arga duduk. Kemudian meletakkan tas ranselnya di atas meja, di sebelah cangkir kopi Arga.
Lina merogoh saku rok abu-abunya dan mengeluarkan handphonenya. Arga melihat saku rok seragam Icha sedikit lepas jahitannya.
" Saku rokmu robek sedikit tuh... "
Komentar Arga.
" Ah, ini ya... "
Lina menurunkan wajahnya dan melihat ke arah saku roknya.
" Ini rok nya Kak Qiran. Ukuran badanku dan Kak Qiran beda, gedean aku. Jadinya pas di panggul ku, jahitannya cepat robek. Bunda belum sempat nganterin bahan rok yang baru ke tukang jahit, jadi ya terpaksa pake punya Kak Qiran dulu sementara ini... "
Jelas Lina datar.
" Oh... Punya Qirani... "
Ucap Arga setengah bergumam.
Iya... Qirani emang kurus.
Beda dengan Icha, dia lebih berisi.
Menyadari sesuatu, Lina langsung terlihat tampak menyesal.
" Maaf... Bukan maksud aku bikin Kak Arga sedih. "
Kata Lina sembari menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya.
" Ah, nggak papa. Tenang aja. Kamu kelas dua SMK ya ? "
Sahut Arga yang kemudian mengalihkan pembicaraan.
" Iya... "
" Pasti sudah punya pacar ? "
" Sudahlah... Aku kan cewek populer di sekolah ! "
" Wah, benarkah ? Hebat ! Pacarmu pasti banyak ? "
" Enak aja... Nggak lah. Biar populer, tapi aku juga pilih-pilih dong. Kakak sendiri gimana ? "
" Apanya ? "
" Pacar... Bohong kalo nggak punya ! "
" Oh, pacar ? Punya lah... "
" Apa ku bilang, cewek Bandung kan cantik-cantik. Pasti ada lah yang bikin kakak kecantol... "
" Emangnya cewek Bandung itu kawat ? "
" Isshh, garing bercandanya ! Nggak lucu ! "
" Lho tadi kan kamu sendiri yang bilang kalo... "
" Udah, jangan pura-pura bodoh lah... "
__ADS_1
" Hehehe... "
" Siapa ? "
" Siapa apanya ? "
" Nama pacar kakak... Siapa ? "
" Oh... namanya Qirani Asha. "
" Dih... "
Lina pasang tampang manyun mendengar jawaban Arga.
Arga cuma tertawa kecil melihat perubahan wajah Icha yang mendadak itu.
" Kakak itu bucin ya... Nggak bisa move on atau udah nggak doyan cewek lagi ? "
" Lina... Bagiku, cuma kakakmulah pacarku sampai kapan juga. "
" Sudah tiga tahun kak... Sadarlah. "
" Aku sadar koq, sadar sesadarnya... "
" Begitu kakak tinggal di Bandung, setiap seminggu sekali selalu kesini, muter nyariin kak Qiran sampai tiga tahun lamanya. Apa nggak juga menyerah ? Aku pikir, Kak Qiran bukan lagi hilang, tapi MENG-HI-LANG ! "
Kata Lina mulai tak sabar dengan sikap Arga yang masih berharap.
" Lina, selama aku belum ketemu kakakmu, aku nggak akan menyerah nyariin dia. "
" Aku pikir, sejak setahun lalu kakak nggak kesini lagi, itu karena kakak sudah menyerah... Parah ! "
" Setahun lalu, aku naik jabatan menjadi wakil direktur. Dan itu bikin aku nggak ada waktu lagi buat main kesini. Aku masih nyariin kakakmu, tapi kirim orang ke Jakarta. Aku yakin, kakakmu ada di suatu tempat, di... "
" Sadarlah, kak .... Kalo emang kak Qirani ada di suatu tempat dimanapun itu, dia akan pulang kesini jauh sebelum hari ini tiba. Ini sudah tiga tahun, kak. TI-GA TA-HUN !!! Apa butuh waktu selama itu kalo niat mau pulang ?? "
" Lin, kamu kayaknya kecapekan deh... Aku pamit pulang ya, salam buat Bunda dan yang lainnya. "
Arga langsung beranjak bangun dari duduknya dan menyambar jas hitam kotak-kotak miliknya di sandaran bangku.
" Ini, ada sedikit buay kamu beli seragam baru. Jangan dipakai lagi yang itu. "
Sambung Arga seraya meletakkan dua lembar uang berwarna merah di atas bangku.
" Kakak harusnya paling tau, Kak Qiran itu mau ketemu kamu lagi apa nggak !! "
Lina masih terus mengoceh dengan nada suara yang mulai meninggi.
Sayangnya, Arga tak mempedulikannya. Ia terus berjalan keluar halaman panti asuhan tersebut. Menyelipkan earphone nya ke kedua telinganya dan menyalakan musik dari handphone yang berada di dalam saku jasnya.
Bu Rima yang mendengar suara Lina dari arah luar, penasaran. Dan segera melangkah keluar rumah, meninggalkan kegiatan memasaknya.
" Lho, Lin... Ada apa ? Mana Kak Arga ? "
" Orang bodoh itu udah pulang gara-gara aku omelin biar sadar, kalo kak Qirani itu nggak bakalan pulang lagi kesini. "
Sahut Lina ketus sambil mengambil tas ranselnya di atas meja.
" Oh... "
Komentar Bu Rima singkat.
Lina berjalan masuk kedalam rumah dengan kesal, dilihat dari hentakan kakinya. Wajahnya pun tampak jelas menahan emosi. Bu Rima menghela nafas panjang melihat hal itu.
Apa aku harus jujur sama anak-anak ya ?
Kalo aku tau dimana Qirani.
Bahkan hampir setiap hari selama setahun ini, kami mengobrol melalui telepon.
Sejak ingatan nya kembali sepenuhnya, Qirani sering meneleponku, berbagi cerita tentang kuliahnya di London.
Dia juga cerita tentang mama dan kakaknya yang begitu sayang dan manjain dia.
Qirani sekarang banyak bercerita...
Dia terdengar berbeda.
Sangat berbeda...
Lebih ceria, lebih banyak bicara dan lebih bebas berekspresi.
Bahkan kalo melihat saat melakukan panggilan video, Qirani sekarang makin cantik dan nggak lagi kurus kayak dulu...
Rambut ikalnya sekarang lurus dan diwarnai kebule-bulean gitu...
Cocok dengan warna kulitnya yang putih bersih...
Matanya nggak terlihat sayu lagi, tapi tampak bersinar.
Qirani tampak sangat bahagia.
Keluarganya benar-benar bisa mengurusnya.
Membuat hidupnya lebih baik lagi...
Dia juga cerita, sekarang jago beladiri.
Bahasa asingnya fasih sekali...
Ahh... jadi pingin dia telpon hari ini.
Kangen rasanya, sudah dua hari ini dia belum menelepon.
__ADS_1
Bu Rima yang melamun memikirkan Qirani, tampak sangat bahagia. Ada sebuah senyum mengembang di bibir Bu Rima. Namun tak lama, raut wajah Bu Rima berubah menjadi sedih.
Pingin bilang ke Arga yang sebenarnya tentang Qirani...
Tapi mamanya melarang ku dan aku sudah berjanji waktu itu.
Memang benar, pada akhirnya ini semua demi kebaikan dan kebahagiaan Qirani.
Dan terbukti, Qirani memang bahagia sekarang.
Cuma... rasanya sedih melihat Arga yang terus berjuang melakukan apapun demi menemukan Qirani.
Ada rasa bersalah pada Arga, karena menutupi yang sebenarnya.
Tapi lagi-lagi... ini semua demi Qirani.
Aku nggak ingin lagi Qirani disakiti, disia-siakan, bahkan menderita kayak dulu.
Aku yakin, Allah itu adil.
Kalau memang mereka ditakdirkan untuk bersatu, pasti ada jalannya.
Mau terpisah sejauh apa, mau saling benci sebesar apa, kalo mereka itu sudah ditentukan sebagai pasangan, pasti akan kembali bertemu dan bersatu...
Cuma bisa melihat saja sekarang, apa yang Allah akan gariskan nantinya...
TTUUT... TTUUTT...
Dari kantong baju daster yang dikenakan Bu Rima, terdengar suara handphone memanggil. Bu Rima merogoh kantongnya dan mengambil handphone tersebut.
Panjang umur anak ini...
Batin Bu Rima sambil tersenyum senang saat mengenali siapa yang meneleponnya di siang ini.
" Assalamualaikum sayang... "
Bu Rima mengucapkan salam begitu mengangkat telepon.
" Bundaaa... Lagi ngapain ? "
" Baru selesai masak. Kamu ? "
" Baru selesai sarapan... "
" Oh iya, selisih waktu ya... Lebih cepat disini enam jam. "
" Iyaaa.... Oh iya, Qirani mau kasih tau sesuatu. Bunda pasti kaget. "
" Oh iya ? Apa itu ? "
" Besok Qirani kembali ke Indonesia ! "
" Haa ?! Bener ?! "
" Iya, penerbangan pertama. "
" Bagus ! Bagus ! Bunda juga udah kangen banget pingin ketemu kamu, pingin peluk, bunda kangeeennn banget ! "
" Iya, Qirani juga. Senengnya bisa ketemu Bunda lagi.... Juga adik-adik yang lain... "
" Mereka pasti akan senang melihatmu lagi... "
" Iya, kangen banget sama mereka... "
" Mamamu ikut ? "
" Nggak, mama kurang sehat akhir-akhir ini. Jadi cuma Qiran dan Kak Adit aja. "
" Oalah... Salam ya buat mama... Semoga dia cepat sehat dan bisa kesini juga ketemu Bunda. "
" Iya, bunda... "
" Di Indonesia tinggal dimana nanti ? "
" Tempat tinggal sudah ada, apartemen. Dekat dengan kantor Kak Adit nantinya. "
" Oh gitu... Sering-sering ya nanti kesini. "
" Pasti bunda... "
" Oh iya, nanti kita.... "
" Bunda ngobrol dengan siapa ? "
Tiba-tiba Luki datang dari arah belakang Bu Rima dan bertanya dengan raut wajah yang penasaran.
Bu Ri.a yang tampak senang langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
" Sudah dulu ya Bu... Nanti saya telepon kembali. "
" Ah iya, bunda... "
Jawab Qirani yang mengerti situasi di tempat sang bunda.
Dan tanpa menunggu lama, Bu Rima sudah memutuskan sambungan telepon.
" Salah satu donatur. Beberapa hari lagi akan kirim dana untuk kita. "
Kata Bu Rima, memberi jawaban atas rasa penasaran dari kedua mata Luki.
Itu bukan sebuah kebohongan...
Keluarga Qirani sejak tiga tahun lalu menjadi donatur untuk panti ini.
__ADS_1
Dan mereka adalah donatur terbesar...