
Qirani mengambil sepotong brownies coklat hazelnut dari piring saji di atas meja. Sambil bersandar pada sofa panjang yang menghadap ke arah balkon apartemen nya, ia menikmati setiap gigitannya pada brownies kesukaannya tersebut.
Gara-gara menahan diri tadi di kantor kak Arga biar nggak ketauan, akhirnya sekarang aku bisa puas-puasin makan brownies ini.
Kak Doni pasti sengaja... ini memang kue favoritku.
Tapi sayangnya, tadi di hadapan mereka, aku adala Divya, bukan Qirani, hihihi...
" Ada apa ini ? Sangat bahagia cuma karena brownies ? "
Tegur Aditya dengan keheranan saat mendapati Qirani tengah tertawa kecil sendirian.
" Aku tadi udah pingin banget ngambil kan di sana, menggoda sekali brownies nya. Kak Doni pasti sengaja. "
Sahut Qirani masih tersisa dengan tawa kecilnya dan mulut yang sedang penuh dengan browniesnya.
" Aku tau, makanya sebelum kita pulang, aku sengaja berhenti di toko roti, dan beliin kamu seloyang besar. Biar kamu bisa balas dendam menghabiskan brownies ini sendirian. "
Kata Aditya sembari menyentil hidung Qirani dengan lembut.
" Makasih, kakak ku sayang... Kamu yang terbaik ! "
Ucap Qirani sambil mengacungkan jempol kanannya ke arah sang kakak.
Aditya tersenyum menanggapi pujian sang adik. Lalu dengan santai melempar tubuhnya ke sofa tepat disisi Qirani. Wajahnya menatap ke arah luar balkon, menikmati langit yang mulai gelap menuju malam.
" Jam segini... mama pasti lagi tidur siang. "
Gumam Aditya.
" Ya... Kak Adit mau cerita ke mama soal kejadian tadi siang ? "
" Heemm... Mama pasti senang. Rencananya berjalan mulus. "
" Pasti. Aku juga senang tadi. Bisa permainin perasaan Kak Arga kayak gitu... "
" Kak Arga ?! "
Kata Aditya setengah berseru sembari menoleh ke arah Qirani.
" Come on... why is it still so polite to call him that ? He's a shameless jerk. "
( Ayolah... kenapa masih begitu sopan manggil dia kayak gitu ? Dia itu si brengsek nggak tau malu. )
" So what should I call him? "
( Lalu aku harus panggil dia apa ? )
" How about you just call the donkey? He's smart but as soon as he sees you, he immediately becomes stupid like a donkey, right ? "
( Gimana kalo kamu panggil si keledai ? Dia pintar tapi begitu melihatmu, dia langsung menjadi bodoh kayak keledai, betul kan ? "
Mendengar jawaban Aditya, Qirani langsung tertawa terbahak-bahak. Itu membuat mulutnya berantakan karena beberapa remahan brownies yang menyembur keluar.
" Kamu ini... pretty but dirty, it's everywhere...."
( Kamu ini... cantik-cantik koq jorok, itu pada kemana-mana... )
Tegur Aditya sambil menunjuk ke arah mulut dan lantai di bawah Qirani.
" I'm sorry... My brother amused me because I couldn't help but laugh. "
( Maafin aku... Kakak bikin aku nggak bisa nggak ketawa. )
Sahut Qirani sambil membersihkan mulutnya.
Aditya merangkulkan lengannya ke bahu adiknya, dan memeluknya dengan hangat.
" I love watching you laugh out loud like that. That means you're happy, right?... For me right now, your and mama's happiness is everything. I will keep you smiling, I won't let anyone make you sad and cry. Whatever will be... "
( Aku suka ngeliat kamu tertawa lepas kayak gitu. Itu artinya kamu bahagia, bukan ?... Bagiku sekarang, kebahagiaanmu dan mama adalah segalanya. Aku akan membuat mu terus tersenyum, nggak akan kubiarkan ada yang membuatmu sedih dan menangis. Apapun yang terjadi... )
Selesai mengeluarkan isi hatinya, Aditya mencium kening Qirani dengan lembut.
" I love you, sis... "
Sambung Aditya lirih.
" Love you too, my brother... Thanks. "
Sahut Qirani dengan hati yang tersentuh.
" Oh iya... aku mau bicara tentang sesuatu padamu dari kita pulang tadi. Menurutmu, apa tindakan Arga selanjutnya ? Aku yakin, dia akan penasaran, sangat-sangat penasaran tentang kamu. "
Aditya mengalihkan pembicaraan.
" Tentu saja, dia akan mencari tau tentang aku. Aku sangat tau karakter dia, kak. Sebelum dia puas, dia nggak akan berhenti. Aku yakin, begitu kita keluar dari kantornya, dia akan langsung memata-matai kita. "
" Bagus, itu artinya dia mulai masuk perangkap. Tapi aku ingin main-main sebentar dengan manusia satu ini. Boleh kan ? "
__ADS_1
" Atur kakak saja lah... Aku juga belum waktunya beraksi bukan ? "
" Iya... Mmm, ayo kita makan malam. Akan ada pertunjukan bagus malam ini. Setelah pukulan pertama di kantornya, aku pikir, kita perlu memberinya bonus malam ini. "
" Dalam satu hari, apa dia akan sanggup menahan diri ? "
" Kita liat saja nanti, mau taruhan ? "
" Ayo, siapa takut ! "
" Okey, yang kalah harus masak selama satu minggu, termasuk belanja kebutuhan harian. Setuju ? "
" Deal !!! "
Dan penuh dengan semangat, Qirani menjabat erat Aditya.
RESTORAN B
Arga merasa gerah. Padahal AC cukup dingin. Mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah masam. Pembicaraan para orangtua di hadapannya tak lagi disimaknya. Terlihat jelas dia sangat bosan.
" .... iya, Ga ? "
Pak Bima menyenggol kakinya, karena mendapati Arga tak mendengarkan apa yang dikatakannya.
Arga kembali menoleh ke arah para orangtua di hadapannya. Lalu berusaha tersenyum dengan sopan.
" Boleh diulang ? "
Tanyanya dengan tenang.
" Kamu ini... "
Gerutu Pak Bima setengah kesal.
" Sepertinya obrolan para orangtua ini nggak menarik, sampai-sampai yang muda bosan mendengarkannya. "
Kata Pak Herman sambil tersenyum, meski ikut kesal tapi berusaha untuk tetap sopan.
" Oh iya, ngomong-ngomong... Rosa sibuk apa sekarang ? Masih di bagian marketing kah ? "
Tanya Pak Bima mengalihkan pembicaraan, menoleh ke arah Rosa yang sedari tadi hanya diam dan menikmati salad buahnya.
Rosa mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Pak Bima. Kemudian menyunggingkan senyum simpul yang manis.
" Ah, iya... masih di marketing, Om. Saya menyukainya. Bertemu banyak orang, berusaha semaksimal mungkin membuat orang-orang yang nggak kita kenal tertarik dengan apa yang saya tawarkan, dan satu kepuasan tersendiri saat ada yang bersedia untuk tandatangan kontrak kerjasama... "
Jawab Rosa yang terlihat sangat puas.
" Pemikiran kayak gitu rasanya kurang tepat sih, Om. Kalo kata Rosa, tergantung individunya aja mau lulusan dalam atau luar negri, kalo manusianya nggak ingin berkembang setelah lulus, ya nggak akan jadi apa-apa. Arga lulusan dalam negri, tapi Arga sukses sebagai direktur cabang di Bandung bukan ? "
" Ah... hahaha... Iya, kamu benar juga. Betul betul... apa kata Rosa tepat sekali. "
Sahut Pak Bima dengan senang.
" Arga, ajaklah Rosa bicara. Rosa anak yang menyenangkan, pasti kamu juga akan merasa senang ngobrol dengan dia. "
Tambah Pak Bima sambil mengalihkan perhatiannya ke arah Arga yang sedang sibuk dengan handphonenya.
" Mmm... "
Arga menggumam.
" Arga baru pulang setelah bertahun-tahun tinggal di Bandung, sepertinya pikirannya masih nyangkut di Bandung kali ya... "
Kata Rosa mengomentari gumaman Arga.
" Maaf... Aku cuma cek laporan aja via email. Kemarin pulang, masih ada beberapa urusan yang belum selesai... "
Dengan tak enak hati, Arga pun sengaja berbohong.
" Arga benar-benar loyalitas ya... Bagus ! "
Puji Bu Widi, ibunda Rosa.
" Ayo ayo... Nikmati makan malamnya. Kita ngobrol dengan puas sambil menikmati menu favorit di restoran ini. Silahkan... "
Dan Pak Bima pun memulai terlebih dahulu menikmati daging steaknya setelah mempersilahkan yang lainnya.
" Iya, terimakasih... "
Ucap Bu Widi dengan ramah.
Kemudian sambil menikmati menu yang tersedia di meja berbentuk bundar tersebut, merekapun melanjutkan obrolan yang santai dan sesekali diselingi canda.
Kecuali Arga tentunya. Perhatiannya terbagi antara daging steak dan layar handphone. Sebentar menatap ke layar handphone nya dan sesekali mengetik sesuatu, sambil sesaat kemudian memotong daging steaknya dan menyuapnya.
" Bukankan dia itu Aditya Chandra ya ? "
Sebuah pertanyaan terlontar dari Bu Widi membuat Arga mengangkat wajahnya dan sama dengan yang lain, mengikuti arah pandangan Bu Widi.
__ADS_1
Kini tampak dari arah pintu masuk restoran tersebut, terlihat olehnya sepasang muda mudi yang tampak memukau banyak pengunjung restoran.
Aditya Chandra mengenakan kaos lengan panjang berwarna biru langit dengan garis-garis warna kuning dan putih dipadukan celana coldoray berwarna coklat tua, tampak santai namun berwibawa.
Disisinya, Qirani mengenakan blus dengan lengan tiga perempat dan panjang selutut dengan belahan samping dari pahanya berwarna coklat muda polos, mengikuti bentuk tubuhnya yang sintal dan proporsional itu tampak anggun dan elegan meskipun hanya dengan riasan yang natural.
Arga terus menatap keduanya tanpa mengedipkan mata, terutama pada Qirani. Rosa yang memperhatikan tatapan mata Arga ikut melihat ke arah Qirani.
Cantik...
Siapa dia ?
Apa ada hubungannya dengan Arga ?
Cewek itu kayaknya lebih muda dariku.
Arga melihatnya tanpa berkedip.
Dia terpesona atau memang kenal dengan cewek itu ?
Batin Rosa penasaran.
" Selamat malam, Pak Arga... Nggak saya sangka, kebetulan sekali kita bertemu malam ini. Dua kali pertemuan dalam sehari, di kota yang besar ini... "
Kata Aditya yang sudah berdiri tepat di hadapan meja dimana keluarga Pak Bima dan Pak Herman yang sedang memperhatikannya.
Aditya mengulurkan tangan, berniat menjabat tangan Arga. Namun Arga yang masih ternganga menatap Qirani masih tak sadar dengan uluran tangan Aditya.
Pak Bima yang menyadari situasi tidak menguntungkan tersebut, berdiri dan menerima jabatan tangan dari Aditya sembari tersenyum ramah.
" Direktur Utama PT. W ini sungguh membuat saya merasa kagum. Masih muda, tampan, dan sukses besar dengan waktu yang singkat. Saya Bima Harsono, ayah... "
" Saya tau. Saya mengenal anda, Pak Bima. Banyak media yang memberitakan anda. Saya sungguh mendapatkan kehormatan yang luar biasa malam ini, bertemu dengan sosok besar dan terkenal dalam dunia bisnis seperti anda ini. "
" Terimakasih... Muda, tampan, dan bersama pasangan yang cantik. Sungguh serasi sekali ya... "
" Ini tunangan saya, Divya Naura. Dan juga sekretaris saya. "
Begitu Aditya selesai bicara, Qirani mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Pak Bima. Pak Bima dengan ramah, menerima jabat tangan dari Qirani.
" Sungguh cantik .... "
Puji Pak Bima sambil satu tangan yang lain menepuk halus punggung tangan Qirani yang sedang menjabatnya.
" Terimakasih... "
Sahut Qirani dengan senyum manisnya.
Kemudian Aditya dan Qiranipun bergiliran berjabat tangan pula dengan Kelurga Pak Herman.
" Baiklah, maaf mengganggu waktu makan malamnya, kami hanya sekedar menyapa saja. Silahkan dilanjutkan... "
Kata Aditya berpamitan.
" Kenapa tidak gabung saja, agar bisa berbagi pengalaman kepada anak-anak kami ini agar bisa sesukses anda... "
Kata Pak Herman menawarkan.
" Aduh, sepertinya nggak pantas kalo kami bergabung. Ini kan makan malam keluarga. "
Aditya sengaja tarik ulur.
" Iya betul kata Pak Herman, bergabung saja dengan kami. Kebetulan masih ada kursi kosong disini. "
Kata Pak Bima menyetujui pendapat Pak Herman.
" Wah, bagaimana ya, saya merasa nggak enak. "
Sahut Aditya yang masih berbasa-basi.
" Silahkan... "
Kata Arga yang tiba-tiba bangun dari duduknya dan menarik kursi untuk Qirani yang kebetulan berdiri lebih dekat dari tempat duduknya.
" Nggak papa, sayang ? Kamu mau bergabung ? "
Tanya Aditya yang menoleh ke arah Qirani.
" Terserah saja, nggak masalah. "
Jawab Qirani santai.
" Tunggu apalagi, ayo silahkan... "
Kata Pak Herman sangat ramah.
Dan Qiranipun duduk di tempat yang telah dipersiapkan oleh Arga. Sedangkan Aditya duduk diantara Qirani dan Rosa. Argapun kembali duduk di tempatnya dengan tersenyum lega.
Dia emang sangat berbeda dari Qirani-ku.
__ADS_1
Tapi aku ngerasa yakin, ada sesuatu di dirinya yang aku harus selidiki...
Kalaupun dia terbukti emang bukan Qirani milikku, paling nggak aku nggak akan penasaran kayak gini lagi.