
Qirani terdiam di sudut sofa panjang di tengah ruangan, dimana ruangan tersebut didominasi warna hitam dan putih. Sesekali dia mengedarkan pandangannya, memperhatikan sekeliling.
Tas sekolah yang ada di pangkuannya, dipeluknya. Matanya tertuju pada sebuah pintu, dimana dia tadi melewatinya saat masuk keruangan tersebut.
Nggak dikunci kayaknya, nggak ada kunci yang menggantung...
Dan Kak Arga masih kedengaran masih mandi.
Apa kabur aja sekarang ?
Okey.... namanya juga usaha.
Nggak tau apa yang terjadi ntar kalo aku masih ada disini lama-lama.
Batin Qirani.
Dan dengan gerakan cepat, ia segera bangun dari duduknya. Dengan yakin, melangkah menuju arah pintu yang ditatapnya tadi.
Tepat di depan pintu, Qirani segera memutar pegangan pintu tersebut. Sayang, saat ia mendorong pintu ke arah luar, pintu itu tak juga terbuka. Kini, ia termangu di depan pintu.
Koq nggak bisa dibuka ?
Bukannya nggak ada kunci ?
Tadi dia juga langsung buka gitu aja....
Apa ada yang terlewat dari ku tadi ya ?
Qirani memperhatikan detil pintu di hadapannya.
Apa ini ?
Kayak mesin gesek ATM ya...
Qirani kebingungan melihat sebuah plat tipis yang menempel di sebelah pegangan pintu.
" Mau kemana kamu ??? "
Tiba-tiba terdengar suara bentakan bak petir yang menggelegar dari arah belakangnya. Qirani hampir meloncat karena kaget.
Aduh.... saking fokus sama ini pintu, jadi nggak waspada...
Keluhnya dalam hati.
" Kamu mau kabur ?? "
Kembali Arga membentaknya.
Perlahan Qirani memutar tubuhnya, dan mendapati Arga yang sedang berkacak pinggang.
" AAAA !!!! "
Jerit Qirani saat matanya mendapati Arga yang hanya mengenakan ****** *****.
Dengan cepat, kedua tangannya menutup kedua matanya, membuat tas sekolah di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
" Hahaha.... cewek bodoh ! Ngeliat kayak gini aja ngejerit ! Gimana ngeliat aku telanjang bulat ? Pingsan kali ya.... Hehehe.... "
Arga merasa lucu dengan tingkah Qirani.
Dan sambil berjalan santai ke arah sudut ruangan, menuju lemari yang besar, ia membukanya dan mengambil celana skaters dan kaos oblong.
Dengan cepat, Arga mengenakan pakaian yang baru saja diambilnya. Setelah selesai, ia kembali ke tengah ruangan, duduk di sofa panjang tempat Qirani tadi.
" Aku udah pake baju, buka matamu sekarang ! "
Kata Arga sembari menyalakan televisi menggunakan remote televisi yang diambilnya di atas meja kecil di samping sofa tersebut.
Qirani membuka kedua telapak tangannya. Dilihat Arga sudah berpakaian dengan benar dan sedang memilih acara televisi.
" Ini kan tengah hari.... Kenapa baru mandi ? Apa tadi kakak nggak mandi pagi hari ? "
Kata Qirani sambil melangkahkan kakinya menghampiri Arga.
" Itu bukan urusanmu ! Tolong, ambil boks berwarna biru di dalam kulkas, bawa kesini ! "
Sahut Arga dengan nada memerintah.
Qirani menghentikan langkahnya dan mencari letak kulkas yang disebut oleh Arga. Dan ia menemukannya tepat di sisi kirinya di dalam ruang bartender mini. Segera menuju kesana.
Qirani menarik pintu kulkas dan benar, ia menemukan sebuah boks berwarna biru berukuran 24 cm x 24 cm di dalam kulkas, tepat di rak kedua. Kemudian ia mengambilnya.
" Ini.... "
Qirani menyodorkan boks biru tersebut kepada Arga.
Arga meletakkan remote televisinya setelah mendapati acara yang dia inginkan dari salah satu channel televisi dalam negri.
" Duduk sini... "
Katanya sembari menepuk sofa yang ia duduki.
Qirani menurut, ia duduk di sebelah Arga dan kembali menyodorkan boks tersebut.
Arga menerimanya dan meletakkannya di pangkuannya. Kemudian, ia membuka boks tersebut.
" Kue ulang tahun ?.... Kakak ulang tahun hari ini ? "
Tanya Qirani saat melihat isi dalam boks yang dibuka Arga.
__ADS_1
Di dalam boks itu, tampak kue yang berbentuk cinta dengan banyak taburan marsmallow, coklat dan permen warna-warni.
Tak menjawab pertanyaan Qirani, ia malah mengambil sebatang lilin kecil yang berwarna-warni pada batangnya yang menempel di tutup boks.
Arga menancapkannya tepat di tengah kue tersebut. Meraih korek api gasnya di meja kecil, dengan hati-hati menyalakannya.
" Kamu suka kuenya ? "
Tanya Arga dengan nada yang lembut, berbanding terbalik dengan beberapa saat lalu.
" Kue ini untuk apa ? ulang tahun kakak ? "
Qirani balik bertanya, penasaran.
Arga mengeluarkan kue dengan lilin yang menyala itu dengan hati-hati dari boks nya. Dengan senyum yang mengembang, ia meletakkan kue tersebut di antara dirinya dan Qirani duduk.
" Sini, kamu duduk kayak aku gini.... "
Arga menyuruh Qirani mengikuti cara duduknya, bersila dan menghadap ke arah kue tersebut.
Qirani menurut, mengikuti apa yang diarahkan Arga. Dirinya masih bingung dengan apa yang sekarang sedang terjadi. Tapi karena tidak ingin membuat Arga marah, ia diam dan pasrah saja.
" Mulai hari ini, kamu adalah pacarku, milikku, nggak ada cowok lain diluar sana yang boleh menyentuhmu, apalagi mengambilku dari ku. Cuma aku yang berhak atas kamu, karena kamu cewekku. "
Qirani ternganga tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arga.
Dia ini lagi nembak aku ?
Bahkan gaya nembak cewekpun masih keliatan arogannya, beneran cowok arogan...
" Kamu diam, aku anggap kamu setuju. "
" A-aku.... "
" Telat, waktu bicaramu udah abis tadi. "
Issshhhh..... pemaksaan !
Jauh banget sama Mas Galih....
" Ngelamunin apa ? Mantan cowokmu yang ilang mendadak ? "
Haaaa ? ....
Apa dia bisa telepati ?
Dia bisa tau apa yang kupikirin....
" Ng-nggak koq.... "
" Sekarang ayo kita tiup lilinnya... Eh, tunggu dulu, kita make a wish dulu deh.... "
" Iya, kita buat permohonan dulu buat hubungan kita yang baru resmi ini... "
Hubungan baru yang resmi ?
Kayak orang nikah aja....
Anak kuliah tapi kosakatanya aneh...
" Awas, kalo kamu bikin permohonan kita cepat putus ! Jangan harap ! "
Eehhh... dia bisa baca pikiranku Beneran....
Baru aku mau memohon hal itu....
" Mmm, nggak nggak koq... "
" Sekarang, ayo memohon ! "
Dan Arga langsung memejamkan kedua matanya. Qirani masih menatapnya dengan aneh.
Dia serius banget....
Apa dia beneran suka sama aku ?
Tapi sikap kasarnya itu, bikin aku takut kalo berduaan dengan dia kayak gini....
Aku nggak merasa nyaman saat di dekatnya...
Nggak kayak saat bareng Mas Galih.
Mas Galih selalu bikin aku nyaman dan bahagia.
Mas Galih.... kemana dia ya....
" Kamu udah selesai ? "
Tiba -tiba Arga membuka mata dan kini keduanya beradu pandang.
Qirani langsung menganggukkan kepala. Melihat hal itu, Arga terlihat senang.
" Ayo sekarang kita tiup lilinnya bersamaan... "
Ajak Arga.
" Ffiiuuhhhh...... "
" Ffiiuuhhhh..... "
__ADS_1
Bersamaan keduanya meniup lilit tersebut hingga lilinnya padam.
" Nih, potongin buat aku. "
Kata Arga sembari menyerahkan kue tersebut kepada Qirani.
Qirani mengambil sebuah pisau plastik yang menempel pada tutup boks tadi. Kemudian menggunakannya untuk memotong kue tersebut.
" Suapin... "
Haaa ???!!!
Segala minta disuapin ?
Kemana perginya sikap arogannya ?
Kenapa sekarang mendadak jadi manja kayak anak kecil yang cari perhatian !
" Kenapa bengong ? Aku minta disuapin ! "
Isshhhh.... baru juga aku nanyain.
Itu arogannya muncul....
Aku hampir kena tipu sama sikap manjanya itu...
Nyesel deh....
" Ya, aku ambil piring dan sendok ya kak .... "
Dan dengan langkah yang agak kesal, Qirani menuju dapur, mengambil piring dan sendok kecil.
" Nih... "
Kata Qirani setelah meletakkan sepotong kue ke atas piring dan mulai menyuapi Arga.
Arga menoleh dan membuka mulutnya, mendekat ke arah Qirani.
CUUPPP !!
Bukannya menyuap kue yang sudah siap untu disuapkan oleh Qirani, Arga mengecup bibir Qirani. Wajah Qirani memerah.
" Selamat ya, ini hari pertama kita jadian.... "
Kata Arga dengan narsisnya.
Sembarangan mencium ku kayak gitu...
Tapi ini bukan pertama kalinya dia menciumku.
Kenapa aku deg-degan ?
Dan tanpa menunggu Qirani menjawab, Arga mengambil piring kue dan sendok dari tangan Qirani.
" Oh iya, gantian kamu cium aku lah... Kamu nggak ngucapin selamat kepadaku ? "
Kata Arga dengan mulut penuh dengan kue yang baru disuapnya.
Mendengar ucapan Arga, Qirani membelalak.
Cowok ini.... sakit kali ya ?
Nembak cewek dengan kasar, jadian maksain, nyium main nyerobot gitu aja, dan sekarang dengan pede nya minta dikasih ucapan selamat dan juga minta dicium ???....
Gila parah !
" Ayo, cepetan cium aku... "
Kata Arga dengan wajah yang tampak senang.
Perlahan Qirani mendekatkan wajahnya, matanya saling beradu pandang dengan Arga. Kurang dari beberapa sentimeter wajah keduanya mendekat, Arga memejamkan mata.
Qirani merasakan hembusan nafas Arga yang tenang menerpa wajahnya. Wajah Arga begitu sangat dekat. Qirani menatapnya dengan teliti.
Alisnya yang tebal dan berdekatan.
Mata yang kalo terbuka tampak tajam menusuk saat menatapku.
Hidungnya nggak terlalu mancung, tapi tampak kokoh dan terlihat pas dengan raut wajahnya.
Bibirnya.... hangat....
Batin Qirani sembari memejamkan kedua matanya pula.
Beberapa kali dia pernah menciumku...
Tadi dia juga menciumku...
Tapi kenapa rasanya berbeda dengan sekarang saat aku menciumnya ?
Aku yang selalu takut padanya...
Tapi apa yang kurasakan sekarang ?
Aku merasa..... ingin makin dekat dengannya ?
Arga meraih kepala Qirani, membuat keduanya makin erat dalam berciuman. Dan tanpa sadar, Qirani melingkarkan lengannya. Menikmati setiap permainan dalam ciuman yang dibalas oleh Arga.
Jangan-jangan.... aku terkena Stockholm Syndrome ?
__ADS_1