Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 44


__ADS_3

Arga terus menatap keluar jendela kantornya sembari mengetuk-ngetuk kan jarinya ke atas meja. Tak ada di luar sana yang menarik perhatiannya, tapi ingatannya terus berputar-putar tentang Qirani.


Indra membolak-balikkan majalah di pangkuannya, tak serius membaca isinya. Sesekali diliriknya sang sahabat yang masih saja melamun sejak ia datang.


Apalagi isi otak manusia satu ini ?


Apa ada masalah baru lagi di perusahaan ?


Tapi aku nggak denger apa-apa...


Kerjasama perusahaan ini dengan Grup Paradise bukannya berjalan dengan lancar ?


Malah sangat lancar kelihatannya...


Dalam minggu ini aja, hotel di Jawa tengah sudah mulai dibuka lagi.


Keuangan finansial Grup Paradise benar-benar kuat, mampu secepat itu menyelesaikan masalah kebangkrutan di Jawa Tengah dalam waktu yang sangat cepat.


Bahkan karyawan-karyawan yang diberhentikan waktu itu, semuanya dipanggil lagi buat kembali bekerja.


Dari laporan bulanan marketing pun, saat ini sudah mulai gencar-gencarnya ngadain promo dengan segudang bonus yang aku yakin, pasti cepat menarik pengunjung melebihi target.


Tapi... kenapa beberapa hari ini, Arga masih saja sibuk melamun ?


Mikirin apa lagi ?


Udah nanya beberapa kali, jawabannya selalu sama, 'nggak papa koq'....


Doni juga nggak tau apa-apa soal hobi baru Arga satu ini, melamun...


Boro-boro tau, Doni aja sibuk terus di rumah sakit.


Terakhir ketemu pas acara party kecil-kecilan ngerayain kerjasama dengan Grup Paradise.


Intan dan Elisa juga nggak...


" Kamu kesini buat ngelamun ? "


Indra tersentak saat terasa ada tepukan keras pada bahunya. Lamunannya langsung buyar dan ia menoleh ke arah sisi kirinya. Arga tersenyum sinis padanya.


" Kamu tuh yang ngelamun ! Aku cuma lagi mikirin, penasaran apa yang bikin kamu ngelamun beberapa hari ini. Tadi aja, aku masuk, kamu nggak menyadarinya kan ? "


" Padahal aku udah ketuk pintu beberapa kali, aku cuma ngucapin salam, kamu ? Tetep diam ngeliat ke luar jendela dan nggak bergerak sedikitpun, kecuali ibu jari mu yang berbunyi tuk tuk tuk.... Jadi, siapa yang ngelamun, hah ? "


Jawab Indra panjang lebar dengan raut wajah yang sangat kesal.


Arga lagi-lagi tersenyum, tapi kali ini tanpa sinis. Kemudian dengan langkah santai, ia melangkah menuju sofa di hadapan Indra duduk. Masih dengan santainya, Arga mengambil secangkir kopi hitam nya yang tampaknya sudah dingin.


" Kopi pun sampai dingin... "


Komentar Indra dengan ketus.


" Yang penting ngopi. "


Sahut Arga masih santai dan ringan.


" Ya ya ya... "


Kata Indra yang ikut mengambil secangkir kopi susu miliknya di atas meja yang terletak di hadapannya di antara dirinya dan Arga duduk.


Dan seperti dikomando, keduanya menyeruput minumannya masing-masing dengan menikmatinya.


" Tunangan Aditya itu ternyata Qirani... "


" Gleekk ! Uhuk ! Uhuukk !... "


Indra tersedak hingga terbatuk-batuk saat Arga membuka obrolan kembali setelah menyeruput kopinya.


" A-apa ? Tadi kamu bilang apa ? "


Kata Indra setelah meletakkan cangkirnya ke atas meja, matanya hampir meloncat keluar karena tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.


" Nona Divya itu Qirani, Ndra... Aku sudah pastiin sendiri. Tanda lahir di belakang telinga kanan milik Qirani, sama persis dengan Divya. "


Jawab Arga menjelaskan.


" Gimana cara kamu mastiin nya ? Kamu ngeliat sendiri atau kamu ... "


" Waktu aku nganter pulang Aditya mabuk. "

__ADS_1


" Ooh... Eits, ntar dulu. Coba jelasin gimana kamu bisa ngeliat belakang telinga cewek itu ? Jujur aja, itu daerah yang mmm, nggak semua orang bisa ngeliat kalo orangnya nggak kasih liat. Otakku traveling nih... "


Kata Indra yang memicingkan matanya ke arah Arga dengan penuh kecurigaan.


" Isshhh... Gitu tuh kalo kebanyakan nonton yang nggak-nggak. Otak jadi mesum. "


Komentar Arga dengan raut muka yang masam.


" Heeii... Jangan menuduhku kayak gitu. Inget, di antara kita bertiga, masih aku yang tetap perjaka lho. "


" Doni kan emang udah nikah, jelas aja tinggal kamu yang perjaka. Mana bisa dibandingin kayak gitu ?! Ngaco ! "


" Justru itu ... Wajar kan kalo aku pingin tau cara kamu mmm.... "


" Cara apapun yang aku lakukan, yang pasti nggak bakal aku ngelakuin hal yang aneh-aneh. Intinya, Divya itu fix Qirani... "


" Oh, okey... Kalo gitu, kalian sekarang bahagia dong. "


" Posisinya, dia tunangan Aditya, Ndra... "


Jawab Arga dengan lirih.


Melihat raut wajah Arga yang tampak kecewa, Indra langsung mengerti apa yang terjadi tentang kenapa Arga sering melamun akhir-akhir ini.


" Ternyata itu masalahnya... "


" Nggak cuma itu. Ada yang aneh sama dia. Dia benar-benar keras kepala, tetap bilang dia itu Divya, Divya, Divya, bukan Qirani. Dan cara bicaranya, tegas banget ! Nggak kayak orang yang lagi pura-pura... "


" Ah, yang bener, Ga ? "


Tanya Indra tak percaya.


" Tapi, Ga... Kalo dia emang Qirani, dia bisa begitu banyak berubah ya. Dalam tiga tahun... Berubah jadi galak, pinter berantem, cantik sih dari dulu Qirani emang cantik, tapi sekarang lebih enak lagi dilihatnya. Style nya aja beda banget. Dari yang cuma gitu-gitu aja, sekarang selalu aja ada yang bikin mata melotot setiap ketemu dia. Bener-bener beda... "


" Iya... "


" Ah, apa mungkin Qirani itu sebenarnya kembar ? "


" Nggak... aku yakin dia nggak punya kembaran. Dipikir secara logika aja, Qirani hilang, lalu muncul Divya. Wajah yang sama, tanda lahir yang sama. Sikap bisa berubah karena belajar bukan ? Penampilan juga bisa ganti, banyak cara mengubah penampilan. Pasti... Pasti ada yang mengatur semua ini. "


" Kalo emang ada yang mengaturnya, apa nggak mungkin itu adalah... Aditya ? "


" So... what are your plans now ? "


(Jadi... apa rencana mu sekarang ? )


" Good question, but I don't know the answer yet... "


( Pertanyaan yang bagus, tapi aku belum tau jawabannya... )


Sahut Arga sembari menatap kosong ke depan.


Untuk sesaat, keadaan begitu sangat hening. Arga mencoba memikirkan sesuatu. Indra memperhatikan sahabatnya dengan setengah melamun.


" Aku tau ! "


" Heeiii.... bikin jantungan aja ! "


Protes Indra yang langsung kesal karena terkejut gara-gara Arga yang tiba-tiba berseru penuh semangat.


" Kita culik aja Aditya, interogasi dia biar dia mau cerita yang sebenarnya tentang Divya itu... Gimana ? "


Ujar Arga dengan mata yang tampak bersinar.


" Ngaco... Cuma karena pingin tau tentang Divya, sampai mau culik orang segala ?! Otakmu udah konslet, bos ! "


Jawab Indra dengan sinis.


" Lagipula, nggak mungkin kalo kita tanya Aditya baik-baik dan dia dengan gampangnya akan jawab jujur tentang semua. Dia pasti bakal nutupin lah... "


Timpal Arga yang mulai senewen.


" Ga, misal nih ya, misalnya kita culik Aditya, kita tanya-tanya, apa dia juga akan jawab jujur ? Nggak pasti juga kan ? "


" Kita siksa dia biar jawab jujur... "


" Haaahh ??? Kamu makin ngaco aja sih ! Nggak, nggak... Jangan bikin masalah deh. Itu bakal bikin ayah dan oma mu mati berdiri. Jangan gila, bos. Cuma masalah perempuan, kamu mau senekad itu ?! No ! "


" Apa katamu ?! Cuma masalah perempuan ?! Ini menyangkut hidupku ! Masa depanku ! Kenapa kedengarannya kamu ngeremehin banget sih ? Kamu nggak peduli lagi padaku ? Kamu itu sahabatku apa bukan sih ?! "

__ADS_1


Kali ini, Arga benar-benar sudah senewen.


" Ayolah, Ga... Tenang dulu, okey ? Kita pikirin soal ini sama-sama. Aku nggak mau kamu salah jalan dan akhirnya menyesal. "


Indra melunak dan mencoba menenangkan sahabatnya.


Arga menenangkan diri dan mengendalikan emosinya yang sempat memuncak untuk sesaat barusan. Dengan rasa kesal yang sangat jelas tergambar, ia mendengus.


" Aku kangen banget sama Qiran... Pingin memeluknya, terus bersamanya. Tapi jalanku ke arah itu kenapa susah banget ? Bahkan sosoknya ada di depan mata aja, nggak bisa kesentuh sama sekali, terasa jauh banget jarak yang ada... "


Kata Arga dengan nada suara yang lirih.


" Aku tau, aku tau perasaan mu ini. Sangat tersiksa tapi harus tetap kuat. Jujur, aku salut padamu, Ga. Rasa kehilangan mu yang begitu besar, tapi kamu masih bisa berdiri kokoh maju menghadapi semuanya. Nggak gampang buat bertahan selama tiga tahun ini. Aku sampai sering kuatir, kamu akan depresi lagi kayak pas kehilangan Adhisty. Tapi aku salah... Kehilangan Qirani membuatmu malah semakin kuat. "


" Kehilangan Adhisty, aku benar-benar hampir gila, karena aku yakin dia nggak bisa kembali lagi. Kehilangan Qirani, aku memang harus kuat, karena aku yakin, dia akan kembali lagi padaku suatu saat nanti. Itulah bedanya... "


" Tapi kita pun sampai hari ini juga nggak yakin, Qirani masih hidup apa nggak, kita... "


" Selama tiga tahun aku nyariin melalui media apa aja di Indonesia ini, kalo Qirani emang benar sudah meninggal, pasti akan ada seseorang yang kasih tau makamnya. "


" Iya sih... Tapi harusnya kamu juga bisa sadar diri, Ga. Qirani nggak meninggal, kalo dia masih hidup, kenapa dia nggak nemuin kamu ? Kenapa juga nggak ada orang yang kasih tau dimana dia berada ? Masa iya nggak ada satupun orang yang nggak pernah lihat dia, padahal foto-foto nya tersebar di semua media selama satu tahun penuh... Bisa jadi, dia sengaja bersembunyi darimu, kan ? Dia nggak mau kamu menemukannya ? Dia... "


" Ntar dulu, Ndra ! Kata-katamu barusan... "


Arga tiba-tiba memotong ucapan Indra dengan cepat.


Melihat Arga yang menatapnya dengan tajam, membuat Indra kebingungan.


" Kata-kataku barusan ? Yang mana ? Maksudmu apa ? "


" Masa iya nggak ada yang pernah ngeliat Qirani sekalipun padahal fotonya tersebar di semua media di Indonesia selama satu tahun penuh... Kalimatmu ini... "


Arga mengulang beberapa kalimat Indra yang didengarnya tadi dengan wajah yang sangat serius.


" Jangan bikin aku bingung. Apa maksudmu mengulang kalimatku ? "


Tanya Indra semakin penasaran.


" Nggak ada satupun... Nggak ada... Karena Qirani nggak ada di Indonesia !!! Makanya itu, makanya itu... Iya, pasti itu ! Pasti ! "


Kata Arga yang setelah bergumam tiba-tiba berseru sambil menggoyang tubuh Indra beberapa kali.


" Aku tau sekarang ! Aku nggak pernah menemukan Qirani, karena dia nggak ada di Indonesia ! Aaahh, bodohnya aku ! Kenapa nggak kepikiran kesitu ya ?! "


Seru Arga yang kini begitu terlihat senang.


Arga bangun dari duduknya dengan semangat. Indra masih bingung dengan apa yang terjadi. Terutama bingung dengan ucapan dan tindakan Arga barusan.


" Ga, jelasin apa maksudmu ?! Kenapa Qirani bisa nggak ada di Indonesia ? "


Tanya Indra yang ikut bangun dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah kaki Arga yang menuju ke luar ruangan.


" Aku yakin sekarang, ucapan mu masuk akal dan membuka pikiranku. Selama tiga tahun ini, aku nggak bisa menemukan Qirani, karena dia nggak pernah ada di dalam negeri tapi dia ada di luar negeri, Ndra ! Ini cocok dengan Divya. Qirani hilang tanpa jejak, dan Divya muncul. Aku semakin yakin, Qirani itu Divya, Divya itu Qirani. Tinggal cari cara sekarang, agar dia mengakuinya. "


Kata Arga panjang lebar menjelaskan apa isi pemikirannya yang tiba-tiba muncul mendadak karena ucapan Indra.


" Oh... "


Ucap Indra singkat, karena tidak tahu lagi harus berkata apa.


" Kamu cerita tadi, dia nggak ngaku. Dan dia keras kepala kalo dia Divya. Dan kamu juga ngerasa dia nggak keliatan pura-pura. Itu gimana ? "


Senyum Arga dan raut wajah bahagianya langsung lenyap begitu saja saat Indra berbicara.


Langkah kakinya terhenti. Gagang pintu yang sudah dipegangnya, terlepas. Arga memutar tubuhnya menghadap ke arah Indra.


Indra benar...


Apa penjelasannya soal itu ?


Aku yakin, waktu itu Divya sangat tegas dan nggak keliatan bohong...


Tapi semua ini masuk akal bagiku sekarang, kalo Divya itu Qirani.


Bertanya pada Aditya baik-baik, apa bisa dapetin jawabannya ?


Aditya tunangannya, apa segampang itu mau melepaskan Divya kalo emang Divya itu Qirani dan Qirani itu milikku ?


Seharusnya ada jalan keluar buat masalah ini... tapi gimana caranya ?

__ADS_1


Apa yang harus aku lakukan sekarang ?


__ADS_2