Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 54


__ADS_3

Qirani merasa tubuhnya gemetar saat melihat Aditya yang sedang duduk diam di sudut ruang tahanan. Dengan perlahan, ia melangkah mendekat ke sel berjeruji besi tersebut.


" Kak... "


Panggilnya dengan suara yang bergetar.


Aditya menoleh ke arahnya. Dan seperti tak sedang menghadapi sebuah masalah, ia melempar senyum kepada Qirani.


" Kamu ini... Masih diganggu si Arga itu, hem ? Sampai teleponku nggak diangkat-angkat. "


Kata Aditya sembari memegang jeruji besi dihadapannya, yang memisahkan dirinya dengan Qirani.


Qirani memperhatikan sosok Aditya dengan seksama. Menatapnya dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Beberapa bercak darah nampak di beberapa tempat pada kemeja biru langit milik Aditya. Keningnya yang bening dan mulus itu kini berkerut.


" Ada apa ini, kak ? Percobaan penganiayaan ? Siapa yang jadi korban ? Siapa, kak ? Kamu... punya musuh yang lain kah ? "


Tanya Qirani penasaran.


Mendapati Qirani memberondongnya dengan banyak pertanyaan, Aditya hanya tersenyum lebih lembut dan mengulurkan tangannya melewati celah diantara jeruji besi.


" Masalahmu sudah banyak, kalo ditambahin satu masalahku, apa kamu bisa menanggungnya ? "


Kata Aditya dengan membelai hangat rambut panjang Qirani.


" Kak, kita bersaudara. Apa harus begitu pola pikirmu ? Satu dua ataupun puluhan masalah antara kita, itu nggak akan jadi beban buat kita berdua seharusnya. Mama ngajarin kita buat saling berbagi, saling menyayangi, saling membantu. "


Kata Qirani dengan bijaksana.


" Aku tau, aku tau. "


" Jelaskan padaku. Apa yang terjadi ? "


".Apa korbannya masih hidup ? "


" Apa kakak berharap dia mati ? "


" Sangat... Sangat sangat berharap dia mati. "


" Kakak ! "


Seru Qirani tersentak mendengar jawaban Aditya yang diucapkan dengan santai.


" Dia merusak masa kecilku, Div ! Dia yang bikin aku jadi hina ! Menjijikkan ! Manusia kayak dia seharusnya mati, Div ! Mati !! "


Kali ini, ketenangan yang selalu tampak dari sosok Aditya, kini berubah penuh emosi dan agresif.


Qirani yang tak menyangka akan perubahan emosi pada diri Aditya, tampak tersentak. Aditya terlihat tak bisa mengendalikan diri di ujung kalimatnya.


Aditya seperti tersadar, saat melihat tatapan ketakutan di kedua mata Qirani.


" Maaf... Maafin aku. Aku nggak bermaksud membuatmu ketakutan. "


Ucap Aditya yang segera mengendalikan dirinya agar kembali tenang.


" Orang itu... dia... "


" Dit ! "


Baru saja Aditya berniat bercerita tentang apa yang terjadi yang pada akhirnya membuatnya di tahan, Arga sudah muncul menghampiri mereka.


Di belakang Arga, seorang petugas kepolisian mengikuti.


" Pak Adit, untuk saat ini anda bisa bebas karena jaminan dari Pak Arga. Silahkan. "


Kata petugas tersebut sembari membuka kunci pintu ruang tahanan.


Qirani tampak lega. Aditya hanya terdiam saat melangkahkan kakinya keluar.


Nggak salah ngajak Arga kesini.


Dia bisa membantuku membebaskan kakak.


Batin Qirani.


" Ini barang-barang anda, pak. "


Sambung petugas tersebut sembari menyerahkan sebuah kotak yang tanpa tutup kepada Aditya.


Aditya menerimanya sambil menganggukkan kepala dengan sopan.


" Terimakasih, pak. "


Ucapnya tenang.


" Sama-sama. "


Sahut petugas tersebut.


Aditpun mengeluarkan isi dari kotak tersebut. Sebuah jas berwarna biru tua dengan garis vertikal yang samar berwarna hitam, sebuah dompet kulit berbentuk persegi panjang dan berwarna coklat tua, sebuah jam tangan dengan merk terkenal yang berharga puluhan juta, dua buah handphone, sebuah ikat pinggang dari kulit berwarna hitam dengan list keemasan, sebuah pena khusus miliknya dan sebuah powerbank.


Ia mengenakan jam tangan dan kemudian ikat pinggang. Handphone dan powerbank dimasukkannya ke saku celana depannya. Dompet nya ia masukkan ke dalam saku celana belakang sebelah kanan. Selanjutnya ia mengenakan jasnya. Dan terakhir, penanya ia selipkan di saku bagian kiri kemejanya.


" Ayo... "


Kata Arga yang melihat Aditya sudah selesai merapikan dirinya.


" Kemejamu, kak... "

__ADS_1


" Nanti saja, dirumah baru dilepas. Langsung buang aja, hitung-hitung buang sial. "


Sahut Aditya, yang langsung merangkul sang adik dan mulai mengajaknya mengikuti langkah Arga dan sang petugas kepolisian tersebut.


" Mama, apa beliau tau soal ini ? "


Bisik Aditya kepada Qirani.


" Entahlah, aku sih belum cerita apa-apa. Tapi orang-orang mama di kantor, aku nggak yakin... "


Jawab Qirani dengan berbisik pula.


" Soal dia... Apa yang terjadi, koq dia bisa ikut kesini dan menjamin kebebasanku ? "


Kata Aditya sembari mengarahkan dagunya ke arah Arga yang berjalan di depannya beberapa langkah.


" Kayak biasa, dia tidur siang di kantorku. Dan waktu Anisa memberitahuku soal kamu, dia ada disana juga. Dan dia sendiri yang menawarkan bantuan sebagai penjamin mu. "


" Heemmm... Dia beneran cinta sama kamu, Div. Jangan terlalu kolot dan kaku ke dia. Dia sangat berharga buat rencana kita. "


"Kak, masalahmu ini berat. Penganiayaan. Korbanpun sekarat di rumah sakit, kamu masih sempet-sempetnya mikirin dia ?! "


Sahut Qirani sembari menatap punggung Arga.


" Heii, kamu ini... Apa kamu nggak berpikir, apa yang dia lakuin saat ini, itu pasti nggak gratis. Menjadi penjamin seorang tersangka penganiayaan, apa kamu pikir, itu urusan yang mudah ? "


Kata Aditya.


Qirani tak menyahut. Ucapan Aditya terngiang-ngiang di telinganya. Membuatnya memikirkannya dengan serius.


" Kita lihat aja... Pasti ada hal yang harus ditukar sebagai gantinya. "


Sambung Aditya sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Qirani.


Dalam diam, Qirani tak menggubris ucapan Aditya, meskipun dalam hati akhirnya sependapat.


Aku nggak berpikir sejauh itu...


Saking kuatir sama kakak, aku langsung main tarik aja.


Dan sampai di sini, dia langsung menawarkan diri sebagai penjamin.


Padahal, aku sendiri pun bisa.


Orang mama kan ada juga di kepolisian.


Tapi, apa kata kakak ada benarnya.


Semua udah kejadian, mau gimana lagi...


Batin Qirani.


" Tenang saja, apapun keputusan mu, aku tetap support kamu. "


Bisik Aditya.


Qirani menganggukkan kepalanya beberapa kali sembari tersenyum. Tangannya mulai melingkar pada lengan Aditya.


Aku tau...


Kak Adit sangat sayang padaku dengan tulus.


Biarpun baru beberapa tahun mengenal dan selalu bersama-sama dalam setiap hal, tapi itu rasanya bener-bener kayak dari lahir...


Mungkin... kalo hatiku belum terisi nama seseorang, kak Aditlah yang akan memenuhi semua tempat di dalam hatiku.


Ucap Qirani seraya melirik ke arah Arga.


" Mobilmu dimana ? Polisi itu bilang, kamu nggak bawa mobil. "


Tanya Arga begitu mereka sudah berada di halaman gedung kantor polisi.


" Ya, ada di area parkir apartemen. Aku tinggalin disana. "


Jawab Aditya.


" Pak, kembali ke kantor Pak Adit ya. "


Kata Arga kepada sopir pribadinya yang sudah menunggu di sisi mobil.


" Ya pak. "


Sahut sang sopir yang segera membukakan pintu belakang mobil.


Qirani dan Aditya masuk ke dalam mobil, duduk di bagian belakang. Sedangkan Arga memilih untuk duduk di depan, di samping sopir.


Setelah semuanya masuk ke dalam mobil, sang sopir pun mulai mengemudikan mobilnya dan melaju dengan hati-hati.


" Makasih banyak, Ga. Maaf, ngerepotin kamu di waktu istirahatmu. "


Aditya memulai pembicaraan setelah mobil mulai meninggalkan halaman gedung kantor kepolisian.


" Sama-sama. Membantu teman, selama bisa, nggak ada kata ngerepotin. Jangan dipikirin. "


Jawab Arga sembari melihat ke belakang melalui kaca di atas dashboard mobil.


Tampak oleh Arga, Aditya sedang tersenyum dan Qirani yang sibuk dengan handphone nya.

__ADS_1


Dia ini...


Bikin bingung aja.


Bener-bener deh !


Kadang keliatan peduli padaku, tapi sering juga cuek nggak mau tau.


Batin Arga.


" Aku nggak suka berhutang pada orang lain. Apa yang kamu lakuin buatku hari ini, aku pasti membalasnya. Katakan, apa mau mu ? "


Kata Aditya.


Arga tersenyum dan tertawa kecil selanjutnya.


" Adit, Adit. Tanpa basa-basi, gerak cepat, impulsif dan perhitungan. Benar kata yang lain, kayak gitu dirimu, Dit. Tapi, aku yakin. Kamu tau apa yang aku mau. "


Sahut Arga, kembali melirik Qirani dari kaca dalam mobil.


Qirani masih sibuk menggerakkan jari-jarinya dengan cepat pada handphone nya.


" Heemmm... "


Aditya menggumam sembari melirik pula ke sisinya, ke arah Qirani.


" Okey, itu bisa diatur. Adik ku juga orang yang tau balas budi. Dia nggak akan lupa kebaikan seseorang kepada kakak tersayangnya ini. Kayaknya... dia setuju-setuju aja soal ini. "


Kata Aditya dengan santai.


" Betul kan, Div ? "


Sambungnya sembari menyenggol lengan Qirani dengan lengannya sendiri.


" He em... "


Sahut Qirani yang masih fokus pada handphonenya.


" Tuh, apa kubilang. Tapi aku mungkin akan minta beberapa syarat untuk kebahagiaan adik ku. Deal ? "


Tambah Aditya sembari mengulurkan tangan ke arah depan.


Arga tersenyum lebar, dan dengan cepat melihat ke arah belakang, menerima jabat tangan Aditya dengan wajah yang sangat puas.


" Deal ! "


Sahut Arga yang menjabat dengan erat.


Qirani mengangkat wajahnya dari layar handphone saat mendengar suara Arga yang agak berseru.


Keningnya berkerut saat mendapati jabat tangan sang kakak dengan Arga.


" Deal ? Deal buat apa ? "


Tanyanya penasaran, semakin penasaran saat Aditya dan Arga melihat ke arahnya dengan tersenyum lebar. Senyum lebar yang sama tapi memiliki arti yang berbeda.


Dan... rencana besar siap dimulai.


Kehancuran keluarga Nyonya Besarpun sudah dekat.


Batin Aditya.


Akhirnya, aku memilikimu, Qiran.


Kamu jadi milikku seutuhnya !


Batin Arga.


" Kenapa kalian berjabat tangan ? Deal soal apa ? "


Kembali Qirani bertanya.


" Menikahimu ! "


" Menikahimu ! "


Seru Arga dan Aditya kompak.


" Apa ?!! "


Sentak Qirani.


Segera ia menoleh ke arah Aditya. Aditya melepas jabat tangannya dari Arga, dan mengangkat kedua bahunya.


" Kamu tadi sudah setuju, sayang... "


Kata Aditya.


" Kapan aku bilang aku setuju ?! "


" Saat kamu sibuk dengan handphone mu. "


" Hahh ?! Aku nggak... Kakak ! Ini bukan soal sepele. Ini masa depanku. Seenggaknya bicara dengan serius dong. Aku lagi ngurusin soal kerjaan barusan. Aku nggak fokus sama obrolan kalian. "


" Justru karena ini bukan soal sepele dan ini menyangkut masa depanmu, jadi aku tenang kalo Argalah yang menikahimu. "


" Kak ! "

__ADS_1


Seru Qirani lumayan kesal.


Arga hanya tersenyum melihat perdebatan kakak adik tersebut dari kaca di dalam mobil.


__ADS_2