
" Minumlah.... "
Intan mendorong secangkir minuman coklat susu yang hangat ke hadapan Qirani.
Qirani menatap cangkir dan Intan di hadapannya bergantian. Merasa aneh.
Kak Intan yang selalu judes kepadaku, tau-tau ngajak jalan dan sekarang nraktir aku di kafe....
Apa maunya ?
Apa soal Kak Arga ?
Aku tau, dari sikap dia, keliatan jelas dia suka sama Kak Arga.
" Malah bengong..... Tenang, itu bukan racun koq. Biarpun kamu saingan cintaku, tapi aku masih sayang sama diriku sendiri. "
Kata Intan sembari tersenyum kecil saat melihat dengan jelas kekhawatiran Qirani di wajahnya.
" Ah, bukan gitu... Maksud saya... "
" Santai aja. Aku cuma mau ngobrol sebentar. "
" Oh... "
Ucap Qirani sambil mengambil minumannya dan menyeruputnya pelan.
" Kamu bikin aku inget sama sahabatku dulu.... Beneran mirip. Wajah sih beda jauh, tapi sikapmu itu mirip banget. "
Intan menyandarkan tubuhnya ke belakang, berusaha untuk lebih santai.
" Namanya Adhisty.... Kita bertiga berteman dari kecil. "
Kali ini, Intan terlihat sedih.
" Bertiga ? "
" Ya, kita bertiga. Aku, Adhisty dan Arga. "
" Oh... "
" Adhisty punya fisik yang lemah, sering sakit-sakitan dan Argalah yang selalu menjaganya. Awalnya hubungan kami tak lebih dari teman masa kecil, entah mulai kapan, hubungan itu mulai berubah. Aku dan Adhisty sama-sama suka Arga. "
Intan menghentikan kisahnya.
Ditatapnya Qirani dengan pandangan nanar. Qirani merasa risih. Iapun menurunkan tatapan matanya ke arah cangkirnya.
Cinta segitiga.... dan cintanya mungkin tak terbalas.
Batin Qirani menebak.
" Adhisty yang lemah lebih bisa dapetin cintanya Arga. Bahkan sering dia manfaatin kondisi tubuhnya itu demi perhatian Arga. Dia sakit tapi dia licik. Aku yang nggak tega juga nggak bisa berbuat apa-apa.... "
Hening sejenak, hanya helaan nafas Intan yang terdengar.
__ADS_1
" Aku pikir, ya sudahlah.... apalagi Adhisty makin bertambah parah sakitnya. Leukimia... waktunya sudah nggak lama lagi. Aku memilih menyerah saat itu. Aku pingin, sebelum dia pergi, dia bahagia menjalani hari-hari nya bersama Arga. "
Tanpa disadari, Intan mulai berkaca-kaca.
" Aku sakit ngeliat betapa sayangnya Arga ke Adhisty, mau bilang aku ikhlas, itu bohong.... Tapi aku nggak tau harus lakuin apa. Satu sisi, Adhisty sekarat, dia sahabat terbaikku. Di sisi lain, aku beneran suka Arga. "
" Dilema... "
Ucap Qirani lirih.
" Ya, dilema buatku. Aku berharap, jika pada akhirnya Adhisty nggak ada.... Aku akan bisa dapetin cinta Arga. Tapi aku salah. Ternyata nggak segampang itu... "
" Ma.... maaf, sa-saya.... "
" Adhisty meninggal. Arga depresi berat. Dia nggak bisa menerima kenyataan. Aku ?... Semakin jauh dari Arga. Bahkan dia absen kuliah selama dua tahun. Seharusnya dia kan dua tingkat dariku, sekarang aku jadi satu angkatan dengan dia.... "
" Kak, kenapa Kak Intan nggak terus berjuang buat luluhin hati Kak Arga ? "
Ucap Qirani dengan polosnya.
Iya, terus berjuang ...
Jadi aku juga bisa lepas dari si arogan gila itu.
Sambung Qirani dalam hati.
Intan melempar senyum sinis kepada Qirani. Ia mendekatkan wajahnya ke depan ke arah Qirani.
Kata Intan dengan nada ketus.
Qirani yang penuh harapan sebelumnya, merasa sedih. Dilihat dari tatapan Intan, tampak jelas ada kekecewaan yang teramat sangat di mata Intan.
" Apa kamu pikir aku nggak berusaha, hah ?... Segala cara aku lakukan buat ambil hati Arga. Apapun ! Tapi sedetikpun Arga nggak pernah tertarik padaku. Arga cuma anggap aku teman masa kecilnya, nggak lebih dari itu. "
" Sedalam itu cinta Kak Arga kepada Kak Adhisty... "
" Arga cuek sama semua cewek yang deketin dia. Dari meninggalnya Adhisty, nggak ada satupun cewek yang bisa gantiin Adhisty. Sampai tau-tau kamu ada... "
" Sa-saya ? Maksud kakak ? "
" Ya, begitu kamu ada, Arga berubah... Sebenarnya, Arga itu orangnya rame, seru, dan selalu penuh kejutan. "
" Setelah Adhisty meninggal, dan Arga depresi, dia menggila, dikit-dikit berantem, hampir tiap hari ngajakin ribut orang. Ayahnya sampai marah besar, setiap pulang ke rumah selalu penuh dengan lebam dan berdarah. "
" Akhirnya dia dipaksa untuk berobat ke psikiater. Sembuh dari depresinya, dia berubah total jadi pendiam, tak peduli dengan apapun, seolah-olah dia cuma hidup sendiri di dunia ini. "
Parah banget....
Ternyata arogannya dia karena rasa kehilangan.
Dia yang selalu semaunya, punya sisi menyedihkan kayak gini.
Cinta yang mendalam bikin tragis.
__ADS_1
Tapi... apa hubungannya denganku ?
" Dari segi fisik, kamu dan Adhisty jauh berbeda. Bisa dibilang, kamu lebih manis. Kamu juga lebih sehat. Tapi sikapmu yang polos, penurut, dan imut itu mirip Adhisty. Arga jatuh cinta sama kamu... "
" Nggak mungkin lah, Kak ! Kak Arga itu semaunya, dia selalu paksain apapun pada saya. Saya punya pacar, Kak. Saya punya Mas Galih. Saya nggak suka Kak Arga. Dan saya nggak percaya dia suka saya. "
" Dasar .... Dari semua yang aku ceritain tadi ke kamu, kamu masih nggak ngerti juga ?! Bodoh dan polos itu emang beda tipis. Dan aku nggak tau, kamu ini bodoh apa polos ya .... "
Kata Intan sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan perlahan.
" Kakak salah paham, saya nggak pernah suka sama Kak Arga. Sa-saya... "
Beneran aku nggak suka ?
Tapi akhir-akhir ini, aku mulai terbiasa dengan si arogan itu....
" Masalahnya, bukan kamu yang suka apa nggak. Tapi Arga ! Arga suka sama kamu ! Arga cinta sama kamu ! Arga akan lakukan apapun demi kamu, Arga... Arga... hah !! Karena kamu membuatnya teringat Adhisty. Karena kamu mirip Adhisty !! Ngerti sekarang ?! "
Saking kesalnya, Intan mengeluarkan suara dengan nada yang agak meninggi.
Qirani tercekat. Ia menggigit bibir bawahnya. Melihat Intan yang mulai emosi, membuatnya menciut. Apalagi pada apa yang diucapkan Intan, Qirani makin merasa takut.
" Cincin yang sama.... "
Kata Intan saat menatap jari manis sebelah kanan milik Qirani.
" Arga bener-bener anggep kamu sebagai cintanya yang hilang ya.... "
Sambungnya sinis.
" Ini dia kasih dua bulan lalu... Dia bilang, kami jadian. "
" Aku tau, Arga cerita koq. Bahkan dia traktir kita makan-makan di fastfood. Dia keliatan hepi. Aku sih nggak keberatan dengan kamu jadian sama Arga. Aku juga udah lelah soal dia. "
" Dan lagi, tinggal tiga bulan lagi, aku wisuda, aku akan fokus pada perusahaan peninggalan papiku dan merawat mami yang mulai sakit-sakitan sekarang. Nggak punya waktu buat mikirin cintaku yang bertepuk sebelah tangan... "
Meski setiap kata-kata yang diucapkan Intan terdengar sinis dan sarkastis, tapi Qirani merasa ada kesedihan di baliknya.
" Kak, maaf.... Saya ntar bantu bilang ke Kak Arga soal perasaan kakak selama ini. Kalian kenal dari kecil, pasti Kak Arga bisa ngerti dan bisa terima kakak sebagai pasangannya. Apalagi Kak Adhisty juga udah nggak ada, siapa lagi yang pantas buat Kak Arga selain kakak.... "
" Mulutmu manis juga ya, semanis wajahmu. Tapi trims buat tawaranmu, aku nggak butuh belas kasihan orang. Cinta mungkin segalanya dalam hidup, tapi hidup nggak selalu segalanya tentang cinta... Banyak hal yang bisa bikin hidup berwarna koq. "
" Tapi kak.... "
" Aku udah bilang tadi kan, aku nggak keberatan soal hubungan kalian. Tapi... apa kamu nggak keberatan dianggap sebagai pengganti ? "
Kembali Qirani tercekat. Ucapan Intan yang terdengar santai itu terasa menohok tenggorokannya, membuatnya tak bisa berkata-kata.
Aku sebagai pengganti ?
Pengganti ....
Aku keberatan kah ??!!
__ADS_1