
Malam Minggu....
Kayak biasa, dijemput dan diajak jalan-jalan ke mall.
Dia beliin banyak hadiah buat Bunda dan semua yang di panti asuhan.
Dia emang suka kasar, tapi aku ngerasa dia berhati lembut.
Coba kalo dia nggak arogan ya, pasti aku bakalan bener-bener suka.
Nggak kayak sekarang....
Setengah suka, setengah ..... takut.
" Apa aku segitu gantengnya sampai kamu liatin aku tanpa kedip gitu ? "
Ditegur Arga dengan terang-terangan, Qirani langsung menurunkan tatapannya.
" Ma-maaf... "
" Huh ! Maaf, maaf terus. Jangan terlalu suka bilang maaf, aku nggak suka ! Aku nggak marah kamu pelototin sampai kamu bosen. Kamu kan cewekku.... "
Kata Arga dengan kesal.
Arga mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Qirani dengan lembut. Sesaat kedua pipi Qirani memerah. Ia mendorong dada Arga menjauhkan wajahnya dari dirinya.
" Kenapa masih nggak suka, hah ?! Aku kan pacarmu ?! Hiisshh !! "
Kata Arga yang kecewa dengan perlakuan Qirani.
" Arga, ini di tempat umum... Jangan kasar apa sama cewekmu ini. "
Tegur Indra sambil melihat ke sekeliling mereka.
" Abisnya.... Masih nggak berubah, selalu menolak ku. Aku nggak suka ditolak, apalagi aku berhak. "
Jawab Arga sembari melirik ke arah Qirani yang diam dan tertunduk.
" Iya, aku tau kamu berhak, tapi kamu kan dari awal itu maksain judulnya.... Ayolah, kita kesini buat hepi-hepi, ngerayain kelarnya skripsi kita, nggak seru kalo malah harus ngeliat kamu ngambek begini. "
Kali ini Doni angkat bicara.
Arga terdiam. Skakmat. Ucapan Doni memang benar dan tepat. Dengan masih kesal, Arga menarik tangannya dari pelukannya ke pundak Qirani sejak mereka duduk di kafe tersebut.
Qirani masih diam membisu. Tak berani mengangkat wajahnya kembali. Ia mengaitkan jari jemarinya satu dengan yang lainnya. Memilih tak bersuara dan tak bergerak, takut salah lagi.
Bukan maksudku menolak....
Tapi ini di tempat umum, dia main peluk main cium sesuka hati.
Aku nggak mau jadi cewek gampangan...
Kalo tau-tau ada temen sekolah yang ngeliat, aku pasti jadi incaran buat di bully dan jadi bahan gosip di sekolah...
Itu bakal jadi masalah kalo sampai aku nyusahin Bunda.
Aku cuma pingin lulus sekolah dengan baik- baik saja
Dalam hati, Qirani ingin menjelaskan maksudnya mendorong tubuh Arga tadi.
" Sebentar lagi kuliah selesai... Rencana apa yang kalian punya setelah lulus ? "
Tanya Indra sesaat setelah melihat Arga mulai santai juga akhirnya.
" Aku langsung lanjut ambil spesialis bedah. Sambil bantu bokap juga di rumah sakit. Padahal otak ku udah overload nih.... Bisa-bisa aku jadi dokter muda yang tampan tapi botak... "
Sahut Doni dengan wajah yang masam.
Tanpa disadari, Qirani tertawa kecil mendengar ucapan Doni. Ketiga pemuda di sampingnya tersebut langsung mengalihkan pandangan dari penyanyi kafe ke arah Qirani.
" Hei, ketawamu manis juga. "
Komentar Indra singkat.
" Hahaha... Kamu bisa ketawa juga ya ! "
Kata Doni riang.
" Bisa-bisanya kamu ketawa ?! Kamu nggak pernah ketawa kalo sama aku ! "
Arga meradang.
Qirani menyesal. Langsung dia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan menggenggam tangan Arga.
__ADS_1
" Bu-bukan, a-aku.... "
" Tuh, kalo sama aku cuma bisa ngomong gagap dan diem kayak orang bisu. Doni cuma ngomong kayak gitu, kamu bisa geli ?! Kamu ini ... Apa sih maumu ? Kenapa selalu bikin aku kesel ? "
Arga makin meradang dengan sikap takut yang diperlihatkan Qirani.
" Ga, Arga... udah deh ! "
" Tau nih, kayak gitu aja marah ! "
Kedua temennya berusaha menenangkannya. Tak tega melihat Qirani yang memang ketakutan menghadapi Arga.
" Dia ini pacarku ! Tapi dia selalu kayak gini. Emang aku monster apa ? Selalu bikin kesel, selalu ketakutan ! "
Arga masih tak bisa tenang.
" Kamu ini.... selalu arogan kayak gitu ke Qirani. Itu yang bikin dia takut. "
Betul... itu yang bikin aku takut.
Batin Qirani menanggapi ucapan Doni.
" Kamu itu dikit-dikit marah, dikit-dikit kesel, tapi juga tau-tau cium dia, peluk dia, keliatan sayang banget tapi over protektif kamu itu parah, Qirani pasti bingung.... "
Bener sekali, Kak Indra...
Aku emang bingung sama sikap orang satu ini.
" Coba deh, kamu itu lebih lembut, mesra, dan nggak cemburuan. Qirani pasti suka sama kamu, iya kan ? "
" Iya... Ehh... "
Tanpa disadari, Qirani spontan menjawab.
Keceplosan....
Arga melihat ke arahnya dan tersenyum. Doni dan Indra tertawa kecil melihat bagaimana reaksi polosnya Qirani.
" Okey... Aku bisa koq jadi lembut... "
Jawab Arga sembari membelai lembut rambut Qirani.
" Baguslah.... sekarang, ayo abisin nih minuman ! "
Kata Indra dengan senang.
" Apa rencana mu setelah lulus ? "
Tanya Indra pada Arga, melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya.
" Aku.... mmm... "
Arga melirik ke arah Qirani. Rupanya Qirani juga sedang menatapnya. Kembali Arga membelai lembut rambut Qirani dan tersenyum kecil.
" Aku mau langsung kerja aja di perusahaan Ayah, tunggu setahun, aku mau nikah.... "
Sambung Arga sambil mengambil sloki di hadapannya yang telah terisi.
" Ooohh.... Udah nggak tahan ya, pingin buru-buru mengikat yang di samping. "
Timpal Doni ikut tersenyum kepada Qirani.
Merasa Doni dan Indra langsung melihat ke arahnya, Qirani merasa jengah.
Apa benar segitu pinginnya menikahi ku ?
Apa benar setulus itu, padahal baru jadian beberapa bulan.
Apa bukan karena....
" Aku nggak mau kehilangan lagi... "
Sahut Arga.
Terlalu percaya diri aku ini rupanya...
Benar kata Kak Intan, aku cuma pengganti.
" Kak... Jangan minum, itu beralkohol. "
Qirani menarik lengan baju Arga saat Arga hampir menenggak minumannya.
" Tenang, dia nggak akan mabuk. Dia masih bisa nganter kamu pulang dengan selamat biarpun menghabiskan sebotol ini sendirian.
__ADS_1
Sahut Doni seperti mengerti kekhawatiran Qirani.
" Tapi... "
" Udah, jangan cerewet. Itu jus buahmu, buruan diminum. "
Potong Arga dan dengan cepat, sekali tenggak langsung habis isi sloki di tangannya.
Qirani tak bisa lagi berkata-kata, kemudian memilih menikmati jus buah dan beberapa makanan yang dipesan Arga untuknya.
Sayangnya, yang dikhawatirkan Qirani terjadi. Waktu mulai menunjukkan tengah malam. Arga memang tidak mabuk saat satu botol minuman itu telah habis, tapi setelah beberapa botol datang lagi dan lagi, Arga mulai mabuk.
Doni dan Indrapun sama. Mulai bicara yang tak jelas dan meracau. Ketiganya saling bercanda, tertawa dan tak menyadari di sudut sofa mereka, Qirani mulai cemas.
Aduh... pada mabuk.
Gimana ini caranya bawa mereka pulang ya... ?
Ahh, ojek online aja !
Dan tak menunggu lama, Qirani membuka aplikasi layanan ojek online di handphone nya.
" Pak, bisa bantu saya ? "
Kata Qirani kepada seorang satpam yang berjaga di sebelah dalam pintu kafe tersebut.
" Ya mbak, ada apa ya ? "
" Kakak saya dan teman-temannya mabuk, minta tolong di bantu keluar, saya udah pesan layanan online buat antar pulang. "
Kata Qirani sambil menunjuk ke arah meja dimana Arga dan teman-temannya yang sudah mabuk tersebut.
" Oh iya, saya bantu. "
Sahut Pak Satpam tersebut.
Dan satu-persatu dengan bantuan Pak Satpam, Qirani membawa ketiganya masuk ke dalam mobil pesanannya yang telah datang dan parkir tepat di luar pintu masuk kafe.
" Terimakasih ya pak... "
Kata Qirani sembari memberikan selembar uang seratus ribu kepada pak satpam tersebut.
" Sama-sama mba.... Hati-hati di jalan. "
Sahut Pak Satpam dan dengan sangat bersyukur menerima uang pemberian Qirani.
Setelah masuk ke mobil dan memilih duduk di sebelah sang sopir, Qirani memberikan sebuah alamat yang akan ditujunya, alamat apartemen Arga. Sang sopir segera melaju pergi membawa mereka berempat.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN
" Terimakasih ya pak.... Ambil kembaliannya. "
Kata Qirani saat membayar ongkos layanan mobil online tersebut.
Sembari memberikan uang lebih sebagai tanda terimakasih karena sang sopir berbaik hati membantunya memapah satu persatu ketiga sahabat yang sudah mabuk berat tersebut masuk ke apartemen.
" Sama-sama, mbak.... "
Dan sang sopir pun segera berlalu pergi setelah menutup pintu apartemen milik Arga.
" Udah jam tiga lebih.... Pulang sekarang nggak mungkin, pasti besoknya diomelin sama si arogan itu. Bunda juga pasti marah.... "
Gumam Qirani saat melihat jam dinding.
Ditatapnya Doni dan Indra yang tergeletak di karpet berbulu di tengah ruang tamu. Ia mendekati keduanya dan dengan pelan-pelan membantu melepaskan sepatu keduanya.
Benar-benar nyusahin aja !!
Keluh Qirani dalam hati.
Kemudian ia berjalan ke dalam kamar, dimana Arga berada. Seperti yang dilakukannya pada Doni dan Indra, Qirani juga membantu melepaskan sepatu yang dikenakan Arga.
" Uumm.... "
Terdengar Arga menggumam tak jelas.
Qirani mendekat ke sisi ranjang dan duduk sambil menatap ke wajah Arga. Disentuhnya ujung hidung Arga pelan. Dirapikanya rambut Arga yang berantakan dengan jari jemarinya.
" Kalo aku sebagai pengganti pacarmu yang udah meninggal, apa itu adil buatku masih terus bertahan disisimu, kak ? Pastinya cintamu ke aku, bukan buat aku, tapi buat dia. Yang pingin kamu nikahi juga dia, bukan ? Selain arogan mu itu, kamu termasuk orang yang baik buatku dan keluarga pantiku... "
" .... Dhis.... Adhis.... Aku.... ka... ngen.... "
Arga menggumam, kali ini Qirani mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
" Bodohnya aku .... Saat aku mulai suka sama kamu, ternyata aku beneran cuma sebagai pengganti ya... "
Lirih Qirani miris dengan senyum manisnya yang sinis.