
" Ga, banyak banget bawaanmu ini... "
Bisik Doni.
Ia melihat Arga membuka bagasi mobilnya dan terlihat penuh dengan kado-kado dengan bentuk dan ukuran yang berbeda.
" Aku udah janji sama Qirani, mau kasih kado buat adik-adiknya disini. Ayo, jangan ngeliatin doang. Bantu bawain. "
Jawab Arga.
" Ga, ini kado banyak a... "
" Jangan komen, ayo bawain ! "
Belum selesai Indra berbicara, Arga sudah memotong ucapannya dan menyuruhnya membantu.
" Okey... "
Sahut Indra lemah, dan mengikuti kedua temannya, iapun membawa beberapa kado di tangannya.
" Kak ? Mana Kak Qirani ? "
Belum sampai Arga berniat mendorong membuka pintu gerbang, Luki ternyata ada di balik pintu gerbang tersebut.
Dan karena melihat Arga yang kerepotan dengan bungkusan kado-kado di tangannya, Luki membukakan pintu gerbang tersebut.
Sambil melangkah masuk, Arga tampak kebingungan dengan pertanyaan Luki.
" Kakakmu nggak pulang ? "
Baru saja Arga ingin membuka mulut, Indra yang berjalan di belakangnya sudah terlebih dahulu bertanya.
" Bukankah kemarin Kakak ijin ngajak Kak Qirani jalan-jalan ? "
Kata Luki balik bertanya dengan penasaran.
Arga, Indra, dan Doni saling berpandangan. Tepat di serambi depan, ketiganya meletakkan kado-kado yang dibawa di bangku panjang.
" Bundaaaaa ! Ada temen Kak Qirani niiihh !! "
Teriak Luki sambil membantu meletakkan kado-kado yang dibawa Arga.
" Kamu yakin, kakakmu belum pulang ? "
Kembali Indra bertanya, menegaskan.
Luki menggelengkan kepala dengan raut wajah penuh tanda tanya. Arga dan Doni duduk di bangku panjang yang sebelah lagi, Indra duduk di seberang mereka berdua.
" Lho, ini apa ? Banyak banget kado-kadonya... "
Bu Rima yang datang dari arah dalam, tampak terkejut dengan kado-kado yang memenuhi bangku panjang.
" Sedikit hadiah untuk semua disini, Bun... "
Sahut Arga dengan sopan dan tersenyum serakah mungkin.
" Oh gitu, terimakasih ya... Tapi, mana Qirani ? "
Ujar Bunda sembari melihat ke kanan dan kiri, mencari sosok Qirani.
" Anu... Mm, itu... "
Arga kebingungan menjawab.
Bu Rima merasa ada yang janggal melihat Arga yang langsung melempar pandangannya ke arah Doni dan Indra.
" Dia... Mm, Qirani... "
Sama saja dengan Arga, Indra juga bingung harus berkata apa.
" Jangan bikin Bunda bingung. Bukannya Qirani dijemput sama kamu ? Semalam Luna, temannya bilang, Qirani dijemput temen Arga. Arga, kamu kan juga ijin ke sini kemarin siang, katamu kamu mau ajak Qirani jalan-jalan dan mau kamu antar pulang paling tepat jam sepuluh malam ? "
__ADS_1
Bu Rima yang sebelumnya terdengar santai, kini mulai menyelidik dengan nada suara menahan kesal.
Arga, Indra dan Doni bersamaan tertunduk saat tatapan mata Bunda yang kini tampak tajam penuh kecurigaan menatap mereka satu per satu.
" Jawab Bunda !! Dimana Qirani ?! "
Kali ini, Bu Rima mulai emosi. Nada suaranya meninggi.
" Luki bilang apa ? Kak Qirani itu terlalu lugu, gampang dikerjain kan sama mereka ini, Bun. Orang kaya nggak akan ada yang segampang itu suka sama anak panti kayak Qirani. Beda sama mas Galih, dia tulus, dia beneran sayang sama Kak Qirani. Ka... "
" Aku juga tulus ! Kata siapa aku main-main ? Bahkan kalo hari ini Qirani mau nikah sama aku, hari ini juga aku nikahi ! ".
Potong Arga yang langsung marah mendengar kata-kata Luki.
" Arga, sadar... Banyak anak-anak disini. Tahan emosimu. "
Doni menenangkan Arga dan mencekal lengan Arga, kuatir Arga bakal main tonjok begitu saja.
" Baik, Bunda percaya kamu tulus sama Qirani. Tapi mana Qirani ? Dari kemarin dia belum pulang, Bunda pikir dia ada sama kamu. Tapi kenapa sekarang kamu ada disini, Qirani nggak ikut kamu kesini ? "
Kata Bu Rima mulai merendahkan suaranya, mencoba untuk tetap tenang.
" Qirani hilang, Bunda. Maaf... Kami su... "
" Kak Qirani hilang ??? Kenapa bisa hilang ?! "
Luki spontan berseru memotong kata-kata Indra.
" Apa maksud kalian ? "
Setelah mencoba untuk tetap tenang, Bu Rima kembali meninggikan suaranya karena terkejut dengan ucapan Indra.
" Kemarin setelah saya jemput Qirani di sekolahannya, sampai semalam Qirani emang bersama kami. Tapi jam duaan, pihak hotel bilang, Qirani sudah keluar hotel... "
" Hotel ?! Kalian bawa Qirani ke hotel ?! "
Bu Rimaa mulai meradang.
" Hotel itu milik keluarga Arga, Bun. Dan kita nggak ngelakuin apa-apa koq... Beneran. Kita cuma... "
" Saya salah, Bun. Maaf, saya ngelakuin sesuatu yang seharusnya nggak boleh dilakuin. Saya tidur de.. "
PLLAAKKK !!!
Spontan Bu Rima menghampiri Arga dengan cepat dan menutup mulut Arga dengan sebuah tamparan yang sangat keras.
Semua tercengang melihat hal itu. Luki tampak sangat marah. Indra dan Doni hanya bisa menghela nafas panjang.
Arga meraba pipinya yang ditampar Bu Rima. Terasa panas dan tampak memerah seketika.
" Kamu... Kamu... "
Bu Rima merasa tenggorokannya tercekat, tak bisa berkata apa-apa lagi.
Ada gemuruh amarah yang ingin meluap keluar, ada sakit yang menusuk-nusuk dadanya, dan akhirnya ada airmata yang mengalir tanpa disadarinya.
" Aku akan laporin kalian ke polisi ! "
Seru Luki yang langsung memutar tubuh, berniat pergi.
" Luki, Luki... "
Bu Rima dengan cepat memegang lengan Luki, menahannya untuk tidak pergi.
" Dia jahat, Bun. Kak Qirani diperkosa, dan sekarang nggak pulang. Kita harus laporin ini ke polisi ! "
" Kamu masuk dulu... Bawa adik-adikmu yang ada di sekitar sini masuk. Biar Bunda yang urus soal ini... Menurutlah... "
" Tapi, Bun... "
" Bunda tau, kamu sayang kakakmu. Tapi Bunda mohon, dengarkan Bunda dulu sekarang ya. Bawa adik-adikmu masuk. "
__ADS_1
Mendengar kata-kata Bu Rima yang penuh kelembutan, Luki pun luluh.
Kemudian setelah menganggukkan kepala, Luki memanggil satu persatu anak-anak panti asuhan yang sedang bermain di sekitar serambi untuk masuk ke dalam rumah.
Melihat situasi yang sudah sepi dan tenang, Bu Rima pun duduk di bangku yang berseberangan dengan Arga dan Doni.
" Lanjutkanlah... "
Kata Bu Rima, berusaha untuk tetap mengendalikan diri.
" Saya dijebak. Ada yang kasih obat perangsang ke saya. Soal ini, saya juga sedang cari tau siapa pelakunya. Apapun yang sudah saya lakuin pada Qirani, saya siap tanggungjawab dalam hal apapun. Tadi pagi saya bangun, Qirani sudah nggak ada. Saya minta ngeliat cctv hotel, dan Qirani emang keluar dari hotel sekitar jam dua pagi. Saya pikir, dia pulang ke panti. "
Arga melanjutkan penjelasannya dengan panjang lebar.
" Cuma kamu kah yang... "
Bu Rima menggantungkan kalimatnya sembari menatap Arga, Indra dan Doni bergantian.
" Iya, cuma saya yang ngelakuin itu. "
Sahut Arga yang paham apa maksud kalimat Bu Rima yang menggantung.
Diikuti anggukan Doni dan Indra secara bersamaan. Meski masih marah, tapi Bu Rima pun bernafas lega mendengar jawaban Arga.
" Ada dugaan sih, Bun... Siapa pelakunya yang kasih obat itu ke Arga, tapi kita belum punya bukti kuat. Tapi kami mau fokus dulu cari Qirani. "
Kata Indra dengan hati-hati saat berbicara.
" Betul, kami mau nyariin Qirani sampai ketemu dulu, urusan yang lain, masih bisa kami proses setelahnya. Kami juga kuatir dengan keadaan Qirani. Kondisinya yang memprihatinkan itu ditambah dia keluar di jam duaan, kami takut dia kenapa-napa. "
Sambung Indra kembali.
Perkataan Indra membuat Arga semakin merasa bersalah. Bu Rima yang mendengarkan dengan seksama, kini tampak mulai cemas.
" Iya... Qirani itu polos banget. Udah segede itu aja belum pernah pergi sendirian kemana-mana. Paling jauh ke pasar, itu juga pas waktu pagi atau siang hari dan ditemani satu atau dua orang adiknya. Ya Allah, semoga Kau lindungi anakku Ya Allah.... "
Kata Bu Rima yang sempat merinding membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi pada Qirani.
" Maaf... Maafin saya... Maaf.... "
Arga yang semakin merasa bersalah dan merasa sangat menyesal mendengar ucapan Bu Rima.
Ia langsung bersimpuh di kaki Bu Rima. Suaranya yang lirih dan bergetar menahan tangis, membuat Bu Rima luluh dan sedih.
Doni dan Indra pun ikut merasakan kesedihan Arga dan Bu Rima.
Benar kata Bunda...
Mental Qirani pasti hancur.
Apapun alasannya Arga ngelakuin itu, tetap itu bakal bikin Qirani kecewa dan sakit hati.
Apalagi Qirani juga belum tentu tau soal Arga dikasih obat perangsang itu.
Cewek itu nggak pernah kemana-mana selain sekolah dan ke pasar, lalu sekarang ada dimana dia kalo dia emang mau sembunyi dari Arga ?
Tipe cewek kayak Qirani itu bukan orang yang gampang berteman, jadi pasti temannya paling satu dua aja yang dekat.
Seharusnya nyariin cewek sepolos dan selugu dia pastilah gampang ketemu...
Arga beneran sampai sujud begitu...
Dia pasti merasa bersalah banget.
Dia nggak main-main sama perasaannya.
Bener-bener tulus.
Aku pikir, sebatas ngeliat Qirani mirip Adhisty, dia sekedar bermain-main dalam kenangan masa lalunya aja.
Ternyata... dia udah bener-bener jatuh cinta.
__ADS_1