Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 35


__ADS_3

TIGA TAHUN KEMUDIAN


" Apa-apaan ini ?! Kita kecolongan lagi, Bima !!! "


Bu Eka berkata dengan nada tinggi sambil melemparkan sebuah amplop besar berwarna coklat muda ke atas meja kerja Pak Bima.


" Ada apa lagi, ma ? "


Tanya Pak Bima penasaran kepada ibunya yang tiba-tiba datang ke kantornya dengan penuh amarah.


" Buka saja dan lihat dengan jelas !! "


Kata Bu Eka dengan ketus sambil duduk di sofa panjang berwarna coklat tua.


Pak Bima mengambil amplop yang dimaksud sang ibu dan membukanya. Dibacanya dengan teliti. Wajahnya yang sebelumnya penasaran kini lama-lama berubah menjadi tegang.


" Hotel di Bekasi terancam bangkrut ? Bukankah tahun lalu, hotel kita disana itu termasuk yang paling rame ? Koq bisa secepat ini ? Bermasalah dimananya ya ? "


Pak Bima bertanya pada diri sendiri dengan kening yang penuh kerutan.


" Itu yang mama nggak habis pikir. Setahun ini, sudah berapa hotel kita di Semarang, Surabaya, Tangerang mengalami kemunduran. Sekarang ditambah Bekasi. Apa yang terjadi sebenarnya ? "


Sama halnya dengan Pak Bima, Bu Eka juga seolah-olah bertanya pada diri sendiri.


" Kita harus menutupi masalah ini secepatnya, kalo nggak, bakal mengalami kerugian besar. Yang paling parah, para pemegang saham yang cuma tau keuntungan itu, akan menuntut kita. Jangan sampai bocor keluar, itu bisa bikin saham kita turun dan sama saja kita hancur. "


Kata Bu Eka dengan wajah yang sangat serius.


" Sebelumnya, aku sudah selidiki diam-diam soal masalah hotel kita yang di Surabaya dan Semarang tahun lalu. Tapi aku nggak nemuin sesuatu yang aneh. Kemunduran hotel kita ini murni karena kalah persaingan promosi aja, ma. aku pikir, dengan tambahan diskon dan perbaikan fasilitas, masalah teratasi. Nyatanya, nggak ada perubahan sama sekali, ditambah yang di Tangerang, juga mengalami hal yang sama. "


Jelas Pak Bima.


" Dilihat dari berkas yang mama bawa, pasti ada sesuatu selama ini yang kita nggak tau itu apa, tapi bisa bikin hotel-hotel kita ini kehilangan pelanggan begitu saja. Seperti nya ini kasus yang sama dengan yang di Semarang dan Surabaya. Hotel mengalami kerugian setelah meningkat pesat. Padahal dilihat dari laporan keuangan, aku nggak ngeliat ada yang ganjil. Masalahnya adalah apa kah sesuatu itu, ini yang aku nggak paham. "


" Bagaimana yang di Bandung ? Sudah ada laporan dari Arga ? "


" Sudah, Arga mengirim dokumen laporan nya via email kemarin. Disana aman, masih beroperasi dengan baik. Untuk penanganan property yang dipegangnya juga berjalan dengan lancar. Sepertinya Arga benar-benar bisa diandalkan. "


" Kenapa nggak pernah sekalipun dia pulang ke sini ? Apa dia benar-benar pingin seumur hidup tinggal di Bandung ? Terakhir kali kita ketemu dia, saat wisudanya di Bandung. Apa dia nggak pingin menikah ? "


" Entahlah... Setiap Aku telepon dia, dan ngobrolin soal pernikahan, Arga langsung mengalihkan pembicaraan atau memutus telepon. "


" Suruh dia pulang, biar dia bisa bantu mengatasi masalah hotel-hotel itu. Aku juga sudah kangen pingin ketemu dia. Tiga tahun di Bandung, rasanya sudah cukup lama buat dia menenangkan dirinya. Sudah waktunya dia kembali ke Jakarta dan memikirkan pernikahan. "


" Aku akan suruh dia pulang secepatnya, besok pagi Bima telepon dia. "


" Satu lagi... Kalo perlu, cari perusahaan yang bisa bergabung dengan kita untuk mengatasi masalah kerugian kita. Lakukan diam-diam, jangan sampai para pemegang saham tau. "


" Maksud mama, kita akan menjual sebagian saham kita ? "


" Mau bagaimana lagi ? Kerugian kita sudah terlalu besar. Kalo memang itu yang harus dilakukan, lakukan saja. Tapi laporkan dulu padaku sebelum memutuskan untuk bertindak lebih jauh. "


" Atau kamu punya ide yang lebih baik lagi ? "


" Baiklah... Akj akan lakukan sesuai keinginan mama. "


" Tunggu dulu... Mungkin kita bisa pertimbangkan usulmu yang dulu itu. Menikahkan Arga dengan anaknya Herman. Herman punya saham dua puluh persen bukan ? Ditambah dengan saham kita, dua puluh persen, maka akan menjadi empat puluh persen. Saham Arga sendiri dua puluh lima persen. Saham itu akan menguatkan posisi Arga sebagai CEO berikutnya. Ditambah perusahaan Herman di bidang elektronik, perusahaan itu akhir-akhir ini berkembang pesat. Rosa satu-satunya anak Herman, otomatis semua yang dimiliki Herman akan jatuh kepada Rosa, dan Arga bisa pegang kendali. Dan perusahaan kita terselamatkan, tanpa kita harus menjual sebagian saham kita. "


Dengan begitu bersemangat, Bu Eka menjabarkan idenya.


" Memangnya Arga mau semudah itu menikah dengan Rosa ? Bertemu sekalipun belum pernah. Dulu aja, Arga langsung menolak, ma. "

__ADS_1


" Itu kan dulu, waktu Arga sedang tergila-gila mencari pacarnya yang hilang itu. Ini sudah tiga tahun berlalu... Dan Arga nggak pernah sekalipun mengungkit soal pacarnya lagi. Mama yakin, dia sudah melupakan pacarnya itu. Coba aja kamu obrolin dulu sama Arga. Bilang, ini demi perusahaan, demi masa depan dia juga. "


" Soal itu, okey... Aku akan coba. "


" Kalo Arga menolak, kita terpaksa pakai cara satu-satunya itu buat mengatasi masalah ini. Menjual sebagian saham kita pada perusahaan yang mau menutupi kerugian besar ini. Usahain pertahankan setengahnya saham kita. Jangan sampai malah bikin kita kehilangan perusahaan. "


" Baiklah...."


Kata Pak Bima dengan lesu.


Bu Eka berjalan dengan perlahan menuju balkon. Membuka pintu kaca balkon dan memejamkan kedua matanya, menikmati hembusan angin sore yang langsung menyergap masuk ke dalam kantor Pak Bima.


" Usiaku sudah semakin tua. Menghadapi satu per satu masalah yang ada, terkadang membuatku bersemangat dan merasa masih muda. Tapi kondisiku ini nggak bisa dibohongi. Sepertinya waktuku sudah hampir dekat untuk berkumpul kembali dengan papamu, Bim... "


" Ma, jangan bicara kayak gitu... Mama sangat sehat, dan ingat, mama belum melihat Arga menikah... "


Pak Bima merasa sedih mendengar perkataan ibunya.


Kemudian Pak Bima pun berjalan mendekati sang ibu, memeluk pinggangnya dan mencium pipi Bu Eka yang telah mengeriput tersebut.


" Apa jadinya aku tanpa mama... "


Kata Pak Bima.


" Mama sudah tua, Bim... Enam puluh tiga tahun sudah... Dan sejak papamu meninggal sepuluh tahun lalu, mama sendirian menghadapi semuanya, membesarkan perusahaan ini. Sudah sepantasnya mama berhenti dan menyerahkan sepenuhnya padamu dan Arga. "


" Maaf... Sampai hari ini aku masih harus ngerepotin mama. "


" Kamu dan Arga harus saling dukung, pertahankan perusahaan ini. Lakukan apapun demi perusahaan ini, seperti yang mama lakukan. "


Pak Bima termenung mendengar kata-kata sang ibu.


Nggak mungkin aku ngelakuin hal yang sama seperti mama.


Melakukan sesuatu yang sangat jahat cuma demi perusahaan dan harta... ?


Maaf, ma...


Aku nggak bisa kayak gitu.


Menjadi bonekamu di perusahaan ini sudah lebih dari cukup...


Hidupku menyedihkan...


Selalu keputusan mama di atas segalanya, bahkan atas hidupku sendiri, aku nggak bisa kendalikan.


Aku nggak mau kayak mama...


Aku nggak mau Arga kayak aku, ma...


Terkekang dan nggak bebas dalam kehidupannya sendiri.


Cukup aku yang jadi bonekamu...


Cukup aku saja.


Tiga tahun ini tanpa Arga, membuatku berpikir, aku terlalu keras pada anakku sendiri.


Anak ku satu-satunya ingin menjauh dariku...


Itu menyakitkan ...

__ADS_1


Aku tau apa yang jadi alasan sebenarnya Arga menjauh...


Menutupinya salah satu caraku melindungi Arga dari aturan mama yang kolot.


DI LONDON, INGGRIS


" Sudah waktunya, Adit... "


Kata Bu Citra seraya melayangkan pandangan ke arah taman belakang.


Tampak olehnya Qirani yang tengah sibuk membaca beberapa buku ditemani suara musik dari band asal Indonesia yang terkenal. Sesekali Qirani mengikuti lirik lagu yang didengarnya dengan bersenandung kecil.


" Mama yakin, sekarang waktunya bertindak ? "


Tanya Aditya yang juga mengikuti pandangan sang ibu ke arah taman belakang.


" Kamu suka pada Divya ? "


Kata Bu Citra dengan senyum kecil di sudut bibirnya.


Aditya mengalihkan pandangan nya ke arah Bu Citra. Wajahnya nampak serius.


" Divya emang gadis cantik, baik dan penurut. Masalahnya, Adit nggak ada rasa lebih dari rasa sayang kakak ke adik. Apa yang mama harapkan ? "


" Sayang sekali... Kalo kamu suka padanya, mama pingin kamu menikahinya sebelum kalian kembali ke Indonesia. "


Sahut Bu Citra dengan wajah yang kecewa.


" Apa karena dia bekas diperkosa ? Kamu... jijik atau... "


" Apa maksud mama ? Jangan bicara kayak gitu... Kasian Divya. Dia sudah melupakan masa lalunya, sekarang dia berbeda. Sangat berbeda. "


" Tapi ingatannya sudah kembali sejak tahun lalu. Dia ingat siapa yang melakukan perbuatan bejad itu. Bahkan dia ingat, Arga itu pacarnya."


" Lalu kenapa kalo dia ingat semuanya, ma ? Itu bukankah jadi bagus buat rencana mama. Dia akan membuat Arga masuk perangkap kita dan menghancurkan keluarga Bima. "


" Iya, dia bisa jadi pion bagus buat rencana mama. Cuma mama kuatir, saat dia kembali ke Indonesia, dan bertemu dengan anak Bima itu, dia akan goyah, Adit. Biar bagaimanapun, Arga pacarnya. Nggak mungkin cintanya hilang begitu saja. Maka itu, mama pingin, kalian menikahlah... "


" Mama, mama... Kalo Adit menikah dengan Divya, lalu bagaimana caranya dia bisa menjerat Arga dan menjebaknya ? Sudahlah, ma. Adit yakin, Divya nggak segampang itu goyah. Dia tau siapa pacarnya yang jahat itu, ditambah dia juga tau, semua tentang mama dan almarhum papanya. Adit yakin, dendamnya lebih besar daripada kenangan akan cintanya pada Arga. Apalagi, dia adalah keturunan mama. Seorang wanita yang kuat dan pintar. Percaya sama Adit... "


" Baiklah... Baik. Mama percaya padamu. "


" Nah, gitu dong... "


" Siapin surat-surat Divya. Satu hal lagi, saat waktunya kalian sudah di Indonesia, pertemuan pertama Divya dengan Arga, pastikan dulu Arga masih mengharapkannya, baru lanjutkan ke rencana selanjutnya. Kalo Arga sudah nggak ada lagi perasaan ke Divya, ganti rencana B. Intinya, fokus bagaimana agar Arga jatuh ke perangkap kita. "


" Iya, ma... "


" Kapan kalian siap berangkat ? "


" Lusa sudah bisa berangkat. "


" Baiklah... lebih cepat lebih baik. "


Dan Bu Citra pun menyeruput teh madunya dengan tenang.


Maafin mama, Divy...


Memanfaatkan rasa bencimu demi rencana balas dendam mama.


Tapi kamu akan mengerti nanti, semua ini juga demi kamu dan masa depan mu...

__ADS_1


Agar tak ada lagi yang bisa menyakitimu.


Dan membuat semua orang menghormatimu...


__ADS_2