
Menyusuri jalan setapak dengan pemandangan hijau dan agak berkabut, ini adalah hal yang baru bagi Qirani.
Seumur hidupnya, yang namanya jalan-jalan adalah hal yang mustahil. Saat karya wisata pun, dia tak pernah ikut.
Bu Rima selalu menyuruhnya mengikuti karya wisata saat SD dan SMP, Qirani merasa sayang dengan uang yang harus dibayarkan.
Udara dingin membuatnya meniup-niup kedua telapak tangannya dan menggosok-gosokkannya sedemikian rupa agar terasa hangat.
Tak seperti yang lain, Qirani tak mengenakan jaket yang tebal dan berlapis. Dia hanya mengenakan sweater yang dia pakai dari semalam.
" Ffiiuuuhh... Ffiuuuhhh... "
Tiupnya kembali ke kedua telapak tangannya.
Arga yang berjalan disisinya sambil merokok, meliriknya.
Coba apa ini ?
Udah tau mau diajak ke puncak, cuma bawa sweater itu doang, nggak ganti lagi dari semalem.
Apa dia nggak punya jaket lain apa ?
Nyusahin aja !
Tadi ditawarin pinjaman jaket Elisa nggak mau.
Cewek ini beneran bodoh ya...
Batin Arga setengah kesal.
Kemudian dia menjatuhkan sisa puntung rokok ke tanah dan menginjaknya.
" Berhenti. "
Katanya pada Qirani.
Qirani pun menghentikan langkahnya dan memalingkan tubuhnya ke arah Arga. Arga melepas cardigan berbulu dengan panjang sampai ke pahanya yang dikenakannya.
Ia memakaikannya ke tubuh Qirani yang kemudian tampak tenggelam dalam cardigan Arga.
" Nah, kalo sekarang, kamu nggak akan kedinginan. Yuk jalan lagi... "
Katanya sambil merapikan pakaiannya sendiri.
Kemudian sambil merangkul bahu Qirani dan menarik tubuhnya menjadi lebih rapat, Arga pun kembali melangkah mengejar jejak kawan-kawannya yang sudah mulai menjauh.
" Terimakasih, kak... "
Kata Qirani setengah menggumam.
Arga hanya meliriknya sekilas dan tersenyum bangga.
Nggak tau kenapa, kalo ngeliat dia rasanya pingin kasih semuanya ke dia, apapun itu.
Setiap deket begini, berasa pingin terus lengket, nggak pingin lepas sedetikpun.
Nggak pingin ada jarak sekian milimeter sekalipun.
Setelah bertahun-tahun....
Aku merasa kayak hidup kembali...
Batin Arga dengan senyum yang terus mengembang.
Tiba di sebuah tempat makan yang telah ramai pengunjung, mereka langsung mengedarkan pandangan mencari satu tempat yang kiranya cukup untuk kesemuanya.
" Sudut situ tuh.... "
Tunjuk Yuli ke arah sudut sebelah sisi kanan mereka.
" Ya udah, kesana ! "
Sahut Doni.
Dan diikuti langkah kaki yang lainnya, tak terkecuali Arga dan Qirani.
" Aduuhh... "
Keluh Qirani saat ada yang menabrak bahunya dari arah berlawanan.
Seorang pemuda seusianya yang sedang terburu-buru keluar dari tempat makan tersebut. Qirani hampir terjatuh ke belakang, untung saja Arga cepat menangkap pergelangan tangannya dan menarik ke dalam pelukannya.
" Hei !!! "
Seru Arga dan kemudian mengarahkan tubuh Qirani di belakangnya.
GUBBRAAKK !! PRANNGG !!
Arga mendorong tubuh pemuda tersebut dengan satu kakinya hingga jatuh tersungkur ke depan dan membuat sebuah meja penuh makanan berantakan.
" Kakak ! Stop ! Tunggu dulu ! Ya Allah ! Kakak ! "
Seru Qirani yang langsung kaget melihat apa yang dilakukan Arga.
Para pengunjung yang lain langsung riuh. Pelayan tempat makan yang semuanya wanita paruh baya langsung berteriak protes kepada Arga.
" Sebelah mana bahumu yang menyentuh cewekku, hah ?! Biar kupatahin sini tulang-tulangmu ! "
Kata Arga yang menampakkan wajah dinginnya saat pemuda tersebut bangun dari jatuhnya.
" Apa-apaan sih ?! Aku nggak sengaja ! "
__ADS_1
Kata pemuda itu dengan nada yang menantang.
" Hei, jangan sok jagoan ya ! "
" Mau cari perkara ?? Ayo !! "
Kedua temannya juga langsung maju berniat melawan ke arah Arga.
" Gawat ! "
Ucap Doni saat menyadari keributan apa yang sedang terjadi.
Kemudian dengan cepat menghampiri Arga, diikuti Doni yang juga keliatan cemas.
" Arga !! Stop ! Jangan buat keributan disini ! "
Kata Doni sambil menarik mundur tangan Arga.
Tapi terlambat, Arga kembali merangsek ke depan dengan sangat cepat menyerang pemuda tersebut. Satu bogem mentah mendarat dengan telak di bahu kanan pemuda tersebut. Dimana bahu kanan pemuda itulah yang menabrak Qirani.
Seketika pemuda itu terjatuh kembali. Arga menginjak bahu kanannya. Beberapa teman pemuda tersebut langsung menyerang Arga. Doni dan Indra maju menghadang. Perkelahian tak terelakkan. Situasi menjadi kacau. Tempat makan itu sungguh berantakan.
Para pengunjung tempat makan tersebut banyak yang lari tunggang langgang tak ingin ikut campur. Melihat wajah Arga yang tampak sadis menghajar tanpa ampun si pemuda tersebut, banyak yang mengira Arga bukan lawan yang harus dihadapi.
Qirani menjadi merasa bersalah, beberapa kali meminta Arga berhenti memukuli pemuda tersebut. Tapi itu malah memicu Arga makin liar lagi. Arga merasa Qirani malah membela pemuda tersebut, jadi tindakannya makin menjadi-jadi.
" Kamu diam ! Jangan bicara apa-apa lagi ! "
Bentak Intan yang mulai membaca situasinya makin runyam setiap Qirani memohon kepada Arga.
Yuli, Rosa, dan Elisa hanya bisa diam membisu. Tak berani berkata-kata. Hanya melihat apa yang terjadi.
Pemilik warung dan para pelayannya yang sebelumnya berteriak untuk menghentikan perkelahian, kini hanya bisa pasrah melihat tempat usahanya semakin berantakan.
Ketiga pemuda itupun akhirnya menyerah, tak bisa lagi bertahan dengan setiap serangan dari Doni, Indra dan Arga.
" Ampun, bang ! Sorry, sorry ... hhh... "
Pemuda itupun akhirnya menyerah kalah, memohon ampun, semua tubuhnya terasa remuk, bibir, hidungnya berdarah. Bahu kanannya yang paling parah, sepertinya patah tulang.
Melawan Arga dan kawan-kawannya yang terlihat jago dalam hal beladiri, tentu saja bukan lawan yang sebanding dengan mereka. Sebelum seluruh tubuh mereka remuk, mereka memilih menyerah dan memohon ampun.
" Ampun, bang ! Ampun... "
Lirih mereka masih tergeletak tak berdaya di lantai yang penuh dengan barang-barang pecah belah yang berantakan dan banyak makanan yang berserakan dimana-mana.
" Ga, sudah ! Ayo, kita pulang ke villa.... "
Indra menarik tubuh Arga yang masih ingin menghajar pemuda tersebut. Tapi Arga masih terus berusaha ingin menyerang. Dan tanpa basa-basi, Indra menampar wajah Arga sekeras mungkin.
Tersentak kaget karena tamparan Indra, Arga seperti tersadar. Ia melihat ke sekelilingnya. Seperti kebingungan, ia menatap ke arah Doni dan Indra.
Kata Doni setengahnya memberi perintah.
" Okey.... Okey.... "
Sahut Arga sambil menjauh dari pemuda yang sudah tak bergerak karena pingsan dihajar olehnya.
Begitu Arga menjauh, beberapa pengunjung berusaha membantu ketiga pemuda yang tengah terluka dan tergeletak tak berdaya.
" Tulis nomor handphone ku. Aku bakal tanggungjawab atas semua luka kalian. Kalian mau tuntut aku juga boleh, kalo berani cari mati denganku ! "
Kata Arga pada satu orang teman pemuda tersebut yang sedang berusaha membangunkan temannya.
Selesai memberikan alamat dan nomor handphone nya, Arga menghampiri pemilik warung. Saat Arga mendekat, ibu pemilik warung itu tanpa disadari, melangkah mundur ke belakang, ketakutan.
" Bu, saya minta maaf. Silahkan hitung semua kerugiannya, saya akan ganti rugi. "
Kata Arga dengan sopan.
Tetap saja, sesopan apapun Arga, bahkan melempar senyum manisnya, ibu pemilik warung itu tetap gemetaran.
" Arga nggak berubah ternyata... "
Bisik Elisa kepada Intan.
" Entahlah ... "
Jawab Intan sambil mengangkat bahu.
" Coba itu tadi apa ?... Aku pikir, beberapa tahun ini dia beneran berubah lebih kalem lebih tenang, karena nggak pernah mau lagi terlibat perkelahian apapun kayak sebelumnya. "
" Kayak korek api aja, Lis.... Ada pemantiknya. "
Sahut Intan.
Tatapan Intan mengarah kepada Qirani yang duduk diam dan ketakutan di sisi Yuli dan Rosa. Elisa mengikuti arah pandangan Intan.
" Hemm.... Setelah lima tahun, ada lagi yang bisa bikin Arga menggila, cewek itu maksudmu ? "
" Mungkin... "
Sahut Intan lirih.
"Gagal makan enak deh.... "
Gumam Elisa.
Doni dan Indra mencoba membersihkan yang berantakan, sembari menunggu Arga selesai menghitung kerugian dengan sang pemilik tempat makan tersebut.
Selang beberapa waktu kemudian, tampak sang pemilik warung yang terlihat puas. Meskipun masih gemetaran saat membalas jabat tangan Arga, tanda masalah selesai.
__ADS_1
Arga menghampiri Qirani yang masih tampak ketakutan. Secara refleks, Yuli dan Rosa yang tadi duduk mendampinginya langsung menyingkir. Qirani makin ketakutan saat melihat mereka pergi.
" Ayo pulang.... "
Ajak Arga sambil menarik dengan kasar tangan Qirani.
Qirani yang terkejut, sampai terseret mengikuti langkah Arga. Intan dan Elisa melihatnya merasa kasihan.
" Kalo jadi ceweknya Arga harus ngerasain arogan dan gilanya Arga kayak gitu, aku mending jomblo aja deh ! "
Bisik Elisa merinding, diikuti anggukan Yuli dan Rosa.
" Iya sih, dia kalo udah suka sama orang, nggak tanggung-tanggung sayangnya. "
Tambah Elisa.
" Beneran, kak ? "
" Serius, kak ? "
Tanya Yuli dan Rosa bersamaan.
Tampak penasaran.
" Iya, kamu minta mobil juga bakal langsung dibeliin sama dia. Hemmm.... jangan bilang kalian berminat buat deketin Arga ya ? "
Elisa menatap keduanya dengan tajam.
Yuli dan Rosa seketika menggelengkan kepalanya bersamaan. Intan hanya menghela nafas mendengar obrolan ketiganya.
Masih dengan langkah yang santai, ia memperhatikan Arga yang terus menggenggam tangan Qirani berjalan dengan cepat di hadapannya.
Doni dan Indra yang memang sudah berjalan dahulu di depan Arga, tak memperhatikan para gadis di barisan belakang yang sibuk kasak-kusuk.
Mereka ingin segera sampai di villa dan istirahat. Acara makan bersama sambil menikmati indahnya pemandangan dan sejuknya udara puncak gagal total.
" Arga masih ke psikiater nggak sih ? "
Tanya Indra penasaran.
" Setauku sejak dua taun lalu sih udah nggak. Pernah nanya sama ayahnya, Arga udah sembuh. Kamu sendiri tau, dua taun ini kan dia keliatan lebih tenang dan nggak liar kayak sebelumnya. Apalagi akhir-akhir ini, sebelum ada cewek itu, dia lagi fokus sama kuliahnya. "
Sahut Doni.
" Jangan-jangan.... cewek itu bisa jadi yang bikin Arga menggila lagi. "
" Bisa jadi... "
Gumam Doni.
Sementara itu, Arga yang masih merasa kesal atas kejadian tadi, terus menyeret Qirani.
" Awas, minggir ! Kalian jalan udah kayak pengantin sunat aja ! "
Kata Arga yang dengan sengaja mengambil jalan diantara Doni dan Indra.
Doni dan Indra hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Arga.
" Sakit, kak... "
Rintih Qirani yang merasa genggaman Arga semakin lama semakin kencang dan menyakiti jari-jarinya.
" Diam ! "
Bentak Arga tanpa menoleh ke arah Qirani dan masih terus menyeretnya.
Dengan langkah terseok-seok, Qirani mau tak mau mengimbangi langkah Arga, membuatnya setengah berlari.
" Aduhh ! "
Keluh Qirani saat kaki kanannya tersandung kaki kirinya, karena berusaha mengikuti Arga.
Arga yang merasa Qirani hampir oleng ke depan langsung menangkap pinggangnya.
" Kenapa sih, jadi cewek lemah banget ?! Jalan aja bisa sampai jatuh ! Kamu itu bodoh, ceroboh, bikin kepalaku sakit !! "
Bentak Arga pada Qirani yang ada di pelukannya tersebut.
Di belakangnya, teman-temannya sengaja menghentikan langkah dan diam memperhatikan Arga yang terlihat kesal setengah mati. Sementara Qirani sudah mulai berkaca-kaca, hampir menangis.
" Gampang banget nangis lagi, cengeng banget ! Kamu kan bukan anak kecil lagi !! "
Tambah Arga makin kesal.
Dan tanpa di duga, ia mengangkat tubuh Qirani dan menggendongnya dalam dekapannya. Melihat raut wajah Arga yang tampak kusut, Qirani memilih diam dan pasrah.
" Arga bener-bener yaa.... Ketauan dia tinggi begitu, kaki dia panjang, cewek itu jelas aja nggak akan bisa ngimbangin langkahnya, pastilah jatuh... Masih juga dibentak-bentak. Parah ! Kacau ! "
Kata Doni berkomentar.
" Tapi sebenarnya dia itu perhatian lho... Dia mau ngegendong ceweknya, demi jangan jatuh lagi... "
Sambung Yuli yang tiba-tiba sudah berada di antara Doni dan Indra, diikuti pula oleh Rosa, Elisa dan Intan.
" Tetep aja, cara mencintai yang salah pasti juga jadinya bakal malah nyakitin.... Bukankah udah pernah kejadian ? "
Kata Intan dengan nada yang sinis.
Dan itu kalimat bernada ketus dari Intan membuat semuanya terdiam dalam lamunan, seperti kompak, mengenang kejadian beberapa tahun lalu.
Yuli dan Rosa kebingungan melihat Doni, Indra, dan Elisa melamun.
__ADS_1