
" Apa yang terjadi, Div ? "
Aditya bertanya dengan menatap tajam ke arah Qirani.
" Apa ini ? Kakak tau-tau masuk dan nanyain apa yang terjadi ? Apa yang sebenarnya terjadi emangnya ? "
Qirani tampak bingung melihat sang kakak yang berdiri di hadapan meja kerjanya.
" Tentang Arga. Kamu tau apa yang aku maksud. "
Jawab Aditya.
" Oh... "
Ucap Qirani singkat.
" Aku tau banget, kamu itu cinta pada Arga. Aku tau itu. "
" Kak... Kamu itu... "
" Jangan gila kamu, Div ! Bercerai dalam bulan ini ?! Ide siapa itu ?! Bukan ini yang seharusnya terjadi bukan ?! "
" Aku bingung sama kamu, kak ! Kamu ini sebenernya di pihak siapa sih ?! "
" Aku ! Aku masih butuh Arga, Div ! Kenapa kamu harus cerai secepat itu ?! Urusanku belum beres ! "
" Butuh Arga ?... Apa maksudmu, kak ?! "
" Aku nggak bisa kasih tau apa alasanku kenapa, tapi hentikan keinginanmu buat cerai dari Arga sekarang ! "
" Mama menyuruhku. Akan aku lakuin apa yang mama suruh. Bicarakan ini sama mama dulu. "
" Mama ?! Tapi rencana mama bukankah seharusnya kalian bercerai setelah group Ekajaya hancur ? Kenapa berubah ? Dan, kenapa mama nggak kasih tau aku soal perubahan rencana ini ? "
" Karena kakak terlalu sibuk menghilang entah kemana. Telepon, chat, akhir-akhir ini kakak nggak jelas. Apa yang sebenarnya kakak lakuin, hah ? Aku bahkan udah jarang banget ketemu kakak di kantor. Sekretaris kakak bilang, kakak ketemu klien, klien yang mana, kak ?! "
Aditya terdiam mendengar semua ucapan panjang lebar dari Qirani. Perlahan ia terduduk dan tatapannya tampak hampa. Tubuhnya melemas begitu saja dan menyandar ke sandaran kursi.
Qirani semakin heran melihat perubahan yang mendadak dari sang kakak. Sebelumnya begitu tampak marah dan kesal, kini terlihat bingung.
" Beberapa kali mama meneleponmu, chat juga ke handphone mu. Tapi kamu nggak pernah langsung baca ataupun balas chat mama. Kata mama, setiap meneleponmu, pasti menyambung tapi nggak kamu angkat sampai mati sendiri panggilannya.
" Malah udah satu minggu lebih ini, kamu nggak ke tempat mama. Itu aneh, padahal biasanya setiap pulang kerja, kamu selalu kesana. Beberapa kali aku ke apartemenmu, kamu nggak pernah ada. Padahal sekretarismu bilang, kamu udah pulang kerja. "
Qirani berhenti sesaat. Ia memperhatikan raut wajah Aditya yang masih terlihat kebingungan. Satu tangannya berpangku pada pegangan kursi demi memangku dagunya yang lancip. Satu tangan lagi, mengetuk-ngetukkan jari jemarinya ke sandaran kursi yang lain.
" Kak... "
Qirani mencoba memanggil kakaknya yang lebih terlihat sedang melamun sekarang.
Benar saja, Aditya memang sedang melamun. Ia tak bergeming sedikitpun dengan panggilan sang adik.
Qirani semakin penasaran. Matanya terus meneliti raut wajah sang kakak. Tampak olehnya, Aditya yang saat ini sedang merasa bimbang dan berpikir keras.
Apa aku harus jujur pada Divya ?
Nggak !
Jangan... beban pikirannya juga lagi berat sekarang.
Nggak seharusnya aku malah nambahin pusingnya dia.
__ADS_1
Lalu, alasan apa yang bisa aku kasih ke dia dan mama ?
Apa ya...
" Kak... "
" Kakak... "
" Kak Adit ! "
Dan Qiranipun mulai berseru.
" Eh... Apa ? "
Aditya menjawab dengan sedikit gugup.
" Kakak lagi ada masalah apa sebenarnya ? Apa yang jadi pikiran kakak ? Apa yang kakak lakuin sih ? "
Tanya Qirani memberondong sang kakak dengan penuh rasa ingin tahu.
Aditya memperbaiki posisi duduknya. Ia menarik punggungnya agar duduk dengan tegap. Jari jemari pada kedua tangannya saling mengait dengan erat. Tatapannya lembut ke arah adiknya.
" Ada satu hal yang emang sedang aku lakuin dan... aku butuh Arga ke depannya. Aku... aku nggak bisa cerita soal apa, tapi... aku benar-benar punya urusan penting. Itulah yang bikin aku sibuk banget akhir-akhir ini. Bukan maksudku mengabaikan kamu ataupun mama, tapi aku emang nggak pingin kamu dan mama terlibat dalam urusan pribadiku. "
Kata Aditya panjang lebar, menjelaskan situasinya.
" Sepenting itu ? Serahasia itu ? "
Komentar Qirani dengan satu alisnya terangkat.
" Ya ! Saat ini aku akuin, ini rahasia besarku. Mimpi terburuk yang paling buruk dalam hidupku selama ini. "
" Kalo mama meminta penjelasanmu, apa yang bakal kamu bilang pada mama ? Ingat, mama bisa cari tau tentang apapun yang terjadi kalo beliau mau. Aku pikir, mama cuma mau dengar sendiri dari kamu, kak. "
Kata Qirani.
Ucapan adiknya membuat Aditya kembali merenung.
" Div, bantu aku, ya. Tunda perceraianmu, ya. Aku tau, aku nggak berhak memutuskan apapun buatmu, aku cuma kakak angkat. Tapi, kumohon padamu, tunda perceraianmu sampai urusanku selesai. Please, Div. Please... "
Aditya memohon dengan penuh harap dan tampak putus asa.
" Kak, bagiku, kamu bukan kakak angkatku. Kamu benar-benar KAKAKKU.Jadi jangan pernah bilang, cuma kakak angkat. Okey ? "
" Satu lagi, sebenarnya, kamu butuh apa dari Arga yang mama atau aku nggak bisa kasih, hem ? Justru, Arga itu orang luar. Kenapa kamu harus butuh dia ? "
Qirani merasa tak habis pikir. Ia masih menatap wajah Aditya dengan seksama. Mencoba meminta penjelasan dari Aditya yang dirasakannya, kali ini tampak begitu berbeda.
" Aku tadi bilang, kan. Aku nggak mau kamu dan mama terlibat. Lain halnya dengan Arga. Urusanku ini, sedikit banyak ada hubungannya dengan keluarganya. Jadi, aku cuma bakal butuh Arga. Mama, kamu, pasti bisa bantu, aku yakin itu. Tapi, sekali lagi, aku nggak mau melibatkan orang-orang yang aku sayangi. "
Penjelasan dari Aditya membuat hati Qirani tergugah.
Cuma dalam tiga tahun saling mengenal dan menjadi saudara, kak Adit benar-benar peduli padaku.
Dan itu emang tulus.
Dia terlibat dalam segala hal dengan urusan mama.
Tapi, urusan pribadinya, dia memendamnya sendiri.
Sebenarnya, apa yang jadi urusannya itu ?
__ADS_1
Tentang apa ?
Apa benar-benar nggak bisa jujur pada aku dan mama ?
Batin Qirani.
" Kak, mama udah mutusin aku harus cerai dari Arga bulan ini. Aku nggak tau, harus bilang apa ke mama, buat menunda perceraianku ini. Alasan apa yang tepat, ya ? "
Kata Qirani, sembari berpikir.
" Iya, ya... Mama itu paling nggak bisa dibohongi. Aku juga sadar, kalo mama mau, pasti akan tau soal apa yang sedang aku lakuin akhir-akhir ini. Tapi, mama masih bertanya padamu, itu artinya, mama emang menghargai aku. Nggak seharusnya, aku berbohong. "
" Nah, jadi... bukankah lebih baik kalo kakak jujur aja ? "
" Nggak ! Aku nggak bisa cerita sekarang, Div. "
" So ? "
" Entahlah... Aku, aku... "
Aditya benar-benar tampak kebingungan.
Untuk sejenak, kakak beradik tersebut saling terdiam membisu. Qirani menengadah, menatap langit-langit ruangan. Sedangkan Aditya memegangi keningnya dengan kedua tangannya. Sesekali dirinya memijit keningnya sendiri dengan perlahan.
" Beri aku waktu, aku akan berikan alasan yang masuk akal, biar kamu bisa sampaikan ke mama buat menunda perceraian ini. Okey, sayang ? "
Kata Aditya sambil mengangkat wajahnya, memandang Qirani.
" Okey, aku ikut aja... "
Jawab Qirani, balas menatap sang kakak.
" Makasih ya, makasih banyak ! "
Ucap Aditya dengan sinar mata yang berbinar.
Segera ia bangun dari duduknya dan menghampiri Qirani.
" I love you so much, sis ! Mmmuuuaacchh !! "
Dan tanpa basa-basi, Aditya merengkuh leher Qirani agar membuat wajah keduanya begitu dekat. Sebuah ciuman dari Aditya mendarat tepat di tengah kening Qirani.
Qirani yang tak menduga atas apa yang dilakukan sang kakak, tampak terkejut tak percaya. Sedangkan Aditya, sesaat kemudian langsung melangkah keluar ruangan, meninggalkan sang adik yang masih merasa penuh dengan tanda tanya.
Bagus, Divya masih bisa mengikuti apa kataku.
Aku harus cepat kelarin satu urusanku !
Selama Arga masih jadi suami Divya, aku masih bisa manfaatin dia
Apalagi orang itu...
Ternyata, dia ada sangkut pautnya dengan keluarga Arga.
Tanpa mama, tanpa Divya, semoga masalahku ini cepat selesai.
Lihat saja !
Kali ini, aku nggak akan lepasin biadab itu !!!
Aku bakal tuntasin dendam ini, Hamdi Sulistiyanto !!!
__ADS_1