Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 45


__ADS_3

" Apa yang harus aku lakukan sekarang, kak ? "


Tanya Qirani dengan nada yang cemas.


" Mau gimana lagi... Sudah terjadi ya biar sajalah. Tapi karena kamu masih menolak buat ngaku yang sebenarnya. Lanjutkan aja pura-pura amnesia mu. Dengan begitu, dia nggak ngerasa kita bohongi selama ini. Rasanya rencana itu boleh juga... "


Jawab Aditya dengan santai.


" Baiklah... "


" Salut aku sama kamu, otakmu bergerak cepat. "


" Nggak seru kak, kalo aku langsung ngaku aku adalah Qirani. Aku belum bisa dapetin rasa percaya dia. Akses kita buat menyusup dalam perusahaan dia belum tercapai sepenuhnya. "


" Tapi kamu sudah seratus persen dapetin seluruh hatinya. Dengerin ceritamu, gimana reaksi dia, itu udah ngebuktiin dia benar-benar tergila-gila padamu. Dia cinta mati padamu ! "


" Aku nggak peduli ! "


Qirani langsung menyambut ucapan kakaknya dengan ketus.


" Okey... Sorry... "


" Aku nggak mau cinta matinya. Aku mau melihat gimana dia ngerasain sakit dan kehilangan. Aku mau dia ngerasain dikhianati ! "


" Iya, iya... Aku tau. Aku tau. Aku nggak akan singgung lagi soal ini. Aku janji... "


Kata Aditya menenangkan Qirani yang tampak marah besar.


" Kamu terusin akting amnesiamu, sisanya aku yang urus. Okey ? "


Imbuh Aditya sesaat setelah melihat Qirani yang mulai tenang.


Qirani menjawabnya dengan menganggukkan kepala pelan. Kemudian ia berdiri, melangkah ke arah pintu keluar kantor Aditya.


" Mau kemana ? Jus buahmu belum habis kan ? "


Tanya Aditya tanpa bangun dari kursi kerjanya.


" Ke kantor ku sebentar, mau ambil handphone ku. "


Sahut Qirani menjawab.


" Oh... "


Komentar Aditya singkat.


Dan Qiranipun melanjutkan langkah kakinya. Namun, belum sampai ia sampai di depan pintu, pintu telah terbuka dari arah luar. Seorang wanita berusia empat puluhan berdiri dihadapannya dengan tersenyum ramah.


" Ada apa, Bu Anisa ? "


Tanya Qirani kepada sekretaris kantor Aditya.


" Ah, Bu Divya... Ini ada tamu yang ingin ketemu Pak Adit. Presdir Perencanaan Grup Ekajaya. mmm, atas nama Pak Arga. "


Jawab Bu Anisa dengan jelas.


Panjang umur...


Baru juga kelar diobrolin.


Rasa penasaran nya benar-benar nggak tertahankan rupanya...


Batin Qirani, sembari menyunggingkan senyuman.


" Oh, dimana orangnya ? "


" Masih di lantai satu, Bu. Di lobby. "


" Persilahkan beliau ketemu Pak Adit, kebetulan Pak Adit lagi nggak sibuk. "


" Oh, iya Bu... Baiklah. "


Dan Bu Anisapun balik badan, tidak jadi masuk keruangan Aditya.


" Siapa, Div ? "


Tanya Aditya yang mendengar percakapan Qirani di depan pintu kantornya.


" Ada tamu yang tak diundang, sesuai dugaanmu, kak. "


" Oh, okey... Kamu mau ketemu apa nggak ? "


" Nggak. Ini bagian mu. "


Jawab Qirani tegas dan segera berlalu keluar ruangan.


Dasar, cantik-cantik judes.


Tapi itu kan juga karena didikanku...


" Hehehe... "


Kata Aditya mengomentari Qirani dalam hati, dan kemudian terkekeh, merasa bangga akan diri sendiri.


Okey... sekarang selesaikan masalah identitas Divy dulu.


Benar-benar hebat tuan muda Arga ini.


Nggak nyangka, obsesinya pada Divy, bikin dia secepat ini mengetahui yang sebenarnya.


Seharusnya sih bisa lebih mudah kalo Divy langsung ngakuin aja...

__ADS_1


Tapi mungkin adikku itu punya alasan tepat, nggak pingin buru-buru ngaku.


Sejak ingatannya kembali sepenuhnya setahun lalu, dia emang bilang, pingin nyakitin Arga lebih dari rasa sakit yang dimilikinya...


Ini jadinya, rencana di atas rencana yang lain.


Semoga adikku nggak terlalu terobsesi pada dendamnya yang akhirnya bikin dia menyesal nantinya...


" Selamat siang, Aditya... "


Suara Arga yang melangkah masuk ke dalam kantor, membuat Aditya menoleh.


Arga ini... jujur saja, aku nggak akan menolaknya kalo dia jadi adik ipar.


Ganteng dengan wajah sedikit oriental, rambut hitam tebal dengan gaya spike, badan sama tinggi denganku, sekitar 180 cm, kulitnya yang nggak terlalu putih, bikin dia terkesan manly, ditambah bentuk badan yang pas, nggak kurus dan nggak terlalu kekar, tapi tampak gagah...


Fashion nya juga oke punya.


Ngeliat dia dengan pakaian kerja yang formal begini, sosoknya terlihat hangat dan berwibawa, tapi auranya terasa... membunuh.


Pasti dia tipe bos dengan sikap yang keras tapi adil.


Kalo ketemu dia di luar jam kerja, dia tampak santai dan menyenangkan, tapi nggak banyak bicara.


Bersahabat dengannya pasti nggak mudah, tapi kayaknya kalo udah bisa dekat dengannya, dia akan sangat menghargai persahabatan itu.


Beberapa kali melihatnya menatap Divy, tatapannya sangat bersinar, wajahnya penuh kesedihan...


Aku yakin, dia sangat mencintai Divy dan rela ngelakuin apa saja demi Divy.


Laki-laki sejati...


" ... Adit, Dit... Hei ! Hallo ! Aditya ? "


Aditya tersadar saat Arga yang sudah berdiri di depannya, beberapa kali menjentikkan jarinya ke hadapan muka Aditya.


" Eh... Sorry, sorry... Aku... "


Sahut Aditya tergagap.


" Kalo aku seorang gadis, aku bakal mikir, kamu ini lagi terpikat padaku, Dit. Hehehe... "


Kata Arga sambil tertawa santai.


" Sayangnya kamu harus kecewa karena aku seorang laki-laki... Sorry, pas ngeliat kamu masuk, aku langsung kepikiran Divy. "


Sahut Aditya dengan santai pula.


" Oh, iya... Duduklah. "


Imbuhnya mempersilahkan Arga untuk duduk di sofa tamu.


" Bu Anisa, tolong kopi hitam manis, dua cangkir ya. "


" Ya, pak. "


Jawab Bu Anisa dari seberang dan sambungan telepon pun diputus Aditya.


Kemudian, segera Aditya bangkit dari kursi kerjanya, berjalan dengan cepat menghampiri Arga.


" Apa yang membuatmu kesini siang ini ? Apakah ada masalah di perusahaan ? Atau masih butuh dana buat... "


" Nggak, bukan. Semua aman, berkat perusahaan mu, kami sudah mulai membuka kembali hotel-hotel di daerah Jawa Tengah. "


" Ah, okey... Alhamdulillah, kalo mulai lancar. "


" Iya, aku kesini ingin ngomongin sesuatu. Mungkin nggak terlalu penting buatmu. Tapi buatku, penting banget. "


Kali ini, wajah ramah Arga berganti dengan mimik serius saat bicara.


" Apa itu ? Apa tentang Divya ? "


Tanya Aditya dengan ekspresi santai.


" Dari raut wajahmu, kamu kayaknya sudah tau kejadian dimana aku nganterin kamu pulang pas kamu mabuk berat... "


Kata Arga sembari menajamkan tatapannya kepada Aditya.


Aditya tersenyum saat mulai duduk di sofa tepat di sisi kanan Arga.


" Pak, kopi nya. Silahkan... "


Bu Anisa masuk ke dalam dengan membawa nampan dengan dua cangkir kopi diatasnya.


Dengan sopan, sekretaris kantor tersebut memindahkan dua cangkir kopi itu ke hadapan Aditya dan sang tamu.


" Terimakasih... "


Ucap Arga dengan sopan.


Bu Anisa hanya tersenyum membalas ucapan Arga dan segera berlalu keluar dari kantor Aditya. Tak lupa pula menutup pintu ruangan sang direktur.


" Ya, aku tau kejadian itu. Divya bercerita padaku. Dia bilang, kamu terus menyebutnya mmm, Qirani ? "


Kata Aditya masih dengan sikap santainya.


" Divya itu Qirani, seseorang yang aku cari selama tiga tahun ini. Dia pacarku waktu itu. Aku kehilangan dia tepat di hari kelulusannya. Satu kesalahan fatal yang aku lakuin dan itu membuatnya menghilang sampai hari ini. "


" Tapi, gimana kamu yakin kalo Divya itu Qirani milikmu ? "


" Ada tanda lahir di belakang telinga kanan Divya. Qirani juga memilikinya. Wajah mereka sama, suara mereka sama. Kembar sekalipun, nggak mungkin kan punya tanda lahir, wajah dan suara yang sama ? Jadi aku yakin dia itu Qirani. "

__ADS_1


Arga tampak menggebu-gebu bercerita.


" Arga... Dari pertama kita bertemu, kamu berlaku kurang ajar dengan tunanganku itu. Apa itu karena kamu melihatnya sebagai Qirani ? "


" Itu bukan karena melihatnya sebagai Qirani. Tapi aku tau dan yakin, dia memang Qirani ! Aku punya buktinya. "


Begitu Arga menutup mulut, ia segera menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat yang ia bawa kepada Aditya.


" Bukalah. "


Kata Arga.


Aditya menerimanya dan membuka isi dalam amplop tersebut. Beberapa lembar kertas dan potongan berita beberapa surat kabar dikeluarkannya. Diperhatikannya satu persatu apa yang ada ditangannya kini.


Aku tau semua berita ini.


Seminggu setelah pulang ke Inggris bersama Divy dan mama, aku dapat laporan dari mama yang melarangku memberitahu yang sebenarnya identitas Qirani.


Mama pingin, Qirani terus menjadi Divya dan melupakan semua hal masa lalunya.


Sampai akhirnya, setahun lalu...


Divya yang baru belajar naik mobil, mengalami kecelakaan karena tiba-tiba sakit kepala yang sangat menusuk katanya.


Dan ingatannya kembali secara bertahap, dalam waktu dua bulan, Divya benar-benar sepenuhnya ingat semuanya, siapa dirinya dan apa yang terjadi padanya.


Mama kuatir Divya akan sakit secara mental karena trauma akan pemerkosaan yang dilakukan Arga, tapi nyatanya, Divya malah meminta mama membantunya buat balas dendam.


Sebenarnya mama nggak ingin Divya ikut dalam rencana besar mama, tapi semua ini serba kebetulan...


Aku bahkan...


" ... Dit... Adit... "


Arga menegur Aditya yang terus menundukkan wajah dengan seriusnya menatap satu persatu lembaran kertas di tangannya.


Aditya mengangkat wajahnya mendengar teguran Arga. Diletakkannya semua kertas di tangannya ke atas meja kaca di samping sebelah kirinya, terletak diantara Arga dan dirinya duduk.


" Benar-benar mencintainya... Dan cintamu nggak tergoyahkan sampai hari ini. Salut aku sama kamu. Di usia mu sekarang, bukannya sangat mudah mencari pengganti nya ? Ganteng, punya jabatan, mapan dan asli orang kaya. Pasti banyak cewek yang ngantri dan berharap menjadi Nyonya Arga. Tapi memilih buat sendiri, larut dalam kehilangan, mengabaikan cewek-cewek cantik di luar sana. Aku benar-benar salut pada kisah cintamu ini... "


Kata Aditya sambil menyandarkan punggungnya ke belakang.


" Dit... Aku nggak butuh yang lain, aku nggak mau apapun. Aku cuma mau pacarku kembali. "


Sahut Arga yang terlihat penuh harap.


" Dengan semua ini, apa sebenarnya tujuan mu kesini ? "


Tanya Aditya menyelidiki.


" Ceritakan padaku, siapa Divya. Bagaimana kamu mengenalnya dan bisa bertunangan dengan dia. "


" Oh... "


Aditya berkomentar singkat.


" Soal itu... Hemm, darimana aku harus cerita ya... "


Aditya sengaja membuat Arga penasaran dan berhasil. Arga memang terlihat sangat penasaran.


" Please, Dit... katakan padaku. Paling nggak, kalo aku tau tentang awal mula kisahmu, aku bisa tau, benar apa nggak dugaanku tentang Divya. Kumohon padamu... "


Arga mulai setengah memaksa.


" Tiga tahun lalu... aku menemukan Divya waktu itu, korban tabrak lari. Di depan hotel X, dimana aku sedang liburan bersama keluarga ku. Dia terluka pa... "


" Korban tabrak lari ?! Di depan hotel X ? "


Arga hampir bangun dari duduknya saking terkejut.


Hotel ku...


Jadi setelah dia keluar hotel, dia ditabrak ?


Tapi kenapa nggak ada info tentang tabrak lari itu dari staff hotel ?


Itu kan kejadian yang pasti banyak orang yang melihat dan membicarakannya kemudian...


" Ya, dia terluka parah. Aku membawanya ke klinik terdekat. Dan selama beberapa waktu setelah keluar klinik, aku membawanya ke hotel, karena dia hilang ingatan... "


" Hilang ingatan ? Amnesia ? "


Arga mengulang kata-kata Aditya dengan lirih.


Beberapa kali aku mondar-mandir ke hotel bersama Indra, buat cek cctv, tapi kenapa nggak bisa nemuin mereka ?


Apa jangan-jangan Aditya berbohong kalo dia nginep di hotel ku itu ?


Aku nggak ngerasa di...


Ntar dulu...


Waktu itu, aku nabrak seseorang dengan kursi roda, wanita paruh baya yang cantik.


Kalo diinget-inget, kenapa rasanya aku nggak asing dengan foto di kamar Aditya, wanita itu... dia wanita yang di kursi roda itu !


Dari waktu itu, cuma satu-satunya seorang wanita yang sudah berumur, berwajah cantik dan ramah menggunakan kursi roda yang aku lihat.


Dan wanita itu sama dengan wanita di foto yang ada di kamar Aditya.


Iya, aku melihat wanita itu beberapa kali di cctv...

__ADS_1


Jadi...


__ADS_2