Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 55


__ADS_3

" Kamu gila !!! "


Seru Pak Bima sambil melemparkan beberapa lembar kertas ke muka Arga.


Arga segera berjongkok dan memungut semua lembaran kertas itu satu persatu dan merapikannya.


" Cuma gara-gara cinta masa lalumu, kamu rela memberikan semua saham atas namamu sebagai mas kawin juga ?! Aku nggak setuju ! "


Sambung Pak Bima dengan penuh emosi.


" Seharusnya, kamulah yang mendapatkan keuntungan atas pernikahan ini. Gimana kalo cewek itu menceraikanmu ? Kamu nggak akan punya apa-apa lagi, Ga ! Bukan cuma kamu, KITA ! KITA ! "


" Sahammu aja sudah enam puluh lima persen sendiri. Kamu mau bunuh diri ??? "


" Pokoknya, ayah nggak setuju dengan permintaan mas kawin yang nggak masuk akal itu. Kalo cuma minta setengahnya saja, masih okelah, ayah masih bisa setujui. Ini, minta seratus persen saham atas namamu ??? Nggak masuk akal ! "


Arga diam tak bergeming. Dengan sabar, ia mendengarkan semua ucapan ayahnya yang penuh dengan amarah dan rasa kecewa.


" Yah... "


" Jangan bilang kamu punya alasan buat itu. Ayah nggak mau denger. Ga, ayah mau kamu bahagia, itu betul. Tapi, kalo bahagiamu itu ngorbanin banyak hal, perusahaan, karyawan, keluarga besar, ayah nggak rela. "


" Maksud ayah, ayah lebih milih ngorbanin kebahagiaan aku daripada perusahaan ? "


" Di perusahaan kita ini ada banyak orang yang bergantung. Para karyawan, konsumen, klien, vendor, pemegang saham yang kebanyakan keluarga kita sendiri, kolega kita. Pikirin, Ga. Jangan egois. "


" Yah, Arga cuma ngasih saham Arga aja ke Qirani, nggak ngejual perusahaan atau bikin bangkrut. Kenapa ayah senegatif itu ? "


" Ayah tau, tapi perusahaan kita di tangan orang lain, apa hasilnya akan sama ? Bisa jadi, malah berantakan. "


" Kan masih Arga yang pegang kendali perusahaan, bukan Qirani. "


" Ayah masih nggak setuju. Siapa sih Qirani ini ? Cuma anak yatim piatu yang nggak jelas siapa orangtuanya. Apa dia punya pengalaman mengurus perusahaan sebesar perusahaan kita ?! "


Pak Bima terus bertahan dengan pendapatnya yang bertentangan dengan anak tunggalnya itu.


" Ayah salah, dia bukan yatim piatu. Dia punya ibu ternyata. Ibunya punya perusahaan yang memberi kita pinjaman saat kita hampir bangkrut dan kehilangan beberapa anak cabang perusahaan, ayah lupa ? "


Sahut Arga sambil meletakkan beberapa lembar kertas yang dilempar sang ayah ke atas meja.


Pak Bima berubah mimik wajahnya saat mendengar ucapan Arga. Sebelumnya, wajahnya memperlihatkan emosi yang tinggi, kini lambat laun tampak mereda dan penuh tanda tanya.


Arga menarik kursi di depan meja kerja sang ayah. Dengan tenang, ia duduk dan memandang ke arah Pak Bima yang juga sedang memandangnya.


" Maksudmu... Grup Paradise ? Qirani anaknya pemilik Grup Paradise ?! Bukankah waktu itu kalo nggak salah, kamu bilang, Presdirnya bernama Aditya... Aditya... "

__ADS_1


Kata Pak Bima tanpa nada tinggi seperti sebelumnya sambil mengingat-ingat.


" Aditya Candra. Ya, dia anak Bu Citra, pemilik Grup Paradise. Qirani adiknya Aditya. "


" Tapi Qirani itu, apa Qirani yang sama dengan Qirani anak panti Mentari Pagi ? "


" Ya, sama, yah. Arga juga nggak ngerti soal itu yang sebenarnya gimana. Cuma memang Qirani juga anak Bu Citra. "


" Benar-benar di luar dugaan. Anak panti yang selalu kamu cari itu ternyata anak orang berada. "


Kata Pak Bima sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Kemudian, Pak Bima duduk di kursi kerjanya. Kedua siku lengannya diletakkan di atas meja. Kedua telapak tangannya memangku dagunya.


" Jadi Qirani anak Bu Citra ya... Ga, apa kamu pernah bertemu Bu Citra ? "


" Belum. Waktu pengajuan proposal sampai tanda tangan kontrak kerjasama, selalu ketemunya Aditya dan Divya, nama Qirani sekarang. Tapi kalo ngeliat fotonya sudah pernah, aku liat waktu di kamar Aditya. "


Jawab Arga tetap dengan sikapnya yang tenang.


" Jujur saja, ayah selalu penasaran siapa sebenarnya sosok yang berkuasa di Grup Paradise ini. Sepak terjangnya benar-benar nggak bisa terbantahkan. Beberapa waktu lalu, ayah bertemu beberapa kolega dari perusahaan lain, mereka pun kurang lebih sama dengan kita. Mendapatkan pinjaman dengan bunga yang sangat rendah dari Grup Paradise ini. "


Kata Pak Bima.


" Setelah perusahaan bisa berjalan normal dengan laba yang stabil, Grup Paradise ini menginginkan sisa pinjaman dan bunganya diubah dengan saham perusahaan peminjam sebesar nominal yang sama. Ayah akui, cara ini cukup ampuh juga, membuat mereka memiliki saham di setiap perusahaan peminjam dan melebarkan perusahaan mereka sendiri dalam waktu singkat. Cara berinvestasi yang masuk akal tapi cukup cepat berkembang. "


" Aku cuma memberikan sahamku, tapi perusahaan masih aku yang kelola. Jadi bangkrut atau nggak nya perusahaan kita, tergantung padaku bukan ? "


" Jangan seoptimis itu. Kita nggak tau isi pikiran orang. Oke, kamu yang kelola perusahaan, tapi begitu Qirani bercerai darimu, dia lah pemilik sahammu, saham terbesar di antara pemegang saham. Otomatis, Qirani lah yang akan menjadi CEO nya. Kamu ? Kamu nggak akan punya apa-apa lagi, Ga. "


" Ayah lupa, perusahaan di Bandung, aku masih punya perusahaanku sendiri, bukan ? PT. Asha. Perusahaan itu nggak masuk dalam Grup Ekajaya "


" Cuma itu ! Perusahaan itu nggak sebanding, Ga ! PT. Asha baru berkembang, harga sahamnya masih jauh di bawah Grup Ekajaya. Lalu dengan pemikiran mu yang kayak gitu, apa kamu beneran mau kasih saham mu di Grup Ekajaya semuanya ? Arga, Arga... Kamu boleh cinta mati sama gadis itu, tapi jangan seegois itu juga. Mengorbankan hampir semua yang kamu miliki demi seorang gadis yang sudah menghilang bertahun-tahun. "


" Kamu secinta mati ini, lalu gimana dengan gadis itu ? Apa dia juga cinta mati padamu, hah ?! "


Kalimat Pak Bima langsung menohok begitu keras ke dalam hati Arga.


Ya, aku memang cinta mati pada Qirani.


Ya, aku tau pasti, Qirani belum tentu juga cinta mati padaku.


Malah, dia terkesan tak peduli lagi padaku.


Bukan, bukan tak peduli lagi...

__ADS_1


Dari awal, akulah yang selalu memaksa.


Tapi aku nggak peduli...


Apapun perasaannya padaku, yang penting saat ini aku cuma mau dia menikah denganku.


Urusan perasaan, itu terakhir.


Aku bisa membuatnya mencintaiku, begitu aku menikahinya...


Aku yakin itu.


Batin Arga.


" Kamu aja belum pernah ketemu, belum pernah kenal dengan ibunya itu. Darimana kamu yakin, kamu bisa diterima keluarganya setelah kelakuanmu di masa lalu... Atau keluarganya nggak tau soal kelakuanmu itu ?! "


Kata Pak Bima dengan tatapan tajam yang menyelidik.


" Soal itu, itu adalah salah satu alasanku juga kenapa ingin menikah dengannya. Aku harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi waktu itu. Paling nggak, kalopun keluarganya tau soal masa lalu itu, mereka akan berpikir, aku bukan orang yang nggak bertanggungjawab. "


" Terlalu naif. Kamu nggak menghamilinya ini. Jaman sekarang, wajar para muda dengan **** bebasnya. Apalagi kamu cuma sekali itu. Buat apa harus bertanggungjawab ? Apa kamu yakin, selama dia menghilang kemarin, dia nggak punga hubungan dengan pria lainnya ? Dia menghilang cukup lama, Ga. Hitungan tahun. Bukan bulan ataupun hari. "


" Sudahlah, yah. Kita nggak akan selesau ngebahas yang lalu. Intinya, disini aku nggak minta ijin pada ayah, tapi aku cuma kasih tau ayah. Aku akan menikahi Qirani dengan semua syarat apapun yang diberikan oleh dia ataupun keluarganya. "


Kata Arga sembari beranjak bangun dari duduknya dengan wajah yang nampak lelah.


" Arga ! Pikirin sekali lagi. Ini bukan pernikahan demi kebahagiaan. Ini pernikahan yang bakal bikin jurang buat kamu dan kita semua. "


" Aku nggak menyerahkan semua saham perusahaan. Cuma atas nama ku saja. "


" Tapi saham mu itu, termasuk saham almarhum mamamu. Apa kamu mau sia-siain saham pemberian mamamu ? "


Arga tak bergeming dengan apapun yang dikatakan sang ayah. Tetap tenang saat melangkah keluar dari ruang kerja sang ayah. Meskipun batinnya berkecamuk.


Pikirannya mulai mendua. Antara mengakui apa yang dikatakan ayahnya bisa jadi benar adanya dan juga hasrat terbesar dirinya mendapatkan Qirani.


Entahlah...


Aku harap, dengan semua pengorbanan yang aku lakuin buat Qirani, hasilnya nanti, Qirani nggak akan ngecewain aku dan membuat semua dugaan ayah menjadi nyata.


Tapi aku emang mulai ragu...


Sudahlah...


Bukankah aku emang pingin banget miliki dia seutuhnya ?

__ADS_1


Jadi harusnya aku nggak boleh ragu...


Ya, aku nggak boleh ragu-ragu lagi.


__ADS_2