
Finally...
Hari inipun tiba.
Hari yang diinginkan oleh banyak orang-orang terdekatku.
Hari yang diharapkan terwujud demi tujuan dan kepentingan masing-masing.
Bagi keluarganya, mungkin inilah hari dimulainya kewaspadaan yang tinggi pada setiap gerak gerikku.
Bagi keluargaku, inilah hari dimana awal satu rencana paling ingin diwujudkan segera terjadi.
Baginya, hari ini keinginan terbesarnya terwujud, titik awal kebahagiaannya dimulai.
Bagiku... ah, aku sendiri nggak tau.
Apa aku harus senang ?
Tapi aku nggak bisa tersenyum selebar dia.
Apa aku harus sedih ?
Tapi aku juga nggak ingin menangis.
Apa yang harus aku lakuin ?
Aku juga nggak tau harus gimana dan ngapain lagi...
Kacau...
Hari ini seharusnya awal kebahagiaan setiap pengantin, bukan ?
Tapi aku benar-benar nggak merasa bahagia.
Entahlah, ikutin aja alur hidup yang diberikan Allah saat ini.
Batin Qirani berada dalam dilema dan sedang berkecamuk hebat.
Seorang perias profesional yang sedang merias wajahnya terlihat sangat puas saat menatap setiap inci kulit wajah Qirani. Sesekali ia berdecak kagum.
" Cantik... Amat sangat cantik. Cuma sedikit polesan aja udah keliatan sangat cantik. Kamu benar-benar memiliki wajah yang alami cantik. "
Puji Tante Shinta, sang perias yang juga seorang kenalan Aditya.
Qirani tersenyum. Memaksa untuk tersenyum. Tarikan sudut bibirnya terlihat sangat kaku.
" Terimakasih, tante. "
Sahut Qirani membalas pujian dari Tante Shinta.
" Kamu siap ? "
Tanya Tante Shinta.
Qirani menjawab dengan mengangguk.
Siap tak siap...
Aku harus siap !
Katanya dalam hati.
" Ayo, aku bantu kamu keluar... "
Sambung Tante Shinta dengan wajah yang sumringah.
" Ya... "
Sahut Qirani singkat.
Terlihat sangat jelas di wajahnya yang cantik, Qirani merasa tak nyaman dengan situasinya.
" Div, kamu sudah si... ap... ? "
Aditya yang tiba-tiba merangsek masuk begitu saja di dalam kamar dimana Qirani berias, tampak terpesona begitu tatapan matanya melihat Qirani.
" Kakak... "
Ucap Qirani pelan.
" Kamu... cantik banget, Div. Cantik... "
Puji Aditya yang terus menatap tak berkedip pada Qirani.
" Aku juga bilang gitu. Cantik nya natural ya... "
Sambung Tante Shinta.
" Lihat dirimu, Div... Semakin keliatan dewasa. Jadi ingat, pertama kali ketemu kamu. Wajahmu penuh airmata. Jalan aja kayak maksain gitu. Bener-bener gadis lemah... "
Aditya yang kini berada tepat di hadapan Qirani, mengulurkan tangannya dan membelai pipi Qirani dengan penuh kehangatan.
" Kakak... "
Mata Qirani tampak basah.
Ya... kalo bukan karena ketemu dengan kak Adit waktu itu, entahlah...
Apa jadinya aku sekarang...
Aku benar-benar bersyukur, pertemuan yang tak sengaja dan di waktu yang paling buruk dalam hidupku, membawaku sampai ke titik ini...
__ADS_1
Batin Qirani.
" Sshh... Pengantin nggak boleh nangis karena masa silam yang buruk. Maaf, maafin kakak... Nggak seharusnya mengingatkanmu soal itu. Maaf... "
Kata Aditya dengan lembut.
Segera diambilnya tissue di atas meja rias dan diulurkannya kepada Qirani. Qirani menerimanya dan segera mengusap ujung kedua matanya dengan hati-hati.
" Apa riasannya rusak ? "
Kata Qirani setelah selesai mengusap.
Tante Shinta memperhatikan wajah Qirani dengan detil. Kemudian ia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
" Nggak... "
Sahut Tante Shinta.
" Ayo... "
Kata Aditya seraya mengajukan lengannya kepada Qirani.
" Iya... "
Sahut Qirani yang langsung menggandeng lengan Aditya tersebut.
" Bahagialah, biarpun aku tau, kamu belum sepenuhnya bisa menerima Arga. "
Kata Aditya sembari melangkah perlahan, membawa Qirani keluar ruangan.
Tante Shinta dengan sigap, meraih ujung gaun pengantin di belakang dan membawanya dengan hati-hati agar Qirani bisa berjalan leluasa di depan saat melangkah.
Gaun berwarna putih susu yang memperlihatkan leher jenjang, punggung, bahu, dan lengan Qirani yang berkulit putih nan bersih.
Bertaburan permata yang berkilauan pada bagian pinggang hingga ke ujung gaun, membuat Qirani tampak menyilaukan mata yang memandang.
Pada bagian dada depan, terbuat dari bahan brokat dan sulaman benang emas yang menimpanya di antara beberapa renda, tampak indah dipandang. Kesan mewah sangat terlihat.
Beberapa bunga rajutan menempel dengan acak di bagian belakang gaun hingga ke ujung gaun yang sedang dipegang Tante Shinta, menambah keindahan pada gaun pengantin tersebut.
Sebuah tiara kecil namun penuh dengan permata dan mutiara, menghias rambut Qirani yang berwarna coklat terang dengan highlight warna emas dan platinum di beberapa bagian rambut yang disanggul modern itu, sungguh pas dipadu padankan.
Hari ini, di hari pernikahannya, Qirani benar-benar menjelma bak seorang bidadari yang turun dari surga.
" Jangan takut... Aku disini. Ada aku disini. "
Ucap Aditya yang merasakan tangan Qirani gemetar dan berkeringat dingin.
" Mama ? "
Tanya Qirani yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan begitu seorang petugas keamanan membukakan pintu.
Sahut Aditya membuat Qirani tenang.
Alhamdulillah...
Tadi begitu mama telepon, kasih tau ada macet panjang begitu keluar dari bandara, aku udah kuatir...
Takut mama melewatkan acara ijab kabul.
Syukur deh...
Batin Qirani lega.
" Bunda dan anak-anak ? "
" Tenang... Aku sudah mengirim mobil buat jemput semuanya dari dua jam lalu. Tapi Bunda maunya datang kesini bareng sama mama. Jadinya, yaa mama ke panti dulu baru jalan bareng semuanya kesini. "
" Lihat... Semuanya terpesona padamu. Bahkan Arga sampai nggak berkedip. "
Bisik Aditya, begitu ia membawa Qirani melangkah di atas permadani berwarna putih dengan taburan beraneka macam bunga segar.
Qirani melangkah dengan tatapan lurus kedepan. Tampak olehnya, Arga memang sedang menatapnya tanpa berkedip. Qirani berusaha tersenyum sealami mungkin. Karena memang dirinya tak ingin tersenyum saat ini sebenarnya.
Begitu Aditya dan Qirani tiba di meja penghulu, Arga segera menarik kursi yang berhiaskan bunga mawar putih di sandarannya untuk mempersilahkan Qirani duduk.
Aditya duduk di seberang meja, berhadapan dengan Arga. Qirani berusaha untuk tetap tenang, duduk di sisi Arga.
" Sudah semua ? Bisa dimulai sekarang ? "
Tanya Pak Penghulu memandang ke arah Arga dan Aditya bergantian.
" Sebentar, mama kami sebentar lagi da... Ahh, itu beliau ! "
Kata Aditya yang langsung sumringah saat Bu Citra dan Bunda Rima diikuti beberapa anak-anak dan remaja, melangkah masuk ke dalam ruangan.
Semua tamu undangan dan keluarga dari pihak Arga menoleh ke arah pintu masuk. Sesaat terdengar kasak kusuk diantara para tamu dan keluarga, yang penasaran dengan sosok Bu Citra.
" Bim... Bima... Apa aku nggak salah lihat ?! "
Bu Eka tampak sangat terkejut menatap ke arah Bu Citra dan Bunda Rima yang kini semakin mendekat ke meja mereka.
" Rima ?! Wulan ?! "
Ucap Pak Bima yang sama terkejutnya dengan Bu Eka.
Bahkan Pak Bima hingga berdiri dengan wajah yang sangat pucat pasi. Bu Citra dan Bunda Rima dipersilahkan duduk oleh Indra, dimana mereka satu meja dengan Bu Eka dan Pak Bima.
" Hallo, Nyonya Besar. Hallo, Bima... "
Sapa Bu Citra dengan senyum yang lebar.
__ADS_1
" Nyonya Besar, Bima... "
Sambung Bunda Rima yang ikut menyapa.
Bu Eka berdiri dari duduknya. Ia menunjuk ke arah Bu Citra, wajahnya yang putih tampak semakin putih memucat.
" Ka-ka... Kamu... Bukankah... Kamu... Kamu... sudah... sudah... mati... ?!! "
GUBBRRAAKKK !!!
Bu Eka jatuh dan pingsan.
" MAMA ! "
" OMA ! Ayah... Ada apa ini ?! "
Pak Bima dan Arga berseru dan terkejut.
Apa kata oma barusan?
Apa maksudnya ?
Siapa yang seharusnya mati ?
Bu Citrakah ?
Atau Bunda ?
Ayah dan oma, kenapa begitu kaget saat melihat Bu Citra dan Bunda ?
Apa mereka saling kenal ?
Kenapa ayah menyebut Bu Citra sebagai Wulan ?
Ayah bahkan tau nama Bunda, padahal aku nggak pernah menyebutnya di hadapan ayah.
Siapa sebenarnya Bu Citra dan Bunda ?
Pikiran Arga penuh dengan pertanyaan.
Apa maksud mama ?
Siapa yang seharusnya... mati ?!
Wulan atau Rima ?!
Apa yang sebenarnya terjadi ???
Wulan yang setauku sudah meninggal, ternyata ibunya Qirani ?!
Rima yang kupikir sudah meninggal, ternyata masih hidup ?
Sama halnya dengan Arga, Pak Bima juga penuh dengan pertanyaan dan rasa ingin tahu di dalam hatinya.
Beberapa tamu undangan yang duduk di meja terdekat berdiri dan segera bergegas mengangkat tubuh Bu Eka.
" Pak, bawa dan temani nyonya di kamar rias pengantin dan siapkan petugas keamanan untuk menjaga beliau. "
Kata Pak Bima kepada asisten pribadinya yang langsung mengangguk dan berlalu.
" Maaf, kesehatan mama saya akhir-akhir ini kurang bagus. Silahkan, pak. Ijab kabulnya bisa dimulai sekarang. "
Kata Pak Bima kepada sang penghulu yang sudah berdiri pula dari bangkunya sejak Bu Eka jatuh pingsan.
" Baiklah... Ayo, silahkan. "
Kata penghulu tersebut, mempersilahkan Pak Bima dan Aditya untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan.
Nyonya Besar bisa bilang kayak gitu, berarti benar, Hamdi adalah orangnya Nyonya Besar...
Benar-benar licik dan jahat !
Mengambil alih perusahaan orang dengan melenyapkan nyawa pemiliknya...
Nggak ku sangka, orang yang begitu kukagumi sebelumnya, sungguh orang yang kejam.
Benar-benar kejam !
Batin Bunda Rima yang masih menatap tubuh Bu Eka yang sedang dibawa keluar ruangan.
Ini yang kuharapkan dan terwujud !
Sebuah kejutan di hari pernikahan cucu kesayanganmu, bukankah itu sangat menarik ?
Seharusnya mati ?!
Huh !!! Apa kamu pikir, bakal semudah itu melenyapkanku ??!!!
Ini baru permulaan, Nyonya Besar...
Ini adalah awal dari balas dendamku atas nyawa suamiku !
Atas kehilangan anak ku !
Atas semua aset perusahaan kami yang kini ditanganmu !
Atas semua kesakitanku menanggung semua nya sendiri !
Atas kedua kaki ku !!!
Batin Bu Citra penuh rasa amarah yang tinggi.
__ADS_1