Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 11


__ADS_3

Qirani menguap berkali-kali, ia mulai mengantuk. Diliriknya Arga yang masih sibuk bermain kartu dengan teman-temannya sambil bercanda.


" Kak... aku ngantuk. "


Kata Qirani sambil mendekat ke Arga, agar suaranya terdengar jelas.


Suara alunan musik di kafe ini begitu bising. Bahkan mata Qirani yang mulai berat, juga terasa lelah karena lampu-lampu disko yang terus berputar.


Arga tak mendengar apa yang dikatakan Qirani, ia masih sibuk dengan permainan kartunya. Qirani menggeser lebih dekat lagi duduknya, bahkan kini lengannya menempel di lengan Arga.


Arga merasakan tubuh Qirani yang merapat ke tubuhnya, ia menoleh. Tepat saat ia menoleh, bibirnya langsung menyentuh bibir Qirani. Qirani menarik wajahnya dengan cepat. Arga tersenyum.


" Ma-maaf... aku tadi cuma mau berbisik di telinga kakak, tau-tau kakak menoleh begitu saja ... "


Selalu meminta maaf...


Bibirnya... terasa manis....


" Mau tambah minum ? "


Tanya Arga yang kemudian berbisik ke telinga Qirani.


Qirani yang tak menyangka Arga akan sedekat itu di telinganya, membuat wajahnya panas terasa panas. Iapun menggelengkan kepalanya.


" Aku ngantuk... "


Sahut Qirani.


" Ooo... "


Kata Arga.


Tiba-tiba dia melepas jaket kulitnya.


Menggeser duduknya, dan merebahkan kepala Qirani di pahanya.


" Pulang aja... "


Kata Qirani sebelum kepalanya berada di pangkuan Arga.


" Jam 9 masih 1 jam lagi .... Udah tiduran aja disini dulu. Aku akan jagain kamu. "


Jawab Arga sambil tetap merebahkan kepala Qirani.


Karena sudah begitu mengantuk, Qirani pun menurut. Menyamankan kepalanya di pangkuan Arga.


Terbiasa tidur dengan memeluk guling, Qirani memeluk paha Arga. Kakinya pun naik ke atas sofa, meringkuk. Arga menyelimutinya dengan jaket kulit yang dilepaskannya tadi.


" Arga.... Ada yang beda kayaknya. "


Bisik Indra kepada Doni, yang sedari tadi memperhatikan apa yang dilakukan Arga.


Doni melirik ke sebelah kanannya, dimana Arga berada. Dan benar apa yang dikatakan Indra, Doni melihat ada yang berbeda dengan sikap Arga.


Apa yang spesial dari cewek itu ?


Banyak cewek yang lebih cantik dan lebih seksi yang pernah dibawanya kesini, tapi dia nggak pernah seperhatian itu...


Arga jadi kayak keliatan ngejaga banget sama cewek itu.


Padahal cewek itu kan pacar orang.....


Tipe mysophobia kayak Arga mana pernah mau dideketin atau ngedeketin pacar orang...


Benar-benar bikin orang penasaran aja.


" Sampai mana kita ? .... "


Kata Arga.


Sesaat setelah memastikan Qirani benar-benar nyaman dalam tidurnya, ia berniat melanjutkan permainan kartunya. Tapi ia merasa aneh dengan tatapan Indra dan Doni kepadanya.


" Ngapain kalian ngeliatin aku kayak gitu ? ... "


" Cewek itu, cewek orang, Ga... "


Kata Doni mengingatkan.


" Ntar kusuruh cowoknya mutusin dia. Repot amat... "


Sahut Arga santai.


Diletakkannya beberapa lembar kartu di tangannya. Dilihatnya wajah Qirani yang terlelap di pangkuannya sambil menyalakan sebatang rokok.


" Serius, kamu mau ambil pacar orang gitu aja ? "


Kali ini Indra yang bertanya dengan nada dan tatapan yang ganjil.


Arga menghisap rokoknya dalam-dalam. Kemudian menghembuskannya dengan perlahan.


" Ada masalah dengan itu ? "


Arga balik bertanya.

__ADS_1


" Nggak sih, tapi... Aku tau kamu banget ! Kamu nggak pernah mau ambil punya orang begitu saja. "


Sahut Indra.


" Dia beda. Aku mau dia jadi milikku, salah ? "


Jawab Arga dengan nada ketus.


" Okey, up to you aja deh... "


Ujar Indra sambil mengangkat bahunya.


" Udah, biarin aja Arga dengan mainan barunya. Biasa, barang baru .... "


Kata Doni menengahi.


Dan tanpa Arga, mereka kembali memainkan permainan kartu. Arga melihat kembali ke pangkuannya. Memperhatikan wajah Qirani yang tertidur. Sambil terus menghisap rokoknya.


Baru seminggu...


Tapi dia bikin aku nggak bisa lepasin dia gitu aja.


Batin Arga.


" Don, pacarnya udah pulang belum dari rumah sakit ? "


Tanya Arga sambil mencolek lengan Doni.


" Besok senin udah bisa pulang. Tadi aku udah tanyain ke perawatnya. Pikirku, kamu pasti bakal tanyain. Ternyata bener... "


" Punya no teleponnya ? "


" Aku nggak punya, kenapa kamu nggak tanya sama dia ? "


Sahut Doni sambil mengalihkan matanya ke arah Qirani.


" Aku mau beresin urusan dia sama cowok itu tanpa perlu dia tau. Tanyain Dita, Don... Dia tamu undangan adikmu, pasti temen satu kelas atau satu fakultas kan sama Dita. "


" Okey, besok aku kasih kabar ke kamu. Besok minggu, ikut nggak jalan ke puncak ? "


" Jam berapa berangkat ? "


" Dari siang sih kita mau jalan... "


" Siang ya ..... ? "


" Udah ikut aja.... "


Timpal Doni, meyakinkan Arga.


Sambung Doni.


" Abis kalo ke puncak nggak punya pasangan, bete... Aku jadi obat nyamuk kalian. "


Sahut Arga dengan malas.


Rokoknya telah habis, dan ia membuang sisa puntung rokok tersebut di asbak.


" Tuh.... "


Indra mengarahkan dagunya ke arah Qirani.


" Ajak aja dia... Bukannya kamu bilang, dia milikmu ? Kamu anggap sebagai pacar apa mainan ? "


Kata Indra.


" Ah, betul juga ... Dia kan penurut, pasti dia mau ikut kalo aku suruh ikut. "


Sahut Arga tanpa perduli dengan pertanyaan Indra.


" Ya atur aja, apa kata tuan muda aja deh ! Hehehe... "


Ujar Indra sembari terkekeh.


" Okey, aku ikut... "


" Sip, gitu doonng.... Lagian ngapain juga kamu 4 bulan ini hari minggu dirumah aja ? "


" Mancing sama bokap. "


" Oh... ceritanya membangun relasi keluarga gitu ? "


" Heemm.... tau sendiri, akhir-akhir ini kan bokapku lagi bawel soal kuliahku. Dengan aku nemenin dia mancing, dia jadi lupa sama omelannya soal itu. Belum omaku, berisik banget suruh cari pacar... Suruh cepet nikah, suruh punya anak. Huh, ribet kalo aku nggak anteng dirumah.... "


" Kamu anak satu-satunya, dan lagi, rumah papamu, rumah omamu udah kayak kuburan, sepiiiii.... "


Sambung Doni.


" Yaaa tapi kan, umurku masih 23 tahun. "


" Disini kamu lho yang paling tua, hahaha.... "


" Iya ya Don... Arga emang paling tua dari kita berdua. "

__ADS_1


" Berisik kalian ! Oh iya, jam berapa sekarang ? "


Kata Arga dengan raut wajah kesal.


Indra melirik ke jam tangannya.


" Jam 20.48 .... Kenapa emangnya ? "


" Waduh .... Dikit lagi jam 21.00 ya... "


" Iya..... Ada apa emangnya ? "


" Aku mau cabut duluan, nganterin dia pulang. "


" Hahaha.... Kamu beneran beda ya ?! "


" Bomatlah kalian mau kata apa ... "


Gerutu Arga yang semakin kesal dengan kedua temannya.


Perlahan Arga menarik pahanya dan meletakkan kepala Qirani di sofa dengan hati-hati.


" Bangunin aja, kenapa repot amat... "


" Jangan ! Awas !! "


Arga spontan menepis tangan Doni yang berniat membangunkan Qirani.


" Kasian, dia ngantuk pasti karena kecapekan. Dia tadi lagi nyuci baju pas aku jemput. Cuciannya pasti banyak, tau sendiri, adik pantinya banyak... "


Kata Arga dengan nada kasihan yang terlihat jelas pula dari wajahnya.


" Ooohhh.... "


" Mmmm.... "


Kedua temennya hanya bisa menggumam.


Dan serempak, memperhatikan bagaimana Arga berusaha menggendong Qirani tanpa membuat Qirani terbangun. Sangat hati-hati.


" Tolong, keluarin kunci mobilku dong, nih di kantong belakang. Taruh di tanganku. "


Kata Arga mengharap bantuan.


Doni yang terdekat segera berdiri menghampiri Arga dan merogoh kantong belakang Arga.


" Nih... "


Kata Doni setelah mendapatkan kunci mobil Arga, kemudian menyelipkannya di tangan Arga yang memang sedang memeluk Qirani.


" Jaketku, tolong taruh di atas dia... "


Kembali Arga meminta tolong.


Doni merapikan jaket ke atas tubuh Qirani.


Kamu ini beruntung apa apes ?


Dapet perhatian segitunya dari Arga.


Aku tau Arga, dia itu posesif banget.


Apa yang dia sebut miliknya, nggak akan bisa terlepas begitu saja dari genggaman dan pengawasannya.


Tapi dia bakalan manjain kamu tanpa batas...


Kalo kamu bisa menikmatinya, aku anggap kamu cewek pintar yang beruntung.


Kalo kamu nggak bisa menikmati apa yang ia berikan, hidupmu nggak akan pernah tenang lagi.


Karena Arga akan terus bikin hidupmu berantakan dalam hal apapun....


" Okey, thanks.... Aku cabut duluan ya.... "


Pamit Arga sambil membawa Qirani dalam gendongannya keluar dari kafe tersebut, diiringi tatapan tak percaya kedua temannya.


" Sumpah, Don... Kalo aku nggak liat sendiri dengan dua mataku ini, aku nggak akan percaya ! "


" Ya, aku juga.... Kayaknya dia jatuh cinta ya sama cewek itu... "


" Ah, kalo jatuh cinta bisa jadi belum pasti, Arga cuma ngerasa lagi asyik aja punya mainan baru. "


" Dia sering punya mainan baru, cewek-cewek cantik yang dia suka bawa ke kafe ini, tapi nggak ada satupun yang diperlakukan selembut itu... "


Kata-kata Doni membuat Indra terdiam.


" Kamu salah... Dia pernah selembut itu sama seseorang... Kamu lupa ? "


Kata Indra sesaat setelah diam termenung.


Doni menatap Indra dan mengernyitkan keningnya.


" Adhisty !! "

__ADS_1


" Adhisty !! "


Kompak, keduanya menyebutkan satu nama.


__ADS_2