
" Ga.... tuh ! "
Tegur Doni yang dengan sengaja menyenggol lengan Arga.
Arga mengikuti arah pandangan Doni. Didapatinya Qirani yang sudah setengah mati menahan kantuk, bahkan dengan polosnya menguap lebar-lebar tanpa risi dengan kanan kirinya.
Arga memperhatikan gadis tersebut dengan tersenyum kecil. Sambil menyandarkan tubuhnya di tubuh Yuli yang sudah tergeletak karena kebanyakan minum, Qirani terus menguap.
Sesekali mengucek matanya, kemudian tertangkap basah oleh mata Arga, mata Qirani hampir terpejam.
" Suruh tidur aja dulu.... Jangan gila menyuruhnya begadang buat nemenin kamu main kartu. "
Kata Indra yang mulai tak tega melihat Qirani.
Beda dengan Intan, wajahnya memperlihatkan ketidaksukaannya saat Arga terus menatap Qirani.
" Ntar juga dia ngorok disitu.... Biarin ajalah ! Udah, lanjutin main kartunya dong ! "
Kata Intan, berusaha mengalihkan perhatian Arga.
Arga meletakkan kartu-kartu ditangannya. Kemudian tanpa mempedulikan teman-temannya yang kembali asyik bermain kartu, Arga bangun dari karpet tempatnya duduk.
Merapatkan dua sofa panjang yang ada di sudut ruang tengah, setelahnya ia mengambil dua bantal dan sebuah bedcover dan juga sebuah selimut.
Dengan acuh tak acuh oleh tatapan mata teman-temannya, ia menata bedcover di atas dua sofa tadi, dan meletakkan dua bantal di atasnya.
" Ngapain ngeliat aku kayak gitu ? "
Tanya Arga saat menghampiri Qirani.
Ia mendapati teman-temannya yang sedang menatapnya. Seketika semuanya langsung mengalihkan pandangan dan kembali sibuk dengan permainan kartunya.
" Ngantuk kan, tidur duluan deh... "
Kata Arga menepuk bahu Qirani.
Qirani yang sudah hampir terpejam, menoleh ke samping.
" Boleh ? "
" Kenapa nggak.... "
Sahut Arga lalu dengan cekatan mengangkat tubuh Qirani dan menggendongnya.
" Ah, aku bisa jalan koq... "
Qirani mencoba turun dari gendongan Arga.
" Diam. "
Kata Arga dengan nada bicara yang tegas.
Qiranipun tak berani lagi bergerak. Tiba di tempat yang telah disediakan Arga, barulah Qirani merosot turun.
" Pake selimutmu, puncak akan semakin dingin saat mendekati tengah malam. "
Kata Arga lembut dan penuh perhatian.
Qirani yang berniat mengambil selimut di bawah kakinya, mengurungkan niatnya saat melihat Arga sudah mengambilnya duluan.
Dengan cekatan, Arga melebarkan selimut ke tubuh Qirani, kemudian merapatkannya ke tubuh Qirani pula.
" Nanti aku nyusul. Tidur yang nyaman yaaa... "
CUPP !!!
Satu kecupan kecil di kening Qirani dari Arga. Seketika wajah Qirani memerah karena malu. Arga merasa lucu melihat Qirani yang bersemu kemerahan.
" Lihat ini, cewekku bener-bener imut.... "
Katanya setengah bergumam.
Setelah membelai pipi Qirani dengan mesra, Arga kembali ke karpet. Bergabung dengan yang lain.
Kadang.... dia sangat lembut dan baik.
Bikin aku nyaman dan aman.
Ternyata dia punya sisi yang begini ya...
Apa dia punya kepribadian ganda ?
Aku menyukainya yang ini....
Aku jadi ngerasa aku sangat penting dan segalanya buat dia....
Baru ini ada yang menyanjungku kayak gini.
Biasanya... semuanya menjauh saat tau aku cuma gadis yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.
Mas Galih juga....
Nggak ada kabar apapun lagi setelah kejadian malam itu.
Nggak pernah ke panti lagi.
Nggak pernah antar jemput aku sekolah lagi.
Benar-benar hilang gitu aja.
Pingin nyamperin ke rumahnya, takut....
Jangan-jangan dia sengaja ninggalin...
__ADS_1
Tapi kakak ini....
Padahal aku pingin menjauh dan nggak pingin ada hubungan apapun dengannya, dia arogan, kasar, semau perutnya sendiri, dan nggak mau dengar sebuah penolakan.
Sekarang.... tanpa kusadari, aku malah makin dekat dengannya....
Batin Qirani dengan senyum kecil yang merekah tanpa ia sadari.
Dan karena memang dia sudah diserang kantuk yang hebat, tak lama kemudian, dia sudah mulai tertidur.
KEESOKAN PAGINYA...
" Uugghh...... "
Qirani menggeliatkan tubuhnya, tapi ia merasa ada sesuatu yang berat berada di atas perutnya. Qirani mengerdipkan matanya beberapa kali sebelum membukanya lebar-lebar.
" Ehh.... "
Setengah terkejut, begitu membuka mata menemukan Arga yang masih tertidur lelap di sampingnya dengan posisi satu tangannya melingkar di atas perut Qirani. Satu lengan lagi ada di bawah kepala Qirani.
Seperti curiga akan sesuatu, Qirani mengintip tubuhnya di balik selimut. Dan segera ia bernafas lega mendapati dirinya dan Arga yang berada di bawah satu selimut yang sama masih berpakaian lengkap.
" Hhuuhhtt..... Alhamdulillah.... Masih am... "
" Segitu senengnya hah ?! "
Tiba-tiba Arga memotong ucapannya dengan nada yang terdengar sinis.
Qirani menoleh ke sampingnya. Benar, Arga sedang menatapnya dengan senyum sinis di sudut bibirnya.
Gimana ini.... apa yang harus aku katakan ?
Aku takut, jawabanku malah memprovokasinya.
Batin Qirani cemas.
" Aku pikir, ngelakuin sesuatu yang intim di pagi hari pasti lebih seru... Gimana kalo menurutmu ? "
Tanya Arga yang mulai memasukkan tangannya yang sebelumnya di atas perut Qirani ke dalam sweater Qirani.
Perlahan jari-jarinya mulai merayap ke arah atas. Qirani memucat. Lidahnya kelu.
" Semaleman aku jagain tidurmu dari nyamuk dan dinginnya malam.... Bukankah wajar kalo aku meminta upahnya, hemm ? "
Bisik Arga sembari lebih merapatkan tubuhnya ke tubuh Qirani.
Qirani hanya bisa menatapnya. Tak bisa bergerak sedikitpun. Tubuhnya bak patung, terbujur kaku.
" Badanmu gemetaran ?.... Itu artinya pingin lanjutin lebih jauh lagi atau..... "
Arga sengaja menggantungkan kalimatnya, saat bibirnya mulai menyentuh bibir Qirani.
Satu tangannya yang menjadi bantal bagi Qirani, memeluk bahu Qirani dan membuat tubuh Qirani menghadap ke arahnya.
Bisik Arga sesaat setelah bibirnya mulai menyentuh bibir Qirani.
Jangan.... jangan kesitu...
Kumohon.....
Batin Qirani saat jari jemari Arga mulai membelai lembut sebelah dadanya.
Dia... kaku banget begini sih.
Dicium ya udah dicium aja, nggak bisa apa belajar ngebales ciumanku ?
Iya, dia emang belum pernah ciuman, kata dia waktu itu....
Tapi aku kan udah pernah cium dia, jadi bukan hal yang harus ditanggapi masih dengan kaki begini kan ?
Apa dia masih nggak bisa terima aku ?
Apa dia masih ngerasa aku bukan siapa-siapa dia ?
Kayaknya, aku harus cepet beresin hubungan dia sama cowoknya.
Biar dia tau, dia itu milikku !
Cuma milikku !!
Nggak akan kubiar...
" Wooii !!! Pagi-pagi kalo mau mesum, pindah ke kamar dong ! "
Sebuah suara dengan nada tinggi membuat Arga dan Qirani terkejut.
Arga melepaskan bibir Qirani dan melihat ke arah asal suara. Intan sedang berkacak pinggang dengan wajah yang sangat kesal.
" Apaan sih ? Gangguin aja ! "
Keluh Arga yang juga segera menarik tangannya dari dalam sweater Qirani.
Intan memang tak bisa melihat apa yang terjadi di bawah selimut, tapi dia bisa menebak dari gerakan Arga, apa yang sebelumnya dilakukan Arga.
Arga beranjak bangun dengan wajah yang kesal. Intan memperhatikan Qirani yang masih diam dalam posisi terakhir. Intan mengernyitkan dahinya.
Apa itu ?
Dia keliatan ketakutan tadi....
Dan sekarang, apa aku nggak salah lihat, dia keliatan lega ?
Batin Intan dengan heran melihat mimik wajah Qirani.
__ADS_1
Lalu dia menoleh ke arah Arga yang kini sedang berjalan ke arah kamar mandi.
" Ma-maaf.... "
Ucap Qirani sembari beringsut dari posisi tidurnya dan kini menatap Intan.
Intan memalingkan wajahnya dan menatap Qirani. Tampak Qirani dengan raut wajah sedih dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Apa yang terjadi ?
Apa hubungan yang sebenarnya antara Arga dan dia ?
Dia keliatan nggak suka dengan apa yang dilakukan Arga padanya ?
Tapi ..... dia kan ceweknya Arga.
Banyak cewek yang bermimpi jadi ceweknya Arga dan berusaha dapetin perhatian Arga.
Tapi cewek ini....
" Makasih ya, kak... "
Ucap Qirani menambahkan membuat Intan semakin keheranan.
" Makasih buat apa ? Maaf buat apa ? "
Tanya Intan yang kini menurunkan kedua tangannya yang sebelumnya berkacak pinggang.
" Karena kakak tadi, saya.... "
" Bangun, lalu bikinin aku kopi kayak biasa. "
Arga yang selesai dari kamar mandi, berjalan menghampiri Qirani, membuat Qirani menghentikan ucapannya.
" Iya, kak... "
Jawab Qirani, kemudian beranjak bangun dan melangkah menuju dapur.
" Cewek itu.... beneran cewekmu, Ga ? "
Tanya Qirani kepada Arga yang sedang menyalakan rokoknya.
Arga melirik ke arahnya. Kemudian dengan acuh tak acuh, menyalakan televisi. Mencari acara yang kiranya dia suka.
" Bukan urusanmu. "
Sahut Arga setelah menemukan sebuah acara yang dianggapnya menarik dan duduk bersimpuh di atas karpet.
" Oh... "
Gumam Intan singkat.
" Ingat ya ! Kalo aku bilang bukan urusanmu, itu artinya kamu nggak berhak ikut campur, nggak perlu tau apa pun soal aku dan cewekku, nggak usah tanya-tanya juga, ngerti ?! "
Kata Arga dengan kalimat yang mengintimidasi dan nada suara yang tak ingin dibantah.
" Woles, guys ! Okey.... nggak akan ikut campur ! Aku nggak akan tanya-tanya, hemm... ? "
Sahut Intan dengan mimik wajah yang dibuatnya santai.
Dengan kamu bicara kayak gitu, aku malah semakin curiga.....
Nggak segampang itu, Ga, kamu melarangku !
Batin Intan bertolak belakang dengan ucapannya.
Selesai bicara, Arga mengambil sebatang rokok dari bungkusnya yang tergeletak di atas karpet, tepat di sisi kirinya. Dengan tak peduli, dinyalakannya rokok tersebut.
Intan memilih keluar ruangan. Berniat berlari pagi mengitari villa, mencari keringat di tengah dinginnya udara di puncak.
Cewek itu....
Ya, wajahnya lain denganmu.
Badannya juga beda denganmu....
Tapi gerak-gerik dan tatapan matanya mirip denganmu.
Nggak... nggak mirip, tapi persis denganmu !
Setelah sekian tahun....
Kupikir, akan ada kesempatan.
Ternyata....
Aku salah.... salah besar !
Nggak pernah ada kesempatan buatku....
Aku yang kenal duluan sama Arga...
Aku yang dekat duluan....
Tapi kamu, kamu malah yang kupikir bukan sainganku, kamu yang bukan siapa-siapa...
Malah kamu yang cuma bisa ngumpet di belakangku, jadi bayang-bayangku.... kamu yang bisa ngambil hati Arga !
Adhisty.... kamu tau, kamu juga salah....
Kamu bilang, kalo kamu menghilang dari Arga, aku bisa dapetin Arga....
Kamu salah besar !!!
__ADS_1
Intan terus berlari.