Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 29


__ADS_3

" Ayah sudah berkali-kali ingetin kamu, Ga ! Jangan bikin ulah terus ! Bukannya berubah setelah lulus kuliah, apa-apaan ini ?! "


Pak Bima melempar sebuah koran ke meja di hadapan Arga dengan penuh emosi.


" Bikin berita orang hilang, siapa emangnya gadis itu, hah ?! Bikin malu ayah saja !! "


" Arga pasang berita tanpa ada nama ayah, gimana bisa Arga bikin malu ayah ?! "


Tak kalah sengitnya, Arga menjawab sang ayah.


" Kolega ayah tau kamu itu siapa, Arga ! Apa yang dipikirkan mereka saat mereka baca koran itu ?! Kamu berurusan dengan gadis panti asuhan ! "


" Apa yang salah dengan itu ?! Anak panti asuhan juga manusia, Yah ! Dia anak baik-baik ! Dia nggak ada bedanya sama kita, punya tangan dan kaki ! Arga sayang sama dia ! Apa salahnya kalo Arga nyariin dia ?! "


" Terus aja kamu nyautin ayah !! "


" Sudah ! Sudah lah ! Kalian mau ribut sampai kapan ?! "


Seorang wanita yang sudah berusia kurang lebih setengah abad tiba-tiba masuk ke ruang kerja Pak Bima.


Tanpa basa-basi langsung berseru melerai ayah dan anak yang sedang saling adu mulut tersebut.


Arga melemparkan tubuhnya ke sofa di belakangnya. Wajahnya tampak kesal setengah mati. Pak Bima memilih duduk di kursi kerjanya.


" Kalian ini, kalo nggak saling diam tanpa tegur sapa, pastinya debat mulut saling teriak. Apa nggak bisa dibicarakan dengan baik-baik ? Kalian ini bukan orang lain, sedarah, ayah dan anak... "


" Arga, ma... Susah banget diaturnya. Liat aja ulah dia sekarang ini. "


Keluh Pak Bima cepat.


" Arga... Kamu ini satu-satunya cucu oma, cucu kesayangan. Ada apa, apa yang kamu lakuin sampai ayahmu marah besar begini ? "


Kata Bu Eka dengan lembut sembari membelai rambut Arga yang sepanjang leher itu.


" Lihat, rambutmu sudah panjang aja. Berantakan begini... Kamu itu penerus keluarga ini sayang, berdandan lah lebih baik lagi... "


" Oma... "


" Baik... Baik... Oma nggak akan komentari lagi penampilan mu yang selengekan kayak preman gini. Sekarang, bilang sama Oma. Ada apa ? "


" Arga cuma nyariin cewek Arga yang hilang, itu aja. "


" Cewekmu hilang ? Kenapa ? Koq bisa ? "


" Arga ngelakuin sesuatu yang bikin dia pergi dari rumahnya... "


" Pergi dari panti nya ! Panti asuhannya !! "


Potong Pak Bima menyambung ucapan Arga.


" Ayah !! "


Seru Arga kesal.


" Jadi... Cewekmu anak panti asuhan ? Dan karena kamu ngelakuin kesalahan, dia pergi tanpa berita apa-apa, begitu ? "


Sang nenek dengan bijaksana berbicara secara lembut kepada Arga.


" Iya, kurang lebih kayak gitu, Oma... "


" Hemm... Sudah berapa lama dia pergi ? "


Tanya Bu Eka.


" Sudah hampir dua minggu... mmm, sepuluh hari ini. Arga pasang berita di koran baru dua hari. "


Jawab Arga yang mulai reda rasa kesalnya karena sikap sang nenek yang tampak peduli dengan masalah yang sedang dihadapinya.

__ADS_1


" Sudah ada info ? "


Arga menggelengkan kepala menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh sang nenek.


" Mama, jangan berpikir yang nggak-nggak kayak Arga ya, Ma. Aku nggak mau mama selalu belain anak bandel ini ! Jangan manjain dia terus, nggak akan bisa dewasa kalo mama selalu belain dia kayak gini ! "


Pak Bima langsung mengingatkan sang ibu.


" Bima... Arga masih muda, usianya juga baru 23 tahun. Dia punya pacar, dia kehilangan, ada masalah apa dengan hal itu ? "


" Mama, apa yang dipikirin kolega-kolega kita soal berita itu ? Anakku, anak satu-satunya, calon pewaris Grup Ekajaya, sibuk nyariin anak panti ??? "


" Ayolah, jangan bikin sesuatu itu jadi besar begitu ! Ini urusan anak muda. Kamu juga pernah muda, Bim. "


Kata Bu Eka mencoba menenangkan sang anak.


" Aku punya rencana buat masa depan Arga, ma. Dia satu-satunya penerus, dan demi perusahaan kita, tahun depan aku mau jodohin dia dengan anaknya Herman, si Rosa ! "


Kata Pak Bima dengan nada yang mulai meninggi kembali.


" Apa ?! Nggak ! Nggak bisa !! Aku nggak akan nikah sama cewek lain selain Qirani ! Apapun status Qirani, aku nggak peduli ! Ayah nggak bisa main atur gitu aja siapa jodohku ! "


Dengan cepat dan tak kalah seru, Argapun menjawab.


" Kamu ini.... Huh !!! "


Pak Bima menunjuk ke arah Arga dengan penuh emosi.


" Arga, masuk ke kamarmu. Oma pingin bicara empat mata dengan ayahmu sekarang. "


Perintah Bu Eka kepada Arga.


Dalam diam, Arga pun keluar dari ruang kerja ayahnya. Bu Eka duduk di sofa dimana Arga duduki sebelumnya. Melihat ke arah anaknya yang masih tampak kesal.


" Perjodohan Arga, kenapa nggak kamu diskusikan dulu padaku dan Arga ? Bukankah kamu sudah janji pada Arga setahun lalu, waktu itu kamu kasih dia dua pilihan. Menikah atau lulus kuliah tahun ini. Arga memilih pilihan kedua dan dia menepatinya. Seharusnya dia nggak bisa kamu paksa menikah begitu saja kan ? "


Bu Eka mulai membuka percakapan dengan tenang setelah sejenak hening sesaat.


" Nggak bisa kayak gitu, Bim. Cobalah hargai keputusan anakmu, tepati janjimu. Jangan egois. Jangan bawa-bawa perusahaan demi masa depan anakmu. Mama yakin, dia bisa belajar dewasa asal kita nggak terlalu menekannya. Kamu lupa ? Dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, Bim.... "


Pak Bima termenung mendengar ucapan ibunya.


" Tapi... ini anak panti asuhan, ma... "


Masih merasa tak rela, Pak Bima kembali bicara.


" Lalu kenapa kalo anak panti asuhan ? Kamu lupa, dulu kamu juga pernah jatuh cinta pada anak panti asuhan. Sampai tiba-tiba dia menghilang begitu saja, baru kamu bisa lupain dia dan menikah dengan Dewi. Kamu inget Rendra, sahabatmu itu ? Dia dan istrinya, si Wulan, sama-sama anak panti asuhan, tapi mereka bisa sukses besar. "


Kembali Pak Bima termenung, memikirkan apa yang dikatakan ibunya.


Rima...


Ya, dia juga anak panti asuhan.


Seperti diingatkan, Pak Bima mengenang masa-masa mudanya dahulu, dimana dia bersahabat dengan Rendra dari masih sekolah hingga sudah menikah.


Rendra...


Ya, Rendra juga anak panti asuhan.


Dia dan Wulan, sama-sama dari panti asuhan...


Dan mereka bisa berhasil menjadi sukses.


Bahkan bersama merekalah, aku bisa mendirikan perusahaan property yang sekarang kumiliki ini.


Mereka lah yang punya rencana dan strateginya, aku sebagai pemilik sahamnya.

__ADS_1


Tanpa mereka, perusahaan ini nggak akan bisa sebesar ini...


Tapi.... mama...


Wajah Pak Bima yang sebelumnya tenang saat merenung kini berubah tampak sedih.


" ... Iya kan, Bim ?.... Bim, Bima, kamu denger apa yang aku omongin barusan ? "


" Ah, iya ma.... Iya... "


Sahut Pak Bima yang kembali tersadar dari lamunannya karena teguran ibunya.


" Herman sudah tau soal ini ? "


" Belum, kan Bima bilang tadi, ini baru rencana Bima. Bima belum bilang apa-apa ke Herman. Tapi ma, Rosa anaknya baik koq, ramah dan juga cantik. Pendidikan nya juga setara dengan Arga, pantaslah kalo jadi istri Arga. "


" Sudah, jangan bahas ini lagi. Soal perjodohan, aku setuju dengan Arga. Biarin dia mencari jodohnya sendiri. Kita cukup kasih restu dan doa saja. Arga udah lulus kuliah, bulan depan, bawa dia ke perusahaan, berikan jabatan sebagai supervisor dulu. Kita lihat perkembangannya, kalo dalam enam bulan dia kerja dengan baik, baru tingkatkan jabatannya. "


" Kenapa enam bulan ? Seharusnya setahun, agar dia bisa menghargai sesuatu dari hal yang paling kecil dulu. "


" Atur aja, yang penting, bertahap. Paham ? "


" Ya, ma. Aku mengerti. "


" Aku mau dia ambil S3 arsiteknya, agar dia makin paham tentang perusahaan ini. "


" Soal itu, mama saja yang bicara ke dia. Kalo aku yang bicara, Arga pasti menolak buat kuliah lagi. Apalagi kuliah sambil kerja... Nggak gampang bujuk dia. "


" Baiklah... biarin dia tenang dulu. Nanti kalo waktunya tepat, aku akan bicara dengannya. Ingat, jangan lagi bahas perjodohan dengan Arga. "


" Huuufftthhh... baiklah, ma. Aku ikuti apa kata mama sajalah... "


" Baguslah... Sudah malam, istirahatlah. Besok kamu ada rapat bulanan, jangan sampai kesiangan. "


Kata Bu Eka sembari beranjak bangun dari duduknya dan dengan tenang melangkah keluar ruang kerja anaknya.


Sepeninggal Bu Eka, Pak Bima masih merenung di kursi kerjanya. Lebih tepatnya, melamun.


Mungkin mama benar.


Aku terlalu keras pada Arga.


Anak itu.... selalu saja bikin ulah.


Dulu depresi karena pacarnya yang sakit-sakitan itu meninggal.


Sampai berhenti kuliah, harus kubawa berobat.


Setelah bisa sembuh, kuliahnya tetap saja berantakan, bisanya cuma main-main terus, ribut sana ribut sini, dikit-dikit aku dapat panggilan dari kantor polisi.


Sekarang bisa lulus kuliah tapi ada lagi ulahnya...


Pacaran sama anak panti sampai segitunya sibuk pasang berita sana-sini karena pacarnya hilang tanpa kabar.


Dewi... Dewi... dosa apa yang dulu kulakukan sampai kamu menghukumku kayak gini, meninggal setelah melahirkan Arga...


Tega banget kamu, membuatku jadi orang tua tunggal kayak gini...


Apa karena aku nggak pernah cinta sama kamu ?


Apa kamu marah dan ninggalin aku karena aku nggak bisa lupain Rima ?


Bahkan sampai hari ini, aku masih nggak pernah tau lagi dimana Rima, gimana kabarnya, apa dia masih hidup atau dia juga sudah pergi dan ketemu kamu di surga kah ?


Apa semua ini karma buatku karena jadi pengkhianat ?


Mengkhianati sahabat sendiri...

__ADS_1


Meskipun bukan aku yang melakukannya, tapi mama melakukannya demi aku....


Ya Allah.... aku sungguh lelah...


__ADS_2