Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 9


__ADS_3

" Ga, serius kamu ? "


" Hemmm.... "


" Anak panti ? "


" Tau kan panti asuhan Mentari Pagi ? "


" Iya, itu mah panti asuhan lama, dari aku kecil juga udah ada... "


" Nah, itu.. Don. Cewek itu tinggal disitu. "


" Jadi bener dong kata cowoknya, dia yatim piatu dan tinggal di panti asuhan. "


" Ah, ngapa aku jadi ngerasa bersalah ya ? "


" Jadi nggak enak ya rasanya.... "


Apalagi aku...


Dah bikin dia sampai pingsan segala....


Sambung Arga dalam hati.


" Uangnya gimana ? "


" Ada berapa semuanya ? "


" Ada mmm... 41 juta.... "


Indra menyerahkan tas daur ulang berwarna hitam. Doni menyodorkan kartu ATM milik Arga.


" Di tas ini ada 31 juta, 10 jutamu masih di ATM, jadi kamu belum bayar taruhanmu. "


Jelas Indra.


" Uangnya biar aku yang kasih, sekalian sama 10 juta ku. "


Kata Arga sembari meraih tas berisi uang dan kartu ATM nya.


" Ngomong-ngomong, pacarnya udah diberesin ? "


" Udah, Ga... Kamu pergi bawa cewek itu, kita langsung eksekusi. Dita juga iya iya aja, yang penting beres. Cowok itu satu kelas sama Dita. "


" Dia masih dirawat, Ga. Rumah sakit papa ku. Aku bilang sama papa, aku nemuin dia dihajar preman. Jadi aman. Tinggal tunggu tuh cowok bisa ngomong lagi, baru aku tekan. "


" Cewek itu kira-kira jadi masalah nggak nih ? "


" Cewek itu... aku yang urus. "


Arga mengambil keputusan.


" Bukannya kalo urusan cewek, Doni yang handle ? "


" Cewek ini, beda. Aku yang akan urus. Awas, kalo kalian ikut campur. "


Kata Arga cepat dan tak ingin dibantah.


Kedua temannya langsung diam.


" Kabarin aku kalo cowok itu bangun, aku pingin ngobrol sama dia. Jangan lupa buat patungan, kayak biasa... "


Kembali Arga berkata dengan nada yang tegas.


" Ya, okey... Kali ini mau patungan berapa ? "


" Sejuta ? "


" Kalian saling 3 juta, aku genepin jadi 10 juta ntar. Wajahnya sampai kayak gitu, masa iya kalian cuma kasih harga kecil. "


Lagi, Arga yang mengambil keputusan.


" Indra tuh, dia nafsu banget nonjokin nya. "


" Tau sendiri, aku udah kena obat... "


" Makanya, berhentilah dengan narkobamu itu. Bagus nggak mati itu orang. Kalo sampai mati, kita bakal kena masalah. "


Kata Arga menasehati temannya.


" Entahlah... aku pingin brenti sih, tapi... kayaknya masih belum sanggup. Setiap ada masalah, aku butuh itu. "


Sahut Indra dengan tatapan ke depan. Kosong.


Selama rumah masih jadi ajang perang antara papi mami, aku nggak akan sanggup bertahan hidup tanpa narkobaku.


Batin Indra.


" Bokap nyokap mu masih sibuk dengan selingkuhannya masing-masing ? "


Tanya Doni prihatin dengan kehidupan keluarga Indra.


" Beberapa hari lalu mami bawa berondong ke hotel, dan papi lagi ada meeting di hotel yang sama. Gitu deh, kepergok. Udah aja tiap hari ribut kayak apa tau... "


Sahut Indra bercerita.


" Aku bingung, setiap ribut alasannya selalu sama. Saling menyalahkan kematian adikku, kakaknya Dita. Padahal kejadiannya juga sudah belasan tahun lalu. "


" Orantuamu kurang komunikasi kali ya... "


" Urusan orangtua kadang membingungkan ya... Kadang aku berfikir, mending nggak usah nikah, daripada saling nyakitin. Papa mamaku lain lagi ceritanya. Mereka nikah karena dijodohin, dan sampai hari ini masih aja nggak bisa saling mencintai. Padahal udah ada aku dan Dita. "


" Hei, kalian jadi kayak cewek-cewek kalo lagi kumpul... Pada curhat, hahaha...."


Arga mengalihkan pembicaraan agar kedua sahabatnya tak lagi terlihat menyedihkan.


" Arga, kemana aja kamu ? "


Tiba-tiba datang seorang gadis seksi dengan senyumnya yang lebar. Tepat berdiri di sisi kanan Arga yang sedang tertawa. Tawa Arga terhenti. Ketiganya menoleh ke sang gadis seksi.


" Waaahhh, Sherina.... Kenapa kamu makin seksi aja siihh.... Ckckck ! "


Puji Doni, matanya langsung melotot genit.


" Kalian jarang masuk kampus sih... Jadi kita jarang ketemu. "


Sahut Sherina dengan manja.


" Sini duduk. Udah pesen makan belum ? "


Kata Indra sambil menarik kursi kosong di sebelah Arga, mempersilahkan Sherina untuk duduk.


Sherinapun langsung duduk. Dan dengan sengaja mendekatkan kursinya merapat ke Arga.


" Arga, kapan kita jalan bareng lagi ? Katamu, kamu mau ngajak aku jalan-jalan lagi... "


" Nggak sempet. "

__ADS_1


Sahut Arga pendek sambil memainkan game di handphone nya.


Indra dan Doni saling melirik, beradu pandang. Kemudian keduanya menatap Arga dengan heran.


Tumben, nolak ?!


Biasanya asal Sherina yang ngajakin, pasti mau...


Bukannya dia pernah bilang, Sherina anaknya asik ?...


Mmmm, apa udah ada yang lebih asik dari Sherina yang seksi ini ?!


Batin Doni.


" Arga lagi sibuk dengan mainan barunya... "


Kata Doni setengah berbisik kepada Sherina.


" Mainan baru ? Apa itu ? Permainan robek baju ? Cewek-cewek disini banyak yang ngegosip tentang itu. Kenapa aku nggak diajak ? Selain bisa senang-senang sama kalian, uangnya lumayan juga... "


Sahut Sherina dengan bersemangat.


Arga menoleh ke arah Sherina. Satu alisnya naik. Dari apa yang dilihatnya, Sherina bener-bener berminat dengan apa yang dikatakannya.


Tuh kan, cewek lain pasti akan bilang kayak gitu...


Kalo Qirani, jejeritan sampai suaranya habis.


Uangnya pun nggak ia pedulikan...


" Tapi, ada satu orang yang nggak suka diajak main permainan itu. Bahkan dia nangis sejadi-jadinya. "


Kata Arga dengan santai.


Kedua sahabatnya mulai paham ke arah mana Arga bercerita. Dan tampak raut wajah Arga berubah, terlihat merasa bersalah.


Begitu pula Indra dan Doni. Seperti halnya Arga, keduanya juga jadi merasa bersalah mengingat kejadian tersebut.


" Hah, emang ada ya yang nggak suka ? Serius, Ga ? "


Sherina bertanya dengan heran.


" Iya, nih uangnya aja sampai 41 juta lho... "


Kata Arga sambil menunjuk ke tas hitam yang berisi uang.


" Ah, nggak percaya ! Mana ada nolak uang segitu. Bisa buat beli skincare bagus, perawatan ke salon, beli banyak baju... "


Sherina berkata dengan tatapan yang menerawang jauh, sedang menghayal apa yang akan dilakukannya dengan uang sebanyak itu.


Bener kan....


Qirani doang yang beda dengan yang lainnya.


Bertahan atas apa yang disebut kesucian...


Cewek itu emang beda.


Menarik...


Batin Arga.


Hari ini dia lagi ngapain ya ?


Apa dia bakal curhat sama temen ceweknya soal kejadian kemarin ?


Cewek cupu penakut itu kayaknya nggak gampang akrab sama yang lain, kecuali sama semua yang di panti asuhan itu.


Apa dia curhat sama bundanya ?


Nggak mungkin juga kayaknya...


Batin Arga, yang tanpa disadarinya, juga menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Dia bilang adiknya banyak, aku pikir orangtuanya doyan ehem... nggak taunya ... hehehe !


Nggak punya uang buat bayar laundry, apa ongkos sekolahnya sedikit ya ?


Salah... apa dia punya ongkos sekolah ?


Dan kali ini, Arga mengernyitkan dahinya.


Padahal aku pernah lewatin panti asuhan itu, tapi nggak ngeh ada cewek secantik itu yang jadi penghuni panti.


" Ckckck... "


Arga berdecak kagum.


Kata adiknya yang cewek, dia bahkan nggak pernah punya cowok.


Cowok pertamanya baru cowok itu....


Dia udah ngapain aja ya sama cowok itu ?


Udah ciuman ?


Diraba-raba ?


Dan kembali, Arga mengernyitkan dahinya.


Waahh.... itu cowok sialan amat ya, dia bisa nemu cewek sepolos si cupu gitu...


Mana nurut banget lagi...


" Isshhh... "


Desis Arga dengan wajah yang masam.


" .... Ga... Arga... "


" Hei, Arga ! "


Arga tersentak dari lamunannya. Di depannya, tampak Sherina, Doni dan Indra menatapnya dengan heran.


" Apaan ? "


" Kamu ngelamun ? "


" Kamu sudah gila ? "


" Diam nggak bergerak menatap Sherina, tapi tau-tau senyum sendirian, terus bengong lagi, lalu kesel sendiri sampai ngepelin tangan kayak mau nonjok orang... "


Kata Indra masih dengan tatapan heran kepada Arga.


" Kayaknya aku sudah waktunya cabut. Balik ah ! "


Kata Arga yang enggan menjelaskan tentang lamunannya.

__ADS_1


Segera ia membawa tas hitamnya dan bangkit dari kursinya. Tapi Sherina memegang tangannya.


" Aku bareng ya... Kita kan searah. "


" Emang kuliahmu dah kelar ? "


" Udah, bareng ya... "


" Kamu nggak bawa mobil ? "


" Nggak... "


" Nggak dijemput ? "


" Nggak... "


" Don, anter dia ya... "


Jawaban Arga membuat ketiganya bingung.


" Walah, kirain nanya sampai segitunya karena mau nganterin... "


Ujar Indra merasa gondok pada Arga.


" Kan dia minta dianter sama kamu... "


" Nggak sempet. "


" Dia pingin naik mobilmu... "


" Kunci motormu kuambil deh, nih pake mobilku nganter dia... "


Dan tak menunggu jawaban, Arga meletakkan kunci mobilnya dan mengambil kunci motor Doni.


" Doni pecinta wanita, dia pasti nganter kamu sampai rumah dengan selamat. Bye ... Aku cabut duluan deh ! "


Pamit Arga seraya mengusap kepala Sherina dengan lembut.


Selalu menghindari ku....


Setiap ke kampus pakai baju seksi cuma buat caper sama kamu, Ga...


Tapi kamu nggak pernah ngelirik aku sekalipun.


Sekalinya jalan juga dah kayak jalan sama sopir...


" Ngeselin ya itu orang .... "


Kata Indra menggerutu.


" Kataku, udah nanya-nanya kayak gitu ya pastinya bakal di anterin... Eehh, sialan bener... "


Sambung Doni setengah kesal.


" Sabar ya, Sher... Arga emang susah-susah gampang. "


Sambung Doni, sambil menepuk pelan pundak Sherina.


" Aku pasti akan sabar koq, asal bukan karena cewek lain, aku akan sabar ngadepin Arga. "


" Tenang aja, soal cewek lain nggak ada sampai sekarang juga. Arga masih orisinil, hehehe.... "


" Beneran ? "


" 100 % halal... "


" Masa sih... Bukannya dia paling tua ya dari kalian ? "


" Iya, dia kan harusnya udah lulus kuliah dari dua tahun lalu. Cuma karena dia nggak minat buat lanjut kerja di perusahaan papanya, setelah lulus kuliah, jadi dia nggak pernah ngerjain skripsinya sampai sekarang. "


" Oh gitu ceritanya.... Tapi serius, dia masih virgin ? "


" Serius, dia itu kayak minat nggak minat sama cewek. Kalo kita lagi main permainan robek baju, dia nggak terlalu ngikutin... Sebatas buat ngeramein taruhan aja. "


" Tapi, Don... Baru kemarin ini dia beda. "


" Iya, dia pasang harga yang nggak main-main. Padahal sebelumnya, mana pernah... "


" Kapan kalian main ? "


" Malem minggu kemarin, di acara ulangtahun adikku.. "


" Yah, sayang... Aku nggak bisa datang, sih. Ayahku ngajak ke Bandung. "


" Pantesan aku nggak ngeliat kamu... "


" Siapa cewek itu ? Cewek yang beruntung ikut permainan kalian ? "


Pertanyaan Sherina seolah menohok kedua pria muda di hadapannya.


Apa bisa disebut cewek beruntung ?


Pas Arga cerita siapa cewek itu tadi, rasanya malah nyesel udah maksa itu cewek....


Batin Indra dan Doni.


" Koq kalian malah diam aja ? Dan muka kalian malah aneh begitu ? "


" Sher, mau pulang sekarang apa masih ntar ? "


Doni mengalihkan topik pembicaraan.


" Ayolaahhh.... Cerita sedikit padaku. "


" Don, Sher... Aku balik kelas dulu deh ! "


Indra bergegas meninggalkan mereka berdua.


Tinggal Doni dan Sherina yang melihat ke arah Indra pergi. Sherina yang masih penasaran, menoleh ke arah Doni.


" Kalian kenapa sih ? Nggak mau banget cerita soal cewek itu. Anak kampus sini apa bukan ? "


" Arga bilang, cewek itu urusan dia. Jadi mending nggak usah tau deh. Kalo Arga sampai tau aku cerita, bisa abis aku sama dia. "


" Oh... "


Tumben, Arga mau ngurusin seorang cewek.


Dia bukan type cowok yang mau repot dengan urusan cewek, apalagi itu bukan pacarnya.


Bukannya Doni yang biasa ngatasin masalah cewek.


Siapa cewek ini ?


Apa bagusnya ?


Dan kenapa Doni dan Indra nggak mau cerita soal cewek ini...

__ADS_1


__ADS_2