Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 37


__ADS_3

Arga menatap keluar jendela kantornya. Tatapannya tampak serius dan fokus. Kedua tangannya terlipat di depan dada bidangnya.


Indra dan Doni memperhatikan sahabatnya yang sedang serius memikirkan sesuatu. Keduanya saling pandang dan tampak penasaran.


" Jadi apa pilihanmu ? "


Tanya Indra dengan tak sabar setelah menunggu untuk sekian waktu.


" Menikahi Rosa juga bukan ide buruk, Ga. Aku denger, dia orangnya cantik dan ramah, lulusan luar negri pula. Kalo kamu aktif di sosmed, kamu pasti gampang dapetin profilnya. Rosa banyak beramal, biarpun dia masih muda, mmm... mungkin selisih dua tiga tahunlah dari kita. "


Kata Doni memberitahu.


" Atau mau coba kolaborasi dengan Grup Paradise ? Perusahaan ini termasuk baru, tapi sudah kelas internasional. Kantor pusatnya aja ada di London. Biarpun di Indonesia termasuk baru tapi sepak terjangnya selevel dengan perusahaan mu. Mereka spesialis di bidang restoran dan hotel. Sempat melihat bursa saham, harga saham mereka sama tingginya dengan saham perusahaan mu. Kamu bisa tawarkan kerjasama tanpa menjual saham mu. Bagi hasil aja. "


Sambung Doni dengan banyak informasi yang ia dapatkan.


Arga menghela nafas panjang. Memutar tubuhnya dan berjalan menghampiri meja kecil di sudut ruangan. Di meja tersebut, tersedia sebuah pitcher kaca dengan gelas yang kosong.


Arga menuang isi pitcher yang berisi air putih itu ke dalam gelas kosong tersebut. Setelah penuh, Arga mengangkat gelas itu dan membawanya mendekati Doni dan Indra yang sedang duduk bersantai di sofa ruang kerjanya tersebut.


Belum sempat Arga meminum air putih yang dibawanya, terdengar ketukan di pintu ruang kerjanya.


" Masuk... "


Kata Arga memberikan ijin.


Muncul Ida, sang sekretaris Arga dengan sopan menghampiri Arga setelah membuka pintu.


" Pak, maaf mengganggu, ada tamu. Ingin segera bertemu bapak kalau bapak bersedia. "


Kata Ida.


" Apa aku ada janji temu hari ini ? "


Tanya Arga penasaran.


" Tidak. Tamu ini belum punya janji dengan bapak. Makanya meminta ijin lebih dulu. Kalau Pak Arga nggak berkenan, saya bisa tolak mereka. "


" Oh gitu. Mereka ? Lebih dari satu orang ? "


" Ya, berdua pak. "


" Darimana ? "


" Direktur Utama Grup Paradise bersama sekretaris pribadinya, Pak Aditya Candra dan Bu Divya Naura. "


Jawaban Ida membuat Arga mengernyitkan keningnya.


" Pucuk dicinta ulampun tiba ! Baru juga kita obrolin... Temuin, Ga ! "


Seru Doni bersemangat.


" Kenapa bisa kebetulan ya ? "


Gumam Indra dengan senyum di sudut bibirnya.


" Gimana, pak ? Pak Arga mau ketemu ? "


Ida meminta jawaban.


" Baiklah. Persilahkan masuk. "


Jawab Arga akhirnya.


Idapun segera melangkah keluar.


" Apa yang mereka mau ya ? Apa mereka tau masalah perusahaan mu ? "


Tanya Indra setengah berpikir.


Arga memutar tubuhnya dan kini menghadap ke arah sahabatnya, membelakangi pintu ruang kerjanya. Gelas di tangannya segera diangkatnya ke atas mendekat ke mulutnya dan iapun menghabiskan air putihnya dalam sekali tenggak.


" Entahlah... Kita coba liat aja apa yang mereka mau dengan datang langsung tanpa janji temu duluan. "


Kata Arga sambil menatap Indra dengan serius.


" Selamat siang, Pak Arga. "


Sebuah suara berat terdengar ramah dan tegas dari arah belakang tubuh Arga, membuat Arga dan sahabatnya langsung menoleh.


Di hadapan ketiganya, seorang laki-laki berusia dua puluh delapan tahun dengan tersenyum ramah menatap Arga, berjalan mendekat.


Arga dan dua temannya menatap sosok tamu tersebut dengan pandangan takjub.


Tubuh atletis, tampak dadanya yang bidang terlihat jelas dari kemeja berbahan sutra berwarna kuning gading. Tinggi sekitar seratus delapan puluhan, membuat sosok tamu ini tinggi menjulang bak gunung kokoh.


Penampilan yang maskulin, dengan wajah yang bersih dan cambang di depan daun telinga. Kulitnya berwarna kecoklatan membuat tamu tersebut semakin tampak jantan.


" Perkenalkan, saya Aditya Chandra, Direktur Utama Grup Paradise dan ini sekretaris saya, Divya Naura. "


PPRAANNGGG !!!


Gelas di tangan Arga terlepas begitu Aditya memperkenalkan seorang gadis yang terus berada di belakang Aditya. Dan tentu saja, gadis itu adalah Qirani Asha.


Mata Arga terbelalak, bahkan hampir meloncat keluar. Doni dan Indra melompat bangun dari duduk santainya. Pandangan ketiganya menatap Qirani bagaikan melihat hantu.


Bingo !


Sesuai rencana...


Sampai detik ini, semuanya sesuai dengan yang diharapkan.


Batin Aditya penuh kemenangan.


" Maaf... Pak... Pak Arga, hello... "


Aditya menjentikkan jarinya ke hadapan wajah Arga.


Arga yang tampak shock, berusaha mengendalikan dirinya untuk tetap tenang. Tapi gagal, Arga hilang kendali. Dengan cepat, ia mencekal tangan Qirani.


" Aduh ! "


" Hei ! "


Mendengar Qirani mengaduh dan melihat Qirani ditarik begitu saja oleh Arga, Aditya langsung mendorong tubuh Arga agar menjauh.


" Qirani ! Kamu .... "


" Arga ! Sadar ! Jangan cari masalah ! "


Indra yang melihat Arga bagaikan macan yang ingin menerkam mangsanya, langsung mengambil tindakan. Menarik tangan Arga agar melepaskan tangan Qirani.

__ADS_1


" Apa-apaan ini ?! Kami datang baik-baik, dan diterima dengan nggak sopan kayak gini ?! Lepasin tangan Divya, anda jangan kurang ajar ya, dia ini calon istri saya !! "


Protes Aditya dengan pura-pura marah.


" Maaf... Maaf... "


Kata Doni sambil mencoba membuka genggaman Arga pada pergelangan tangan Qirani.


" Arga ! "


Sentak Doni.


" Lepasin tangan tunangan saya !! "


" Tolong yang sopan ya ! Anda jangan berani kurang ajar ya pada saya ! "


Kali ini Qirani membuka suara.


Dan dengan terdengarnya teguran dari Qirani, secara perlahan Arga melepaskan genggamannya.


Qirani langsung menarik tangannya yang tampak kemerahan karena kuatnya Arga mencengkeramnya tadi. Tatapan matanya yang tajam membuat hati Arga bergetar.


" Kamu nggak papa, sayang ? "


Kata Aditya dengan cemas sembari mengusap lembut pergelangan tangan Qirani.


Arga yang melihat betapa perhatiannya Aditya kepada Qirani menjadi tampak emosi. Indra yang melihat raut wajah Arga, langsung menarik tubuh Arga menjauh.


" Dia bukan Qirani, dia bukan Qirani... sadarlah... Tolong, sadarlah, bro ! "


Bisik Indra di telinga Arga.


" Maaf, sepertinya teman saya belum bisa bicara lebih banyak lagi dengan anda. Mungkin bisa bertemu di lain waktu saja. Situasi saat ini rasanya kurang tepat untuk membicarakan bisnis, jadi... "


" Saya persilahkan anda untuk memberitahu saya, ada kepentingan apakah anda kemari ? "


Tiba-tiba Arga memotong perkataan Doni dan sambil merapikan jasnya, ia berjalan dengan tenang mendekat ke arah Aditya.


" Apa anda yakin, anda tidak akan melakukan hal seperti tadi ? "


Sahut Aditya balik bertanya sambil mendorong Qirani ke belakang tubuhnya.


Arga menatap Qirani dengan tatapan tajam dan Qirani membalas tatapan matanya dengan menunjukkan raut wajah kesal. Kemudian Argapun berusaha untuk tetap tenang, ia melempar senyum dan mengalihkan pandangannya ke arah Aditya.


" Maaf, maafkan saya. Saya berlaku khilaf. Tunangan anda mengingatkan saya dengan seseorang... Maafkan saya. "


Kata Arga merendah dengan sopan.


" Silahkan... "


Lanjut Arga mempersilahkan Aditya untuk duduk.


" Don, tolong panggilin Ida. Suruh bersihkan pecahan gelas itu dan bawa minum untuk tamuku. "


Bisik Arga pada Doni setelah melihat Aditya duduk di sofa, diikuti oleh Qirani yang duduk berdampingan dengan Aditya.


Menjawab dengan anggukan, Donipun melangkah keluar ruangan. Sementara itu Indra mendekat menghampiri Aditya dan Qirani.


" Saya Indra Wijayanto, tim kuasa hukum Grup Ekajaya. "


Indra mengulurkan tangannya ke arah Aditya sembari tersenyum kecil.


Sambut Aditya dengan ramah sambil berdiri menjabat tangan Indra.


Kemudian Indra mengulurkan tangan ke arah Qirani. Qirani menyambutnya dengan ramah pula.


" Divya Naura. "


Ucapnya singkat.


Arga yang memperhatikan Qirani tanpa berkedip, semakin penasaran.


Wajah yang sama...


Suaranya sama juga...


Tapi... penampilan nya berbeda jauh.


Qirani berambut ikal agak kecoklatan.


Dia berambut lurus dengan warna yang sangat berani, bagian atas berwarna pink keunguan dengan ombre berwarna blonde...


Pakaiannya juga fashionable, sedangkan Qirani cuma itu-itu saja, tertutup.


Qirani berkulit putih pucat, dia juga putih tapi nggak pucat...


Qirani kurus, dia proporsional dengan tinggi badannya.


Qirani tak pernah berani mengangkat wajahnya terang-terangan.


Dia... bahkan tatapan matanya begitu berani menantang.


Qirani akan gugup kalo aku menyentuhnya.


Dia... berani membentak ku dengan keras.


Apa benar dia bukan Qirani ?...


Aku harus menyelidikinya.


" Hei, sakit ! "


Keluh Arga saat Indra mencubitnya.


" Itu... "


Indra menunjuk ke atas meja, dimana tergeletak sebuah dokumen yang disodorkan Aditya kepada Arga.


" Silahkan pelajari lebih lanjut penawaran kami. Dan tolong berikan jawaban secepatnya. Saya berharap, kerjasama ini bisa terealisasi segera. "


Arga mengambil dokumen di atas meja dan membukanya. Wajahnya sangat serius saat membaca setiap lembar kertas dokumen tersebut. Sesekali keningnya berkerut saat menatap beberapa bagian isi dokumen.


Aditya memperhatikan setiap ekspresi wajah Arga yang sesekali berubah. Sejenak tampak datar, biasa saja. Namun di detik selanjutnya tampak terlihat berpikir dengan serius.


Nggak akan bisa kamu tolak tawaran ini...


Perusahaan mu yang sebagian hampir bangkrut banyak membutuhkan suntikan dana untuk bangkit dan bertahan.


Dibaca sekali saja, kamu kan tau, ini kerjasama terbaik yang akan sangat menguntungkan kedua belah pihak...


Dan begitu kamu setuju, itulah awal kehancuran keluargamu.

__ADS_1


Batin Aditya dengan raut wajah tampak sinis.


Qirani sibuk dengan berkas yang berada di pangkuannya dan sesekali melihat ke layar handphonenya. Dengan teliti memeriksa berkas tersebut, siapa tahu masih ada kekurangan, jadi masih bisa dikoreksi sebelum diserahkan nantinya ke pihak perusahaan Arga.


Indra punya kesibukan pula. Sibuk memelototi Qirani tanpa kedip. Benar-benar ingin mencari sesuatu yang kiranya bisa membuktikan akan suatu hal.


Persiiiisss banget !!!


Banyak yang berbeda, but so far.... persis !!!


Begitu dia diperkenalkan, aku langsung merasa dia itu Qirani, bukan siapa itu tadi namanya ya ?... Aku lupa.


Aku nggak fokus pada kata-katanya, aku nggak bisa berpaling dari wajahnya.


Kalo dia emang bukan Qirani, bisa jadi dia kembarannya Qirani...


Apa iya bukan sedarah bisa begitu persis begini...


Batin Indra yang terus menatap Qirani dengan penuh kecurigaan.


" Silahkan... "


Kata Ida yang baru saja datang membawa nampan berisi dua cangkir teh manis hangat dan beberapa potong brownies coklat hazelnut.


Di belakang Ida, Doni melangkah dengan santai kemudian duduk di sebelah Indra.


Segera Ida meletakkan suguhan untuk para tamu bosnya di atas meja sembari melempar senyum kepada Aditya dan Qirani.


" Terimakasih ya... "


Ucap Qirani lembut.


Dan Idapun langsung kembali melangkahkan kaki keluar ruangan dengan nampan yang telah berpindah isinya.


Mendengar Qirani bersuara, Arga agak tersentak. Tapi dengan cepat mengendalikan emosinya agar tak hilang kendali lagi. Ia menyudahi membaca dokumen setebal kurang lebih 0,3 mm tersebut.


" Silahkan diminum dulu teh nya. Dan saya yakin nona Divya pasti suka dengan kue browniesnya. "


Kata Doni menawarkan suguhan di atas meja kepada Aditya dan Divya.


" Maaf, saya kurang suka kue yang manis. "


Jawab Divya sambil tersenyum kepada Doni.


Okey... aku salah, ternyata dia bukan Qirani.


Sengaja menyuguhinya itu buat ngetes dia Qirani apa bukan...


Qirani sangat suka kue brownis coklat hazelnut.


Aku tau itu, karena Qirani sendirilah yang mengatakannya saat Arga membelikannya kue itu.


Batin Doni, ada sedikit kecewa di dalam hati.


" Sepertinya saya harus mempelajari dokumen ini terlebih dahulu sampai tuntas dan mempertimbangkannya dengan CEO kami. Bisa saya minta waktu ? "


Putus Arga akhirnya.


" Berapa hari yang anda butuhkan ? "


Tanya Aditya.


" Dua hari dari sekarang, saya akan hubungi Anda kembali. "


" Baiklah... "


Jawab Aditya setuju.


" Ini laporan tentang statistik pemasaran, keuangan dan program-program pada perusahaan kami. Perusahaan kami bergerak di bidang perhotelan, real estate dan juga restoran. Namun yang utama adalah satu bank khusus perbantuan usaha. Bisa jadi tambahan informasi anda untuk mengenal perusahaan kami lebih lanjut. Ini kartu nama saya, jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan hubungi saya di jam kerja. "


Kata Divya dengan lugas dan jelas, sambil menyodorkan berkas yang ada di pangkuannya tadi.


Tak lupa, Divya menyertakan sebuah kartu nama di atas berkas tersebut. Arga menerima berkas dan kartu nama tersebut dengan perasaan yang campur aduk.


" Okey, time to go. Kami ucapkan banyak terimakasih atas waktu anda dan kami menunggu kabar baik anda secepatnya. "


Kata Aditya menyudahi pertemuan tersebut.


Dan iapun segera berdiri, diikuti Qirani dan juga Arga. Dan Aditya mengajak Arga berjabat tangan, Arga membalasnya. Setelah Aditya melepaskan jabat tangannya, berganti Qirani mengulurkan tangan ke arah Arga.


" Baiklah, Pak Arga. Semoga kita bisa bekerjasama. Sampai jumpa kembali. "


Kata Qirani dengan senyum manisnya yang membuat Arga semakin merasa kacau.


" Ya... "


Arga hanya bisa mengucapkan sepatah kata saat menerima uluran tangan Qirani.


Arga menggenggam tangan Qirani dengan cukup lama sambil menatap Qirani dalam-dalam. Qirani mencoba menarik jari jemarinya, tapi Arga masih mempertahankannya.


Aditya ambil tindakan dengan cepat. Dicengkeramnya pergelangan tangan Arga dengan keras. Indra dan Doni berdiri dan mendekat ke arah Arga.


" Saya sadar, tunangan saya memang cantik tapi saya nggak akan terima begitu saja kalo ada yang ingin melecehkannya, tuan muda Arga Ekadanta. "


Kata Aditya dengan nada suara yang tegas dan pandangan tak suka kepada sikap Arga.


Perlahan Arga melepaskan jabatan tangannya. Dan dengan tanpa merasa bersalah, Arga melempar senyum sinisnya.


" Lagi-lagi saya khilaf. Nona Divya memang sungguh cantik, sampai-sampai saya berniat menjadi penghalang pernikahan kalian nantinya. "


" Arga ! "


Sentak Doni mendengar ucapan Arga.


" Oh iya ? Tapi sepertinya anda akan kecewa, tuan muda yang terhormat. Kami berpacaran selama dua tahun, dan bertunangan selama enam bulan ini... Dan kabar baik untuk anda, kami akan menikah akhir tahun ini. Mungkin saya bisa memberikan undangan pernikahan kami nanti. Mohon kehadiran nya ya... "


Jawab Aditya dengan bangga sambil menggenggam jari jemari Qirani dan mencium punggung tangan Qirani dengan mesra.


Arga merasa ada yang salah dengan dirinya saat melihat Qirani membalas apa yang dilakukan Aditya dengan senyum yang hangat dan tatapan manja kepada Aditya.


Sialan !!!


Batin Arga kesal setengah mati.


" Jadi ingin menikah di akhir tahun ya ? Tapi menurut feeling saya, sebelum akhir tahun, nona Divya akan berpindah ke pelukan seseorang yang lain. Terkadang sebuah rencana yang begitu matang bisa jadi gagal berantakan, bukan, tuan muda Aditya ? "


" Kami mohon pamit. Ayo sayang... "


Tak ingin menanggapi ucapan Arga lebih lama lagi, Aditya merangkul pinggang Divya dengan mesra dan keduanya berdampingan melangkah keluar dari kantor Arga.


Arga masih terus memperhatikan keduanya yang tampak mesra itu hingga menghilang dari balik pintu kantornya. Hatinya terasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2