
Qirani termangu menatap dua buah mesin cuci dan satu buah lemari es dua pintu yang masih tersegel dalam boksnya.
Barang-barang tersebut berada di dalam ruang tamu saat ia baru saja pulang dari pasar.
" Kata pak kurirnya, dari Arga Ekadanta. Arga itu yang kemarin kesini jemput kamu, bukan ? "
Tanya Bu Rima sambil mencolek bahu Qirani.
" Bu, mau ditempatin dimana ? "
Seorang pria dewasa dengan seragam sebuah toko elektronik terkemuka di kota ini, membuyarkan lamunan Qirani.
" Ah, di dalam sini pak .... Mari, dekat kamar mandi ya. "
Dan Bu Rima segera mengarahkan beberapa orang pria dewasa lainnya untuk menempatkan barang-barang tersebut.
Setelah semua diletakkan sesuai instruksi bunda, para kurir barang tersebut berpamitan pulang.
" Kak, bunda belanja ini semua ? "
Tiba-tiba muncul Lina yang baru saja masuk ke dalam rumah. Qirani menoleh ke arah Lina. Terlihat jelas, penampilan Lina yang tampak berantakan.
" Kamu nginep dimana semalem ? Mata masih belekan, itu ada iler yang kering... Jorok banget sih ini cewek ! "
Qirani langsung mengomel.
" Ssshhh.... Jangan kenceng-kenceng gitu ngomongnya. Malu, lagi banyak orang luar. "
Kata Lina sembari celingukan.
" Masih punya rasa malu ?! "
" Kakak... Ayolah... "
" Apa ?! Hisshh... Iya, boleh kamu nginep dirumah temen kalo malem minggu, tapiiiii.... please deh, Lin. Sebelum pulang, mandi aja dulu, atau bisa juga cuci muka. Kamu nggak malu di jalan kayak gitu, hah ? "
Qirani menasehati Lina dengan sedikit kesal.
" Kakak Qiranku yang cantik.... Aku dianterin pulang sama Dea, pake mobil, hemm ? Jadi aman kan.... "
" Ah, dasar ngeyel ! Sekarang, mandi sana ! "
Kata Qirani sambil memegang bahu Lina dan mendorongnya ke arah kamar mandi.
" Iyaaaaaa..... "
Sahut Lina sambil berlari menghindari dorongan sang kakak.
" Ada apa ini ? Kalian bercanda terus.... "
Tegur Bu Rima yang melihat kelakuan Qirani dan Lina.
" Kak Lina, kamu nginep lagi ? "
Tanya Luki yang mendadak muncul diikuti Ditto berbaur diantara Bu Rima dan Qirani.
Sayangnya, Lina sudah kabur dan segera masuk kedalam kamar mandi. Sengaja menghindari Bu Rima.
" Iya, dia baru saja pulang penuh dengan iler dan belek ! "
Qirani yang menjawabnya.
" Bunda nih, selalu kasih ijin buat kak Lina nginep melulu.... "
" Ya kan, kamu mau nginep dirumah temenmu, bunda juga nggak akan melarang. "
" Ya, mana mungkin aku nginep dirumah temanku, siapa nanti yang jagain kak Qirani, hem... ? "
Kata Ditto dengan senyum yang mengembang dan melirik ke arah Qirani.
Qirani hanya tertawa geli dengan ulah genit Ditto. Qirani menyentil ujung rambut depan milik Ditto.
" Tentu saja, aku lah yang akan jagain kakakmu.... "
Tiba-tiba mendadak muncul Arga yang sudah berdiri di belakang Qirani.
Serempak, ketiganya melihat ke arah Arga. Ditto yang merasa Arga adalah saingannya, menatap dengan wajah masam.
" Eh, nak Arga... "
Sapa Bu Rima yang dengan ramahnya tersenyum.
Lain hal dengan Qirani. Tawa gelinya langsung terhenti menatap Arga. Ekspresi wajahnya berubah menjadi takut.
" Maaf, Bu .... Tadi sudah ketuk pintu di luar berkali-kali, tapi nggak ada yang menjawab. Jadi saya langsung masuk kesini. "
" Ah iya, nggak papa.... Maklum kalo nggak kedengeran. Iya ini pada bercanda, jadi rame... Maaf ya. "
" Iya Bu... "
" Hei, kakak tinggi ! Jangan mentang-mentang situ lebih tinggi dari aku, aku bakal menyerah gitu aja ya... "
Kata Ditto yang tepat di sebelah Arga dan menengadahkan kepalanya ke atas sembari bertolak pinggang.
__ADS_1
Luki dan Bu Rima tertawa kecil. Qirani masih diam seribu bahasa. Arga tersenyum geli.
" Okey, kita bersaing dapetin kak Qirani secara adil ya. "
Sahut Arga dengan menahan tawanya.
" Awas ! Aku mau lewat ! "
Kata Ditto sambil berjalan dengan sengaja menyenggol tangan Arga.
" Woow.... Benar-benar calon jagoan, hah ?! Hehhehe.... "
Arga kali ini tak bisa menahan tawanya melihat ulah Ditto yang seolah-olah sengaja menantangnya.
" Ditto.... ! "
Tegur Bu Rima halus dengan senyum.
" Nggak papa bu... Wajar, Qirani kan cantik, jadi banyak yang nge fans. "
Sahut Arga sembari melirik ke arah Qirani.
Apaan itu ?
Pasang wajah ketakutan gitu ?
Apa mukaku ini ada keliatan kayak monster, hah ?
Huh, ngeselin amat sih !
Batin Arga yang merasa kesal dalam hati begitu mendapati wajah Qirani yang ketakutan.
Qirani membuang muka ke arah lain begitu Arga menatapnya.
" Oh iya, sampai lupa.... Mari duduk di depan. Qiran, tolong minumnya ya... "
Kata Bu Rima yang menyadari kalau ternyata mereka masih berdiri di depan kamar mandi.
" Ya, bunda... "
Sahut Qirani yang segera ke dapur, untuk membuat secangkir teh hangat.
Bu Rima pun berjalan lebih dahulu ke ruang tamu, diikuti Arga dan Luki.
" Kenapa mas Galih nggak pernah kesini lagi ? "
Tanya Luki setengah berbisik saat Arga berjalan beriringan dengannya di belakang Bu Rima.
" Dia masih dirawat... Senin pulang dari rumah sakit. Kamu mau jenguk dia ? Aku bisa anterin. "
Sahut Arga.
Skakmat. Arga merasa dihakimi oleh Luki.
Diliriknya remaja disebelahnya, Luki tampak biasa saja meskipun nada suaranya terdengar ketus.
" Duduk, nak... "
Tiba di ruang tamu, Bu Rima mempersilahkan Arga duduk. Arga memilih duduk di kursi di hadapan Bu Ida.
" Bun, Luki ke lapangan ya, main sepeda. "
Kata Luki yang terus melangkah keluar rumah.
Tak lama, Qirani datang dengan membawa nampan berisi secangkir teh hangat.
" Diminum kak... "
Kata Qirani dengan sopan, sembari meletakkan minuman tersebut di meja, tepat di hadapan Arga.
" Ya, thanks.... "
Sahut Arga.
Arga menelan ludah melihat Qirani dengan setelan piyamanya. Piyama bermotif gambar buah-buahan itu tak transparan, bahkan atasan lengan panjang dan celananya juga panjang.
Hanya saja, piyama itu begitu pas ditubuh Qirani, membuat lekuk tubuh Qirani begitu terlihat.
Rambut Qirani yang hanya terikat asal dan tak rapi membuat leher jenjangnya tampak indah dan seksi di mata Arga.
" Kamu.... belum mandi ? Baru bangun ? "
Tanya Arga dengan nada curiga.
" Iya, belum mandi. Tapi sudah bangun dari tadi sih... Malah baru pulang dari pasar, belanja sayuran buat Minggu. Biasa, tugas belanja mingguan... "
Sahut Qirani dengan senyum yang merekah.
Seperti sebuah ekspresi akan rasa suka atas kegiatannya saat ini.
" Oh... Ke pasar dengan piyama begitu ? "
Kembali Arga bertanya dengan rasa curiga.
__ADS_1
Apa-apaan dia pake piyama kayak gitu kelayapan di pasar....
Berapa banyak pasang mata yang ngeliatin bentuk tubuhnya itu ?!
Apa dia nggak sadar, dia itu sangat bikin orang tertarik cuma ngeliat dia diam doang...
Apalagi itu dia pake piyama yang nge pas banget di badan.
Kalo udah agak kekecilan apa udah mepet ke badan, kenapa juga masih dipake ??
Bikin aku nggak ikhlas aja, bukan cuma aku yang liat bentuk badannya itu...
Bener-bener ini cewek bikin aku emosi aja !
Batin Arga penuh dengan rasa kesal.
" Tadi sih pake jaket juga.... "
" Minggu depan, tunggu aku kalo mau ke pasar. Aku yang antar. "
" Hah ?! "
" Kenapa kaget ? Aku kan bilang mau antar, ya kamu harus aku antar. Suka nggak suka, harus aku yang antar. Paham ? "
Arga terlihat dan terdengar jelas mengintimidasi Qirani.
Bu Rima memperhatikannya dengan penuh tanda tanya. Dilihatnya, Qirani terlihat langsung pucat.
Arga ini.... kenapa bisa bilang gitu ?
Dia ini kan bilangnya temen Galih.
Galih lah pacar Qirani.
Tapi kenapa dia seperti lebih dominan ke Qirani ya...
Dan Galih juga.... kemana dia ?
Sejak Arga ini sering kesini, Galih kok ngilang gitu aja...
Dan Qirani juga... nggak pernah lagi ngomongin Galih.
Batin Bu Rima yang mulai curiga.
" I-iya... "
Sahut Qirani gugup.
" Oh iya, Arga.... Barusan ada paket elektronik, 2 mesin cuci dan 1 kulkas... Apa Arga bisa jelasin ? "
Bu Rima mengalihkan perhatian Arga.
" Ahh, udah sampai ya ?... Itu sedikit bantuan buat panti ini, Bu. Mohon diterima ya. "
" Oohh.... Begitu. Ya, ibu ucapin banyak terimakasih ya. Sangat membantu. Terutama buat Qirani ya, dia nggak usah kucek-kucek lagi.... Ya nggak, Qiran ? "
Kata Bu Ida mengalihkan pandangannya ke Qirani.
" A-a.... I-iya... "
Qirani masih terdengar gugup.
Apaan sih, kenapa takut-takut kayak gitu ?
Aku kan udah peduli banget sama dia...
Tangannya jadi nggak kasar nanti karena ngucekin baju.
Kasih aku senyum dikit kek...
Jangan pasang muka kayak abis liat hantu....
Batin Arga gondok dengan Qirani.
Kenapa Qiran jadi gugup terus ?
Ada apa ini ?
Bu Rima penuh dengan tanda tanya di dalam hatinya.
" Bu... Maaf, saya mau minta ijin, ngajak Qirani main. Ada teman punya acara di Puncak. Jadi saya pingin Qirani bisa temani saya. Bolehkah ? "
Tanpa basa-basi lebih lama, Arga mengutarakan niatnya.
Bu Rima memperhatikannya, kemudian melihat ke arah Qirani yang kini sedang menatap ke arah Arga.
" Oh boleh saja.... "
" Nggak ! "
Bersamaan Bu Rima dan Qirani berbicara.
Bu Rima terkejut mendengar jawaban Qirani. Dan bersamaan dengan Arga, menatap Qirani.
__ADS_1
Qirani membekap mulutnya sendiri saat matanya beradu pandang dengan Arga.
Habislah aku !!!