
Bosan, pingin pulang...
Qirani mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk kesekian kali. Tak lagi memperhatikan obrolan dan canda tawa Arga dan teman-temannya.
Kemudian untuk kesekian kalinya pula, ia meminum jus buahnya. Sudah dua botol jus buah yang masuk melewati tenggorokannya, di hadapannya yang ketiga dan tinggal setengah lagi.
Kentang goreng dan ayam goreng fastfood dengan merk ternama di hadapannya tersisa tinggal sedikit. Perutnya terasa kenyang. Bahkan mulutnya sudah berhenti mengunyah beberapa camilan kering yang ada di atas meja sejak kurang lebih satu jam yang lalu.
Kini, pandangannya kembali melirik ke arah Arga yang berada di sisinya dan terus menggenggam jari jemarinya. Terasa basah oleh keringat, tapi Arga tak melepaskannya sedetikpun.
Udah jam setengah delapan malam.
Aku kesini dari siang, sekitar jam dua lebih...
AC ruangan ini sih nggak bikin aku kepanasan biarpun masih pake kebaya kelulusan milik Luna.
Cuma pingin banget mandi rasanya.
Ah iya...dari siang aku masih belum pulang...
Bunda pasti kuatir.
Luna jadi ke panti nggak ya ?
Kalo jadi, paling nggak bisa kasih tau Bunda aku ada bersama Kak Arga.
Jadi Bunda nggak akan kuatir lagi.
Besok kalo ketemu Luna, aku pasti diomelin...
" Kamu mau makan lagi ? "
Arga menyadari Qirani yang merasa bosan, mencoba menawarkan sesuatu.
" Nggak, aku udah kenyang. Bolehkah aku pulang sekarang ? Aku takut Bunda nyariin. "
" Eh iya, aku lupa kasih tau. Tadi waktu Indra jemput kamu, sebelumnya aku udah ijin sama Bundamu, dan aku akan antar kamu pulang ntar jam sepuluh. "
Jawaban Arga membuat Qirani lemas.
" Ah... gitu ya, udah ijin. "
" Jadi nggak usah takut di cariin, ntar setengah jam lagi deh kita cabut, beli hadiah buat adik-adik mu juga. Mereka juga ada kan yang ngerayain kelulusan dan kenaikan kelas ? Kamu pilih apa aja, bebas. "
Kata Arga menenangkan Qirani dan berhasil.
Bukan hanya merasa tenang, Qirani juga bahagia mendengar kalimat Arga tadi. Kemudian dengan senangnya, tersenyum kepada Arga.
" Makasih, Kak... Adik-adik ku pasti hepi banget. "
" Kamu hepi, adik-adik mu juga harus hepi. Eh... "
Belum selesai kalimat yang diucapkannya, Arga memegangi dadanya.
Perlahan tapi pasti, Arga merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Pandangan matanya mulai kabur sedikit demi sedikit. Tubuhnya terasa hangat. Wajahnya yang bersih tampak kemerahan.
" Kak... kamu sakit ? "
Tanya Qirani yang merasa cemas melihat perubahan sikap Arga.
Genggaman tangan Argapun mengendor dan Arga terus memegangi dadanya. Arga menatapnya kali ini dengan serius.
Apa ini ?
Badanku terasa aneh...
Padahal yang aku minum bukan minuman keras.
Tapi kenapa aku merasa makin lama makin gerah ?
Melihat Qirani rasanya makin gerah begini...
Batin Arga penuh kebingungan.
" Ga, Arga.... Kamu kenapa buka kancing bajumu ? Bukannya AC ruangan ini berasa dinginnya ? "
Ternyata tanpa disadarinya, Arga membuka kancing atas kemeja flanelnya. Doni yang melihatnya pun merasa penasaran sehingga bertanya dengan wajah yang keheranan.
Arga menghentikan membuka kancing kemejanya, kemudian mencoba untuk tenang dengan meneguk sebotol air mineral yang ada di atas meja.
" Kak, kamu .... Badanmu kayaknya demam. "
Kata Qirani saat menyentuh kening Arga.
" Aku ke toilet dulu ya... "
Tak bisa lagi untuk bersikap tenang, Arga memilih bangun dari duduknya dan melangkah melewati Qirani.
" Aku temenin ? "
Tanya Doni cemas melihat wajah Arga yang kemerahan.
Arga hanya menggoyangkan tangannya tanda menolak bantuan dari Doni. Kemudian tanpa menoleh lagi, Arga segera bergegas mencari toilet.
Qirani yang juga merasa cemas terus memperhatikan Arga yang berlalu hingga tak terlihat lagi.
" Ada apa ? Kemana Arga ? "
Tanya Intan saat menyadari Arga yang tak lagi duduk di tempatnya.
" Ke toilet katanya. "
Jawab Doni.
" Kak... aku susul Kak Arga ya, tadi badannya kayak demam gitu. "
Kata Qirani yang masih terus menatap ke arah Arga yang telah berbelok masuk ke toilet.
" Biar aku saja, kamu tunggu disini... "
__ADS_1
Elisa dengan sigapnya langsung bangun dari duduknya dan melangkah melewati Qirani.
" Hp mu bawa, kalo ada apa-apa langsung telpon aja, ntar aku langsung samperin. "
Kata Indra mengingatkan.
Elisa segera menyambar handphone nya yang tergeletak di atas meja dan memasukkannya ke kantong jaketnya. Tak menunggu lama, iapun setengah berlari menyusul ke arah Arga pergi.
Qirani yang tak tahu harus bagaimana, diam seribu bahasa dengan menggigit sudut bibir bagian bawahnya. Indra memperhatikannya.
" Qirani.... Hei ! Kamu takut Arga kenapa-napa ? "
Tegur Indra.
" Tadi badannya demam gitu, dia sakit ya ? "
Sahut Qirani balik bertanya.
" Sakit ? Ah, nggak sih. Waktu kita kumpul disini sebelum aku disuruh jemput kamu, dia baik-baik aja koq. Nggak ada yang salah sama Arga. "
Jawab Indra yang merasa heran.
" Apa sekarang kamu beneran suka sama Arga ? Kamu kuatir banget kayak gitu... "
Komentar Intan sambil meraup kacang oven di atas meja dan memasukkannya ke dalam mulut.
Suara hancurnya kacang oven di dalam mulut Intan terdengar renyah dan garing, membuat Doni dan Indra ikut meraup sisa kacang oven di atas meja.
" Jadi dia nggak sakit sebelumnya, tapi kenapa badannya panas ya ? "
Kata Qirani setengah bergumam berbicara pada dirinya sendiri.
Di toilet umum khusus pria, Arga terus merasa ada yang tak beres pada tubuhnya.
Apa yang salah pada badanku ?
Makin lama kenapa makin terasa gerah.
Jantungku juga makin cepat berdetak.
Ada apa ini ?
Arga terus mencoba memikirkan keanehan pada tubuhnya. Satu persatu kancing kemeja flanelnya ia buka. Terlihat kaos warna biru langit di dalamnya.
Arga berkaca pada cermin besar di atas wastafel tempatnya baru saja mencuci muka. Wajahnya benar-benar kemerahan, nafasnya pun mulai tersengal-sengal.
Kembali dia membuka kran dan menampung air yang keluar dengan kedua tangannya. Kemudian membasahi wajahnya untuk kedua kalinya, namun kali ini dilakukannya berulang.
Nggak beres !
Ini pasti ada yang salah...
Tapi apa ??
" Ga ! Arga ! Arga ! "
Terdengar suara Elisa memanggilnya dari arah luar toilet dimana Arga berada. Pintu toilet terbuka, Elisa menatapnya dengan wajah heran.
Tanya Elisa yang terlihat penasaran.
" Nggak tau... huh....hhh... "
Sahut Arga diantara nafasnya yang terengah-engah.
Elisa mendekat, menempelkan telapak tangannya di kening Arga. Kemudian ia juga menyentuh leher Arga.
" Badan mu panas... "
Kata Elisa.
" Kayaknya aku harus pulang duluan... "
Kata Arga yang merasakan gejolak pada tubuhnya makin aneh saat Elisa begitu dekat dengannya.
Kenapa aku merasa ingin melakukan sesuatu itu pada Elisa ?
Bahaya, ini... jangan-jangan afrodisiak !
Sekuat tenaga Arga menahan diri dari gejolak nafsu yang mulai terasa, ia terus mengontrol dirinya agar tak melakukan sesuatu yang tak benar. Dengan cepat, Arga melangkah keluar toilet.
" Aku anter kamu ke area parkir. Apa aku anter kamu sekalian pulang ? "
Elisa menawarkan bantuan sembari mengikuti jejak langkah Arga yang terburu-buru.
" Nggak usah... Aku bisa pulang sendiri. "
Jawab Arga yang terus berjalan.
" Tapi kamu sakit, kamu demam, Ga ! Kamu yakin bisa bawa mobil sendiri ? "
Ujar Elisa yang terus mencoba membantu Arga.
" Please, jangan ikuti aku lagi, Lis ! "
Kata Arga yang akhirnya membentak Elisa.
" Ga, aku cuma.... "
" Kak, kamu nggak apa-apa ? "
Tiba-tiba Qirani muncul di antara Arga dan Elisa dengan wajahnya yang terlihat sangat mencemaskan kondisi Arga.
Ah, kebetulan dia kesini...
Batin Arga dengan senang dalam hati.
" Kamu, ayo ikut aku ! "
Kata Arga yang langsung menarik tangan Qirani dan membawanya masuk ke dalam lift.
__ADS_1
" Arga ! Kamu mau kemana ? Arga !! "
Kata Elisa yang mencoba ikut masuk ke dalam lift, tapi terlambat, lift sudah tertutup.
Di dalam lift, Arga terus memegang tangan Qirani. Melihat Arga yang tampak terengah-engah dan terus mencoba menurunkan leher kaosnya, Qirani menjadi bingung.
" Kak, kamu kepanasan karena panas badanmu ? Kamu kenapa tiba-tiba kayak gini ? Dan ini kita mau kemana.... Ini bukan ke basement, tapi ke lantai dua belas ? "
Tanya Qirani penuh tanda tanya.
" Jangan banyak bicara, hhah.... Ikuti aja aku, hh.. "
Jawab Arga yang mencoba fokus untuk mengendalikan dirinya.
Tak lama, pintu lift terbuka. Qirani melihat ke sekelilingnya begitu Arga menariknya keluar lift. Tiba di pintu berwarna hitam dengan angka 121 yang terpasang di atasnya, Arga mengambil dompet disaku celana bagian belakang.
" Ini, tolong hhah... hh... ambil kartu warna huffhh... emas... gesek pada kotak hhaahhh... hh... di bawah gagang hhahh... pintu... Cepetan hhh... ! "
Kata Arga menyerahkan dompetnya kepada Qirani.
Dia sendiri makin kewalahan mengendalikan dirinya, yang semakin merasakan nafsunya bertambah kuat memaksa untuk terlampiaskan.
Qirani yang polos dengan cepat membuka dompet Arga, menarik satu kartu berwarna emas dan mengikuti apa yang Arga instruksikan.
KLIKK !!
Pintu yang kuat dan kokoh itu terbuka kuncinya, Arga langsung mendorongnya dan menyeret Qirani masuk ke dalam.
Dalam sekali hentakan kaki ke belakang, pintu kembali terkunci. Arga langsung melepas kemeja flanelnya, menarik ke atas kaos birunya.
Melihat Arga yang dengan cepat membuka pakaiannya, dalam hitungan detik, Qirani tersadar. Akan terjadi sesuatu yang buruk menimpanya. Penuh dengan penyesalan karena menurut sebelumnya, Qirani langsung memutar tubuh, berniat keluar kamar.
" Jangan pergi ! "
Arga lebih cepat darinya, dengan sigap Arga menangkapnya dan menariknya kembali.
" Lepas, Kak ! Aku mohon, jangan !! "
Qirani menjerit, berusaha menghempaskan pegangan Arga. Karena susahnya ia bergerak dalam balutan kebaya, membuat Arga tidak perlu banyak tenaga terus menyeretnya menuju ke sebuah ranjang berbentuk bulat yang besar.
" Aku akan bertanggungjawab ! Tolong aku ! "
" Nggak ! Nggak kayak gini ! Jangan, Kak ! "
" Diamlah !!! "
" Istighfar Kak ! Liat aku ! Kumohon ! Kasihani aku ! "
Qirani terus menjerit, meronta, mencoba untuk lari dari pelukan Arga yang kini sudah membawanya ke atas ranjang.
Seperti kesetanan, Arga membuka paksa atasan kebaya Qirani. Dalam sekejap, pakaian itu telah robek pada bagian kancingnya dan membuat tubuh bagian dalamnya terlihat.
Melihat hal itu, Arga makin beringas. Tanpa menghiraukan jerit dan Isak tangis Qirani, Kini Arga menarik turun rok kebaya Qirani.
Dalam hitungan menit, Qirani telah telanjang bulat. Mata dan pipinya terus basah oleh airmata yang tak henti-hentinya mengalir. Suaranya semakin serak katena terus berteriak meminta tolong.
Arga terus mencumbunya, bahkan pukulan, cakaran, gigitan dan tamparan Qirani tak bisa membuatnya berhenti.
" Aku akan menikahimu hhh ... setelah ini hhh .... Aku janji hhh... hhahh... "
Kata Arga tepat di telinga Qirani dan masih dengan eratnya memeluk tubuh Qirani yang terus mencoba melepaskan diri.
" AKU NGGAK MAU !! AKU BENCI KAMU !!! LEPAS !!! LEPASSS !!! "
Sahut Qirani menjerit sekencang-kencangnya.
Maaf... maaf...
Lebih baik melakukan ini dengan mu daripada dengan yang lain...
Ini yang pertama, aku cuma mau melakukan ini denganmu.
Aku pasti menikahimu setelah ini apapun yang terjadi.
Ucap Arga dalam hati sebelum ia melanjutkan apa yang ingin dilakukannya lebih jauh lagi.
Dan benar, tanpa memikirkan apa-apa lagi, Arga menindih Qirani. Qirani menyadari, apa yang dilakukan Arga sampai detik ini tak akan mampu dihindarinya. Tenaganya mulai melemah, suaranya semakin habis, tenggorokannya terasa sakit, airmatanya terus membanjiri pipinya hingga membasahi bantal dibawah kepalanya.
" Maafkan aku... hhh... "
Bisik Arga sesaat sebelum ia membuat Qirani kehilangan kesuciannya.
" Aargghh... "
Jerit Qirani terdengar seperti tercekik saat merasakan sakit teramat sangat pada alat vitalnya.
Aku hancur sekarang...
Aku kotor...
Satu hal yang selalu aku jaga sampai sekarang, detik ini hilang sudah.
Apa lagi yang tersisa sekarang ?
Nggak ada...
Aku benci kamu, Kak !!
Aku akan membencimu seumur hidupku !!
Jangan harap, kamu bisa menikahimu !
Aku nggak sudi !
Belum juga sehari kamu bilang minta maaf, pingin berubah, dan menyukaiku apa adanya.
Sekarang pada hari yang sama, kamu ambil kehormatan ku ?!
Hal yang seharusnya kamu jaga kalo kamu emang benar-benar sayang padaku, kami malah merusaknya !
__ADS_1
Lebih baik aku mati, daripada nikah sama cowok yang nggak bisa menjaga kehormatan ceweknya !!!
AKU BENCI KAMU, ARGA MAHARDHIKA !!!!