
Sudah jam 02.00...
Kak Adit mabuk berat, ngoceh nggak jelas dan ketawa terus bareng yang lainnya.
Apa sesenang itu dapetin proyek bareng pt. x ???
Awas aja jangan sampai keceplosan yang nggak-nggak, bisa kacau semua...
Batin Qirani dari sudut sofa sembari memperhatikan Aditya, Arga, Doni dan Indra dengan serunya bercanda sambil bermain kartu.
Keempatnya begitu heboh dan terlihat menyatu tertawa lepas. Padahal saat datang sebelumnya masih saling canggung dan jaga ucapan saat berbicara.
Kali ini, bagaikan sudah saling mengenal lama, mereka benar-benar menikmati pesta kecil yang disiapkan Arga untuk merayakan kerjasama antara Grup Ekajaya milik keluarga besar Arga dan Grup Paradise milik ibunda Aditya dan Divya.
Intan dan Elisa tidak ikut bermain kartu dan tidak pula ikut menikmati minuman beralkohol tersebut, tapi keduanya juga tergabung dalam tawa canda para laki-laki yang berusia sebaya tersebut.
Tinggal Qirani yang hanya bisa memperhatikan mereka semua dan sesekali mengalihkan pandangannya ke arah panggung kafe, menikmati lagu-lagu yang dikumandangkan penyanyi kafe tersebut.
Di atas meja, penuh dengan makanan yang sudah mulai tinggal sisa-sisa dan botol-botol minuman yang sudah kosong. Tapi para manusianya masih enggan untuk bangun beranjak pulang.
Qirani memilah-milah antara kacang kulit yang masih ada isinya dengan yang sudah tinggal kulitnya. Begitu seriusnya Qirani memilah-milah, hingga tak menyadari Arga yang sudah menggeser duduknya dengan Aditya, dan kini sedang memperhatikannya.
" Masih mau makan kacang ? "
Tanya Arga yang mendadak dan membuat Qirani hampir melonjak kaget.
Qirani meluruskan duduknya dan melihat ke arah sampingnya. Didapatinya Arga dengan senyum simpulnya, menopang dagunya di atas meja dengan tangannya, sedang menatapnya.
" Kenapa kamu yang ada disini ? "
Tak menjawab apa yang ditanyakan Arga, Qirani malah balik bertanya.
Arga mengangkat wajahnya dan menunjuk ke sebelahnya, dimana Aditya yang sudah mabuk berat sedang bercanda dengan yang lainnya.
" Tuh... "
Kata Arga singkat.
" Awas, minggir... Udah waktunya pulang. "
Kata Qirani sembari mengibaskan tangannya ke arah Arga, tanda mengusir Arga dari hadapannya.
" Aditya nggak akan bisa bawa mobil, dia mabuk berat. Aku yang antar ya... "
Tak menghiraukan tanda dari Qirani, Arga malah menangkap tangan Qirani dan menggenggamnya.
" Jangan kurang ajar ! Aku su... "
" Aku tau kamu sudah punya tunangan. Tapi sebelum janur kuning melengkung, kamu masih belum resmi jadi milik siapapun, termasuk Aditya. "
Arga langsung memotong ucapan Qirani dan menarik Qirani lebih mendekat ke arahnya.
Hembusan nafas Arga yang begitu menyengat dengan aroma alkoholnya membuat Qirani membuang wajahnya ke arah lain.
Dengan satu tangan, Qirani mendorong dada Arga agar menjauh darinya. Namun, Arga tak bergeming sedikitpun. Malah ia semakin menarik Qirani lebih dekat dan tubuh mereka benar-benar saling bersentuhan satu sama lain.
" Qirani... "
Gumam Arga setengah berbisik, saat wajah mereka hanya berjarak beberapa inchi saja.
" Aku, Divya ! "
Tegas Qirani dengan raut wajah yang tak suka.
Arga hanya diam membisu mendengar ucapan gadis di hadapannya. Ia terus menatap wajah Qirani, seolah-olah mencari sesuatu di wajah tersebut.
Terlalu mirip...
Bukan... Bukan mirip, tapi persis sama !
Aku yakin, dia Qirani-ku...
Tunggu...
Ada sesuatu, Qirani punya sesuatu...
Batin Arga sangat fokus pada wajah Qirani.
Qirani yang merasa jengah dalam pelukan Arga dan ditatap sedemikian rupa, mulai mendorong tubuh Arga kembali.
__ADS_1
Tapi Arga terus memeluknya dengan satu tangan, sedang tangan yang lain terulur ke arah leher Qirani. Seperti tahu apa yang akan Arga lakukan, Qirani dengan sekuat tenaga menghempaskan tangan Arga dari lehernya.
" Jangan kurang ajar ya ! "
Qirani memperingatkan dengan keras.
Perlahan Arga melepaskan pelukannya. Sedikit menjauh dari tubuh Qirani. Qirani pun melakukan hal yang sama. Menarik tubuhnya menjauh dari Arga.
" Hei, guys ! Bubar yuk ! Udah mau ke pagi nih.... "
Kata Arga dengan suara agak keras.
" Aaahh !! Ga seru ! Ga seru ! "
Sahut Indra dengan mata yang sudah merah dan tak sanggup membuka mata.
" Payah kamu, Ga ! Baru juga mau pagi, belum pagi, hahaaha !! "
Imbuh Doni diikuti tawa lebar yang lain.
" Teman baruku, kamu... aduh, kamu ini... Aku masih pingin main lagi... "
Aditya dengan wajah yang tampak merah karena mabuk berat, tak ketinggalan berkomentar.
" Kita cheers lagi... Ayo, ayo.... "
Tambahnya sembari berusaha untuk bangun dengan sloki ditangannya.
Tetapi, belum sampai Aditya benar-benar bangun untuk berdiri, tubuhnya yang sempoyongan, langsung oleng ke samping, jatuh menimpa Elisa.
" Aduh... "
Keluh Elisa.
" Kak... Kakak... "
Panggil Qirani dengan cemas.
Tanpa peduli pada Arga yang di sebelahnya, Qirani melewatinya begitu saja.
Kening Arga berkerut, sesaat setelah Qirani berada di sisi sebaliknya dari sebelumnya dan sedang mengguncang tubuh Aditya yang kali ini tak lagi bergerak sama sekali.
Kata Qirani sembari berusaha menarik tubuh Aditya agar duduk dengan benar dibantu pula oleh Elisa.
" Dia nggak bisa pulang, Divy... "
Kata Intan dengan tatapan sinis.
" Kak... "
Qirani tak menyerah begitu saja.
" Sudah, ayo aku antar kalian pulang. "
Kata Arga yang segera menarik lengan Qirani, menjauhkannya dari Aditya.
Melihat kondisi Aditya yang sudah tak sadar karena mabuk berat, mau tak mau Qirani pun menyetujui apa yang Arga katakan.
Qirani bangun dan keluar dari tempat duduknya, memberi tempat agar Arga bisa memapah Aditya.
" Okey... okey... sudah waktunya bubar yaaa... Tuan muda kita, Aditya sudah mabuk berat tuh. "
Kata Indra sembari beranjak bangun pula.
Diikuti oleh yang lain, bersamaan kesemuanya pun akhirnya memilih meninggalkan meja.
Qirani terus mengekor Arga yang sedang memapah Aditya. Menatap punggung lebar Arga di hadapannya, membuatnya berpikir.
Dia benar-benar curiga aku adalah Qirani.
Dari caranya menatap ku, tatapan yang sama dengan dulu...
Dia pasti pingin liat tanda lahir di belakang telinga ku.
Untung aku langsung curiga, jadi dia nggak sempat melihatnya.
Apa yang membuatnya terus terobsesi pada ku ?
Cinta ?
__ADS_1
Rasa memiliki ?
Apa rasa bersalahnya ?
Tapi aku masih nggak bisa maafin apa yang telah dia lakuin malam itu !
Sebelum aku melihatmu hancur, rasa benciku padamu masih akan jauh lebih besar daripada kenangan saat bersamamu !!!
Demi mama juga, demi dendamku juga...
Aku bersumpah, Arga...
Nggak segampang itu kamu bisa dapetin Qirani mu kembali !!!
" Alamat mu ? "
Pertanyaan singkat Arga menyadarkan Qirani dari lamunannya.
Tanpa disadarinya, mereka telah sampai di area parkir dan Aditya juga telah berada di dalam mobil, tepatnya di tergeletak di bangku belakang.
" Apartemen M, lantai 6, 610.... "
" Oh... Seberang apartemen nya Indra ternyata. "
Sambung Arga tanpa ekspresi.
Qirani menajamkan pandangannya ke arah Arga yang membukakan pintu depan mobil untuknya.
" Seberang apartemen Indra ? "
Kata Qirani sembari masuk ke dalam mobil.
" Iya... "
Jawab Arga singkat dan langsung menutup pintu mobil.
Kemudian Arga berjalan memutar ke arah pintu mobil yang satunya, membukanya dan duduk di belakang kemudi, bersiap menyalakan mobilnya.
" Kalo gitu, aku bareng Indra saja. "
Kata Qirani yang berniat membuka pintu mobil.
" Tuh, mobil Indra udah bawa banyak penumpang, dan kayaknya yang bawa mobilnya si Intan. Apa masih muat ? "
Sahut Arga yang menunjuk ke arah sisi kanan mobilnya.
Qirani mengikuti arah yang ditunjukkan Arga dan benar saja, mobil sedan milik Indra tampak sudah penuh berisikan Indra dan Doni di bangku belakang. Sedangkan Intan dan Elisa di bangku depan. Intan yang mengemudi.
" Oh... "
Komentar Qirani singkat.
Arga tersenyum senang dalam hati. Dan tanpa bicara lagi, ia menyalakan mobil dan mulai melaju secara perlahan meninggalkan area parkir hotel.
Ini adalah salah satu rencana ku mengadakan acara party buat kalian berdua...
Membuat Aditya mabuk berat, mengantar kalian pulang, dan mencari kesempatan menegaskan siapakah Divya ini...
Aku yakin, kalo bisa masuk ke apartemen kalian, aku pasti bakal menemukan sesuatu...
Dari laporan Indra, saat mengawasi mereka beberapa waktu ini, hubungan mereka tampak aneh...
Mereka memang sangat intim, mesra tapi tak terlihat kayak sepasang kekasih yang siap naik ke pelaminan.
Indra bilang, sering melihat Aditya mencium Divya tapi cuma di kening dan pipi.
Itu nggak masuk akal, punya tunangan secantik dan semenarik Divya, nggak akan bisa nggak bercumbu dengannya bukan ?
Indra bilang, Divya memang selalu menyiapkan apa yang dibutuhkan Aditya, memasak, tapi Divya tak pernah terlihat masuk ke dalam kamar Aditya.
Itu aneh.... mereka bertunangan, tapi nggak sekamar ?
Okey, mungkin mereka menjaga kehormatan masing-masing sebelum menikah, tapi di jaman sekarang, orang yang masih pacaran baru aja udah pada berani sekamar di hotel, tapi mereka punya kamar masing-masing dalam satu apartemen ???
Apalagi, Divya selalu memanggil Aditya dengan sebutan 'kakak'...
Bukankah lebih umum didengar jika memanggil tunangan dengan sebutan 'sayang' .... ?
Aku yakin... hubungan mereka bukan hubungan sepasang kekasih.
__ADS_1
Terlalu banyak hal yang mencurigakan di antara kalian, dan itu bikin aku sangat-sangat penasaran .....