
" Maafin Adit, ma... "
Aditya menggenggam jari jemari ibunya dengan lembut yang sedang memegangi pegangan kursi roda. Berharap ibunya tidak menyalahkan dan memarahinya.
" Adit, kita punya urusan yang lebih penting disini. Dan kamu dengan seenak perut kamu bawa pulang orang yang nggak jelas asal usulnya dan lagi... Amnesia ?! "
Bu Citra meradang di kalimat terakhirnya dan melotot ke arah Aditya.
" Ma... Adit kasian. Dia masih muda banget. Dan nggak inget apapun... Gimana Adit bisa tinggalin dia di rumah sakit gitu aja ? Apa yang mama lakuin kalo berada di posisi Adit ? Mama memilih bodi amat atau peduli ? "
" Adit, jangan balikin pertanyaan. Kita itu disini buat ngurusin perusahaan peninggalan almarhum papamu. Diam-diam kita pulang ke Indonesia, agar bisa melacak perusahaan-perusahaan almarhum papamu, bahkan mama harus mengganti nama untuk hal ini. Kamu malah sembarangan kayak gini. "
" Iya, Adit tau, ma... Tapi Adit juga bingung, dia mau di kemanain ? Apalagi hasil pemeriksaan dokter ada menyebutkan, dia... korban pemerkosaan... "
" Apa ?! Korban pemerkosaan ? "
Bu Citra yang sebelumnya meradang karena kesal, kali ini mengerutkan keningnya karena terkejut.
" Iya... Awalnya Adit cuma penasaran pas ketemu dia di lift hotel, makanya Adit ikutin. Eh, malah jadi korban tabrak lari gitu. Cuma Adit yang ada di tempat itu. Adit ngeliat sendiri gimana dia ditabrak, Ma. Masa iya, abis ngeliat Adit malah pergi... "
" Rasa penasaranmu itu suka bikin Mama pusing. Berapa kali kamu dalam masalah gara-gara penasaran nggak pada tempatnya ? Belajarlah buat nggak ikut campur urusan orang lain, apalagi kamu nggak kenal. "
" Ini yang terakhir, ma... Adit janji. "
Aditya langsung membuat tanda janji dengan mengacungkan dua jarinya, yaitu ibu jari dan jari tengah.
" Ya sudahlah... mau gimana lagi. Nasi sudah jadi bubur, mau nggak mau biarin gadis itu disini dulu. "
Melihat kesungguhan Aditya, Bu Citra pun mengalah.
" Apa ada yang melihatmu membawanya kesini ? "
Tanya Bu Citra penuh selidik.
" Ya namanya masuk ke hotel, di lobi juga ada orang, melihat sih pasti, tapi dia kan Adit pakein pakaian yang tertutup dari atas sampai bawah, dan dia juga Adit suruh pake topi pantai. Kemungkinan cctv hotel ini nggak akan bisa melihat wajahnya dengan jelas. "
" Kamu bilang, pertama ketemu di lift, lalu dia nitip kartu VVIP di resepsionis. Mama kuatir, gadis ini punya hubungan dekat dengan salah satu pemilik kamar lantai dua belas di atas. Takutnya dia ini dicari dan kalo sampai kita ketauan karena berhubungan dengan gadis ini, bisa hancur rencana Mama. "
" Tenang, Adit jamin. Dia nggak dikenali. "
" Dimana gadis itu sekarang ? "
" Di kamar sebelah, kamar Adit. "
" Ayo kesana, mama pingin ketemu. "
Kata Bu Citra kemudian.
Aditya mendorong kursi roda sang ibu menuju pintu kamar dan melanjutkannya membawa masuk ke dalam kamar yang tepat disebelah kamar sang ibu.
Didalam kamar, tampak Qirani yang sedang memperhatikan ruangan sekitarnya dengan penasaran.
Melihat siapa yang masuk, Qirani langsung bangun dari duduknya dan tersenyum ramah, meskipun sempat terlihat keterkejutan di wajahnya saat melihat seorang wanita paruh baya di atas kursi roda.
Cantiknya...
Benar kata Adit, masih sangat muda.
Sekitar belasan tahun mungkin...
Batin Bu Citra yang langsung mengagumi kecantikan Qirani.
" Duduklah... "
Kata Bu Citra dengan ramah pula.
" Iya. "
Sahut Qirani sambil kembali duduk.
" Empat hari ini di rumah sakit, sekarang apa yang kamu rasakan ? "
Tanya Bu Citra begitu Aditya mendorong kursi rodanya untuk lebih mendekat ke arah bangku Qirani.
" Alhamdulillah... Sudah lebih baik, Bu. Terimakasih. "
Sahut Qirani dengan sopan.
" Kamu benar-benar nggak ingat nama mu ? "
Tanya Bu Citra dengan hati-hati.
Iya... siapa aku ?
__ADS_1
Gimana bisa, namaku sendiri aku nggak tau.
Aku benar-benar buta tentang diriku sendiri.
Apa yang terjadi sebenarnya ?
Dan kenapa bisa tiba-tiba aku sudah ada di klinik ?
Dan yang lebih parah lagi.... aku ini korban pemerkosaan ?!
Apa karena soal itu, saat kencing, aku selalu kesakitan... terasa perih....
Melihat Qirani yang malah tenggelam dalam lamunannya, Bu Citra menepuk lembut punggung tangan Qirani yang berada di pangkuan.
Merasa ada yang menyentuh tangannya, Qirani tersadar dari lamunannya. Dengan raut wajah yang masih jelas kebingungan, Qirani berusaha tersenyum.
" Maaf... Sa-saya... "
" Sudah, nggak papa kalo nggak ingat. Yang penting kamu sehat sekarang. Karena nggak tau nama mu, kayaknya aku harus panggil kamu dengan sebutan sayang, gimana ? Kamu setuju ? "
Kata Bu Citra dengan senyum yang mengembang.
" Sayang ? "
Tanya Qirani menegaskan.
" Iya, sayang... Adit, kamu setuju nggak ? Anggap aja kamu punya adik baru... "
Sahut Bu Citra yang kini mengalihkan pandangannya ke arah Aditya.
" Boleh... Kebetulan Adit kan emang nggak punya adik. Bagus, ma... "
Jawab Aditya mengangguk setuju.
" Oh iya, kenalan dulu. Aku Bu Citra Danti, dan ini anak ku satu-satunya, Aditya Candra. Saat ini kami sedang liburan, makanya menginap di hotel ini. Sementara ini, kamu bisa tinggal dengan kami, sambil pelan-pelan membantumu mengingat kembali. "
" Terimakasih, Bu... Maaf saya jadi pengganggu acara liburan nya. "
" Itu bukan salahmu koq, kenapa harus minta maaf. Oh iya, kamu nanti tidur denganku saja. Adit, kamu belilah beberapa baju sebagai baju ganti nya. "
" Iya, ma.... Adit ntar beliin. Itu yang sekarang dia pake juga Adit yang beliin sebelum dia boleh pulang dari klinik tadi. "
Sahut Adit.
" Iya Bu... Sekali lagi terimakasih. "
" Oh iya, Dit... Coba kamu cari info apa saja di kepolisian ataupun di media-media, siapa tau, keluarganya sudah laporan kehilangan dia. Sudah empat hari, pasti sudah ada laporan kalo dia nggak pulang. "
" Siap, mama.... Adit pasti secepat kilat laksanain apa perintah mama. "
Kata Aditya sembari mencium pipi ibunya dengan lembut.
" Kamu ini... Oh iya, pesan makan dulu. Ini udah waktu makan malam. "
Bu Citra tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
" Okey... "
Jawab Aditya yang langsung melesat pergi keluar kamar.
" Kamu tunggu sebentar ya, kita makan malam bersama. "
" Iya Bu... "
Jawab Qirani dengan menganggukkan kepalanya.
" Ibu dekat sekali ya dengan Kak Adit. "
Sambung Qirani.
" Ah... Mau gimana lagi, dia yang selalu menemaniku selama ini. Jujur saja, Adit anak angkatku. Waktu itu sebenarnya aku berniat mengadopsi seorang anak perempuan. Tapi saat tiba di panti asuhan, aku melihat Adit yang penuh dengan memar di paha dan lengannya. Dia dibully oleh anak-anak kampung sekitar panti asuhan itu. Yang membuatku tergerak adalah, dia nggak menangis sekalipun dengan luka-luka itu, padahal dia masih berumur delapan tahun. Masih sangat kecil... "
Bu Citra menghentikan kisahnya untuk sesaat.
Panti....
Di Panti ?....
Kenapa satu kata ini rasanya nggak asing buatku ?
" Uughh.... "
Rintih Qirani saat sedang memikirkan sesuatu dan kepalanya langsung terasa ditusuk-tusuk, nyeri.
__ADS_1
" Kenapa ? Ada apa ? "
Bu Citra tampak cemas melihat Qirani yang tengah memegangi kepalanya.
" Kepala saya... sakit. "
Jawab Qirani setengah meringis menahan sakit.
" Minum air hangat... Sebentar aku ambilkan. "
" Nggak Bu, nggak papa... sudah mendingan koq, cuma sebentar aja sakitnya. "
" Oh... Syukurlah kalo sudah nggak papa. "
Ujar Bu Citra merasa tenang kembali.
" Rambutmu panjang ya... Ikal, bagus. "
Lanjut Bu Citra sembari menyentuh rambut Qirani yang tergerai di bahunya.
Qirani diam saja saat Bu Citra membelai rambutnya dengan perlahan. Kemudian Bu Citra merapikan rambutnya dengan menyibakkannya ke belakang, membuat telinga kiri Qirani kini terlihat jelas.
Kedua mata Bu Qirani membelalak seketika saat melihat tanda hitam bulat sebesar kelereng di bawah telinga Qirani.
Tangannya yang masih memegang rambut Qirani terjatuh begitu saja di bahu Qirani. Qirani yang melihat wajah Bu Citra mendadak memucat, menjadi bingung.
" Bu... Ada apa ?... Ada yang aneh dengan rambut saya ? "
Teguran Qirani yang pelan cukup membuat Bu Citra tersadar dari keterkejutannya.
" Ah, nggak papa... nggak papa.... "
Sahut Bu Citra berusaha untuk tenang dan menarik tangannya kembali, kemudian menatap wajah Qirani dengan seksama.
" Ma, makanan sebentar lagi datang... Maaf lama, Adit sekalian beli rokok dulu. "
Tiba-tiba Aditya masuk ke kamar dan menghampiri sang ibu dan Qirani.
" Aku nggak tau kamu suka makan apa, aku pesen seafood, kalo kamu nggak suka, aku bisa pesan yang lain. "
Kata Adit kepada Qirani.
" Saya.... juga nggak tau suka apa nggak seafood, tapi biarin nggak papa, saya coba makan aja dulu. "
" Oh iya, aku lupa kamu amnesia. Nama aja lupa, apalagi makanan favorit ya. Okey deh, kamu coba aja dulu. Nanti gampang lah... "
" Iya, Kak... Maaf, mau ke toilet dulu. "
Kata Qirani setengah malu-malu.
" Oh, tuh di sudut kamar, itu yang pintunya biru, itu toilet. "
Sahut Aditya sambil menunjuk arah ke toilet.
Dan Qiranipun segera beranjak bangun menuju arah yang dimaksud oleh Aditya. Bu Citra tak berkedip saat melihatnya berlalu. Aditya merasa heran dengan tatapan sang ibu kepada Qirani.
" Ma, ada apa ? Kenapa ngeliat dia kayak gitu ? "
Tanya Adit sambil duduk di tempat Qirani duduk sebelumnya.
" Dit, selidiki gadis itu, cari tau tentang dia secepatnya. Mama mau, sebelum kita pulang ke Inggris, kita sudah tau siapa dia sebenarnya. "
" Kalopun sampai pada waktunya nggak dapet info apa-apa tentang dia, Adit punya ide. Kita anter aja di ke kantor polisi. "
" Nggak ! Mama mau, kamu cari info tentang dia secepatnya. Mama mau tau siapa dia sebenarnya. "
" Memangnya.... ada apa, Ma ? "
" Cari tau aja dulu, nanti mama akan ceritain kalo hasilnya sesuai dengan yang mama harapkan. "
Sahut Bu Citra.
Ada apa sebenarnya di antaramereka tadi ?
Apa yang terjadi pas aku keluar ?
Koq mama tiba-tiba jadi aneh begini ?
Pingin tau tentang itu cewek secepatnya ...
Baru tadi kasih nasehat, menyuruhku kurangi penasaran dan rasa ingin tahuku.
Sekarang malah mama yang punya rasa ingin tau pada orang lain, orang yang nggak dikenal lagi....
__ADS_1
Batin Aditya penuh tanda tanya melihat raut wajah Bu Citra yang tampak serius menatap ke arah Qirani berjalan tadi.