
Waktu menunjukkan pukul 01.27 WIB, saat Qirani perlahan membuka kedua matanya. Beberapa kali menggerakkan kelopak matanya, iapun membukanya lebar-lebar sekarang.
Langit-langit kamar ini...
Masih di tempat yang sama.
Berapa lama aku pingsan ?
Badanku.... sakit.
" Uughh... "
Rintih Qirani saat mencoba menggerakkan kakinya, berniat turun dari ranjang.
Merasakan sakit di antara kedua pahanya, pinggang dan kepalanya yang berat. Qirani berusaha untuk beranjak bangun.
Matanya tertuju pada lebam di pergelangan tangannya, ia menggigit bibir bagian bawahnya. Teringat penyebab lebam yang ia dapatkan saat ini.
Aku membencimu, Kak...
Aku bener-bener benci kamu !!!
Jeritnya dalam hati penuh amarah.
Qirani menoleh ke arah Arga saat ia akhirnya berhasil untuk bangun dan duduk di tepi ranjang. Arga yang terlelap dengan posisi miring ke arahnya, masih tak bergerak dengan tubuh bagian bawahnya yang tertutup selimut.
Wajahnya udah nggak semerah sebelumnya...
Apa yang terjadi sebenarnya ?
Kenapa dia bisa sejahat itu padaku ?
Bener-bener licik !
Dengan alasan pingin kasih hadiah dan minta maaf, tapi menjebakku kayak gini.
Seharusnya aku nggak boleh percaya setiap ucapannya.
Mulutnya yang manis bikin aku terbang tinggi, tapi sikapnya ngejatuhin aku dari tempat tertinggi sampai tenggelam ke dalam lumpur kotor !
Mulai dari sekarang, aku berdoa, ini terakhir kalinya kamu melihatku !!!
Kata Qirani semakin penuh dengan amarah dalam hati dan matanya bagaikan memancarkan api kebencian yang teramat sangat dalam.
Dengan langkah yang tertatih, Qirani mengambil pakaian dalam nya yang tergeletak di lantai tepat di sisi ranjang. Menahan rasa sakit di alat vitalnya, Qirani mengenakan pakaian dalamnya kembali.
Apa yang kupakai buat keluar dari sini ?
Kebaya Luna atas bawah pada robek dan nggak bisa dipakai lagi...
Qirani mencoba berpikir sembari memperhatikan beberapa potong pakaian yang berserakan di lantai. Pandangannya tertuju pada kemeja flanel dan celana jins Arga. Tanpa menunggu lama, kembali ia tertatih-tatih melangkah dan mengambil pakaian tersebut.
Perbedaan tubuh yang besar membuat kemeja flanel itu bisa menutupi tubuhnya hingga ke setengah bagian paha. Dan celananya terasa longgar dan kepanjangan. Tak kurang akal, Qirani melipat bagian pinggang dan bagian ujung bawah celana.
Nggak papa kebesaran, yang penting aku bisa pergi dari sini dulu...
Batinnya menenangkan dirinya sendiri.
Kemudian Qirani mencari-cari dompet Arga, dan menemukannya di lantai dekat pintu kamar.
Ah iya, dompet itu pasti jatuh pas aku ditarik dia masuk ke dalam...
Qirani mengambil dompet tersebut, membukanya dan mengambil selembar uang seratus ribu dan sebuah kartu berwarna emas, kartu untuk membuka pintu kamar.
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkannya, Qirani meletakkan kembali dompet Arga di lantai, di tempatnya semula.
Dengan sangat berhati-hati dalam melangkah menuju pintu kamar, Qirani berkali-kali menoleh ke arah Arga yang masih tak bergerak di atas ranjang. Tepat di depan pintu, Qirani menggesek kartu tersebut.
KLIKK !!!
Suara kunci pintu terbuka. Qirani melirik ke arah Arga untuk kesekian kalinya, kuatir Arga terbangun karena suara kunci pintu tersebut.
Dan iapun bernafas lega saat mendapati Arga masih diam tak bergerak. Merasa situasi nya aman, Qirani langsung membuka pintu dan keluar kamar. Tak lupa menutup pintu kembali dan pintu secara otomatis terkunci kembali.
__ADS_1
Memaksa diri untuk berjalan cepat, Qirani menahan rasa sakitnya dan segera menuju lift. Merasa beruntung tidak bertemu dengan siapapun saat melewati lorong, tepat di depan lift, Qirani dengan cepat dan berulang kali menekan angka satu pada deretan tombol lift.
Setelah menunggu sekian menit dengan penuh kecemasan, akhirnya pintu lift pun terbuka. Qirani langsung melangkah masuk dan menekan dengan cepat tombol turun lantai.
Ya Allah.... mudahkanlah aku keluar dari hotel ini dengan aman.
Kumohon.... Kumohon....
Batin Qirani penuh harap.
Pintu lift terbuka, tibalah Qirani di lantai satu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dilihatnya beberapa orang keluar masuk dari pintu utama hotel. Ada juga yang sedang duduk-duduk di lobi dan sibuk dengan laptop ataupun handphone.
Belum sampai Qirani melangkah keluar lift, kepalanya kembali terasa berat. Tubuhnya yang memang masih lemah sedari ia bangun tadi, memilih menyandarkan diri ke dinding lift.
Sedikit lagi....
Aku bisa keluar dari sini.
Aku harus kuat...
" Maaf, kamu mau ke lantai berapa ? "
Seorang laki-laki muda berusia dua puluh tahunan memasuki lift, menegurnya.
" Nggak... nggak... sa-saya mau pu-pulang... "
Jawab Qirani tergagap dan merasa ketakutan.
" Oh, mmm... kamu sakit ? Apa perlu aku antar keluar ? "
Kata laki-laki muda itu saat melihat Qirani dengan kening berkerut.
Diperhatikannya Qirani yang terlihat tertatih-tatih melangkah keluar lift. Tampak olehnya, Qirani yang meringis kesakitan sambil terus memaksakan untuk berjalan.
Bajunya serba kebesaran...
Usianya paling kurang lebih masih belasan tahun.
Setiap berjalan, kesakitan begitu...
Lewat tengah malam, memaksa diri buat keluar dari hotel, ini aneh...
Mencurigakan, jangan-jangan...
Laki-laki itu membatalkan niatnya naik lift, dan mengikuti Qirani dengan diam-diam. Dilihatnya Qirani yang kini sedang berdiri di meja resepsionis dan mengeluarkan sesuatu dan diserahkannya kepada resepsionis tersebut.
" Mba, cewek itu, yang barusan disini. Dia nyewa kamar disini juga atau cuma tamu ? "
Tanya laki-laki muda tersebut begitu tiba di meja resepsionis setelah menunggu Qirani menjauh.
" Ah, saya juga kurang tau, Pak. Dia cuma nitipin kartu kunci kamar kelas VVIP. "
" Oh... "
Jadi dia bukan penyewa kamar dan bukan juga tamu.
Tapi kenapa bisa pegang kartu VVIP ?
Setau ku, kartu itu cuma ada lima untuk kamar VVIP di lantai dua belas dan semua kamar itu sudah ada pemiliknya masing-masing.
Melihat penampilan cewek itu... dia nggak keliatan sekaya itu.
Sudahlah... bukan urusanku juga !
Dan tak ingin ambil pusing, laki-laki itu memutar tubuh, berniat kembali menuju lift.
Tapi ... gadis semuda itu, apa yang dilakukan nya di hotel ini, dan tindak tanduknya seolah-olah begitu kesakitan...
Dan ini lewat tengah malam, bukankah berbahaya kalo dia dengan keadaan kayak gitu ada di jalanan ?
" Shit !!! "
Mengikuti kata hatinya, laki-laki itu langsung keluar dari lift dan berlari menuju pintu utama hotel.
__ADS_1
Dimana dia ?
Cepet banget ilangnya....
Melihat ke arah kanan dan kiri di luar hotel, ia mencoba mencari sosok Qirani. Dan akhirnya memutuskan untuk berlari ke arah kanan.
Ah... itu dia !
Melihat sosok Qirani yang sedang ingin menyeberang jalan, laki-laki itu memperlambat larinya. Dan benar, Qirani yang masih tertatih-tatih dalam langkahnya tersebut tampak berjalan dengan melamun.
Ya Allah... apa yang harus kukatakan pada Bunda soal malam ini ?
Apalagi badanku yang kotor begini, Bunda pasti bertanya, pasti curiga...
Aku pulang jam segini, apa alasanku ntar ?
Kenapa dia sejahat itu padaku ?
Apapun yang dia lakukan, aku berusaha menerimanya tanpa protes.
Dari kehilangan mas Galih, dia maksa aku buat jadi pacarnya, bahkan menganggap ku sebagai mantan pacarnya yang udah meninggal... semarah-marahnya aku, aku pasti menerimanya ...
Perhatian dia ke anak-anak panti asuhan, membuatku berpikir biarpun dia kaya tapi dia nggak sombong kayak orang-orang kaya yang aku tau...
Kadang sifat dan sikapnya kayak anak kecil, manja dan egois, tapi itu membuatku merasa dibutuhkan.
Sikap kasar arogannya membuatku nggak nyaman, tapi aku tau, itu cara dia melindungi ku...
Aku pikir... hubungan nggak masuk akal ini masih bisa dipertimbangkan lagi pas ngeliat bagaimana dia minta maaf malam ini.
Qirani menyentuh kalung di lehernya.
Aku... terlalu banyak berpikir yang nggak-nggak.
Aku terlalu berharap pada sesuatu yang mustahil.
Aku terlalu percaya diri kalo...
" HEI !! AWAASSS !!! "
Sebuah teriakan membuyarkan lamunannya dan saat ia menatap ke arah kirinya, kilatan lampu yang begitu terang mendekat dengan cepat.
BBRRUUGGGG !!!!
Sebuah mobil dengan sangat cepat menabrak Qirani yang tak bisa lagi bergerak sedikitpun karena saking terkejutnya.
Mobil tersebut terus melaju kencang setelah membuat tubuh Qirani terlempar beberapa meter ke sisi jalan raya. Seketika Qirani langsung tak sadarkan diri begitu kepala bagian kirinya terantuk trotoar dan mengeluarkan darah yang mengucur dengan derasnya.
Laki-laki muda yang mengikuti Qirani tersebut menghampiri tubuh Qirani yang tergeletak tak berdaya. Iapun jongkok, menyentuh pergelangan tangan Qirani, mencari denyut nadinya.
" Alhamdulillah... dia masih hidup, denyut nadinya lemah tapi masih terasa... Aku harus cepat menolongnya. "
Dan setelah itu, dengan cepat ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan handphone nya.
" Steve, please take my car out of the hotel, go to the right a few meters, hurry, it's an emergency ! "
( Steve, tolong bawa mobilku keluar hotel ke arah sebelah kanan beberapa meter, cepetan, ini darurat ! )
" Okay, boss ! "
( Oke, bos ! )
Dan sambungan telepon pun diputuskan.
Bener-bener cewek yang menyedihkan...
Apa nasibnya seburuk ini ?
Padahal masih sangat muda....
Belum juga kejawab apa yang bikin aku penasaran, kenapa dia keluar hotel lewat tengah malam dengan keadaan yang kesakitan, sekarang dia malah jadi korban tabrak lari...
Semoga dengan menolongnya, nggak akan jadi masalah buatku dan nggak mengganggu urusanku disini...
__ADS_1
Tapi... apa yang aku katakan pada mama nanti ?