
DI MALL XX
Qirani terus menggenggam bagian bawah kaos Arga dan berjalan mengekor sosok tinggi Arga. Dia merasa risih, tak mengenakan pakaian dalam. Merasa was-was andai ada orang yang memperhatikannya dan memandangnya dengan tatapan aneh.
Dengan hanya mengenakan kaos lengan panjang dan celana training selutut milik Arga, Qirani merasa penampilannya tampak aneh dan tak nyaman.
Karena celana training tersebut benar-benar kedodoran untuk Qirani, maka dari itu diakali oleh Arga dengan mengencangkannya menggunakan ikat pinggang miliknya.
Arga sendiri merasa risih, ia seakan-akan sedang berjalan dengan membawa seekor hewan peliharaan yang terus mengekor di belakangnya.
Berkali-kali ia menarik Qirani untuk berjalan di sisinya, tapi Qirani langsung bergeser kembali ke belakang tubuhnya.
" Masuk yuk ! Ini komplit nih. Ada pakaian dalam dan baju cewek juga. "
Kata Arga begitu berhenti di sebuah toko fashion.
Tanpa menunggu Qirani menjawab, ia menarik Qirani untuk masuk ke toko tersebut. Qirani diam dan menurut saja saat Arga menggandengnya.
" Pertama kita cari daleman buatmu... "
Bisik Arga sambil melongok kesana kesini.
Tak lama, kedua matanya tampak melebar dan bersinar. Akhirnya ia menemukan juga apa yang ingin dicarinya. Pakaian dalam wanita.
" Mba, tolong bantu dia cari pakaian dalam yang dia mau ya. Mmm... ukuran dadanya 36, ****** ******** size S. "
Kata Arga tanpa basa-basi begitu seorang pramuniaga datang menghampiri mereka.
Mendengar ucapan Arga, membuat Qirani dan pramuniaga itu membelalak. Qirani melotot ke arah Arga. Sedangkan pramuniaga itu tersenyum kecil.
" Apa sih melotot begitu ? Aku tau ukurannya karena aku melihatnya semalem. "
Sambung Arga acuh tak acuh.
Qirani merasa wajahnya terasa panas, dan memang tampak memerah. Sang pramuniaga tersebut kembali senyam-senyum melihat Arga dan Qirani.
" Ah, iya.... Saya pasti bantu, kak. "
Kata pramuniaga tersebut.
Qirani yang merasa malu setengah mati, makin jengah dengan tatapan si pramuniaga itu kepadanya.
Dia ngomong sembarangan...
Mbaknya pasti mikir yang nggak-nggak.
Harusnya dia nggak perlu nyebutin ukurannya.
Batin Qirani.
" Pacarnya perhatian banget ya, kak... Pasti udah pacaran lama ya, sampai tau sedalam itu. Alhamdulillah ya kak, susah lho punya pacar sebaik itu. Mana cakep banget. Dah kayak artis-artis gitu... "
Bisik si pramuniaga itu sambil menunjukkan beberapa pakaian dalam untuk Qirani.
" Ah, bu-bukan... Dia cuma.... "
" Bohong kalo cuma temen, masa iya bisa tau sedetil itu. Emangnya temen tapi mesra ? Hehehe... "
" A-anu... "
" Hei, kenapa kalian malah bisik-bisik begitu sih ? Udah belum milihnya ? Lama amat ... Tinggal ambil aja, terus pakai sana ! "
Tiba-tiba Arga yang sedari tadi melihat-lihat di sekitarnya, muncul di tengah-tengah Qirani dan sang pramuniaga.
" I-iya .... "
Jawab Qirani agak terkejut.
" Ini nih, bagus ! Mau ? "
Kata Arga sambil mengambil sepasang lingerie.
Ia menyodorkannya di depan wajah Qirani. Melihat modelnya yang begitu seksi, wajah Qirani makin memerah dan membuang muka ke arah yang lain.
" Ah, seleranya bagus... Apalagi kulit pacarnya putih, pasti makin hot dilihatnya. "
Kata pramuniaga itu yang langsung berpromosi.
Arga tertawa kecil melihat sikap Qirani yang kelihatan malu-malu.
Baru liat kayak gini aja mukanya langsung merah banget....
Dasar cewek cupu !
" Ini aja... "
Qirani mengambil pakaian dalam yang biasa dan termurah.
" Seleramu jelek ! "
Komentar Arga.
" Ruang gantinya dimana ? "
Tanya Qirani tanpa mempedulikan komentar Arga.
" Mau langsung dipakai ? "
Penjaga toko itu bertanya dengan heran.
Qirani menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
" Tapi, untuk ****** ***** nggak boleh dicobain, begitu pakai harus setuju buat beli... "
" Iya... Saya langsung beli. "
" Jangan takut, mbak ! Saya langsung bayar, bisa pakai uang elektrik nggak ? ATM saya ketinggalan, dan saya nggak ada uang kontan. "
Sambung Arga setengah kesal mendengar ucapan si pramuniaga itu.
" Bisa kak.... Nanti di kasir ya. "
Jawab pramuniaga tersebut yang langsung merasa tak enak hati melihat raut wajah Arga.
__ADS_1
" Itu, disana ruang gantinya. Sebelumnya, saya ambil dulu ya label harganya, buat di-screening di kasir. Jadi kakak bisa langsung pakai sekarang. "
Pramuniaga tersebut menunjukkan satu tempat di sudut ruang yang tertutup tirai tebal.
" Sana, masuk pakai. Aku pilih baju luarnya. Kamu tunggu di ruang ganti. Ngerti ? "
Kata Arga dengan nada memerintah.
Qirani mengangguk. Dan segera menuju ke arah ruang ganti.
Lucu banget...
Penurut dan penakut !!
Hehehe...
Batin Arga yang tersenyum sendiri.
Petugas toko tersebut melihatnya dengan tatapan mata yang aneh.
" Ada yang salah dengan saya, mbak ?! "
Tegur Arga dengan nada yang ketus, begitu sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh si pramuniaga tersebut.
" Ah, nggak kok ! Nggak ada yang salah... Maaf, maaf. "
Kata pramuniaga itu yang mulai merasa takut saat Arga menatapnya dengan tajam.
Dan pramuniaga itupun bergegas ke arah meja kasir yang ternyata dekat dari tempat ruang ganti, dimana Qirani sudah berada didalamnya.
Kemudian Arga mulai memilih pakaian untuk Qirani di bagian pakaian wanita. Dengan seksama, Arga memperhatikan satu persatu pakaian yang tersedia.
Setelah beberapa kali memilih, mengambil, melihat lagi, kemudian mengambil kembali, akhirnya Argapun mendapatkan sebuah rok terusan yang ia sukai untuk dikenakan Qirani.
Dan tanpa banyak bicara, ia memberikannya kepada pramuniaga yang sudah berada di belakangnya tersebut.
" Ada lagi, mas ? Di bagian sana, ada beberapa produk keluaran terbaru bulan ini. Siapa tau an... "
"Ini saja. "
Sahut Arga tanpa menoleh ke arah yang ditunjukkan sang pramuniaga.
Dan seperti sebelumnya, pramuniaga itu juga melepaskan label harga pada pakaian yang dipilih Arga.
Arga mengikuti sang pramuniaga itu ke meja kasir. Dan untuk beberapa saat, dia menyelesaikan proses pembayarannya dengan menggunakan handphone.
Setelah proses pembayaran selesai, sang kasir menyerahkan rok terusan tersebut kepada Arga. Argapun segera mengantarkannya kepada Qirani yang masih menunggu di ruang ganti.
" Ini pakai ! "
Kata Arga sembari menyelipkan pakaian tersebut lewat celah di bawah tirai.
Qirani mengambilnya dan segera mengenakannya. Setelah selesai, Qirani melipat pakaian Arga yang dikenakannya tadi.
" Sudah pakai.... "
Kata Qirani sambil melangkah keluar dari ruang ganti.
" Tuh kan, pilihanku nggak salah... "
Arga tampak puas dengan pakaian yang dipilihnya. Matanya terlihat terpesona pada sosok gadis yang baru saja keluar dari kamar ganti.
Sebuah rok terusan dengan motif bunga di bagian tepi bawahnya. Rok terusan itu panjangnya tepat di bawah lutut Qirani.
Berlengan panjang dengan ujung di lengannya berkaret dan leher yang berbentuk kotak. Dress yang mengikuti lekuk tubuh bagian atas hingga ke perut dan melebar bak payung di bagian bawah.
" Cantik kan.... "
Kata Arga sembari melirik ke arah pramuniaga yang setia terus menemaninya, seolah-olah meminta pendapat.
" Iya... Cocok banget buat pacar kakak. Tapi... Biar lebih bagus, perlu diganti sandalnya. "
Sahut si pramuniaga itu sembari menunjuk ke arah kaki Qirani.
" Wah iya.... Dia masih pake sandalku itu. Untung diingatkan. Hehehe.... "
Arga tertawa terkekeh setelah melihat apa yang ditunjukkan si pramuniaga.
" Nomer kaki mu berapa ? "
Tanya Arga kepada Qirani.
" 39 ... Nggak usah diganti sandalnya. Ini aja, ntar sampai rumah aku kembaliin. "
Sahut Qirani pelan.
" Mbak, cariin flat shoes dengan nomer 39. Cari warna biru muda ya, biar cocok sama bajunya yang berbunga-bunga berwarna pelangi. "
Perintah Arga cepat, tak peduli dengan penolakan Qirani.
Pramuniaga tersebut segera berlari ke rak bagian alas kaki. Tak lama kemudian, dia membawa sepasang sepatu berwarna biru muda polos dengan bunga kecil di tengahnya.
" Pakai ! "
Arga menyuruh Qirani untuk segera mengenakannya.
Seperti biasa, Qirani pun menurut dan buru-buru mengenakannya.
" Okey ! Finish... Mbak, ayo antar ke kasir. Kamu, diem disini ! "
" Iya... "
Arga dan pramuniaga itupun meninggalkan Qirani. Beberapa saat kemudian, Arga datang kembali.
" Ayo, sekarang aku antar kamu pulang... "
Kata Arga sembari menggandeng tangan Qirani.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kantong plastik di tangan Qirani.
" Itu apa ? "
" Baju, celana dan sandal kakak... "
__ADS_1
" Oalah... "
" Tadi aku minta kantong buat tempatnya. Nanti aku cuci dulu ya di rumah, baru aku kembalikan. "
Kata Qirani yang dari suaranya masih terdengar takut-takut, membuat Arga tersenyum geli.
Dasar si cupu !
Ngomong kayak gitu aja, kayak orang mau dibunuh.
Suaranya sampai gemetaran....
Tapi dia ini ngeliat aku apa kayak monster gitu ya ?
Ketakutan melulu...
Cupu... cupu...
Apa kamu ini nggak tau, cewek lain aku ajak jalan kayak gini, pasti senengnya selangit.
Tunjuk sana tunjuk sini, tau-tau bawa pulang belanjaan seabreg-abreg...
Yah, namanya juga cupu....
Dia berbeda ya....
Unik dan langka !
Batin Arga merasa kagum pada Qirani.
" Kamu cuci dirumah ? Di laundry aja lah... Susah-susah amat ! "
" Laundry ? ... Tapi aku nggak punya uang, bunda kan... "
" Kamu nggak punya uang buat nge laundry ?! Apa kamu ini beneran miskin ? Atau pelit, hah ?! "
Arga memotong ucapan Qirani dengan tak percaya.
" Ya udah, terserahlah.... Nggak usah dikembalikan juga nggak papa. Udah sempit di badanku. "
Sambungnya datar.
Qirani tak menjawab, hanya kembali diam. Arga pun mati kata. Tak tahu lagi mau bicara apa. Selama menuju ke luar mall, Qirani melihat-lihat sekeliling.
Kemarin sore juga baru kesini sama mas Galih...
Buat beli gaun.
Mas Galih.... sekarang gimana ya keadaannya ?
Qirani mengingat kejadian semalam. Betapa masih jelasnya dalam ingatannya, Galih yang babak belur dan penuh darah di wajahnya. Sesaat tubuhnya bergetar, rasa takutnya kembali datang.
Arga merasakan genggaman tangan Qirani tiba-tiba lebih kencang, seperti ingin meremas jari-jarinya. Arga menoleh ke samping. Qirani menatap ke depan, namun wajahnya tampak pucat.
" Ada apa ? "
Tanya Arga menghentikan langkahnya.
Qirani seperti tak mendengarnya. Ia masih melangkah. Arga menghentakkan lengannya yang menggandeng Qirani. Qirani terkejut dan tertarik ke belakang.
" Ini mall, harusnya kamu minta jajan apa beli ini itu. Bukannya melamun. Dan wajahmu itu, aku nggak suka ! Disini banyak barang bagus yang bisa dilihat, tapi kamu malah kayak ngelihat hantu... "
Kata Arga setengah kesal.
Qirani langsung menunduk, takut. Diam seribu bahasa. Arga makin merasa kesal.
" Aku kan udah baik sama kamu, kamu harus bersikap yang baik jugalah. Aku jadi ngerasa aku ini penjahat yang bawa kabur anak orang. Emangnya... "
KKRRUUKKK !!
Suara perut keroncongan membuat Arga berhenti bicara. Qirani meringis kearahnya dan memegangi perutnya dengan sebelah tangannya.
Oh iya, dari semalem aku bawa pulang, dia belum makan apa-apa ya...
Padahal kan di kulkas banyak makanan.
Emangnya dia nggak ambil apa-apa buat dia makan waktu dia bangun tidur tadi pagi ?!
KKRRUUKKK !!
Kembali suara perut Qirani terdengar.
" Maaf... "
Ucap Qirani lirih, kembali tertunduk malu.
" Ayo, kita makan... "
Dan Arga mengajaknya berbelok ke restoran cepat saji terdekat dari tempatnya berdiri.
" Duduk di ujung sana, tunggu aku. "
Kata Arga begitu mereka masuk ke dalam restoran cepat saji.
Arga menunjuk di meja tepat di sudut restoran. Qirani mengangguk. Kemudian berjalan ke arah yang di maksud Arga.
Dia kok mirip anak anjing ya ?
Nurut banget dan lucu ...
Batin Arga yang terus memperhatikan Qirani.
Begitu Qirani duduk, barulah Arga memilih menu di bagian pemesanan pada restoran tersebut. Kemudian setelah memutuskan apa yang ingin dipesannya, Arga menghampiri Qirani yang sudah menunggunya.
Ia pun memilih duduk di sisi Qirani. Namun, dengan cepat Qirani menggeser duduknya menjauh dari Arga.
" Jangan jauh-jauh ! "
Kata Arga yang merasa tak suka.
Kemudian iapun menarik pinggang Qirani agar duduknya semakin merapat ke arahnya.
Dia kasar...
__ADS_1
Dia juga jahat...
Batin Qirani yang tampak jengah namun hanya bisa diam, tak berani bergerak sedikitpun.