
" Tetep, aku nggak dapet apa-apa. Berulangkali liatpun, aku masih nggak bisa liat satu petunjuk pun. "
Kata Arga lemas, kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
" Kata ku, cowok itu, kalo kita bisa ketemu, dan nanya apa yang dia obrolin sama Qirani, bisa jadi itu sebuah petunjuk. "
Indra masih penasaran.
" Di cctv aja, itu cuma sepersekian menit mereka bicara, dan Qirani langsung pergi setelah nitipin kartuku. Paling juga dia cuma nanya, mau kemana atau darimana. "
" Jadi judulnya, kita udah mentok ya. "
Sambung Indra, kali ini ikut lemas.
" Apa rencana mu selanjutnya ? "
Tanya Indra.
Arga menggelengkan kepalanya perlahan beberapa kali. Tatapannya kosong. Pikirannya melayang entah kemana. Antara berpikir dan melamun.
" Ga... "
Panggil Indra sambil menyenggol lengan Arga.
" Heemm... "
Sahut Arga dengan berdehem saja.
" Syukur deh, aku takut kamu... "
" Entahlah, rasanya emang aku udah hampir-hampir jadi gila... "
Sambung Arga cepat.
Indra termangu mendengar kalimat Arga.
Diperhatikannya wajah sang sahabat, tampak kacau, lusuh, tak terawat. Cekungan dibawah mata Arga juga terlihat jelas.
Nggak pernah tidur sejak Qirani menghilang.
Pola makan pun tak teratur.
Cuma minum lagi dan lagi.
Qirani... cewek mungil itu bisa bikin Arga sekacau ini, hebat !
Padahal begitu banyak cewek-cewek diluar sana yang siap mengejar cintamu...
Tapi cuma bisa mentok sama yang satu itu.
" Cabut yuk... "
Ajak Arga seraya bangkit dari duduknya.
" Kemana ? "
Tanya Indra yang mengikuti jejak sang sahabat.
" Kemana aja, muter-muter... Siapa tau. "
Sahut Arga asal.
Dan dalam diam keduanya pun meninggalkan ruang cctv hotel.
PANTI ASUHAN MENTARI
" Aku bersyukur, kamu masih hidup. Aku benar-benar bersyukur... "
Kata Bunda yang masih terisak kepada Bu Citra.
" Tapi aku cacat, Rim... Kakiku... "
" Aku tau, aku tau. Yang penting kamu masih hidup, Allah benar-benar menyelamatkanmu. Bahkan waktu itu, aku pikir kamu sudah meninggal. "
Sambung Bunda penuh rasa syukur.
__ADS_1
" Kenapa kamu bisa berpikir aku sudah meninggal, apa yang kamu dengar sebenarnya ? Siapa yang bilang padamu aku meninggal ? "
Bu Citra tampak kebingungan dan penuh dengan kecurigaan menatap Bunda.
" Nggak ada yang bilang, nggak ada yang aku dengar. Waktu itu, aku berusaha menarikmu keluar mobil sebelum mobilmu meledak, tapi aku nggak kuat. Jalanan begitu sepi. Aku sudah telpon pihak berwajib, tapi belum juga datang. Lalu... "
" Apa kamu bilang ? Kamu ... berusaha menarikku ? Kamu tau aku kecelakaan ? Kamu ada di tempat kejadian ? "
Bu Citra memotong penjelasan Bunda.
" Malam itu, aku kembali ke kantor Nyonya Besar, mengambil barang-barang ku yang masih tertinggal. Nggak sengaja, saat aku lewat pantry, aku mendengar Hamdi, sopir pribadi mu sedang bicara di telepon. Aku nggak dengar semua apa yang dibicarakan dia. Dia bilang, remnya sudah diatasi dan urusan sudah beres. Itu aja yang kudengar. "
" Hamdi telepon siapa ? Apa maksudnya dia bilang begitu ? Rem ?... Rem... "
Bu Citra mencoba mencari benang merah dari cerita Bunda.
" Setelah mendengar itu, aku pulang, semaleman aku mikirin kalimat Hamdi itu. Apa maksudnya dengan rem yang sudah diatasi.... Lalu aku ingat, kamu dan suamimu kan mau berangkat ke Bandung waktu itu. Kamu sempat bilang bukan, pas kita ketemu di kantin kantor, kalian mau berangkat jam empat pagi, karena mengejar jadwal rapat. "
" Iya, aku kan ngasih tau kamu sore itu, siapa tau kamu mau oleh-oleh apa dari Bandung. "
" Pikirku, yang dimaksud rem itu pasti rem mobilmu. Aku langsung meneleponmu dan suamimu, nggak ada yang nyambung. Chat dan SMS kupun belum terbaca. "
" Malam sebelum kami berangkat ke Bandung, kami sengaja tidur cepat, handphone semua dimatikan. Agar kami nggak capek di perjalanan. "
" Pantes saja, nggak nyambung teleponku. Waktu itu udah jam tiga aku nekad kerumahmu. Karena ngebut, aku hampir tabrakan dengan truk kontainer, membuat mobilku hampir terlindas. Untungnya Allah masih melindungi ku, meski akhirnya menabrak pembatas jalan, mobilku masih bisa berjalan. Sampai dirumahmu, satpammu bilang, kalian sudah berangkat sekitar setengah jam lalu. Aku mengejarmu secepat yang aku bisa. Tapi aku menemukan mobilmu sudah menabrak pohon besar, asap mobilmu begitu tebal. Aku memeriksa mobilmu, dan melihat kamu yang terjepit di antara pintu mobil dan bangku. "
" Jadi kamu beneran ada di tempat kejadian ? Pastinya kamu tau, dimana Divya bukan ? Bilang padaku, Rima... Kamu pasti tau dimana Divya. Dari ceritamu, kamu orang pertama yang datang di tempat kecelakaanku... "
Bu Citra penuh dengan tanya menarik tangan Bunda.
" Divya menangis sangat keras, waktu aku tiba disana. Ada di bawah bangku belakang. Dia tak terluka sedikitpun, aku mengambilnya setelah aku menyerah menarikmu keluar. Kamu dan suamimu benar-benar tak bergerak. Aku yakin, kecelakaan kalian itu ada hubungannya dengan Hamdi. Makanya aku segera membawa Divya pergi secepatnya dari sana. Maafkan aku, aku pikir, kamu dan suami mu sudah meninggal.... "
" Jadi Divya bersamamu sekarang bukan ? Cepat, Rima... Dimana Divya sekarang... "
" Ya, Divya bersamaku selama ini, cuma ada... "
" Tunggu dulu. Aku lupa tujuan awalku kesini. Jangan-jangan... gadis itu, dia punya tanda yang sama dengan Divya, dan dia tinggal disini, di panti milikmu ini. Ya Allah... Jangan-jangan... "
" Apa maksudmu ? Siapa ? Siapa yang ingin kamu bicarakan ? "
" Qirani Asha ! Kamu .... "
" Siapa Qirani Asha, Rima ?! "
" Tenang... Tenang dulu. Kamu mengenal Qirani ? "
" Anak angkat ku, Adit, dia yang menemukan gadis itu, kecelakaan, dia amnesia. Dia punya tanda lahir yang sa.... "
" Qirani itu anakmu, Divya... Benar, dia adalah Divya. Tapi dia menghilang dua minggu lalu... "
" Allahuakbar.... Allahuakbar.... "
Bu Citra tak kuasa menahan tangisnya. Airmatanya kembali bercucuran. Bunda memeluknya dengan hangat.
" Rima, Rima... Aku bahkan sudah menyerah mencarinya sejak sepuluh tahun lalu. Aku mencoba melupakannya... Dan sekarang, dia datang sendiri padaku, dia datang sendiri padaku.... Kamu juga, aku nggak sangka... Aku nggak sangka.... "
" Aku juga nggak sangka bakal melihatmu masih hidup. Bagiku waktu itu, kamu dan suamimu sudah meninggal. Aku mengganti nama Divya menjadi Qirani, agar tak terlacak oleh Hamdi atau siapapun yang sudah mencelakai kalian.... Aku menganggapnya sebagai kenangan hidup akan dirimu. Aku bersalah padamu, aku lalai. Qirani... Qirani... "
" Terimakasih, Rima... Terimakasih... "
Bu Citra memeluk Bunda dengan erat dan penuh haru.
" Sekarang, apa Qirani bersamamu ? "
Tanya Bunda penasaran.
" Dia bersama anak angkatku di hotel, rencananya besok kami akan kembali ke Inggris. Jadi aku mau cek dulu tentang Qirani ini kesini, ternyata.... Satu hal lagi, kata Adit, Qirani adalah korban pemerkosaan, apa kamu tau soal ini ?! "
Kata Bu Citra, yang sesaat kemudian seketika membelalak dan meradang.
" Aku tau, aku tau... Dan yang melakukannya pacar Qirani sendiri. Arga namanya... Arga Mahardhika, dia... "
" Apa ?! Arga Mahardhika ? Arga ini anaknya Bima Harsono, Rim... Anak Bima ! "
Kata Bu Citra setengah berseru sembari memegang lengan Bunda dengan erat.
__ADS_1
Kali ini Bunda yang membelalakkan matanya, menatap Bu Citra dengan pandangan tak percaya.
" Apa katamu ? Arga anaknya Bima ? "
" Apa kamu lupa ? Setelah kalian putus karena tak disetujui Papanya Bima, Bima dipaksa menikah dengan Dewi, sayangnya Dewi meninggal setelah melahirkan Arga. Karena tak ada yang menyusui dan merawat bayi itu, akhirnya bayi itu diantarkan ke rumah sepupu Bima yang saat itu juga sedang punya bayi. Bima menolak menikah lagi karena masih cinta sama kamu. Waktu kalian balikan lagi, Bima kan berstatus duda, apa kamu lupa ?... "
" Aku tau, hubungan kedua kami terjadi dengan status dia sebagai duda. Tapi aku bener-bener nggak ingat soal Arga... Aku pernah dengar soal Bima punya anak, tapi nggak pernah melihat anaknya. Aku pikir, itu cuma gosip semata. "
" Karena anak itu disusui sama sepupu Bima dan sampai aku kecelakaan itu, Arga tak pernah serumah dengan Bima. Aku sempat mengenal Arga, karena Bima sering minta tolong padaku untuk memilih pakaian dan keperluan Arga. "
" Betulkah ? Tapi... Kamu nggak oernah cerita sebelumnya soal anak Bima waktu itu... "
" Aku memang nggak pernah cerita, karena aku kuatir kamu nggak mau menerima dia lagi. Lagipula, kalo kamu memang harus tau, aku pikir, lebih baik kamu tau dari Bima sendiri. "
" Bima nggak pernah membahas soal anaknya. Makanya aku pikir, itu semua cuma gosip. "
" Jadi kamu bener-bener nggak pernah tau soal anaknya... Lalu, sekarang, kamu kenal dengan Arga ini ? "
"Aku pikir, anak itu anak yang baik... Dia selalu kasih apa saja pada Qirani. Dia sangat peduli sama anak-anak disini. Nggak nyangka, dialah yang ... Arga sendiri yang mengakui perbuatan nya itu. Dia kelihatan tulus dan sangat menyesal. Dia sih berniat menikahi Qirani, mau bertanggung jawab... "
" Nggak ! Nggak akan aku biarin dia mendekati Qirani lagi !! "
Bu Citra memukul pegangan kursi rodanya.
Steve yang sedari tadi sudah menemaninya mengobrol dengan Bunda, mulai cemas.
"Madam, don't get too emotional... "
( Nyonya, jangan terlalu emosi... )
Bujuk Steve agar sang majikan mengendalikan diri.
" Aku akan bawa Divya pulang ke Inggris. Rahasiakan soal ini. Anggap kita nggak pernah bertemu. Dan anggap juga kamu nggak pernah tau keberadaan Divya. "
Bu Citrapun akhirnya mengambil keputusan terakhir.
" Iya, aku tau... Kamu bisa percaya padaku. "
Sahut Bunda tersenyum.
Akhirnya....
Qirani bertemu dengan ibu kandungnya sendiri.
Beberapa waktu lalu, ia bersikeras ingin mencari orangtua kandungnya, aku bahkan membohonginya, memberinya alamat palsu jauh di luar kota.
Agar dia menyerah...
Ternyata Allah punya rencana yang terbaik untuk mereka.
Sebuah keajaiban...
Benar-benar sebuah keajaiban !
Batin Bunda dengan bahagia.
Bu Citra mengambil handphone dari dalam tas kulit ular yang berada di pangkuannya.
" Adit, siapkan kepulangan kita besok pagi, penerbangan pertama. Urus surat-surat Qirani. Dia ikut kita pulang. Ganti nama, Divya Naura. Data selebihnya, mama kirim via chat. "
" Ya, ma. Siap. "
Dan sambungan telepon singkat itupun diputuskan oleh Bu Citra.
" Rima, tolong berikan semua data tentang Qirani padaku. "
" Baiklah... tunggu sebentar. Aku akan ambil semua berkas milik Qirani. "
Dan dengan langkah cepat, Bunda masuk ke dalam rumah.
Bu Citra kembali merenung.
Bima...
Dendam di antara kita memang tak bisa dihapus begitu saja.
__ADS_1
Aku... akan mengembalikan semua rasa sakit ini padamu lengkap dengan semua bunganya !!!
Tunggu saja, Bima Harsono !!