Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 4


__ADS_3

" Arga ??!! Gila, kamu berani keluar uang segitu ? "


Tanya Doni yang terheran-heran.


" Sorry, aku yang menang. Tapi aku nggak mau berbagi sama kalian, pegang kartu ATM ku, aku nggak ada lagi uang kontan. "


Kata Arga dengan nada sombong.


Dan begitu selesai berbicara, Arga langsung melepas Cardigannya yang sepanjang lututnya tersebut. Kemudian ia berjalan mendekati Qirani yang menatapnya dengan sengit.


Tak peduli dengan tatapan sengit Qirani, ia dengan kasar menarik tangan gadis itu hingga memaksanya untuk berdiri.


Arga menutupi tubuh Qirani dengan cardigannya. Karena Qirani hanya setinggi bahu Arga, Cardigan itu bisa menutupi tubuhnya hingga mendekati mata kakinya. Kemudian, sambil tersenyum membalas tatapan Qirani dan mengancingkan cardigannya itu.


" Aahh, curang ! "


Keluh Doni setengah kesal.


Arga tak peduli dengan komentar kecewa para sahabatnya. Dengan gerakan cepat, ia mengangkat tubuh Qirani.


" Mau kamu bawa kemana dia ?? "


Tanya Doni cepat, menghalangi langkah Arga


" Pulang ! Giliran kalian sudah abis. Sekarang giliran ku bermain dengannya. Jangan lupa, urus pacarnya. Beresin semua sampah di sini. "


Jawab Arga tegas.


" Don, bilang pada adikmu, kado ulangtahun dariku, menyusul besok ! "


Dan Argapun membawa Qirani pergi.


" Nanti di lantai bawah, sembunyikan wajahmu. "


Bisik Arga saat mulai menapaki anak tangga turun kebawah.


Qirani menurut. Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arga. Merasakan hembusan nafas Qirani di dadanya, Arga merasa aneh.


Begitu langkah kaki Arga sampai di anak tangga terbawah, langsung terdengar kasak kusuk di setiap yang dilewati Arga dan Qirani.


" Aku... mau pulang... "


Kata Qirani begitu mereka telah sampai di luar rumah.


" Okey, aku akan membawamu pulang... "


Sahut Arga dengan senyumnya yang tampak licik.


Sayangnya, Qirani tak melihatnya karena sibuk menutupi wajahnya.


Syukurlah.... akhirnya aku akan pulang.


Kata Qirani dalam hati dan mulai merasa lega.


SELANG BEBERAPA WAKTU KEMUDIAN


Qirani tertegun dalam gendongan Arga. Ia menatap ke sekeliling sebelum memasuki lift.


" Tunggu... ini dimana ? "


Tanya Qirani.


" Apartemenku... "


" Hahh !!!! "


Qirani terkejut seketika.


" Dasar, kamu sama aja !! Nggak tau malu !!! "


" Berisik !! Atau kamu mau kita ngelakuin itu di lift ? "


" Ngelakuin apa ? "


Qirani bingung dengan ucapan Arga tadi.


Dih, beneran bodoh !!


Masa nggak ngerti sih ???


" Udah, diem sajalah !! "


Entah kenapa Arga kesal sendiri.


" Turun ! Tanganku mulai pegal ! "


Kata Arga sambil menurunkan Qirani dari gendongannya.


Qirani berusaha berdiri tegak. Tubuhnya terasa sakit dan tak nyaman.


" Kak, bolehkah aku pulang ?... Bunda pasti mencariku. "


Pinta Qirani sambil menarik lengan kaos Arga.


Arga melirik gadis di sampingnya.


Pulang dengan keadaan kayak gitu ?


Muka sembab semua bekas nangis nggak udah-udah.


Matanya juga pada keliatan bengkak.


Dan aku yang nganterin ?


Bisa-bisa aku yang kena getahnya...


" Buruan jalan ! Jangan berisik ! "


Kata Arga tak mempedulikan keinginan Qirani.


Qirani diam tak berkutik saat Arga menatapnya dengan tajam. Mau tak mau, ia mengikuti langkah kaki Arga.


Tepat di pintu dengan angka 111, Arga memasukkan kode pintu masuk. Dan sesaat kemudian, pintupun terbuka. Arga melangkah masuk ke dalam dan melepas sepatunya.


Qirani diam tak bergerak. Takut kalau-kalau ia melangkah masuk, sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia hanya melongok ke dalam sambil memeluk tubuhnya sendiri.


" Masuk !! "


Seru Arga dengan nada memerintah.


Dengan rasa was-was, Qirani melangkahkan kakinya ke dalam. Jalannya penuh kewaspadaan. Arga yang melihatnya berjalan seperti seekor kucing yang ingin mencuri ikan, mulai tak sabar.


" Sini !! "


Tarik Arga cepat karena tak sabar melihat tingkah laku Qirani.


" Aduuuhh !! "


Keluh Qirani saat lututnya tak sengaja mengenai ujung meja kaca di sisi kirinya.


Mendengar Qirani mengaduh, Arga meliriknya. Benar, saat Qirani membuka ujung Cardigan yang dikenakannya, lututnya tampak sedikit berdarah dengan luka kecil yang memanjang.


" Cewek bodoh ! Jalan aja nggak bisa ngeliat ada apaan di depan mata sendiri. "


" Kamu tarik aku .... "


Sahut Qirani dengan nada lirih, takut salah.


Arga mendorongnya untuk duduk di sofa. Kemudian ia melangkah ke sudut ruangan. Sesaat kemudian, ia meletakkann kotak P3K di atas meja, tepat di hadapan Qirani.


Kasar banget....


Batin Qirani setengah kesal.


" Obati lukamu ! "


Kata Arga, yang lagi-lagi dengan nada memerintah.


Qirani membuka kotak P3K tersebut dengan tangan gemetar. Sekali ia melirik Arga, Arga malah menatapnya dengan tatapan menusuk. Qirani tak berani lagi mengangkat wajahnya.


Melihat Qirani yang gemetaran dan lamban, Arga merasa geregetan. Ia kembali mendekat ke arah Qirani duduk. Dengan kasar ia merebut kapas di tangan Qirani.

__ADS_1


" Lama sekali kerjamu. Cuma luka kecil aja, udah kayak mau mati ! "


Kata Arga pedas.


Aku ketakutan karena matamu itu !


Jawab Qirani dalam hati.


Dengan cekatan, Arga membersihkan lukanya. Kemudian menorehkan sedikit obat merah dan memasang perban dengan rapi.


Qirani merasa takjub dengan hasilnya. Ia membelai perban yang menutup lukanya.


" Ih... rapi banget. Bagusnya .... Apa kamu dokter ? "


Kata Qirani dengan polosnya.


Ada rasa bangga yang menyeruak dari dalam hati Arga. Merasa senang dipuji, padahal hanya sebuah hal kecil. Tapi Arga tak ingin terlihat senang di hadapan gadis tersebut. Raut wajahnya masih tetap tampak sombong.


Cuma kayak gitu doang mah kecil...


" Apa harus jadi dokter buat ngobatin luka kayak gitu ??? "


Ketusnya.


Kembali Qirani tak berani bereaksi sedikitpun mendapat tanggapan segalak itu.


" Mm... kapan aku bisa pulang ? "


Tanya Qirani dengan hati-hati.


" Sekarang juga boleh... "


Jawab Arga sambil duduk di sebelah Qirani setelah membereskan kotak P3K nya.


Mendengar jawaban Arga, Qirani langsung menoleh ke arahnya dan terlihat sangat senang. Matanya langsung bersinar. Melihat betapa polosnya gadis disisinya itu, Arga merasa heran..


Cewek ini beneran bodoh apa gimana sih ?


Dia ini kan lagi di tempat ku.


Di apartemen Arga Ekadanta, yang semua cewek berharap buat bisa masuk kesini.


Koq dia malah pingin pulang melulu ?


Segitu nggak senengnya apa... mau jual mahal ??


Batin Arga merasa aneh.


Sesaat kemudian, tiba-tiba Arga seperti mendapatkan ide untuk melakukan sesuatu atas gadis yang ada di sampingnya tersebut.


" Apa beneran aku boleh pulang sekarang ? Ya, sekarang ?... Ya, kak ? "


Kata Qirani penuh harap dan masih menunggu jawaban yang pasti.


Arga mendekati Qirani dengan senyum yang mengembang. Kening Qirani berkerut. Secara spontan tubuhnya beringsut ke belakang. Menjauh dari tubuh Arga yang mendekat.


" Siapa namamu ? "


Tanya Arga yang terus mendekat ke arah tubuh Qirani dengan perlahan.


Terpojok di sudut sofa, Qirani mulai cemas. Raut wajah cantiknya memucat.


" Qi-Qirani.... Asha... "


" Mmm, pake K apa Q ? "


" Q... "


" As... ha apa di sambung Asha ? "


" Asha, bacanya asa... "


" Cantik juga namamu... "


Saat tubuhnya benar-benar tinggal seinchi dengan tubuh Qirani, tangan Arga terulur meraih rambut Qirani yang tergerai di bahunya. Arga mencium helaian rambut Qirani yang berada di jari-jarinya.


" Wangi... Rajin creambath ? "


Qirani menggelengkan kepala.


Insting melindungi diri sendirinya cepat juga...


Tapi mau bertahan berapa lama jual mahal padaku ?


Yakin bisa menolakku ?


Di depan bilang nggak, ujung-ujungnya kamu yang akan tergila-gila padaku...


Cewek semua sama saja...


Kata Arga dalam hati dengan sombong.


" A-aku mau pulang.... "


" Jangan harap ! "


Kata Arga dan langsung menggendong tubuh Qirani ke bahunya.


" Lepasin !! Kumohon jangan !! "


Sontak Qirani menjerit.


Arga tak peduli. Begitu memasuki kamar tidurnya, dia melempar Qirani ke atas ranjang.


" Adduuhhh !! Kamu... Kamu kenapa kasar sekali ? "


Gerutu Qirani sangat kesal.


Berkali-kali diperlakukan oleh laki-laki muda yang tak dikenalnya dengan tidak baik. Qirani mulai merasa, kebaikan Arga yang sempat dirasakannya sesaat tadi, hanyalah palsu.


Arga langsung membuka paksa cardigan yang menutupi tubuh Qirani.


" Haaahh !!! Berhenti !! Berhenti !! Jangan !! Aku mohon, kak !! Jangan !! "


Qirani menjerit histeris.


Tapi Arga tak menghiraukan teriakan gadis yang kini berada di bawah tubuhnya. Tinggal pakaian dalam yang tersisa di tubuh Qirani.


Qirani mendorong tubuh Arga agar menjauh. Arga mulai menciumi lehernya. Tubuh Qirani gemetaran. Spontan ia menjerit ketakutan.


Rasa takut yang teramat sangat mulai menguasai tubuh Qirani. Imajinya memperlihatkan sesuatu yang buruk atas dirinya akan terjadi.


Qirani terus menjerit, meronta, mengharapkan bantuan dari siapa saja yang mendengar permintaan tolongnya. Bahkan suaranya semakin lama terdengar serak, hampir habis karena menjerit.


" Hei ! Kenapa kamu nggak bisa diam aja sih ??? Berisik banget ! Kupingku sakit ! "


" Kumohon .... lepasin aku ! Tolong, jangan.... Lepasin aku ! "


Sahut Qirani dengan suara yang serak.


" Jadi cewek bodoh banget sih ?? Harusnya kamu bersyukur, aku bawa kamu kesini. Baru kamu, satu-satunya cewek yang bisa masuk ke tempatku dengan seijinku. "


Kata Arga sambil menekan pergelangan tangan Qirani di atas kasur.


" A-aku.... aku mau pulang.... Kumohon, aku mau pulang... Bunda pasti nyariin aku. Aku mohon... "


" Apaan sih... Umurmu berapa, sih ??!! Bunda, bunda, bunda melulu !! Ini malem minggu, wajarlah anak muda nggak pulang ! Bundamu juga pernah muda ! "


" Jangan ! A-aku harus pulang... A-aku ... "


" Emangnya kamu punya jam malam ??! "


Arga mulai merasa kesal.


Melihat Qirani yang gemetaran dan terus memohon, Arga semakin tertantang untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sebelumnya.


Senyumnya mengembang dan tampak licik. Perlahannamun pasti, tangannya menjulur ke tubuh Qirani. Jari jemarinya mulai meraba ke daerah-daerah sensitif milik Qirani.


PPLLAAAKKK !!


Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kanan Arga. Ujung bibirnya berdarah. Tangan Arga yang tepat berada di atas dada Qirani langsung menarik paksa bra yang masih melekat.

__ADS_1


" STOP !! SSTTOOPPPP !!! "


Qirani kembali menjerit.


Dan spontan kedua tangannya menyilang ke dadanya. Kakinya terus bergerak kemana saja.


" Suaramu nggak habis-habis ya. Teriak terus. Emangnya kamu sesuci apa sih ?! Disentuh dikit teriak, apalagi diapa-apain, bisa pingsan kali ya... "


" Tolong, kak.... Aku mau pulang.... "


" Emang kamu nggak pernah diapa-apain pacarmu ?! "


" Mas Galih baik... Di-dia nggak pernah... "


Arga beringsut bangun dari atas tubuh Qirani.


Dia merasakan betapa gemetarannya Qirani saat ditindihnya. Saat dia duduk, terlihat Qirani bernafas lega. Seolah-olah terlepas dari beban yang berat.


Segitunya....


*Ak*u suka ngeliat reaksi wajahnya.


Semua perasaannya tergambar dengan jelas di wajahnya.


Dia takut, dia senang, dia sedih.... sangat jelas kebaca.


Bener-bener anak mami !


Tapi dia ini...


Aku baru liat.


Biasanya anak-anak orang kaya dengan tampang secantik dia, pasti banyak yang tau dan tentu saja pasti kenal aku...


Dari awal, matanya terlihat jujur, kalo dia emang nggak kenal aku.


Apa dia orang pindahan !


Batin Arga semakin penasaran dan keheranan.


Melihat Arga yang hanya diam menatapnya, Qirani berusaha untuk duduk. Sebuah selimut di dekatnya, ditariknya untuk menutupi tubuhnya. Baru saja ia menutupi tubuhnya, Arga sudah memeluknya dari belakang.


" Siapa yang kasih ijin kamu pake selimut ?! "


Kata Arga sambil menciumi bahu Qirani dan tangannya menghempaskan selimut yang tadi dipegang Qirani.


Ya Allah...


Kumohon....


Tenggorokanku sakit, tubuhku sakit...


Kepalaku...


Belum lama lepas dari masalah tadi, sekarang kenapa malah jadi lebih nggak masuk akal begini...


Batin Qirani sedih.


Qirani merasa kepalanya berputar-putar. Pandangannya mulai kabur. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin mulai keluar.


" Rambutmu baunya enak, apa rasamu juga enak ? Hheemmm...... "


Arga terus menciumi punggung dan menyibakkan rambut ikal panjang Qirani, berniat mencium leher Qirani. Tapi tiba-tiba tubuh Qirani terkulai begitu saja, bersandar pada dadanya.


" Huh ! Sok jual mahal !! Apa kubilang, awalnya menolak, akhirnya pasrah sendiri kan... Siapa yang nggak mau denganku ?! "


Kata Arga merasa menang.


Kemudian tangannya memeluk pinggang Qirani dan mulai mengusap perut Qirani dengan lembut. Terus mencium rambut Qirani, secara perlahan tangannya bergerak ke bawah. Berniat ke arah yang lebih jauh.


Koq... nggak bereaksi ni cewek ?


Apa beneran pasrah ?


Dicium aja, segitu melotot dan menangis.


Ini kenapa diam aja...


" Hei... Cewek bodoh ! "


Arga memutar tubuh Qirani yang berada di pelukannya.


Dan tubuh Qirani jatuh begitu saja di ranjang. Matanya terpejam. Tak bergerak sedikitpun.


" Hei... Halloooo... Ah, siapa ya tadi namanya... Hei, cewek... "


Kata Arga yang mulai cemas.


" Mati kali ini cewek ya.... Hei, anak bunda ! Kamu ketiduran apa pingsan ?? "


Arga menggoyang-goyangkan tubuh Qirani yang masih tak bergerak sedikitpun.


" Haduuhhh... Beneran pingsan ! "


Arga menepuk keningnya sendiri setelah memastikan Qirani benar-benar pingsan.


Kemudian ia mengambil selimut yang tergeletak di lantai, menutupi tubuh Qirani.


Salah bawa orang.


Bikin susah aja !


Arga mengambil handphonenya. Menyalakannya dan mencari kontak di handphone nya.


" Eehh, Doni dan Indra ? Banyak amat panggilan... Paling juga penasaran sama cewek ini... "


Kata Arga, setengah bergumam.


Kemudian menekan satu kontak di handphone nya.


" Ya, sayang.... "


" Jangan lebay, buruan kesini ! Aku butuh kamu buat nyadarin orang pingsan di apartemen ku. "


" Lah, koq bisa pingsan ? Cewek apa cowok ? "


" Jangan banyak tanya, buruan aja kesini ! "


Dan sambungan telepon pun diputus oleh Arga. Setelah meletakkan handphone nya kembali di atas meja, tepat di sebelah tempat tidur, Arga pun termangu dalam duduknya.


Ditatapnya wajah Qirani yang tampak putih pucat. Rambutnya berantakan dan agak lembab karena basah oleh keringat. Disentuhnya leher Qirani, terasa dingin di telapak tangannya.


Keliatan dia lebih muda dariku ya...


Kayak masih kecil gitu, cupu.


Siapa tadi namanya ya.... ?


Ngeliat dari wajahnya sih masih ABG gitu...


Paling anak SMA apa masih SMP kali ya...


Aneh... dia beneran nggak kenal aku ?


Ah, masa iya dia nggak kenal aku sih ?


Dia bisa datang di acara ulangtahun adeknya Doni, itu berarti kan dia kenal sama yang punya acara.


Masa iya dia bisa kenal Dita tapi nggak kenal aku ?


Semua temen Dita aja tergila-gila padaku....


Nggak mungkin kan tamu tak diundang...


Oh iya... cowoknya, gimana judulnya ya ?


Apa Indra sama Doni udah beresin ?


Mereka hobi berantem sih, jadi bawaannya pingin hajar orang mulu...


Ah, bomat sama cowoknya lah !

__ADS_1


Ceweknya aja malah pingsan disini....


Isshhh... Bikin repot !!


__ADS_2