
" ... Ya, ma... "
" Hotel mereka sudah semuanya beroperasi. Orang-orang kita juga sudah di posisi yang sesuai dengan rencana kita, siap menyabotase saat waktunya tepat. Saat ini, mungkin bisa bersantai dulu sembari mengawasi perkembangan mereka. "
" Adit juga berpikir kayak gitu, ma. Biarin aja dulu mereka berkembang dan maju. Secara otomatis, mereka juga akan menguntungkan kita. "
" Betul. Sementara kalian bersantai, terus bikin Arga makin cinta pada Divya. Arga pion kita nantinya. "
" Sejauh ini, hubungan mereka sudah lebih dekat. Divya menjalankan misi tarik ulurnya pada Arga, tapi Adit liat, Arga tak pernah berhenti menyerah mengejar Divya. "
" Bagus, Divya memang pintar. Kapan kira-kira dia akan mengakui kalo dirinya adalah Qirani ? "
" Entahlah... kayaknya dia menikmati peran gandanya, hehehe.... "
" Ingatkan Divya, jangan terlalu lama. Biarkan secepatnya Arga tau dia adalah Qirani. Dan Arga bisa segera menikahi Divya. "
" Ya, ntar Adit ingatkan. Ada rencana nggak, kapan mama kesini ? "
" Buat sekarang, nggak ada. Tapi saat Arga menikah dengan Divya, mama pasti datang. Saat itulah yang mama tunggu-tunggu. Pasti akan terjadi sebuah peristiwa yang menghebohkan nanti. "
" Ya, Adit yakin, begitu mama muncul di acara pernikahan itu, akan banyak orang yang shock. "
" Laporan bulanan sudah mama terima, mama sangat puas, Dit... Makasih ya, nak. Kamu memang paling bisa diandalkan. "
" Mama segalanya buat Adit, apa yang Adit lakukan, itu masih seujung kuku dibandingkan kebaikan mama selama ini. "
" Sudah... Sebagai seorang ibu, itu hal yang wajar yang seharusnya, Dit... "
" Tapi, mama kan bukan ibu kandung Adit, mama... "
" Oh iya, mana Divya ? Boleh mama bicara dengannya ? "
Mama pasti mengalihkan pembicaraan kalo aku mulai membahas soal itu...
Mama memang yang terbaik, nggak pernah mau menganggapku anak angkat...
Semoga mama selalu bahagia...
Batin Aditya dengan senyum kecilnya.
" Ada, Divya ada ma... Sebentar, Adit panggilin ya. "
Dan Adityapun bergegas keluar kamarnya dengan setengah berlari menuju kamar Qirani.
" Div... Mama nih, pingin bicara... "
Kata Aditya yang langsung melongok ke dalam kamar, saat mendapati pintu kamar Qirani setengah terbuka.
Qirani yang sedang membaca sebuah buku di pangkuannya, turun dari tempat tidurnya dan menghampiri sang kakak yang sedang berdiri di depan pintu kamar.
" Mama ? Di telpon ? "
" He-em... Nih. "
Kata Aditya sembari menyodorkan handphonenya kepada Qirani.
Qirani segera mengambil handphone di tangan Aditya.
" Mama ? "
" Sayang... Lagi ngapain kamu ? "
" Lagi baca novel aja... Mama sendiri ? "
" Mama kangen sama kamu dan kakakmu... "
" Kan setiap hari kak Adit dan aku telpon mama... "
" Iya, mama tau, tapi hari ini, mama nungguin telpon kalian dari pagi, nggak juga telpon. Jadi mama yang telpon duluan... "
" Iya, tadi pagi kak Adit ada rapat, lumayan lama, sampai jam dua belasan kayaknya, aku tadi kontrol keliling, ma... Cek laporan keuangan juga dan ada rapat di bagian marketing. Maaf ya ma, hari ini bikin Mama yang telpon duluan... "
" Nggak apa-apa... Adit tadi juga udah kasih tau kok. "
" Kapan mama kesini ? "
" Nanti, kalo sudah waktunya, pasti mama ke Indonesia. "
" Kapan itu waktunya ? "
" Kalo kamu berhasil membuat Arga melamar dan menikahimu. "
" Mama... itu masih lama kayaknya deh. "
__ADS_1
" Ya dibikin secepatnya dong, sayang... Kenapa harus masih lama ? Apa Arga sudah nggak suka kamu lagi ? Sudah nggak penasaran tentangmu lagi ? "
" Nggak gitu juga... Tapi aku butuh waktu, ma... Menikah dengannya, itu berarti tinggal bersama dia, tidur dengan dia, dan setiap hari melihat dia, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi... Aku belum siap, ma... "
" Divya... Maafin mama. Maafin mama ya... "
" Bukan itu maksud aku, ma... Aku... "
" Seharusnya mama nggak bawa-bawa kamu dalam masalah mama ini. Kamu sudah terlalu menderita, mama malah... "
" Mama... Udah ah. Nggak mau bahas ini lagi. "
" Baiklah... Yang penting kebahagiaan mu, Divy... "
" Makasih ma... "
Dan obrolan pun berlanjut dengan cerita ibu dan anak tentang yang lain.
Aditya meninggalkan Divya dengan handphone nya. Ia memilih ke ruang tengah dan menyalakan televisi.
Tanpa memilih saluran yang ditonton nya, Aditya duduk di sofa dan merebahkan dirinya, berusaha santai.
Aku yakin... Divya pasti kesulitan sebenarnya.
Aku perhatiin... kayaknya Divya masih ada rasa trauma pada Arga tapi di sisi lain, dia juga merasa nyaman.
Mungkin karena Arga lah yang pertama menyakitinya dan juga bisa membuatnya bahagia secara bersamaan waktu itu.
Tapi banyak pertimbangan pada diri Divya tentang rencana selanjutnya, yaitu membuat Arga menikahinya.
Aku masih bisa memakluminya, masih ngerti gimana perasaannya.
Mama juga pasti nggak akan maksain kalo Divya menolak melanjutkan rencana itu.
Biarpun aku akui, dengan pernikahan itu, semua akan berjalan semakin mudah.
Semoga Arga bisa meluluhkan hati Divya...
Eh iya, bukankah perasaan trauma itu bisa juga disembuhkan dari akar trauma itu sendiri ?
Divya trauma karena Arga, jadi Arga lah yang bisa bikin Divya kembali baik-baik saja...
Apa sebaiknya aku bantu Arga ya ?
Arga terlalu lambat... wajar sih.
Kalo terlalu agresif, yang ada Divya bisa langsung menjauh sejauh-jauhnya.
Padahal sudah sebulan ini mereka sering jalan bareng, tapi aku nggak ngeliat ada kemajuan apa-apa.
Divya biasa saja, nggak ada curhat tentang Arga, nggak ada cerita bagaimana perlakuan Arga padanya. Bahkan dia pernah bawa pulang beberapa hadiah dari Arga, tapi saat kutanya, reaksinya cuma datar-datar aja dan nggak ada kisah lanjutannya...
Apa nggak ada sesuatu dari Arga yang bisa bikin Divya merasa terharu atau apa gitu...
Masa sih...
Dari cerita Arga, dia sering mengajak Divya ke tempat-tempat yang dulu sering mereka kunjungi saat Divya adalah Qirani.
Masa iya, Divya nggak tergugah sedikitpun perjuangan Arga mengejarnya ?
Padahal bagiku, perjuangan Arga itu cukup keras juga...
Aditya bergerak, meluruskan tubuhnya yang sebelumnya rebahan dengan posisi miring menghadap ke televisi, kini menghadap lurus ke atas.
Kedua tangannya menopang kepalanya, dan ia menatap langit-langit ruangan dengan serius, ditandai dengan keningnya yang mulai berlipat-lipat.
Tunggu dulu...
Divya itu kan jago akting.
Selama ini, dia bisa dengan mudah berperan ganda di hadapan Arga.
Dia juga bisa menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya, bisa jadi sebenarnya apa yang dia perlihatkan bukanlah yang sebenarnya...
Nggak ada yang tau kan isi hati seseorang ?
Kalo dengar kisah mereka dari cerita Arga, Divya sebelumnya terpaksa tapi lama-lama dia berubah menerima Arga sepenuhnya.
Dan cerita itu juga cocok dengan penyelidikanku.
Seharusnya... Divya punya perasaan juga kan ke Arga.
Oh iya !
__ADS_1
Hampir aku lupa...
" Aku harus pastiin... "
Dan Aditya langsung bangun dari rebahannya, setengah berlari menuju kamar Divya.
" Nih, handphone nya. "
Kata Qirani begitu melihat kakaknya yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
" Div... aku punya sesuatu buatmu. "
Kata Aditya dengan sikap yang misterius.
" Apa ? "
Tanya Qirani penasaran.
" Tentang Galih... Aku punya alamatnya. "
Kata Aditya sembari memperhatikan mimik wajah adiknya.
" Oh ya ? "
" Iya, aku menemukannya tadi pagi. Dan setelah aku cek, itu benar alamat Galih, pacar pertamamu dulu. "
Sahut Aditya yang masih serius memperhatikan respon Qirani.
Qirani diam seribu bahasa. Ia melangkah ke sisi ranjangnya dan duduk disana. Seperti sedang memikirkan sesuatu, ia tampak serius.
Aditya mendekatinya. Mengikutinya duduk di sisi ranjang. Tepat di sebelah Qirani.
" Kamu... mau ketemu Galih ? Aku bisa atur biar ka... "
" Nggak usah, kak. Aku nggak pingin ketemu Mas Galih. Begini lebih baik. Punya jalan masing-masing. "
Sahut Qirani lirih.
" Mmm, kamu yakin ? Siapa tau kamu bisa minta penjelasan tentang kenapa dia tiba-tiba menghilang begitu saja... "
" Aku yakin, aku tau alasannya. Jadi aku nggak perlu lagi nanyain... "
Waktu itu, kalo Mas Galih memang sayang dan peduli padaku, dia nggak akan menyerah begitu saja dengan menghilang tanpa kabar apapun.
Aku mencarinya, masa iya dia nggak tau ?
Dia pasti tau, tapi dia nggak pernah menemui ku sekalipun.
Lalu, apa perlu aku tau alasannya ?
Apa memang aku butuh penjelasan darinya ?
Rasanya sudah nggak perlu lagi.
Sudah nggak penting lagi.
Biarpun aku merasa penasaran, tapi percuma...
Itu juga nggak akan mengubah apa yang sudah terjadi.
Dan perasaan ku padanya juga sudah nggak sama lagi.
Batin Qirani.
" Kalo kamu berubah pikiran, bilang saja. Okey ? "
Kata Aditya sembari melempar senyum dan mengacak halus rambut Qirani.
Qirani masih diam saat Aditya memilih keluar kamarnya.
Dalam hitungan kelima, kalo kamu nggak berubah pikiran, itu artinya apa yang kupikirkan tentang perasaanmu adalah benar...
1...
2...
3...
4...
5...
Aditya tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Fix ! Aku benar, Divya...