Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 50


__ADS_3

Menikah ?


Terlalu sering mendengar kata ini akhir-akhir ini.


Nggak di kantor nggak di apartemen dan nggak di panti asuhan.


Rasanya kupingku bisa budeg setiap denger ada yang menyebutkan satu kata ini.


Dan kali ini, aku mendengarnya kembali...


Buat kesekian kalinya, dari mulut kakak tersayang ku.


Batin Qirani, sembari menatap lekat-lekat sang kakak yang kini sedang menikmati secangkir kopi hitam manisnya.


" Kak... "


" Hemm ? "


" Gimana perkembangan perusahaan Arga ? "


" Bagus, sahamnya sudah mulai naik perlahan. Keuntungan buat perusahaan kita juga sudah mulai kelihatan. Mungkin mmmm, bulan depan kita bisa mulai menagih. "


" Oohh... Baguslah... "


" Kenapa ? "


" Nggak... "


" Apa kamu takut Arga bakal kehilangan perusahaan nya dalam waktu dekat ini ? "


" Bukan itu. "


" Tenang saja... Selama kamu belum menikah dengan Arga, kita masih bisa santai koq. Rencana akan berlanjut setelah kamu menikahinya. "


" Oohh... "


" Jadi, kapan ? "


" Entahlah. "


" Pastikan, mama nggak ingin menunggu terlalu lama. "


" Harus ya ? "


" Nggak juga sih. Tanpa kamu menikah dengan Argapun, rencana bakal tetap berlanjut. Tapiiiii... pukulan telak akan dirasakan keluarga besar Bima kalo kamu bisa menikah dengan Arga. Arga kuncinya. "


" Iya. "


" Kalo kamu nggak mau menikah dengan Arga, aku akan lakuin rencana cadangan. Menghancurkan mereka lewat orang dalam. Menikah atau nggak menikah dengan Arga, nggak akan mempengaruhi rencana mama. Ini murni urusan pribadi mama dan keluarga besar Bima. Kamu, aku dan Arga, sebagai penambah citarasa aja, sayang. "


" Aku paham. "


" Huufftthh.... Jujur, aku nggak ingin kamu terlibat, Divy. Masalahmu dengan Arga juga pastinya sudah rumit. Kalo ditambah dengan urusan antara keluarga besar begini, takutnya kamu akan semakin menderita. "


" Nggak koq... Aku ingin terlibat karena ini urusan mama. Aku anak mama, aku harus bisa bantu mama dalam segala hal. "


" Memang benar... "


" Baiklah, aku akan lanjutkan bagianku. "


" Kamu yakin ? "


" Ya... "


" Baiklah. Kalo itu memang maumu... "


Aditya bangkit dari duduknya di permadani. Qirani mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela apartemennya, menatap langit malam.


Sebelumnya, aku sangat bersemangat buat balas dendam.


Tapi makin kesini, melihat dan merasakan kepedulian Arga pada ku dan anak-anak panti asuhan, membuatku lemah.


Dari cerita bunda dan anak-anak disana, Arga sangat perhatian dan tulus, bahkan sebelum aku ada disini sekalipun.


Mama sangat penting bagiku.


Arga... entahlah.


" Ada yang melamun nih... "


Sebuah suara teguran membuat Qirani menoleh.


" Kamu ? "


Baru juga di pikirin, udah nongol aja...


Apa kakak yang mengundangnya datang ?


Qirani mendapati sosok Arga yang tampak riang mendekatinya dengan membawa sebuah bungkusan kotak lumayan besar.


" Brownies hazelnut, siapa tau kamu suka. "


Kata Arga sembari ikut duduk di permadani, berhadapan dengan Qirani, lalu menyodorkan apa yang dibawanya.


" Dia sangat suka. Tenang aja, oleh-oleh mu nggak akan terbuang sia-sia. "


Sahut Aditya sambil tertawa kecil.


" Dit, tempat mu sangat nyaman... "


Puji Doni sembari memperhatikan setiap sudut ruangan.


" Aku sangat berterimakasih pada Divya, dialah desain interiorku. "


Sahut Aditya.


" Wah, memang... Sebuah tempat tinggal itu akan terasa nyaman kalo ada sentuhan seorang wanita ya. "


Kata Doni masih berdecak kagum.


" Tapi ada juga tempat tinggal yang berantakan, biarpun yang menempatinya seorang wanita. "


Kata Indra sembari melirik ke arah Intan.


" Tapi kamu itu paling betah ngorok di rumahku ! "


Intan protes sembari mencubit lengan Indra.


" Aduh ! Sakit ! "


Keluh Indra yang tak sempat menghindar.


" Minuman segar, gengs... "

__ADS_1


Kata Aditya yang tiba-tiba sudah membawa beberapa botol minuman bersoda yang dingin dan diletakkannya di tengah-tengah permadani, dimana ada Qirani dan Arga.


" Mantul deh... "


Timpal Indra yang langsung ikut duduk di sebelah Arga, diikuti Intan dan Doni.


" Aku potong-potong dulu ya, kuenya .... "


Kata Qirani sembari berdiri, sengaja menghindari Arga yang terus menatapnya.


" Aku bantu ka... "


" Nggak usah, duduk aja disitu dan bersikaplah sebagai tamu yang sopan. "


Dengan tegas dari bicara dan tatapan mata, Qirani memotong ucapan Arga.


Kemudian, tanpa membuang waktu, Qirani memutar tubuhnya berjalan meninggalkan Arga.


Arga yang sudah berniat untuk ikut berdiri, kembali duduk bersila di permadani dengan lemas.


Indra dan Doni cukup merasa iba pada sahabatnya tersebut. Perlahan, keduanya menepuk pundak Arga dengan pelan.


" Sabarlah... Dia butuh waktu, Ga. "


Ucap Doni setengah berbisik.


" Ya ... Aku tau. "


Sahut Arga yang masih terus menatap sosok Qirani saat melangkah ke arah meja bar.


Intan menghela nafas panjang, merasa Arga tampak begitu menyedihkan dimatanya.


Arga beneran cinta mati sama cewek itu...


Adhisty nggak adapun, aku masih nggak pernah lebih dari sahabat sampai hari ini.


Tapi lebih baik begini, menjadi sahabat juga bukan sesuatu yang menyakitkan, daripada terus berharap Arga memberi ruang dihatinya buatku, itu mustahil...


Batin Intan yang tanpa disadarinya, ada sebuah senyum kecil di sudut bibirnya.


Adit juga nggak buruk koq...


Dia mungkin bisa jadi yang terbaik buatku bukan ?


Apalagi... dia kayaknya welcome denganku.


Sambung batin Intan seraya mengalihkan pandangannya pada Aditya yang sedang sibuk menyiapkan minuman untuk mereka semua.


" Apa ada sesuatu yang lucu ? "


Dengan wajah yang terlihat aneh, Indra berbisik kepada Intan.


" Iihh... bikin kaget aja ! "


Dan Intan benar-benar tersentak, membuyarkan lamunannya dan mengalihkan pandangannya ke arah sampingnya.


" Adit cool ya... Aku rasa aku juga jatuh cinta padanya. "


Kata Indra sembari tersenyum lucu dengan suara yang masih berbisik.


" Nggak lucu ! "


Umpat Intan kesal, merasa diledek.


" Hahaha....Bercanda, Intan. Sorry say, aku masih normal koq... "


" Kalian ini... Bercanda apaan sih, bisik-bisik mulu. Nih, hajar deh ! "


Kata Aditya yang mendorong nampan berisi dengan sebotol jus jeruk berukuran satu liter, beberapa gelas kosong dan beberapa botol minuman bersoda.


" Wokey ! "


Sahut Doni penuh semangat dan menjadi yang pertama mengambil satu botol minuman bersoda.


" Silahkan... "


Dan Qirani pun dengan sigapnya meletakkan dua buah piring berisi brownies yang telah dipotong-potong nya menjadi beberapa bagian.


" Nih, aku juga bawa keripik banyak... "


Intan membuka kantong belanja yang tadi dibawanya, dan benar saja, beberapa bungkus keripik dengan macam-macam varian diletakkannya di tengah-tengah mereka.


" Wah, kalo udah komplit gini, gimana kalo kita nonton film aja ? Pasti seru... "


Kata Aditya mengusulkan.


" Setuju ! "


" Oke juga tuh ! "


" Ayo, cari film horor ! "


Disambut riang oleh semuanya, Aditya pun mulai mengutak-atik kanal televisinya.


" Dit... Horor aja ! "


Kata Doni.


" Thriller bagus lah... "


Usul Intan.


" Yang mana nih ? Horor apa thriller ? "


Aditya mulai bingung memilih.


Sementara yang lain berdebat mencari film yang ingin ditonton, Arga masih terus melirik Qirani yang sibuk dengan handphone nya di sudut sofa.


Arga mengambil piring kecil dan satu garpu, kemudian memindahkan dua potong brownies ke piring kecil tersebut.


Kemudian ia berdiri perlahan, melangkah ke arah sofa tanpa membuat teman-temannya memperhatikannya.


Kini Arga duduk tepat di sebelah Qirani, masih dengan ragu-ragu mencoba untuk menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Qirani.


" Brownies ini kesukaan seseorang yang sangat penting dalam hidupku sampai hari ini... "


Kata Arga sambil memotong kecil-kecil brownies tersebut dengan garpu.


Qirani mengangkat wajahnya dari layar handphone nya, dan mendapati Arga yang sudah duduk tepat disebelahnya.


Sejak kapan dia sudah duduk di sebelahku ?


Batin Qirani keheranan.

__ADS_1


" Seseorang itu bilang, makan dengan potongan kecil-kecil rasanya lebih yummy daripada langsung melahapnya dengan potongan besar... "


Sambung Arga yang menyodorkan brownies tersebut ke arah Qirani.


" Itu bener koq... Makan dengan potongan besar jadi nggak bisa menikmati manis coklat dan lembutnya brownies itu. "


Sahut Qirani sambil menerima apa yang disodorkan Arga.


" Mmm... Seseorang itu, namanya Qirani Asha, dia... "


" Gadis panti asuhan yang selalu kamu permainkan, bukan ? Yang terus kamu lecehkan ? Yang harus menuruti apa katamu ? Yang nggak boleh bilang nggak, karena kamu nggak boleh ditolak ? Yang... "


" Kamu ? .... "


Arga tampak tercengang menatap Qirani yang terlihat membalas tatapannya dengan penuh kebencian.


" Ya, aku memang Qirani, aku ingat semuanya. Se-mu-a-nya ... "


Sahut Qirani dengan nada suara lirih tapi pedas.


" Aku suka brownies ini, suka banget... Aku bahkan menahan air liurku saat kamu menyajikannya waktu itu di kantormu. "


Sambungnya sembari menyuap sedikit demi sedikit brownies di tangannya dan terus menatap Arga yang masih tampak shock.


" Jadi selama ini kamu... "


" Ya... selama ini aku memang Qirani, tapi aku juga Divya. Aku sengaja. "


" Tapi kamu berbeda, kamu berubah. Berubah semuanya... "


" Lalu kenapa ? Kamu nggak suka dengan aku yang sekarang ? "


" Bukan... maksudku, aku... "


" Aku ingin membalasmu. Aku benci padamu. Aku bener-bener benci... "


" Aku mencarimu kemana-mana, aku... "


" Aku tau. Tapi aku memang nggak mau kembali secepat itu padamu. Aku bukan Qirani yang dulu, Kak Arga yang terhormat... "


Mendengar ucapan Qirani yang terakhir, Arga menelan ludah karena merasa kalah telak.


" Aku butuh bicara banyak denganmu sekarang ! "


Dan tanpa basa-basi, Arga menarik tangan Qirani.


" Hentikan ! "


Seru Qirani sembari menghentakkan cengkeraman tangan Arga.


Nada suara Qirani yang tinggi membuat yang lain menoleh ke arah mereka.


Aditya, Intan, Indra dan Doni menatap ke arah Arga dan Qirani yang kini tengah berdiri dan saling menatap.


" Ada apa, Ga ? "


Tanya Doni.


" Kalian berantem ? "


Tanya Indra.


" Div... "


Aditya memanggil Qirani dengan heran.


Intan tak bersuara, tapi tatapannya juga penuh pertanyaan sama dengan yang lain.


" Dit... aku butuh bicara sama Divya. Boleh ? "


Tanya Arga tanpa basa-basi lagi.


" Okey... Selama Divya juga sependapat denganmu, aku nggak akan melarang. "


Aditya menjawab pertanyaan Arga sambil melirik ke arah Qirani.


" Kita harus bicara. Ada yang perlu aku jelasin ke kamu dan itu penting. "


Arga menatap penuh harap kepada Qirani dan mencoba meminta pengertian.


" Nggak ada yang perlu dijelasin. Semua udah jelas banget koq. "


Qirani tetap pada pendiriannya.


" Kumohon... "


Arga benar-benar tampak putus asa kali ini.


" Mending kalian bicara berdua deh, biar sama-sama plong, gitu. Aku tau, aku orang luar, tapi aku ngeliat kalian saling pendam isi hati, itu juga nggak bagus kan. Bicarain semua nya, keluarin uneg-uneg kalian, dan cari solusi bersama buat masalah kalian. Itu bakal jadi lebih nyaman ke depannya, apapun keputusan kalian, paling nggak, itu keputusan kalian bersama. "


Intan mencoba menjadi penengah.


" Betul... Aku rasa Intan bener. "


Sambung Doni sembari mengangguk-angguk.


" Iya juga sih.... Daripada kalian terus-terusan mendekat menghindar, tarik ulur, dan nggak udah-udah... "


Timpal Indra ikut sependapat.


Tatapan pedas Qirani terhadap Arga melemah. Mendapat nasihat dari yang lainnya seperti itu, Qiranipun mencoba berbuat bijak, menghargai pendapat orang di sekitarnya.


" Baiklah... Aku akan ikuti apa maumu. "


Kata Qirani akhirnya memutuskan.


Dan yang lain pun kompak tersenyum lega mendengar keputusan Qirani.


" Ayo, kita bicara di kamarku... "


Ajak Qirani seraya berjalan mendahului Arga setelah melepaskan cengkeraman tangan Arga terlebih dahulu.


Penuh senyum, Arga mengikutinya, diikuti pula pandangan teman-temannya dan juga Aditya.


Tanpa menunggu Arga dan Qirani masuk ke dalam kamar Qirani, kembali yang lain fokus kepada tontonan yang sempat terganggu sebelumnya.


Baguslah...


Semakin cepat Divya mengambil keputusan, semakin cepat rencana selanjutnya dimulai...


Batin Aditya dengan senyum licik di sudut bibirnya.


Kenapa senyum Adit tampak aneh ya...

__ADS_1


Aku ngerasa, Adit koq mencurigakan ?


Batin Intan yang tanpa sengaja menatap Aditya dan mendapati senyuman Aditya yang terlihat hanya sesaat itu.


__ADS_2