
SATU MINGGU BERLALU
Minggu Kedua
" Pagi... "
Ucap Arga saat melihat Qirani membuka matanya.
Qirani menatapnya dengan ragu. Wajah Arga begitu dekat. Entah bagaimana, kepalanya berada pada lengan Arga. Dan mereka juga dalam satu selimut yang sama.
" Apa yang kamu lakuin ?! "
Serunya dengan cepat langsung menarik diri, menjauh.
" Cuma nungguin kamu membuka mata. Aku mau, akulah yang pertama yang kamu lihat saat bangun tidur. "
Jawab Arga sembari tersenyum.
Arga beringsut bangun dan duduk di atas tempat tidur. Menggerakkan lengannya yang kebas karena kesemutan.
Qirani beranjak duduk pula. Melihat ke sekeliling lalu menatap ke arah tubuhnya sendiri.
" Gulingnya ada di lantai. Sengaja. Tenang, aku kan udah bilang, aku nggak akan memaksamu. "
Seperti paham apa yang terjadi, Arga memberi penjelasan.
Qirani tampak bernafas lega. Lalu ia turun dari tempat tidur. Sebelum berdiri, ia menoleh ke belakang, menatap ke arah Arga.
" Jangan coba-coba lagi membuang guling nya ! "
Kata Qirani dengan galak.
" Oke... "
Jawab Arga sambil tersenyum.
Minggu Ketiga
" Pagi... "
Kata Arga, begitu Qirani membuka matanya.
" Kamu ! "
Qirani langsung beringsut duduk, bangun dari tempat tidur dan melotot ke arah Arga.
" Pegel banget... Kesemutan. "
Keluh Arga seraya beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi.
" Aku kan sudah bilang, jangan buang gulingnya ! "
Seru Qirani, saat melihat ke lantai, menemukan sebuah guling yang tergeletak asal.
" Oh, iya... Aku lupa. "
Jawab Arga tanpa menoleh.
Minggu Keempat
" Pagi... "
BUUGGG !!!
" Aduh ! "
Sapaan selamat pagi Arga langsung dibalas oleh Qirani dengan memukul wajahnya menggunakan bantal.
" Aku bilang buat yang terakhir ! Jangan memindahkan guling itu ! "
Kata Qirani kesal setengah mati.
" Ya... Oke. "
Sahut Arga dengan wajah yang ceria.
" Awas ! Kamu ngelakuin kayak gini lagi, mending tidur di luar ! "
Ancam Qirani.
" Baik, nyonya Arga... "
Kata Arga sembari menundukkan kepalanya.
Minggu Kelima
Qirani mengedipkan matanya beberapa kali. Kemudian dibukanya lebar-lebar. Tampak langit-langit kamar terlihat jelas dalam pandangannya.
Syukurlah...
Dia nggak...
" Segitu senengnya nggak aku sapa ya ? "
Eehh...
Qirani menoleh ke sisinya. Arga sedang tersenyum lebar ke arahnya dengan satu tangannya menyangga kepalanya, menghadap ke arahnya.
Tubuh keduanya begitu dekat dan dalam satu selimut yang sama. Guling yang selalu diletakkan oleh Qirani sebagai penjaga jarak di antara mereka, tak terlihat.
Keras kepala !
Batin Qirani kesal.
Sambil menghela nafas, Qirani bangun dari tidurnya. Dan tanpa mempedulikan Arga yang masih tersenyum menatapnya, Qirani turun dari tempat tidurnya.
Nggak marah lagi ?!
Nggak ada ekspresi apa-apa ???
Diem gitu aja...
Apa dia menyerah ?
Apa dia nggak masalah lagi ?
Kata Arga dalam hati, keheranan.
Qirani melangkah masuk ke kamar mandi. Arga menatap sosoknya yang menghilang dari balik pintu kamar mandi dengan kebingungan.
__ADS_1
Minggu Keenam
" Pagi... "
Sapa Arga begitu Qirani membuka matanya lebar-lebar.
Qirani tak menggubrisnya. Hanya diam dan bangun begitu saja. Dan bak robot yang sudah disetting sedemikian rupa, Qirani melangkah ke arah kamar mandi.
Senyum Arga yang sebelumnya mengembang menyambut bangunnya Qirani, menghilang.
Kali ini bersikap cuek...
Sengaja ?
Atau emang nggak peduli ?
Batin Arga, agak kecewa.
Ah, nggak seru...
Kalo dia nggak anggap aku ada, jadi kayak hidup bareng patung dong !
Harus cari cara lain, biar ada interaksi sama dia...
Arga menatap sosok Qirani yang mulai memasuki kamar mandi dengan langkah gontai.
Setiap pagi bikin aku kesel aja.
Kalo aku menanggapinya terus, dia bakalan selalu ganggu pagi hariku.
Sapaan, senyumnya yang lebar, apa dia pikir, cara itu bakal bikin aku luluh ?
Aku bukan cewek yang gampang terpikat cuma karena sesuatu yang romantis.
Kita liat aja, mau sampai kapan kamu berusaha ?
Batin Qirani, dengan senyum kecil di sudut bibirnya.
Minggu Ketujuh
Qirani membuka matanya lebar-lebar. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan waspada. Kemudian menoleh ke sisinya dengan hati-hati.
Nggak ada ?!
Apa dia menyerah ?!
Huh, usahanya bener-bener picisan.
Cuma segitu doang...
Baguslah, jadi tau diri.
Batin Qirani saat mendapati hanya dirinya saja yang masih berada di tempat tidur.
Kemudian, ia bangun dan melihat ke sekeliling ruangan. Arga tak nampak sebatang hidungpun.
Dan seperti biasa, ia berniat melangkah menuju ke arah kamar mandi. Tapi belum sampai Qirani melangkahkan kakinya, ia terperanjat.
Di lantai penuh dengan taburan bunga mawar merah yang tampak segar. Seperti bunga yang baru saja dipetik.
Qirani berjongkok, memungut beberapa kuntum bunga mawar tersebut. Lalu mencium bunga mawar tersebut.
Jam berapa ia bangun dan ngelakuin ini semua ?
Beneran berusaha dengan keras...
Batin Qirani.
Senyumnya mengembang. Merasa begitu diperhatikan, Qirani tampak terharu.
Eeiittss !!!
Tunggu dulu...
Kenapa baru segini aja aku udah tersentuh ?
Nggak segampang itu !
Mendadak, senyumnya menghilang. Wajahnya kini tampak serius. Dan dengan acuh tak acuh, Qirani menuju kamar mandi.
Minggu kedelapan
Qirani bangun dari tidurnya dengan tenang. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tak ada sosok Arga. Tak ada taburan bunga di lantai.
Ia pun beranjak turun dari tempat tidurnya. Berjalan dengan santai menuju kamar mandi.
Nggak ada apa-apa ?
Nggak berusaha lagikah ?
Cuma segitu aja ???
Batinnya dengan rasa kecewa yang terpancar dari wajahnya yang cantik alami, bahkan setelah bangun tidur.
Lho...
Apa yang ada di otak ku ?
Berharap yang nggak-nggak aja...
Batinnya lagi.
Tapi, Qirani terkejut saat memasuki kamar mandi. Di bathtube, penuh dengan berbagai macam bunga. Berwarna-warni dan sangat wangi.
Berendam di dalam air hangat penuh dengan bunga...
Boleh juga !
Kupikir, udah nyerah.
Ternyata, masih usaha juga...
Apa dia beneran serius cinta padaku ?
Qirani memang penasaran, namun ia tak lagi ingin memikirkannya lebih lanjut. Dengan penuh semangat, iapun mulai masuk ke bathtube dan menikmati berendam disana.
Minggu Kesembilan
Apa ini ?...
__ADS_1
Tanya Qirani dalam hati.
Ia mendapati di sisi tempat tidurnya, terlihat sebuah meja kecil dengan sepiring kue brownies hazelnut kesukaannya dan segelas susu coklat hangat, di atasnya.
Qirani menarik tubuhnya dan mendekat. Selembar kertas berwarna merah muda terselip di kaki gelas susu tersebut.
Qirani mengambilnya dan membacanya dalam hati.
Selamat pagi, cantik.
Jangan lupa diabisin ya sarapannya...
Love you, Arga
" Cara yang baru lagi... "
Gumam Qirani dengan senyum kecil di bibirnya.
Sementara Qirani menikmati sarapannya dengan senang, berbeda dengan Arga yang tampak manyun di kantornya.
Indra memperhatikan setiap gerak gerik Arga yang tak bisa tenang. Sedikit-sedikit bangun, lalu duduk kembali. Tak lama kemudian, berjalan mondar-mandir, lalu diam bak patung, berpikir dengan serius.
" Ada apa sih ? "
Tanya Indra akhirnya. Penasaran.
" Berapa lama aku menikah ? "
Bukannya menjawab, Arga balik bertanya.
" Dua bulan lebih... "
" Dua bulan lebih ! Lihat, udah dua bulan lebih aku menikah, tapi Qirani nggak pernah sedikitpun peduli padaku ! "
" Maksudmu ? "
" Setiap hari... Setiap hari aku mencoba segala cara, biar dia bicara padaku. Tapi nggak ada yang berhasil ! Dia tetap dingin, cuek, jutek, dan seolah-olah aku ini nggak ada ! "
" Oh... "
" Aku mencoba menarik perhatiannya, aku cuma mau, dia jangan terlalu dingin begitu. Kita kan udah nikah, masa iya mau kayak patung terus begitu ?! "
" Oh... "
" Dia nggak suka sapaanku, oke. Aku ganti dengan banyak bunga, setiap dia bangun, tetep dia nggak ada reaksi apa-apa. Aku coba membuatnya nyaman saat dia mandi, tetap saja, dia nggak ada kata terimakasih kek, senyum kek... Parah... parah ! "
" Oh... "
" Minggu ini, aku bela-belain siapin kue brownies buat sarapan dia. Kuenya selalu habis. Tapi dia masih nggak mau bicara sepatah katapun padaku. "
" Mmm... "
" Aku bisa gila ! Statusku beristri tapi hidupku lebih-lebih dari jomblo ! "
" Mmm... "
" Aku bingung, koq dia bisa ya ngejalani hidup monoton begitu. Bangun tidur, mandi, kerja, pulang, mandi, tidur. Nggaaaakkk pernah sekalipun, berbicara padaku. Kecuali aku bertanya, dia baru menjawab. Itu juga singkat banget ! Udah mandi ? Udah. Udah makan ? Udah. Sekali-kali gantian dong bertanya balik. Huh !! "
" Oh... "
" Apa mau seumur hidup kayak gitu ??? Gimana aku bisa punya anak ? "
" Mmm... "
" Kamu ini ! Cuma oh mm oh mm doang ! Kasih aku solusi atau gimana gitu ! "
Arga memprotes Indra dengan kesal.
" Nih... Kopi mu keburu dingin. Minum dulu, biar otakmu nggak konslet. "
Kata Indra sembari menyodorkan cangkir kopi milik Arga di atas meja kerja Arga.
Arga yang sedari tadi mengoceh sambil mondar-mandir, kini duduk di kursi kerjanya. Sesuai dengan perkataan Indra, kopinya tak lagi panas saat diseruputnya.
" Soal nyonya Arga Ekadanta. Siapa yang mau menikah duluan ? "
Indra memulai percakapan saat melihat Arga yang mulai tenang.
" Aku. "
" Nah... Seharusnya kamu nggak perlu marah-marah kayak tadi. Pernikahan ini, dengan segala resikonya, kamu paling paham. Dan kamu bilang, kamu siap. Jadi... Apa yang kamu harapkan ? Kamu cuma bikin dirimu galau nggak pada tempatnya. "
Kata Indra mencoba memahami Arga.
Apa yang diucapkan Indra, membuat Arga termenung. Ia mulai memikirkannya secara perlahan. Ditatapnya Indra. Indra mengangkat satu alisnya sembari tersenyum.
" Bener nggak ? "
Tanya Indra.
Arga menganggukkan kepalanya perlahan. Mengakui apa yang dikatakan Indra memang benar adanya.
" Qirani, dia itu berbeda. Bukan lagi anak SMK yang kamu intimidasi langsung ketakutan dan menurut. "
" Sifatnya, aku nggak tau apa berubah apa nggak. Tapi dilihat dari sikapnya, dia sangat sangat sangat berbeda. "
Indra berdiri dan melangkah mendekati kursi kerja Arga. Dengan santai, ia duduk di pegangan kursi tersebut. Arga melihat ke arahnya sembari memangku dagunya di atas meja.
" Qirani yang ini, Divya Naura. Tegas, disiplin, pinter berantem, tipe wanita karir yang mandiri dan kaya raya. Dia nggak akan mudah dirayu. Nggak mudah diintimidasi. "
" Kamu kasih dia permata, dia sanggup beli dan aku yakin, dia pasti punya juga. Uang ? Jangan ditanya. Bukankan Grup Ekajaya masih berhutang pada Grup Paradise ? Jadi, Ga... Berhentilah mencari perhatian nya. Bersyukur saja, biarpun pernikahan ini karena terpaksa, paling nggak, keinginanmu ini terwujud. "
Sambung Indra.
So far... Indra emang bener.
Tapi, mana bisa aku pertahanin pernikahan kalo nggak ada saling cinta ?
Dan pastinya aku juga nggak akan menceraikan Qirani.
Aku tau, keinginan terbesarku, menikahi nya emang terwujud.
Tapi aku mau dia juga bisa membalas cintaku.
Serakah ?
Ya, aku mulai serakah !
Dan aku akan tetap berusaha ngelakuin apapun buat dapetin Qirani seutuhnya.
__ADS_1
Jadi milikku jiwa dan raganya !