Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 47


__ADS_3

" Ayo, turun. Kita sudah sampai. "


Ajak Arga sembari membukakan pintu mobil untuk Qirani.


" Kenapa harus kesini ? "


Tanya Qirani dengan ekspresi tidak nyaman saat ia keluar dari mobil.


Arga hanya tersenyum dan kemudian membuka pintu mobil bagian belakang.


" Cuma main aja koq. Dan juga ngasih kado buat bunda. Mmm.... apa kamu merasa risih ketemu anak-anak panti asuhan ? "


Kata Arga sambil menaikkan satu alisnya ke atas saat menoleh ke arah Qirani yang sudah berdiri disisinya.


" Apa maksudmu bicara kayak gitu ? "


Qirani tersinggung sembari melirik ke dalam mobil bagian belakang.


" Aku tau, ada beberapa orang yang ngerasa panti asuhan itu tempat nya anak-anak menyedihkan yang nggak seharusnya dianggap ada. Anak-anak yang... "


" Bicara apa kamu ? Aku bukan orang yang suka menghina kondisi orang lain. Kalo itu maksud mu bicara berbelit-belit padaku tadi, kamu sa-lah ! "


Kata Qirani mulai kesal.


" Okey... Aku tau kamu bukan orang kayak gitu. Nah, sekarang, tolong bawain ini... "


Sahut Arga.


Kemudian Arga menyerahkan sebuah kotak besar yang berisi kue ulang tahun. Qirani menerimanya dengan kedua tangannya. Arga sendiri mengambil sebuah bungkusan bulat yang terhias cantik dengan pita yang besar.


" Ayo, kita masuk... "


Ajak Arga lalu mendahuluinya berjalan di depan masuk ke halaman Panti Asuhan Mentari Pagi.


Dengan penuh kecemasan, Qirani mengikuti langkah Arga. Berjalan di belakang Arga dan menatap punggung sosok laki-laki di hadapannya, untuk sesaat Qirani teringat masa lalunya.


Punggungnya yang lebar...


Saat berada di pelukannya dulu, selalu ada rasa campur aduk.


Rasa takut kalo dia akan ngelakuin hal-hal yang aku nggak suka.


Dan juga rasa nyaman dan tenang dilindungi olehnya.


Dia dulu selalu berbuat semaunya.


Nggak pernah mau dengar kata 'tidak' dan sikap penolakan.


Selalu mau diutamain, didengar, dan dituruti... sikap manjanya, kayak anak-anak kurang kasih sayang.


Aku... entah kenapa, lama-lama terbiasa dengan sikap ajaibnya itu.


Sikap kekanakannya jauh berbeda dengan sikap dewasa Mas Galih...


Mas Galih...


Ya, Mas Galih ya...


Gimana dia kabarnya sekarang ?


Apa dia beneran lupain aku ?


Dia yang sangat dewasa, membuat ku selalu bahagia dan tersenyum.


Lalu sejak kejadian memalukan malam itu, dia menghilang...


Aku nggak bisa menemuinya lagi.


Malah tau-tau dikasih kabar, Mas Galih pindah rumah, pindah kampus, pindah keluar kota.


Ternyata pengaruh Arga ini cukup besar, bisa bikin seseorang menghilang begitu saja.


Waktu itu, selama berpacaran dengan Arga ini, aku nggak pernah tau siapa dan bagaimana keluarga Arga.


Aku cuma tau, dia anak orang kaya di kota ini.


Siapa sangka, dia adalah pewaris tunggal dari perusahan property dan perhotelan terbesar di negara ini.


Keluarganya donatur terbesar di beberapa kampus dan sekolahan.


Ditambah hubungan dekat keluarganya dengan beberapa pejabat militer dan juga kedokteran.


Benar-benar keluarga yang tidak bisa dipandang sebelah mata.


Tapi... keluargaku juga tak kalah hebat.


Mama memiliki banyak koneksi diantara mereka yang dekat dengan keluarga Arga.


Itulah kenapa mama bisa menghilang selama ini tanpa bisa ditemukan.


Dan itu juga yang membuatku aman selama di Inggris tanpa bisa diketahui Arga.


Jadi seharusnya... saat ini aku dan Arga se...


" Hei... Melamun sih ? "


Tanya Arga sembari menyenggol lengan Qirani beberapa kali.

__ADS_1


" Ah... Sorry... "


Sahutnya tersentak sesaat, dan lamunannya buyar.


Tak disangkanya, ia sudah berada di ruang tamu dan sedang ditatap oleh beberapa anak muda dengan usia di bawahnya. Tatapan mereka tampak berbinar dan senang. Membuatnya salah tingkah.


Luki... udah jadi perjaka, ganteng juga.


Lina, makin manis tapi masih aja tomboi.


Beberapa anak kecil ini, kayaknya aku nggak pernah liat...


Apa mereka keluarga yang baru ?


Keliatan sangat lucu dan manis...


" Ini kak Qi... Divya ? "


Tanya Lina dengan wajah yang takjub.


Tuh kan...


Lina aja hampir menyebutnya Qirani.


Batin Arga.


" Iya, dia Divya... "


Jawab Arga singkat.


" Hallo... "


Qirani mengulurkan tangan ke arah Lina. Lina menyambutnya, menjabat tangannya. Bibir Lina bergetar, menahan tangis.


Kalo nggak ada kak Arga, aku akan peluk kamu sambil nangis sekencang-kencangnya saking sedih campur bahagia, ketemu kamu lagi, kak Qiran...


Batin Lina sedih bercampur senang.


Lina kayak menahan tangis...


Pasti dia udah dikasih tau Bunda tentang aku, tapi dia bisa menahan diri begini...


Apa Bunda sudah kasih tau dia soal kedatanganku pagi ini bareng Arga !


Tapi memangnya Bunda juga tau soal ini ?


Batin Qirani dengan sedikit penasaran, tapi senyumnya mengembang di bibirnya.


Dan juga hal yang sama terjadi pada saat Qirani bersalaman dengan Luki. Luki memang tersenyum menatap Qirani, tapi mata Luki terlihat sedikit berkaca-kaca.


" Waduh, bunda benar-benar dapet kejutan yang luar biasa tahun ini... "


" Bunda, selamat ulang tahun ya... "


Arga langsung bangun berdiri dan menyambut Bu Rima dengan tangan yang terulur.


" Arga, Arga... Kamu ini, selalu repot-repot kayak gini... "


Ucap Bu Rima penuh haru dan membalas jabat tangan Arga dengan pelukan.


Dengan posisi Arga yang sedang dipeluk Bu Rima, membuat Arga membelakangi Qirani, Bu Rima mengerlingkan mata ke arah Qirani. Qirani tersenyum kecil, paham akan arti kerlingan mata Bu Rima.


Pasti Kak Adit...


Syukurlah !!!


Batin Qirani yang akhirnya merasa lega.


" Biasanya kirim kue dan hadiah lewat kurir. Sekarang sempat datang kesini, padahal kamu ini sibuk... "


Ucap Bu Rima sambil melepas pelukannya kepada Arga.


" Ada yang mau saya kenalin ke Bunda. "


Kata Arga yang langsung pada intinya.


" Ini... "


Sambung Arga yang langsung mengarahkan Bu Rima untuk berpaling ke arah Qirani.


" I-ini... ? "


Bu Rima berpura-pura terkejut.


" Divya... Divya Naura. Teman kerja saya, Bunda. "


Jawab Arga sambil memperhatikan mimik wajah Bu Rima.


Bunda juga kaget...


Batin Arga.


" Saya Divya... Salam kenal, Bu. "


Kata Qirani sembari tersenyum, dan mengulurkan tangan ingin berjabat tangan dengan Bu Rima.


" Oh, Divya... Oh, iya ya... Salam kenal juga. "

__ADS_1


Sahut Bu Rima, dan memilih memeluk Qirani dengan cepat.


Anak ini...


Ya Allah... sungguh mukjizat.


Sekarang lihat dia.


Sungguh cantik, benar-benar cantik, semakin cantik...


Citra benar-benar bisa merawatnya dengan sangat baik.


Citra benar-benar mengubahnya menjadi berbeda.


Aku sangat bersyukur, Ya Allah...


" Cantik sekali kamu sekarang... "


Bisik Bunda dengan hati-hati tepat di telinga Qirani.


Aroma tubuh Bunda... nggak berubah.


Aroma yang sama, wangi nya selalu membuatku tenang dalam keadaan apapun.


Aku bener-bener kangen...


Sudah dua bulan di kota yang sama, tapi baru kali ini aku bertemu dan memeluk Bunda seerat ini.


Kalo nggak lagi punya urusan besar, rasanya dari pertama kali datang ke Indonesia, pingin langsung kesini dan tinggal lagi disini...


Kayaknya aku harus berterimakasih pada Arga.


" Maaf... Maaf... Bunda nggak bisa mengendalikan diri. Maaf ya... main peluk begitu saja, menganggapnya seseorang yang lain. Maaf... "


Kata Bu Rima, demi menghindari kecurigaan yang timbul nantinya dari Arga.


Tetapi Arga malah tersenyum. Merasa apa yang diucapkan Bu Rima adalah apa yang ia harapkan untuk didengarnya.


Diliriknya Qirani sekilas dan Arga merasa makin senang saat melihat mata Qirani berkaca-kaca.


Langkah yang kuambil ini kayaknya nggak salah...


Divya kayak mau nangis.


Pasti dia ngerasa ada sesuatu bukan dengan Bunda.


Tapi karena dia hilang ingatan, dia pastinya juga bingung...


Batin Arga.


" Ternyata nggak cuma aku yang menganggap mu seseorang yang lain... "


Bisik Arga kepada Qirani.


Qirani menoleh dan melihat ke arah Arga dengan tatapan yang kesal. Namun Arga membalasnya dengan kedipan mata dan senyum di sudut bibirnya.


" Duduk... Duduk lah dulu. Icha, tolong bikin teh manis buat kakak-kakakmu ini. "


Kata Bu Rima.


Tanpa menjawab, Lina pun berjalan masuk ke ruang dalam. Luki dan beberapa anak-anak kecil disitu melihat dengan penasasaran ke arah sebuah kotak besar yang tergeletak di atas meja di hadapan mereka.


" Kamu bawa seorang gadis kesini setelah sekian tahun menunggu. Apa kamu sudah bisa melepaskannya ? "


Tanya Bu Rima dengan tenang sembari mengalihkan pandangan tepat ke arah Arga.


" Kayaknya... Bunda buka dulu kuenya. Anak-anak sudah pada nungguin tuh... "


Kata Arga mengalihkan pembicaraan, dan melirik ke anak-anak yang duduk berjajar di sofa panjang di antara dirinya duduk dan Bu Rima duduk.


" Ah iya... Ayo, kita lihat, apa ya isinya. "


Kata Bu Rima menimpali Arga.


Arga merogoh kantongnya, mengeluarkan sebuah korek api. Begitu Bu Rima membuka penutup kotak besar itu, Arga segera menyalakan api, membakar ujung lilin yang berbentuk angka empat puluh enam tersebut.


Anak-anak bersorak kegirangan. Serempak meminta Bu Rima untuk segera meniup lilin ulangtahun tersebut.


Qirani merasa ada yang terasa panas di kedua matanya. Segera ia menengadahkan wajahnya ke atas, demi menahan tetes airmata yang hampir mengalir.


Arga yang ikut bersorak seperti yang lain, menoleh ke arah Qirani dan tawa serunya seketika hilang saat mendapati Qirani yang tengah mendongak ke atas. Arga merasa penasaran.


Setelah merasa bisa mengendalikan emosinya, Qirani menurunkan wajahnya dan seperti seseorang yang tertangkap basah melakukan kesalahan, Qirani tampak terkejut melihat Arga yang tengah memergokinya.


" Apa yang terjadi ? Kenapa ka... "


" Lihat, Ibu itu mau meniup lilinnya... "


Qirani segera mengalihkan perhatian Arga ke arah Bu Rima yang memang sedang bersiap untuk meniup lilin.


Ibu itu...


Dia menyebut bunda, ibu itu ?


Kayaknya masih belum bisa bikin dia ingat sesuatu.


Aku pikir, dia menahan tangis karena ada yang diingatnya...

__ADS_1


Batin Arga dengan kecewa.


__ADS_2