Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 61


__ADS_3

Bu Citra menatap Qirani dengan lembut. Penuh kasih sayang, ia membelai putrinya itu. Qirani tersenyum senang.


" Maafin mama ya, sayang... "


Ucap Bu Citra dengan wajah sedih.


" Ma... Mama nggak punya salah koq. Kenapa harus minta maaf ? "


" Tapi ini pernikahanmu. Mama merasa bersalah. "


Qirani menggenggam kedua tangan ibunya dengan erat.


" Ma... Pernikahan ini nggak berarti apa-apa buat aku. Mama yang terpenting, mama yang utama. Jadi, mama nggak perlu merasa bersalah. Merekalah yang seharusnya minta maaf kepada mama. Merekalah yang harusnya merasa bersalah, bukan mama. "


Kata Qirani menenangkan hati sang ibu.


Bu Citra mengusap pipi Qirani dengan hangat dan memeluk anaknya itu.


" Mama bersyukur... Kamu benar-benar penuh pengertian. Mama akan cariin suami yang lebih baik lagi dari anaknya Bima. "


Bisik Bu Citra di telinga Qirani.


Secepat itu pingin cariin pengganti Arga ?


Apa segampang itu aku bisa berpindah ke lain hati setelah pisah nanti ?


Kata Qirani dalam hati.


Bu Citra melepaskan pelukannya. Mengusap bahu Qirani beberapa kali dengan perlahan.


" Adit dan kamu, benar-benar membuat mama bangga. Mama akan tenang meninggalkan kalian berdua nantinya. Mama bahagia memiliki kalian. Mama bahagia. "


" Aku juga ma... Aku sangat bahagia berkumpul bersama mama dan kak Adit. Aku sangat bersyukur. "


" Siapkan surat perceraianmu. Sudah waktunya mengakhiri semua ini. "


Kata Bu Citra dengan tenang, tapi cukup membuat Qirani tersentak.


" Ada apa ? Kenapa kamu koq kaget gitu ? Apa ada masalah ? "


Tanya Bu Citra melihat wajah Qirani yang seketika tampak tegang.


" Ah, nggak ma, nggak ada apa-apa. "


Qirani segera menguasai diri, memaksakan diri untuk tersenyum dan bersikap sewajarnya.


" Oh, oke kalo emang nggak ada apa-apa. Mama kira, kamu belum siap. Takutnya kamu mulai menyukai suami mu itu dan keberatan dengan perceraian. "


" Ah, mama terlalu banyak berpikir. Nggak koq. Nggak kayak gitu. Besok pagi, kalo emang mama mau, aku akan daftarin perceraian ke Pengadilan Agama. "


Sahut Qirani, mencoba meyakinkan ibunya.


" Kamu ini... Nggak perlu besok pagi juga. Tunggu kabar dari mama. Barulah kamu ajukan perceraian. "


" Oh... "


" Ada beberapa hal yang perlu mama siapkan. "


" Baiklah, aku tunggu kabar dari mama kapan saja. "


" Makasih ya sayang... "


Qirani melempar senyumnya seriang mungkin demi membalas ucapan sang ibu.


" Pulanglah... Sudah malam. Steve akan antar kamu pulang. Sebenarnya mama ingin kamu menginap, tapi takutnya suami mu curiga. "


" Biarin aja, ma... Kami juga nggak terlalu dekat. Kayaknya dia juga nggak akan nyariin. Aku nggak pernah kasih dia kesempatan buat deketin aku. "


" Mmm... betul juga. Tapi janganlah. Mama nggak mau, Arga merasa curiga dan waspada. "


" Baiklah. Aku akan pulang saja... "


" Oh iya, ada yang mama ingin tanyain. Soal kakakmu. Akhir-akhir ini apa sedang sibuk atau gimana ? Sering banget telat membalas chat atau mengangkat telepon dari mama. "


" Entahlah. Aku juga bingung sama kak Adit. Beberapa kali ke apartemennya, nggak pernah ada. Di kantor juga jarang banget ketemu. Kata Bu Anisa, kakak sering pergi keluar dengan alasan menemui klien. "


" Malah sudah ada satu minggu ini, aku nggak ngeliat dan nggak ketemu kakak sama sekali. "


" Apa yang dilakukan anak itu ? Benar-benar bikin mama kuatir. Kejadian yang lalu aja, kita masih belum sepenuhnya tau apa yang terjadi. Kamu nggak tau apa-apa soal penganiayaan yang dia lakukan itu ? "


" Kakak nggak pernah mau cerita apa-apa. Cuma selalu bilang, efek mabuk doang. Korbannya juga nggak memperpanjang masalah itu. Entah karena tekanan dari Arga atau emang tau, dengan siapa dia berurusan. "


" Mmm, kamu pernah ketemu dengan korbannya ? "


Tanya Bu Citra yang merasa mulai penasaran.


" Kayaknya... Ah, iya ! Di rumah sakit, ma... "


Qirani mencoba mengingat.

__ADS_1


" Namanya... Hadi ? Hamdi ? Handi ?... Apa ya... Bapak-bapak gitu sih, ma. Aku lupa namanya. Cuma kayak gitu itu kedengerannya. "


" Ah... "


" Nanti aku coba gali lebih banyak lagi buat mama soal hal itu. "


" Nggak usah. Biarin saja. Kalo Adit nggak mau cerita, atau dia emang nggak ada cerita apa-apa, itu juga berarti bukan sesuatu yang perlu dicaritau. Mungkin bukan sesuatu yang penting. Sesuai kata Adit, efek mabuk. "


" Ya, ma. Okey... aku pulang sekarang ya, ma. "


Dan Qirani pun menutup obrolan mereka.


" Ya, hati-hati di jalan ya. "


" Ya, ma. "


Qirani memeluk ibunya sesaat, kemudian beranjak dari sisi sang ibu. Dengan langkahnya yang santai, Qirani melangkah meninggalkan kamar Bu Citra.


" Sudah mau pulang, sayang ? "


Tegur Bu Rima saat melihat Qirani sedang menutup pintu kamar.


" Iya, bun. Sudah malam. "


Sahut Qirani yang langsung memeluk lengan Bu Rima.


" Nggak nginep aja ? "


Tanya Bu Rima sembari berjalan berdampingan dengan Qirani menuju keluar rumah.


" Mama bilang, takut Arga curiga. "


" Kenapa begitu ? "


" Mama punya pemikirannya sendiri. "


" Ah, iya... "


" Yang lain, sudah pada tidur ? "


Tanya Qirani mengalihkan pembicaraan, seraya celingukan.


" Ya, tinggal Lina yang belum tidur. Tuh... "


Kata Bu Rima sambil mengarahkan telunjuknya ke arah serambi depan.


Benar saja, Lina ada disana. Sibuk dengan handphonenya.


Panggil Bu Rima, begitu berada di halaman.


" Sudah, bun. Biarin saja. "


Kata Qirani.


Namun, Lina sudah berlari menghampiri. Wajahnya nampak sumringah melihat Qirani.


" Kakak nggak nginep ? "


Tanya Lina.


" Lain kali aja. Apa kamu yang mau nginep di rumah kakak ? "


Sahut Qirani.


" Aahhh, mana enak. Masa gangguin pengantin baru ?! "


Goda Lina.


" Apanya yang pengantin baru ? Udah tiga bulan kan. Udah basi dari baru. "


Sahut Qirani.


" Hehehe... Ntar aja kalo malam minggu nggak di apelin, aku nginep ya. "


Kata Lina.


" Okey. Janji ya. "


" Janji ! Boleh kan, buunnn ? "


" Boleh saja, asal tuan rumahnya nggak keberatan. "


" Nggak akan keberatan. "


Kata Qirani dengan senang.


" Ya udah, aku pulang dulu. Nitip mama ya, bun. "


" Ya, pasti. "

__ADS_1


Jawab Bu Rima.


Qirani memeluk Bu Rima sesaat untuk berpamitan. Kemudian mencium punggung tangan Bu Rima. Sedangkan pada Lina, Qirani mengacak lembut rambutnya dan mencubit ujung hidung Lina.


" Jangan suka ngelayap. Bantu bunda. "


" Iya, kakakku yang cantik. "


" Bisa saja. "


" Salam ya, kak. Buat kak Arga. "


" Kalian dekat ya... "


" Of course, aku ini tempat curhatnya selama tiga tahun, tau ! "


" Oh ya ? "


" Iya banget ! Isi curhatnya cuma tentang Qirani Asha, Qirani Asha, Qirani Asha. Sampai boseeeeennnn dengerinnya. "


" Sudah, ngobrol terus. Kapan kakakmu ini sampai rumah ? "


" Hehehe... oke deh. Titi dj ya kak. "


Dan Qiranipun melambaikan tangan sembari tersenyum lebar saat melanjutkan langkah nya.


" Bye bye ! "


Seru Lina.


Qirani keluar meninggalkan rumah panti asuhan tersebut. Di luar, sudah menunggu Steve di dalam mobil pribadi Bu Citra.


" Ayo, Om. "


Kata Qirani begitu masuk ke dalam mobil.


" Okey. "


Sahut Steve yang segera menyalakan mobil dan bersiap melaju.


Sedikit lagi...


Semuanya berakhir.


Akhirnya, perceraian pun terjadi sedikit lagi.


Tapi aku merasa berat...


Ya, aku emang jatuh cinta lagi padanya.


Aku cuma pingin, semuanya akan baik-baik saja antara aku dan dia, apapun yang terjadi.


Bisakah ?


Mama pingin semuanya hancur.


Mama pingin mereka kehilangan segalanya.


Apa mungkin memohon demi dia biar mama melepaskannya ?


Nggak... itu nggak mungkin.


Tadi, dari ucapan dan raut wajah mama, nggak ada niat memberi ampun sama sekali.


Batin Qirani galau.


" Huufftthhh... "


Qirani menghela nafas dan menghempaskannya perlahan.


Dia emang bersalah, salah besar kepadaku !


Tapi dia mengorbankan segalanya buat aku.


Dia melakukan apa yang dikatakannya.


Menebus kesalahan.


Aku nggak bisa melihatnya hancur total.


Paling nggak, sebagai balasan pengorbanannya, aku bisa menyelamatkan dia.


Apa yang bisa kulakukan ?


Qirani menatap ke arah luar jendela mobil. Merenung.


Aahh.... iya !


Kak Adit !

__ADS_1


Dia tau apa yang harus dilakukan...


__ADS_2