Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 62


__ADS_3

Qirani membuka laptop dan mulai menyalakannya. Untuk beberapa saat, ia nampak fokus dengan apa yang dibacanya pada layar laptop tersebut.


Kemudian Qirani mulai menggerakkan telunjuknya dengan lincah di atas keyboard laptop. Sesekali berhenti dan mengernyitkan keningnya untuk berpikir. Lalu melanjutkan kembali mengetik.


Saking seriusnya Qirani dengan laptopnya, ia sampai tak menyadari hadirnya Arga yang membawa nampan dengan segelas susu coklat hangat dan sepiring pisang goreng.


Arga meletakkan nampan tersebut di atas meja, di sebelah laptop. Sedangkan dirinya memilih ikut duduk di permadani, di sebelah Qirani.


Melihat Qirani yang masih sibuk dan tak menyadari kehadiran dirinya, Arga menggunakan kesempatan tersebut untuk menatap Qirani lebih lama lagi.


Arga meletakkan siku lengannya di atas meja, demi memangku dagunya. Dan ia menatap Qirani penuh cinta. Tampak jelas dari tatapannya, ia sungguh terpesona.


Entah udah berapa kali bilang, tapi dia sekarang benar-benar cantik dalam segala hal.


Semua yang ada padanya, benar-benar bikin aku nggak bisa berpaling sedetikpun.


Biarpun sudah tiga bulan menikah, dan dia masih dingin gitu, aku nggak pernah nyesel...


Sampai kapan juga, aku bakal tetep nungguin hatinya terbuka buatku dengan sendirinya.


Tiga tahun... apa yang bikin dia bisa berubah drastis begini cuma dalam tiga tahun ?


Seberubah gimanapun, aku bakal tetep nungguin...


" Apa yang kamu lakuin disini ?! "


Teguran bernada ketus membuat Arga membuyarkan lamunannya.


Qirani sedang menatapnya dengan pandangan yang dingin. Raut wajah cantiknya tampak sinis.


" Ini, kamu pulang malam banget hari ini, dan kulihat kamu nggak makan setelah mandi tadi. Pisang gorengnya yang bikin Sherina, tadi dibawain Doni setelah isya'. Siapa tau kamu mau. "


Kata Arga seraya menunjukkan dagunya ke arah nampan.


" Jangan terlalu baik padaku. Aku nggak ada waktu buat kebaikan dan kepedulian mu itu. "


Sahut Qirani tetap ketus.


" Aku nggak merasa terlalu baik. Wajar kan kalo suami peduli pada istrinya. Jadi rasanya nggak... "


" Pernikahan kita cuma hitam di atas putih, bukan atas nama saling cinta. Jadi buatku, masing-masing urus diri sendiri itu lebih baik. "


Potong Qirani cepat.


Dan tak ingin berlama-lama, Qirani menutup laptopnya. Ia berniat bangun dan meninggalkan Arga.


Melihat gelagat Qirani, Arga langsung menangkap pergelangan tangan Qirani. Mau tak mau, Qirani kembali duduk.


" Kumohon, satu kali kesempatan lagi. "


Kata Arga penuh harap.


" Kesempatan ? Buat apa ? "


Tanya Qirani, sinis.


" Buat kita. Aku janji, aku akan lakuin apapun yang kamu minta. Apapun. "


Kata Arga yang kini menggenggam tangan Qirani.


" Apapun ? Gimana dengan... Bercerai ? "


Sahut Qirani terlihat ragu namun serius.


Mendengar kata terakhir Qirani, genggaman tangan Arga mengendor. Wajahnya seketika berubah. Dari yang sebelumnya penuh harap kini menjadi putus asa.

__ADS_1


" Bercerai ? Maksudmu ? "


Tanya Arga dengan nada lemah.


" Bercerai ya berpisah. Apalagi, hem ? "


Sahut Qirani, kali ini tampak santai.


" Apa selama ini aku benar-benar nggak berarti apa-apa buatmu ? "


Pertanyaan Arga dengan nada suara yang lirih membuat Qirani terhenyak.


Nggak berarti apa-apa buatku ?


Perhatiannya...


Tatapan matanya...


Apa dia nggak berarti buatku ?


Kalo aku bilang dia emang nggak berarti apa-apa buatku, lalu kenapa aku merasa kehilangan saat dia nggak lagi kasih surprise setiap pagi ?


Kenapa aku suka merasa sepi kalo dia nggak lagi datang ke kantorku dan numpang tidur di sofa tamuku ?


Kenapa aku merasa kuatir kalo dia pulang larut malam tanpa kasih kabar padaku ?


" Tiga bulan ini... Aku berharap, kamu bisa mencoba buka hatimu buatku. Memberiku kesempatan menebus semua kesalahanku padamu dulu. Aku yang nggak ngehargain kamu, aku yang selalu arogan padamu, aku yang terus mengintimidasi mu, aku ingin menebusnya, Qirani. Tiga tahun lebih, cukup bikin aku ngerasain sakit nya nggak ada kamu. Aku... "


Ya... tiga tahun lebih.


Masa-masa aku menyimpan rasa dendam yang mengalir di seluruh aliran darahku, memenuhi hati dan pikiranku !


" Apa aku bener-bener udah kehilangan kesempatan ? "


Kesempatan ?


Jadi apa artinya itu ?


Apa itu sebuah kesempatan ?


Kesempatan buat siapa ?


Kesempatan buat dia ?


Atau kesempatan buatku jatuh cinta pada orang yang sama ?!


" Jawab aku. Diammu itu bikin aku semakin tersiksa. Aku mohon padamu. "


Arga menghentakkan lengan Qirani, membuat Qirani tersadar dari perang dalam batinnya.


" Aku... "


Qirani tampak bingung menjawab.


" Tatap aku, dan bilang padaku, kamu nggak pernah cinta padaku ! "


Arga mulai tak sabar, ditariknya lengan Qirani dan membuat jarak antara dirinya dan Qirani tinggal sejengkal.


Keduanya saling berpandangan. Tatapan Arga tampak menusuk tajam ke kedua mata bening Qirani. Qirani merasa jengah. Ada rasa bersalah yang muncul dalam benaknya.


" Jangan berpaling ! Tatap aku, Qirani ! "


Kata Arga dengan nada suara setengah tinggi saat melihat Qirani yang berniat memalingkan wajahnya.


" Bilang padaku sekarang juga ! Kamu nggak pernah cinta padaku ! "

__ADS_1


Paksa Arga dengan tatapan tajamnya.


Qirani yang membalas tatapan mata Arga, semakin merasa bersalah.


Aku harus kuat !


Nggak boleh lemah !


Mama, kak Adit, semuanya berjuang, akupun juga harus bisa !


Batin Qirani yang berusaha menyemangati dirinya sendiri.


" Aku... "


Ucap Qirani, berusaha bicara dengan nada tegas.


" Nggak pernah cinta padamu. "


Sambung Qirani sambil membalas tatapan tajam Arga dengan hal yang sama pula.


Seketika Arga melemas. Cengkeraman tangannya pada lengan Qirani terlepas begitu saja. Tubuhnya terduduk ke belakang dengan lunglai.


Maafin aku...


Maaf... bukan itu seharusnya yang kukatakan.


Tapi...


Batin Qirani yang terus merasa bersalah.


" Aku bukan orang yang kejam dan nggak tau terimakasih. Silahkan kamu yang siapin surat perceraian. Aku ingin bulan depan kita sudah bercerai. Hidupku nggak buat mengenang masa lalu. "


Kata Qirani dengan lugas, meskipun hatinya bergetar.


Melihat Arga yang hanya diam dan tertunduk, Qirani menggigit sudut bibir bawahnya. Dan tak ingin hatinya makin gundah lebih lama lagi, ia segera berdiri melangkah pergi ke kamarnya.


Bodoh !!!!


Bodoh !!!!


Ucap Qirani dalam hati.


Arga membekap wajahnya dengan kedua tangannya. Perlahan, airmatanya keluar menetes melewati sela-sela jemarinya. Ia menahan diri untuk tak bersuara dalam tangisnya.


Arga merasa seolah-olah seluruh tubuhnya hancur tak bersisa. Rasa sakit hingga kesedihan yang mendalam, menjalar di setiap pembuluh darahnya.


Rasa sakitnya kenapa lebih sakit daripada waktu dia hilang dulu ?


Apa ini artinya nggak ada lagi kata menunggu buatnya ?


Apa ini artinya aku benar-benar kehilangan dia ?


Lalu, apa yang harus kulakuin sekarang ?


Aku nggak yakin apa bisa hidup tanpa dia buat kedua kalinya ?


Yang pertama, aku masih sanggup bertahan karena aku yakin aku pasti bakal ketemu dia lagi.


Yang sekarang ?


Apa aku masih sanggup bertahan ?


Karena dia nggak akan ada lagi buatku...


Apa aku bisa ?!

__ADS_1


Ya Allah... apa ini karma buat ku ?


Airmata Arga masih terus mengalir dalam diam.


__ADS_2