
" Kamu pindah apartemen ? "
Tanya Doni dengan mata yang melebar begitu memasuki ruang apartemen baru milik Indra.
Indra memasang wajah masam mendengar pertanyaan Doni. Berbeda dengan Arga, ia tersenyum simpul melihat Indra yang cemberut.
" Ayolah... Jangan bikin aku makin bersalah karena manfaatin teman. Kita kan sama-sama untung. "
Kata Arga membujuk Indra.
" Untung darimana ? Apartemen ini jauh jaraknya dari kantor kita. Yang ada aku bakalan telat tiap hari, tau ! Atau... kamu juga nggak akan perhitungan soal absensi ku, gimana ?... "
Sahut Indra dengan senyum yang terlihat licik di akhir kalimat.
" Enak aja ! Apa kata HRD ntar kalo aku pilih kasih antar karyawan ?... Nggak, nggak ada keringanan absensi, kecuali.... ada sesuatu yang menarik dari sana. "
Kata Arga sambil melirik ke arah balkon apartemen.
Doni yang masih tak mengerti apa yang dibicarakan kedua sahabatnya itu mengalihkan pandangannya ke arah balkon yang dimaksud Arga.
Dengan penasaran, Doni melangkahkan kaki menuju ke arah balkon. Setibanya disana, diperhatikannya sisi balkon dan sekitarnya.
" Emang apa yang menarik disini yang bisa dilaporkan ? "
Tanya Doni masih kebingungan.
Indra menghampirinya dan merangkul pundak Doni. Diarahkannya tubuh dan wajah Doni lurus ke arah luar balkon, tepat ke gedung apartemen yang berseberangan dengan apartemen milik Indra tersebut.
" Tepat di sana tuh, di apartemen itu, itulah yang menarik dan yang bikin Arga penasaran sampai bela-belain beli apartemen ini. Pake nih teropong, biar tau ada apa disana. "
Kata Indra dan kemudian menyodorkan sebuah teropong kecil kepada Doni.
Doni menerima teropong tersebut dan meletakkan di depan kedua matanya. Diarahkannya lurus ke depan, ke arah yang dimaksud Indra.
" Cuma kamar kosong aja.... Nggak ada apa-apa tuh, eh... ntar dulu, ada yang masuk ?... Siapa ya itu, eehh.... aku kayak tau itu orang ! "
Doni menurunkan teropongnya. Dia menoleh ke arah Indra dengan wajah tak percaya.
" Kamu disuruh tinggal disini buat mata-matain Aditya Chandra ?! "
Pelotot Doni.
" Jangan marah kepadaku, tuh manusia satu itu yang punya ide gila ini. "
Kata Indra sambil mengangkat kedua tangan dan bahunya.
__ADS_1
" Ga, ini bener-bener gila. Kamu tau, ku bisa dituntut sebagai stalker ! Mereka bisa sebut kamu sebagai maniak ! Jangan bilang, kamu penasaran sama tunangan orang ! "
Ujar Doni memperingatkan Arga sambil melangkah masuk menghampiri Arga yang kini tengah menikmati secangkir kopi hitam manisnya.
" Aku emang penasaran... Mau gimana lagi ? Bukan aku kalo cuma diem aja nggak ngelakuin apa-apa kalo lagi penasaran, kamu tau itu, Don. "
Sahut Arga santai.
" Ga, hentikanlah... Apa nggak ada cara lain tanpa harus mata-matain orang kayak gini ? Mana niat banget, segala beli apartemen pake nama Indra. "
Doni masih terus membujuk.
" Kalo aku beli apartemen ini pake nama ku sendiri, ayahku malah bisa curiga. Aneh banget, kan... Masa aku beli apartemen jauh dari kantor begini. Dan mereka bisa curiga juga... "
Jawab Arga sambil mengarahkan dagunya ke arah luar balkon.
Indra masuk ke dalam ruangan, meninggalkan balkon, kemudian duduk di sebelah Arga.
" Tapi kamu bikin papaku tanda tanya besar, Ga. Kenapa beli apartemen jauh dari kantor ? Tuh, malah aku yang kena... "
" Lalu kenapa kamu iya aja, kalo sekarang kamu juga mengeluh ? "
Sambung Doni sambil melipat kedua tangannya ke depan dada.
" Nah itu dia, aku juga bingung. Kenapa mau aja dikadalin sama manusia bucin satu ini. "
" Karena kita sama-sama untung. Hei, man ! Aku tau, kamu itu suka ngumpet-ngumpet bawa cewek ke hotel. Mending sekarang bisa kamu bawa kesini aja. Gratis, nggak pake ribet dan nggak bakal ketauan papamu juga, hem ?.... "
Kata Arga sambil mengedipkan matanya.
" Hehehe.... Iya ya, bener juga sih, makanya aku setuju ya... Hehehe, adauuww !! "
Doni melempar bantal sofa ke arah Indra.
" Heiii.... main lempar aja sih ! "
" Dasar sama gilanya ! "
Ucap Doni kesal sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Doni melemparkan tubuhnya ke satu sofa di samping sofa yang diduduki Arga dan Indra. Mengambil sebotol minuman bersoda berukuran kecil yang dingin di atas meja dan langsung minumnya hingga tinggal setengah botol.
" Don, dari kita bertiga, sekarang ini cuma kamu doang yang hidupnya lurus dan terarah. Mana bisa kamu ngerti keadaan kita berdua ini yang serba kacau dan berantakan, terutama soal cewek. "
Kata Indra mencoba membela diri kembali.
__ADS_1
" Kalo ngomong ya... Bisa aja ! Semua itu karena kalian nggak ada niat buat berubah. Kayak kamu nih, Ndra. Apa bagusnya sih gonta ganti cewek ? Yang ada, kamu bakal kena penyakit kelamin. "
" Heiii... kamu salah, bro ! Aku bawa cewek emang gonta-ganti tapi aku bukan penganut **** bebas. Sampai detik ini, aku masih perjaka. Kalo nggak percaya, cobain nih, hehehe... "
" Ogah amat. Aku manusia normal, Sherina lebih dari cukup buatku. Ngapain juga nyobain batangan nggak jelas kayak kamu. Dih ! "
" Kalian ini ngomong koq makin ngawur sih ? Pada ngaco ! "
Arga mencoba menengahi.
" Terus kamu, Ga... Kupikir, sejak setahun lalu kamu berhenti nyariin Qirani, kamu udah move on. Nyatanya, ketemu cewek yang mirip langsung blingsatan sampai nggak waras gini. Cewek yang deketin kamu itu bejibun, kenapa masih aja terus terikat masa lalu ?... Kacau ! "
" Yaahh... aku boring banget kalo kamu bahas ini lagi, Don. "
Arga terlihat kesal.
" Mau gimana lagi, masalah yang kamu punya cuma berkutat sama yang satu ini. Qirani Qirani dan Qirani. Aku ingatkan ya, di seberang sana itu Divya Naura, tunangan Aditya Chandra, calon istri orang kaya raya yang nggak kalah gantengnya sama kamu. "
" Cih ! Kamu ini sahabatku apa bukan sih ? "
" Aku emang sahabatmu, dan tugasku sebagai sahabat, mengingatkanmu agar nggak salah jalan dan lepas kendali. "
" Sebelum aku tau semua tentang Divya ini, aku tetap akan selidiki dan awasi dia sampai tuntas. Aku yakin perasaanku nggak salah. Ada sesuatu... "
" Divya, bukan Qirani. Kita sudah lihat sendiri waktu di kantormu. Penampilannya jauh beda, cara bicaranya tegas, lugas, nggak gagap dan ketakutan kayak Qirani-mu. Wajah boleh sama, tapi orangnya beda, Ga. Be-da ! "
" Aku nggak peduli seberapa bedanya Qirani dan Divya. Kamu nggak perlu perjelas soal ini, aku juga tau koq. Aku percaya sama hatiku. "
" Kamu buta, Ga ! Obsesi mu itu udah nggak wajar. Jelas-jelas kamu sendiri bisa bilang, mereka berbeda, tapi apa yang kamu lakuin ? Masih aja penasaran ! "
" Don, aku yakin dia itu Qirani. Itu yang aku mau pastiin ! "
" Kita semua tau kayak apa Qirani, Ga ! Polos, pendiam, dan paling nggak bisa ngeliat mata mu itu ! Nggak masuk akal kalo dalam tiga tahun Qirani bisa berubah drastis begitu ! Apalagi hal terakhir yang kamu lakuin pada dia itu sesuatu yang menakutkan buat cewek sepolos Qirani. Kalo dia emang Qirani, dia akan ketakutan melihat kamu, trauma dengan kejadian terakhir ! "
" Huh, mentang-mentang kamu seorang dokter, kamu bisa segampang itu menganalisa seseorang. Bisa aja dia berubah, semua orang bisa aja berubah, Don. "
" Aku tau semua orang bisa berubah, tapi nggak secepat itu. Kecuali dia seorang bintang film, yang emang harus bisa berganti peran dalam sekejap sesuai skenario. "
" Bullshit ! Aku nggak peduli apa katamu. Kalo kamu nggak bisa dukung aku, diam sajalah ! "
" Arga, aku nggak mau kamu kembali ke masa lalu mu dengan penyakit paranoidmu itu ! "
" Ayolah... kita disini kan mau santai. Kenapa malah jadi panas begini sih .... "
Kali ini Indra yang menjadi penengah.
__ADS_1
Doni dan Arga terdiam sejenak. Saling membuang muka dengan kesal.