
" Makasih... "
Ucap Qirani sesaat setelah Arga merapihkan posisi tidur Aditya di ranjang.
" Sama-sama. "
Sahut Arga yang kemudian melangkah keluar kamar Aditya.
Kamar ini nggak ada tanda-tanda keberadaan Divya, tampak rapi tapi terasa kosong...
Paling nggak, ada foto mereka berdua bukan ?
Cuma ada foto yang dibingkai terpasang di atas tempat tidur Aditya, foto bertiga...
Foto mereka berdua dengan seorang wanita paruh baya di atas kursi roda.
Siapa wanita itu ?
Ibu Aditya atau Ibu Divya ?
" Arah pintu keluar sebelah sana. "
Teguran Qirani membuat lamunan Arga buyar.
Saking fokusnya berfikir, Arga salah melangkah rupanya. Ia malah berjalan ke arah dapur.
" Ah, maaf... Mmm, bisa minta segelas susu hangat ? Kepalaku agak pusing... "
Kata Arga yang segera mendapatkan alasan untuk tidak buru-buru keluar ruangan.
" Segelas susu ?.... Baiklah, duduk dulu. "
Sahut Qirani dengan raut wajah kesalnya yang tampak sangat jelas terlihat di mata Arga.
Cari-cari alasan, cih !
Batin Qirani dengan kesal.
Sebelum aku dapetin sesuatu, jangan harap segampang itu mengusirku.
Batin Arga.
Mengikuti Qirani ke arah dapur, ia memperhatikan setiap gerak gerik Qirani dengan seksama.
Cara jalannya tampak tegap, nggak sama dengan Qirani yang selalu menunduk dan terkesan lambat.
Arga menilai sosok gadis di hadapannya dengan seksama. Qirani tampak acuh tak acuh saat menuang susu ke gelas di atas meja dapur, tepat di sebelah lemari pendingin dua pintu setinggi dirinya.
" Ini, silahkan... "
Kata Qirani menyodorkan segelas susu kepada Arga.
" Dingin ya ? "
Tanya Arga sembari menatap minuman dihadapannya.
" Kamu lihat sendiri tadi, aku keluarin dari dalam kulkas, kenapa harus tanya ? "
Jawab Qirani dengan nada ketus.
" Buat meredakan efek mabuk, harusnya susu hangat. Bisa minta tolong dihangatkan sebentar ? "
Kata Arga dengan wajah memohon.
" Apa tamu itu sangat nggak sopan kayak gini ya ? "
Qirani merasa kesal.
" Maaf... tapi kepalaku memang terasa pusing. Dan kayaknya kalo minum susu dingin gitu, rasanya gimana ya... "
Sahut Arga memberi alasan.
Tanpa menjawab, Qirani mengambil minuman di hadapan Arga dan membawanya ke arah meja kompor. Dengan sangat terpaksa, Qirani menuang isi gelas ke dalam panci kecil dan menghangatkannya di atas kompor.
Arga duduk di salah satu kursi makan yang terletak tak jauh dari Qirani menghangatkan susu untuknya.
Selang beberapa saat, Qirani sudah membawa segelas susu hangat kepadanya dan meletakkannya di atas meja tepat dihadapannya.
" Buruan abisin, dan cepat pulang. "
Kata Qirani dengan nada ketus.
" Ya.... Aku pasti... "
KKKRRUUUKKK.....
Belum selesai Arga menjawab, suara perutnya terdengar jelas sekali.
" Ah, sorry... Dari pagi aku memang nggak sempat makan apa-apa, dan malamnya langsung minum bareng tunanganmu. "
Jelas Arga sembari tertawa kecil dan tampak malu.
" Bukannya tadi banyak makanan di meja ? Kamu nggak makan sama sekali ? "
Tanya Qirani tampak tak percaya.
" Nggak minat sama sekali. Lagi banyak yang harus aku urus dan seharian tadi rapat bulanan lumayan lama. "
Sahut Arga.
" Kamu kan Predir, pastilah punya sekretaris pribadi kan ? Seharusnya sekretaris pribadimu yang wajib ingetin kamu soal jam makan kamu, dan bisa jaga kesehatan kamu dengan baik. "
Kata Qirani dengan heran.
" Aku nggak suka sekretaris yang suka mengatur urusan pribadi ku, dan a... "
" Sudahlah... Tunggu sebentar, aku bikinin sesuatu dulu. "
Tak ingin mendengar penjelasan dari Arga panjang lebar, Qirani langsung memotong ucapan Arga.
Merasa senang dengan tanggapan dari Qirani, sesuai dengan harapannya, Arga sangat puas di dalam hati. Tampak senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.
Dengan cekatan, Qirani mengambil beberapa bahan makanan mentah dari dalam lemari pendingin. Tak lupa, ia mengenakan celemek terlebih dahulu sebelum mulai mengolah bahan masakan tersebut.
Arga memperhatikan gerak-gerik Qirani yang tampak handal dalam memasak. Sesekali diseruputnya segelas susu hangat dihadapannya. Dilihatnya beberapa kali Qirani menyibakkan rambut panjangnya yang sempat jatuh ke arah depan.
__ADS_1
Ini kesempatan ku...
Batin Arga.
Perlahan ia pun bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Qirani yang masih sibuk. Tepat di belakang Qirani yang masih tak menyadari kehadiran Arga di belakangnya, Arga meraih semua rambut Qirani dan menyatukannya.
" Ada karet nggak ? Aku iketin rambutnya... "
Kata Arga sambil mengambil kesempatan melihat ke belakang kedua telinga Qirani.
" Nggak usah, biarin a... "
" Kamu.... Qirani ?! "
Seru Arga memotong ucapan Qirani begitu melihat tanda lahir Qirani di belakang telinga Qirani sebelah kanan.
Seketika Qirani langsung memutar tubuhnya dan menghempaskan tangan Arga dari rambutnya.
Bodoh !!!
Aku kecolongan !
Apa yang harus aku lakukan sekarang ?
Cepat, putar otak !!!
Batin Qirani dengan cemas.
Di hadapannya, Arga tampak sangat shock. Wajahnya pucat pasi. Tangan yang tadi memegang rambutnya, lemas begitu saja di sisi tubuhnya.
Dia....
Dia benar-benar Qirani !
Ntar dulu...
Aku nggak salah lihat kan ya ?
Aku masih pusing, tapi aku nggak mabuk kan ya ?
Mataku nggak rabun kan ?
Batin Arga shock.
" Qirani ?... Siapa ? "
Tanya Qirani dengan ekspresi kebingungan.
Pura-pura amnesia...
Ini solusi yang kepikiran buat sekarang.
Nggak ada kak Adit yang bisa bantu aku saat ini...
Dan aku seharusnya belum waktunya ketauan sebagai Qirani.
" Qirani... Ya Allah, akhirnya... Akhirnya, akhirnya... Aku... Aku... "
" Kamu, apa maksudmu ? "
" Qiran... Qiran... Aku Arga, Arga ! "
Kata Arga yang meraih tangan Qirani.
" Aku tau kamu Arga, tapi kenapa kamu panggil aku Qirani ? Aku Divya ! "
Seru Qirani mengelak.
" Nggak ! Kamu bohong, kamu Qirani ! Tanda lahir itu, aku hapal banget ! Kamu bukan Divya, kamu Qirani ! "
Sahut Arga yang mulai meninggikan suaranya sambil mencengkeram dengan kuat tangan Qirani.
" Aku nggak ngerti apa yang kamu bilang ! Lepasin !!! "
Kata Qirani setengah menjerit dan mencoba melepaskan cengkeraman Arga.
" Lihat aku ! Lihat mataku !! Dan bilang padaku, kamu bukan Qirani ! "
Kata Arga menarik tubuh Qirani lebih mendekat ke arahnya.
Arga menatap mata Qiranj dengan tajam, dan Qirani melakukannya juga. Menatap Arga lekat-lekat. Keduanya beradu pandang tanpa berkedip dengan ekspresi wajah yang serius.
" Dengerin aku, tuan Arga ! Aku bukan Qirani ! Aku Divya Naura ! Puas ?! "
Qirani mengucapkan setiap kata yang keluar dari mulut nya dengan tegas dan jelas.
" Sekarang, lepasin ta... "
" Nggak, aku yakin kamu Qirani... Aku mencari mu selama ini ! Aku mencarimu kemana-mana, aku nggak akan lepasin kamu lagi. "
Ucap Arga yang langsung memeluk Qirani dengan erat.
Aroma badannya...
Masih sama, masih dengan wangi parfum yang sama kayak dulu...
Pelukannya terasa... erat dan hangat.
Batin Qirani saat wajahnya tak lagi berjarak dengan dada Arga.
" Aku nggak percaya kamu orang lain ... Aku nggak akan lepasin kamu lagi, aku mencarimu selama ini... "
Ucap Arga dengan nada suara yang bergetar.
Arga terus memeluk Qirani dan membelai rambutnya dengan lembut. Beberapa kali mencium kening Qirani penuh cinta. Matanya mulai berkaca-kaca.
" Aku kangen... Aku kangen ... "
Kata Arga berulang-ulang.
Apa yang kulakukan ?
Kenapa aku merasa sedih ?
Kenapa aku merasa terharu ?
__ADS_1
Kenapa aku nggak ingin lepas dari pelukannya ?
Bukankah aku benci orang arogan ini ?
Nggak !
Aku harus kuat !
Nggak boleh selemah ini !
Aku harus kuat bertahan, tujuan utama ku belum tercapai !
Bahkan aku belum membalasnya sama dengan rasa sakit yang kurasakan...
Kata Qirani dalam hati.
" Hentikan !! "
Seru Qirani yang langsung mendorong tubuh Arga sekuat mungkin agar melepaskan pelukannya.
Benar saja, Arga memang terdorong dan terjerembab jatuh ke belakang. Ada sedikit rasa penyesalan dari dalam hati Qirani melihat Arga yang terjatuh.
Hampir saja kakinya melangkah untuk maju menghampiri Arga, tiba-tiba indra penciumannya menghirup sesuatu yang menusuk.
" Gawat ! Masakanku ! "
Serunya begitu ingat.
Dan begitu memutar tubuhnya, didapatinya masakan nya telah hangus. Segera Qirani mematikan kompor.
" Syukurlah.... "
Ucap Qirani bernafas lega.
" Qiran... Kumohon, kembalilah padaku. Batalkan pertunangan mu dengan Aditya. Aku akan menikahimu. Aku akan bertanggungjawab atas semua kesalahanku dulu... Aku mohon, Qirani... Kita sudah... "
" Kamu ini sudah gila ya ? Aku nggak ngerti apa maksudmu. Qirani, Qirani, aku bukan Qirani. Aku Divya ! "
Belum selesai Arga berbicara, Qirani memutar tubuhnya dan memotong ucapan Arga.
Arga yang sudah bangkit dari jatuhnya, kini berdiri di hadapannya dengan wajah penuh harap dan mata yang menampakkan kesedihan.
" Kenapa kamu terus bilang kamu Divya ? Tanda lahir itu, wajahmu, semua itu punya Qirani... "
Ucap Arga lirih.
" Kamu masih mabuk. Pulanglah. "
Kata Qirani yang tak menghiraukan ucapan Arga dan melangkah menuju pintu keluar ruangan.
Qirani membuka pintu lebar-lebar dan tetap berdiri di depan pintu, menunggu Arga keluar.
" Aku nggak akan pulang sebelum kamu mengakui kamu adalah Qirani. "
Sahut Arga tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri sekarang.
" Sudah subuh... Aku mengantuk. Aku ingin tidur. Tolonglah... "
Kata Qirani.
Kenapa dia begitu keras kepala ?
Kenapa nggak mau ngaku kalo dia Qirani.
Dan begitu tegasnya bilang dia Divya...
Tapi nggak mungkin kan tanda lahir itu bisa sama persis tempat dan bentuknya, meskipun orang kembar sekali pun...
Kalo aku terus memaksanya sekarangpun, juga nggak akan baik...
Dia malah akan semakin jauh nanti.
" Okey... aku akan pulang. Tapi sebelumnya... Bisakah kita ketemuan berdua dan bicara ? Aku ingin bicara banyak denganmu. "
Kata Arga akhirnya menyerah.
" Berjanjilah... Beri aku waktu buat bicara denganmu. "
Ulang Arga yang melihat Qirani tampak acuh tak acuh.
" Aku akan hubungi kamu, kalo aku ada waktu luang. "
Jawab Qirani pelan.
Dengan langkah gontai, Arga pun mulai berjalan ke arah pintu keluar.
" Maafin aku... "
Ucap Arga lirih saat ia telah sampai tepat di hadapan Qirani.
Qirani membuang muka dan melipat kedua tangannya di depan dadanya. Namun, ia sangat terkejut dan mengalihkan pandangan ke arah Arga saat Arga mencium keningnya dengan cepat.
" Aku menunggumu. "
Ucap Arga sebelum Qirani membuka mulut untuk protes.
Dan Argapun keluar ruangan. Qirani menutup mulutnya yang sebelumnya ingin protes atas tindakan Arga. Ia terus menatap punggung Arga yang semakin lama semakin menjauh.
Banyak kenangan yang kulalui bersamamu...
Tapi bukan itu tujuanku datang kembali ke hidupmu.
Bukan karena kenangan, bukan karena hubungan kita dulu, bukan juga karena cintamu padaku...
Berhentilah menjadi orang bodoh yang terus hidup dalam kenangan masa lalu.
Menjauh lah dariku kalo kamu nggak ingin hidupmu dan keluargamu hancur.
Aku memang Qirani, tapi aku kembali bukan sebagai Qirani mu lagi...
Nggak nyangka, kamu yang begitu arogan, punya sisi selemah ini...
Kamu yang kayak gini, membuatku lebih mudah menghancurkan mu...
Nggak seru jadinya...
__ADS_1
Tapi hidup harus terus berjalan, dan rencana keluarga ku akan tetap berlanjut...