Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 7


__ADS_3

" Nah, makanan datang. Lihat aku pesen banyak ayam. Biar kamu cepet gendut, hehehe.... "


Kata Arga sembari tertawa geli.


Dia benar-benar menganggap Qirani seperti anak anjing. Tapi Qirani cuma diam tak mempedulikannya. Arga mendekatkan satu nampan sajian ke hadapan Qirani.


Qirani melihat begitu banyak makanan, seketika dia ingat bunda dan adik-adiknya.


" Kak, kalo makanan ini nggak habis, apa mau dibuang ? "


Tanya Qirani dengan hati-hati.


Arga yang sudah mulai memakan sepotong ayam, menoleh dengan raut wajah keheranan.


" Maksudmu ? "


" Ini banyak banget... Kalo nanti nggak habis, aku mau bawa pulang. Boleh ya ? "


Dia mau bawa pulang ?


Kenapa si cupu ini kok makin aneh aja sih.


Nge laundry baju, nggak punya uang.


Sisa makan nya mau dibawa pulang.


Apa dia ini anak tiri kayak di film-film gitu ?


" Terserah... "


" Makasih kak.... "


Kata Qirani penuh semangat.


Dan tanpa diduga, Qirani langsung memisahkan makanan yang ada di hadapannya. Dia hanya mengambil sepotong ayam dan minuman milkshake nya.


Arga melihatnya makin heran dan merasa penasaran dengan sikap Qirani. Qirani yang tak menyadari Arga memperhatikannya, kini melahap sepotong ayamnya dengan sesekali menyeruput milkshake nya.


Arga kembali melanjutkan makannya sembari melirik sesekali ke arah Qirani. Sesaat Arga merasa Qirani mulai santai, tidak lagi seperti sebelumnya. Yang sedikit-sedikit ketakutan.


" Umurmu berapa ? "


Tanya Arga setelah menyeruput minuman bersodanya.


" 18 tahun, kak... "


" Oh, aku pikir kamu masih 14 tahun... Apa karena kamu kurus ya jadi keliatan kayak masih kecil. Mmm... Oh iya, siapa namamu ? "


Tanya Arga, berusaha membuat Qirani santai.


Qirani menoleh ke arah Arga dengan heran. Keningnya berkerut.


Bukannya semalem dia udah nanyain namaku ?


Secepat itu dia lupa ?


" Qirani Asha... Pake Q dan Asha nya dibaca asa, buka as-ha... "


" Ohh.... Gitu ya... "


" Iya... "


Kembali keduanya terdiam. Arga melanjutkan makannya. Qirani yang telah menghabiskan sepotong ayamnya, kini mulai menghabiskan milkshake nya.


" Kamu kelas berapa ? "


Arga mulai membuka obrolan kembali.


" Kelas 12 di SMK... "


" Mmm, tahun ini tahun terakhir ya ? "


" Iya... "


" Kuliah ? "


" Pingin langsung kerja... "


" Oh, gitu... "


" Adikku banyak, kak... Aku berumur paling tua, jadi aku pingin bantu bunda. "


Qirani menambahkan.


Fix... cewek ini emang bukan cewek kaya.


Komentar Arga di dalam hati.


" Adikmu banyak ? 3 ? 4 ? 5 ? ... "


" 13... Adikku ada 13, kak... "


" Uuhukk !! Uhhuukk !! "


Mendengar jawaban Qirani, Arga langsung tersedak.


Spontan Qirani menyodorkan milkshake nya kepada Arga. Arga langsung menyeruputnya. Qirani menepuk punggung Arga dengan agak keras.


" Pelan-pelan, kak ! "


Kata Qirani yang masih terus menepuk punggung Arga.


Setelah terhenti dari tersedaknya, Arga menarik nafas panjang dengan perlahan. Qirani melembutkan tepukannya di punggung Arga. Kali ini seperti membelai nya dengan perlahan.


Arga merasakan sentuhan yang lembut di punggungnya, membuatnya tenang. Kemudian ia menarik tangan Qirani yang ada di punggungnya dan menggenggamnya.

__ADS_1


" Udah... "


Kata Arga.


Gila, adiknya tiga belas orang ???


" Adikmu banyak ya... Hehehe, keluarga besar... "


" Iya... "


" Hebat ya, bundamu ! "


... melahirkan anak sebanyak itu...


Sambung Arga dalam hati.


" Iya, bunda emang hebat. Bunda terbaik. Dia sayang banget sama aku dan adik-adikku. Bunda nggak pernah bedain kami semua, nggak pernah pilih kasih bla bla bla... "


Qirani begitu bersemangat menceritakan kasih sayang bundanya.


Arga melihat mata Qirani yang terus bersinar saat bercerita tentang keluarganya. Sampai-sampai Qirani tak menyadari, Arga masih menggenggam tangannya dengan erat.


Keluarga yang besar dan punya banyak kasih sayang.


Dia langsung ceria, banyak senyum begitu cerita tentang keluarganya.


Dia bener-bener hepi dengan keluarga besarnya.


Aku jadi pingin tau... seperti apa bundanya ini.


Pasti orangnya baik... dan pandai mengurus anak-anaknya.


Dia aja udah 18 tahun masih bisa pertahanin virginnya, itu kan artinya bundanya memang pandai mengajari anaknya dengan baik.


Pantesan selalu minta pulang...


Mungkin dia emang punya jam malam...


Arga melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.20.


" Hei, sudah sore. Ayo, aku antar pulang. "


Kata Arga.


Qirani pun seperti tersadar. Dilihatnya makanan dihadapannya, kemudian melihat ke arah Arga.


" Iya. Mmm, ini kak. Aku boleh minta plastik ? "


Kata Qirani sambil menunjuk makanan cepat sajinya yang sengaja tak dimakan.


" Oh iya... Bang ! Bang ! "


Arga memanggil seorang pramusaji yang sedang membersihkan meja bekas pelanggan makan, tak jauh dari tempatnya duduk. Pramusaji itu pun datang dan kemudian menghampiri mereka.


" Iya, kak ? Ada yang bisa saya bantu ? "


Kata Arga.


" Ya, tunggu ya kak... "


Dan pramusaji itu membawa nampan saji Qirani.


Tak beberapa lama, pramusaji tersebut membawa sebuah papperbag dengan merk restoran cepat sajinya.


" Ini, kak. Terimakasih, semoga datang kembali... "


Kata pramusaji itu dengan sopan dan memberikan papperbag tersebut kepada Arga.


Arga mengambilnya dan memberinya tips, selembar uang limapuluh ribu.


" Terimakasih banyak, kak. "


Kata pramusaji itu dengan senang.


" Ayo...."


" Makasih ya mas....Makasih...."


Qirani berkali-kali mengucap syukur dan tersenyum kepada pramusaji tersebut.


Arga merasa kesal. Segera ditariknya Qirani agar berjalan dengan cepat. Qirani sampai agak terseret saat melangkah.


" Harusnya kamu berterimakasih sama aku dan senyum mu itu buat aku ! Kan aku yang bayar ayamnya ! "


Kata Arga mengungkapkan alasan rasa kesalnya.


" Ma-maaf... Makasih ya kak ! "


Kata Qirani menyadari kesalahannya dan merasa apa yang dikatakan Arga benar.


" Huh, telat ! "


Sahut Arga, yang sudah telanjur kesal.


Akhirnya dalam genggaman jari-jemari Arga, Qirani kembali diam dan tak bicara lagi. Hingga Arga membawanya ke area parkir untuk mengambil mobilnya.


Tiba di sebuah mobil BMW Seri X2 berwarna kuning, Arga membukakan pintu buat Qirani. Qirani masuk dengan cepat. Kemudian Arga masuk di sisi satunya, di bangku kemudi.


Tanpa menunggu lama , Arga menyalakan mobilnya. Dan begitu suara mesin mulai terdengar, Arga pun mulai mengemudikannya keluar area parkir.


Qirani diam dan berfikir. Mencari sebuah alasan yang tepat untuk dikatakan kepada Bu Rima.


Kemarin dijemput Galih, tapi kini pulang dengan Arga. Kemarin ijin pulang jam 24.00 tapi sekarang sudah semalam lewat dan hari menjelang malam kembali.


" Eh, rumahmu dimana alamatnya ? "

__ADS_1


" Jalan Pertiwi... lurus, nanti ada pertigaan, belok sebelah kanan, disitu... "


" Jalan Pertiwi ya, aku tau... Okey, kita berangkat ! "


Dan mobilpun melaju cepat begitu keluar dari area halaman Mall XX. Arga fokus memperhatikan arah dan Qirani sibuk dengan menyusun alasan yang tepat.


Ada kurang lebih setengah jam, keduanya hanya diam tanpa suara. Arga mengemudi sembari sesekali melihat chat di handphonenya. Terkadang ia tersenyum sendiri.


Doni dan Indra nelpon melulu...


Chatnya ngapa banyak amat.


Males ah bacanya...


Paling juga nanyain ini cewek.


Nggak bakalan aku bagi lah, cewek ini bagianku.


Aku bayar paling mahal... hehehe...


Mm, telpon dan chat dari papa ?


Oh iya, hari Minggu ini aku kan udah janji mau nemenin papa mancing.


Lupa...


Ntar bilang aja aku lagi meriang, hehehe...


Ah, Oma telepon juga ?


Ngapain ya.... kayaknya aku nggak ada janji apa-apa sama Oma.


Mmm, oh aku tau !


Pasti dia kangen sama aku, hihihi...


Udah sebulan aku nggak main kerumah Oma.


Iyalah, dia kangen.


Cucunya yang paling ganteng dan seru kan cuma aku, hehehe....


Sesekali Arga melirik Qirani, ia melihat jari jemari Qirani yang terkait saling meremas. Qirani memang tampak cemas.


Kenapa dia ?


Dia kan berkali-kali minta pulang, giliran dianterin pulang malah keliatan takut...


Cewek ini plin plan...


" Takut pulang ? "


" Nggak... Nggak takut pulang ! "


Sahut Qirani cepat.


Kalo bilang takut pulang, nanti dia bisa bawa aku kemana-mana lagi.


Dan bisa jadi aku ngalamin kejadian semalem.


Batin Qirani.


" Terus kenapa keliatan takut gitu ? "


" Nggak... Ah, nggak papa... "


Sahut Qirani dengan lirih.


" Eh, ini... udah belok kanan, sekarang kemana ? "


Tanya Arga yang menanyakan arah selanjutnya.


Qirani melihat ke luar jendela. Dan ia melihat tempat tinggalnya dua ruko setelahnya di depan.


" Itu, abis dua ruko ini... "


" Oh, okey... "


Arga melambatkan laju mobilnya.


" Berhenti, sudah sampai... "


Kata Qirani begitu mobil Arga tepat berada di depan sebuah rumah tua dengan pagar tembok berwarna biru langit setinggi satu meter.


Argapun menepi dan mematikan mesin mobilnya. Ia menekan tombol pengunci pintu mobil.


" Aku turun ya, makasih kakak. Bajunya aku cuciin dulu ya.... Makasih.... "


Qirani segera mengambil kantong tempat baju milik Arga yang di pakai sebelumnya dan papperbag berisi makanan cepat sajinya.


" Eh... "


Belum sampai Arga bicara, Qirani dengan gesitnya keluar dari mobilnya.


Dari dalam mobil Arga melihat Qirani yang menghampiri rumah tua di sisi kanan mobil Arga. Arga tercekat. Matanya hampir keluar saking terkejut.


Tepat di atas pagar tembok tersebut, berdiri papan nama yang sangat besar dengan tulisan yang besar pula.


PANTI ASUHAN MENTARI PAGI.


Dia... beneran anak panti asuhan...


Pantesan....


Dia nggak bohong.

__ADS_1


Pacarnya juga nggak bohong.


Benar-benar anak panti !!!


__ADS_2