
Qirani menatap keluar jendela sembari melamun. Dagunya yang lancip, ditopang dengan pergelangan tangan kirinya. Sementara jari-jari tangan kanannya mengetuk meja secara bergantian.
Sesekali ia menghela nafas, seakan-akan ingin mengeluarkan semua beban di dalam hatinya.
Ruang kerjanya tampak lengang. Tak ada suara apapun, hanya keheningan semata. Bahkan hembusan nafasnya pun tak begitu terdengar, seperti bernafas dengan sembunyi-sembunyi.
Menciumku selama itu...
Batin Qirani, memutar kembali ingatannya beberapa hari lalu saat ia dan Arga berada di dalam kamarnya.
Tanpa disadarinya, telunjuk kanannya menyentuh lembut bibirnya. Menggerakkannya dengan lembut ke sudut bibir dari satu ke yang lainnya beberapa kali.
Ciumannya sekarang lebih lembut...
Berbeda jauh dari waktu dulu aku masih bocah ingusan dengan seragam putih abu-abuku.
Dia yang dulu, menciumpun begitu kasar.
Apa karena usia yang bicara ?
Dia sekarang lebih dewasa...
Lebih... macho.
Aku pikir, dia akan mengulanginya.
Ternyata, nggak.
Setelah menciumku cukup lama, dia melepaskanku dan bilang...
" Aku kangen kamu, Qiran... "
Oh my God...
Aku meleleh seketika...
Qirani tersenyum sendirian. Matanya tampak bersinar. Raut wajahnya begitu senang.
Aku jatuh cinta...
Jatuh cinta pada orang yang sama...
Lagi, Qirani tersenyum.
Tapi...
Kalo semudah itu menerima dia, rasanya nggak seru...
Bukankah bisa aku permainkan sedikit lagi ?
Paling nggak... dia nggak bakal berpikir, aku segampang itu ditaklukkan.
" Mmm... "
Qirani bergumam.
Selanjutnya, kalo aku ketemu dia lagi, apa ya yang harus aku lakuin ?
Nggak... aku harus bersikap gimana ?
Baiknya aku pura-pura biasa aja dan anggap hal sebelumnya nggak pernah terjadi atau...
Apa aku harusnya menjadi lebih manis lagi ?
Kayaknya... lebih pas kalo aku cuek-cuek aja.
Aku nggak mau keliatan menyukainya.
Bodoh... aku bener-bener merasa konyol !
" Hhuufftthhh... "
Qirani menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Ia mengubah posisi duduknya. Kini ia merebahkan kepalanya ke belakang, menyandar pada kursi kerjanya.
__ADS_1
Tangannya melipat di depan dadanya. Kaki kanannya naik ke atas kaki kirinya. Pandangannya tak lagi ke arah jendela. Sekarang, ia memilih memejamkan matanya.
Menikah, balas dendam demi mama, selanjutnya apa ?
Saat balas dendam itu terlaksana, apa Arga masih bisa menatapku dengan penuh cinta lagi ?
Atau... tatapannya berubah menjadi tatapan kebencian ?
Lalu... apa yang terjadi padaku nanti ?
Apa aku akan tetap baik-baik saja ?
Sekarang aja, aku udah mulai ragu buat ngelanjutin rencana mama dan kak Adit.
Kenapa aku berada pada situasi kacau begini ?
Semakin kesini semakin bingung.
Antara pingin berbakti atau hidup tenang tanpa ngelakuin sesuatu hal yang bisa menyakiti seseorang...
" Eheemm... "
Seseorang berdehem terdengar begitu dekat. Qirani membuka mata dan seketika itu juga membelalak. Tepat beberapa inchi dari wajahnya, tampak wajah Arga tersenyum kecil.
" Nggak sopan ! "
Bentaknya sembari mendorong dada Arga, agar menjaga jarak.
" Kamu keliatan imut kalo lagi merem gitu... "
Kata Arga, gombal.
" Apa nggak bisa ketuk pintu sebelum masuk ? "
Qirani bernada ketus.
" Pintumu terbuka sedikit, aku lihat, kamu tertidur. Jadi aku masuk aja... "
Sahut Arga dengan santai.
" Ada perlu apa ?! "
Qirani tak menghiraukan apa yang dikatakan Arga.
Arga masih tersenyum. Sambil terus menatap Qirani yang memasang wajah judes, dia duduk di kursi di depan meja Qirani.
" Ayolah... Apa harus segalak itu ? Apa nggak kangen sama aku ? Mmm, berapa hari ya kita nggak ketemu setelah ke... "
" Kak Adit sedang keluar untuk rapat. Kamu bisa balik lagi kesini nanti sore sekitar jam tiga an. "
Kata Qirani masih terlihat judes.
" Aku tau, tadi aku udah chat Adit sebelum kesini. "
Sahut Arga santai, sembari menyandarkan tubuhnya ke belakang.
" Lalu ? Kenapa masih tetap kesini, padahal tau kakak ku nggak ada ? Sengaja ? "
Tanya Qirani sangat sinis.
" Gimana kalo aku jawab, ya, aku sengaja... Boleh ? "
Arga tampak meledek.
" Sebagai seorang manajer umum, kamu lumayan punya banyak waktu santai ya... Padahal ini baru jam sebelas, belum waktunya jam istirahat pula. Nggak takut nantinya bawahanmu berpikir betapa nggak kompetennya si manajer umum ini ? "
Kata Qirani membalas.
" Aku nggak peduli apa pikiran bawahanku, aku juga nggak peduli apa kata orang kantormu. Yang aku peduli cuma apa kata kamu, apa isi pikiran mu dan apa isi hatimu. Selebihnya, i don't care... "
Sahut Arga santai tapi cukup tegas.
" Keras kepala. "
Gumam Qirani.
__ADS_1
" Bangunin aku nanti jam dua belas ya. "
Kata Arga sembari bangun dari duduknya dan berpindah ke sofa panjang di tengah ruangan.
" Hei ! Ini kantor, bukan hotel ! "
Protes Qirani dengan sewot.
" Aku tau... Tapi aku ngantuk banget. Dua hari ini bolak balik Jakarta-Bandung tanpa sopir, badanku sakit semua. "
Jawab Arga setengah mengeluh, sembari melepas sepatunya dan segera merebahkan tubuhnya.
" Apa urusannya denganku ? Hei ! Jangan tidur disitu ! "
Kembali, Qirani protes.
Tapi Arga tak menjawab. Dengan nyamannya, ia pun memejamkan kedua matanya.
Qirani berdiri dan berjalan dengan cepat ke arah Arga berbaring. Tepat di hadapan Arga, ia langsung menarik tangan Arga.
" Bangun ! Jangan gila kamu ! Hei ! Ayo, bangun !! "
Serunya sembari terus menarik tangan Arga.
Arga masih tak bergerak. Benar-benar tak ingin meladeni protesnya Qirani, Arga terus berpura-pura tidur.
" Hei ! Kalo mau tidur, dikantormu sana !! "
Qirani masih terus memaksa.
Beberapa berusaha menyeret tubuh Arga agar terjatuh dari sofa, namun gagal. Tak habis akal, kini ia menggoyangkan bahu Arga berulangkali. Tetap saja, tak berhasil.
Tiba-tiba Arga menangkap tangan Qiranj dan menarik tubuh mungil gadis itu hingga jatuh terjerembab ke atas tubuhnya.
" Kamu !! "
Seru Qirani kesal.
" Aku numpang tidur sebentar aja. Please... "
Kata Arga dengan raut wajah memelas.
" Lepasin ! "
Kata Qirani sembari menarik tubuhnya.
Arga melepaskan pelukannya pada Qirani begitu saja. Dia benar-benar tampak sangat lelah. Tak ingin berdebat lagi.
Qirani menatapnya sekilas, kemudian memilih menyingkir dari hadapan Arga. Ia kembali duduk di kursi kerjanya. Ditatapnya sosok Arga yang terbaring di sofa.
Panjang umur banget !
Baru dipikirin, tau-tau udah nongol di depan mata.
Apa sih maunya ini orang ?
Dateng-dateng numpang tidur.
Emang kantorku ini kamar hotelnya ?
Semaunya aja...
Batin Qirani setengah gondok.
Arga merasa Qirani tak akane mengganggunya lagi, ia pun melipat kedua tangannya di depan dada, dan kembali memejamkan mata.
Beberapa tahun aku nggak pernah bisa ngerasain tidur dengan nyaman.
Sampai aku menciummu kemarin, baru aku ngerasa, udah waktunya aku bersantai...
Pencarianku selama ini terbayar sudah.
Apapun keadaanmu, marah, benci, dendam padaku, aku nggak masalah.
Aku berjanji pada diriku sendiri, sampai kamu mau menikah denganku, aku akan terus berada di dekatmu, aku akan jadi bayang-bayangmu, aku akan terus melekat padamu.
__ADS_1
Aku nggak akan pernah lagi lepasin kamu, Qiran....