
" Kayaknya ada yang berniat mabuk berat malam ini... "
Komentar Doni saat mendapati beberapa botol minuman keras yang sudah tersaji di meja Arga, sebagian telah kosong.
" Jangan banyak omong ! Bikin sakit kepala saja... "
Sahut Arga setelah mematikan rokoknya, kemudian langsung menenggak minuman keras itu dari botolnya.
" Heii... relaks, brooo.... "
Kata Doni yang mengambil paksa botol minuman dari tangan Arga.
" Wah, ada apa ini ? "
Indra yang baru saja datang, keheranan dengan apa yang dilihatnya.
" Tau tuh... Aku juga baru datang, dan lihat nih ! Udah berapa botol yang kosong. "
Sahut Doni menggelengkan kepalanya.
" Ga, kamu kenapa ? "
Tanya Indra setelah memilih duduk di sebelah Arga.
" Cewek bodoh itu.... Bener-bener bodoh !! "
Sahut Arga penuh dengan emosi.
" Siapa cewek bodoh itu ? "
Kembali Indra bertanya dengan penasaran.
" Siapa lagi kalo bukan dia... Aku males sebutin namanya. Udahlah, nggak usah ngomongin dia. "
Jawab Arga masih dengan emosinya.
Indra manggut-manggut, mulai paham maksud Arga. Doni tersenyum simpul. Diperhatikannya Arga yang kini menyandarkan tubuhnya ke belakang.
" Cewek secantik dan sepenurut itu dikata bodoh, apa kamu nggak salah sebut ? "
Kata Doni dengan santai menuangkan minuman ke sloki dan langsung menenggaknya.
" Dia itu bodoh banget, bego dipiara ! Harusnya dia bersyukur bisa jadi pacarku. Biarpun dia itu cuma pengganti, tapi yang digantikan dia kan udah meninggal, udah nggak ada saingan lagi kan ? Kalo Adhisty masih hidup, nggak mungkin juga aku mau jadiin dia pacarku ! "
Kata Arga menggebu-gebu dengan rasa kesal yang tak terelakkan.
" Pengganti ? Jadi selama ini, kamu bener-bener anggap dia sebagai pengganti Adhisty ?! "
Indra bertanya dengan nada tak percaya.
" Kenapa emangnya ? Apa kalian pikir, segampang itu aku jatuh cinta lagi sama cewek lain ? Aku cuma sayang Adhisty ! "
" Gila kamu, Arga ! Jadi itu alasan kamu minum sekarang ? Karena Qirani tau soal Adhisty ? "
Tegur Doni keras.
" Iya, dia tau ! Dan dia bisa-bisanya berdebat denganku kalo dia nggak terima aku menganggapnya sebagai Adhisty. Harusnya dia nggak usah protes soal itu, aku bisa kasih semua yang dia mau, aku bisa penuhi semua kebutuhannya dan anak-anak di panti itu, aku... "
" ARGA !!! ..... Perasaanmu pada Adhisty emang nggak segampang itu berubah, tapi jangan jadiin Qirani sebagai pelampiasannya. Dia punya hati, punya perasaan. Nggak ada cewek di dunia ini yang mau dijadikan pengganti ! "
" Kamu sahabatku apa bukan sih, Don ? Kenapa kamu belain dia ?! Kamu suka ya sama dia, hah ?! "
" Ngaco ! Kamu udah mabuk, Arga !! "
" Ga, Doni benar. Kamu salah kalo... "
__ADS_1
" DIAM !! Aku panggil kalian kesini bukan buat ceramahin aku ! "
Dan untuk sejenak, ketiganya menutup mulut rapat-rapat. Hanyut dalam lamunan mereka masing-masing. Hanya suara penyanyi kafe yang merdu dan bisingnya pengunjung kafe yang lain memenuhi ruangan tersebut.
Doni kembali menuangkan minuman ke slokinya dan langsung menenggaknya habis. Sama halnya dengan Indra.
" Dari wajah, Qirani dan Adhisty emang berbeda. Tapi cara berpakaian mereka sama, sama-sama suka yang tertutup. Sifat dan sikap mereka juga mirip, penurut, imut, dan pendiam. Dari awal, aku udah bisa menebak, kalo kamu suka sama Qirani pasti karena ingat Adhisty... Tapi aku nggak sangka, perasaanmu ke Qirani itu nggak tulus. Jujur aja, Ga... Kasihan Qirani. "
" Okey, kalo awalnya kamu suka dia karena ingat Adhisty, tapi kebersamaan kalian beberapa bulan ini, apa di hatimu nggak ada sedikit rasa sayang pada Qirani, hah ? ... Dia selalu berusaha menuruti apa maumu, dia menerima semua perlakuan kasar mu. Apa hatimu nggak tergerak sedikitpun ? "
" Adhisty udah meninggal, aku yakin dari surga dia nggak mau ngeliat kamu nyakitin orang lain karena dia. Adhisty pasti pingin kamu bahagia, punya pasangan baru, punya kehidupan baru... "
" Doni benar, Ga.... Udah berapa tahun kamu memilih sendiri, sekarang ada Qirani, mungkin sebelumnya dia terpaksa jadian sama kamu, tapi aku perhatiin, akhirnya dia keliatan tulus sama kamu... Kamu inget, waktu ku cium dia pertama kali ? Dia nangis lho, Ga. Dia takut. Tapi aku sendiri ngeliat saat ini, kalo kamu cium dia, dia udah nggak nangis lagi, yaah biarpun dia nggak suka karena di tempat umum, tapi dia biarin kamu cium dia. "
Dengan panjang lebar, Doni dan Indra bergantian berbicara agar Arga paham.
Arga merenungkan semua ucapan kedua sahabatnya. Ketiganya saling bertatap mata. Arga melipat kedua tangannya ke depan dada bidangnya.
Pikiran Arga menerawang, tatapan matanya sendu.
Kenangan saat bersama Adhisty, ingatan saat berdua dengan Qirani, bergantian menari-nari di otaknya.
Apa yang sebenarnya aku rasain ke Qirani ?
Tapi aku nggak mungkin mengkhianati cinta Adhisty.
Dia segalanya buatku.
Dia yang paling berharga dalam hidupku.
Tapi kenapa aku ngerasa sakit saat Qirani menjauh ?
Apa aku benar-benar menganggapnya sebagai pengganti Adhisty ?
Aku emang menyukainya karena dia membuatku teringat Adhisty.
Aku nggak pernah bisa menahan diri buat cium dia, peluk dia.
Malah, aku tersiksa saat nggak bisa ketemu sama dia.
Apa aku udah ngelupain Adhisty ?
Kalo iya, aku nggak bisa menepati janjiku padanya untuk terus setia sampai aku bertemu dengannya nanti di akhirat.
" Qirani menamparku... Kata-kataku menyakiti dia. "
Kata Arga sambil mengalihkan tatapannya ke arah penyanyi kafe yang kini telah berganti personil.
" Dia gadis yang baik, minta maaf lah... Turunkan egomu, belajar lebih tenang dan lembut padanya. Berikan sesuatu, sebuah hadiah sebagai permintaan maafmu... Pasti dia maafin kamu, Ga... "
Saran Indra dengan bijak.
" Tapi dilihat dari sikapnya padaku kemarin ini, dia marah besar. Matanya.... penuh kebencian. "
" Jadi, kamu butuh bantuan kita ? "
Kata Doni.
" Hei, bukankan sebentar lagi Qirani ada acara kelulusan ? Ayo bikin acara atau apa gitu buat kasih dia surprise ? Gimana ? Setuju ? "
" Wah, boleh juga usulmu, Don. "
Timpal Indra riang.
" Ayo, kita culik Qirani, terus kita kasih sebuah acara kembang api dan banyak kado buat dia, kita sewa aja kafe atau mmm..... atap hotel ? Pasti seru ! "
__ADS_1
Sambung Doni memberi saran.
" Entahlah... Aku rasa, dia nggak akan pernah mau ketemu aku lagi. Jelas banget dia marah kemarin. "
Arga berkata dengan lesu. Pasrah. Menyerah.
" Ayolah, kamu bukan Arga yang kukenal. Bukankah ku selalu bilang, nggak ada yang nggak bisa kamu dapatkan. Coba lihat ini, kamu semudah itu menyerah ?! Come on, nggak banget, tau Ga ! "
Doni memberikan semangat kepada Arga.
" Eehh... ntar dulu ! Aku jadi ingat sesuatu ! "
Kata Arga tiba-tiba berseru.
" Apa ? "
Tanya Doni penasaran.
" By the way... Siapa ya yang kasih tau Qirani soal Adhisty ? "
Sahut Arga dengan wajah yang penuh tanda tanya.
" Ah, iya... Tapi apa perlu kita cari tau ? Itu kan bukan masalah besar. "
Sambung Indra.
" Itu masalah besar, tau ! Lihat, gara-gara itu cewek bodoh itu berani sembunyi dari ku, dan parahnya lagi, dia berani melotot, berdebat denganku. Aku nggak suka !! "
Arga merasa dianggap remeh, dia meradang.
" Okey, okey... itu emang jadi masalah besar. Tapi udah deh, nggak usah diperpanjang lah... Sekarang kamu tinggal jalani aja semuanya dengan baik. Buka lembaran baru, tutup kisah lama. Belajar tulus pada Qirani, itu yang terbaik. "
Indra mencoba menenangkannya.
" Qirani itu cantik lho, anaknya lucu. Meskipun pendiam, tapi dia bukan cewek yang bikin bosan. Nggak ada salahnya kamu mencoba tulus ke dia, Ga. "
Tambah Doni memberi Arga masukan.
" Dan lagi, Ga. Paling nggak, kamu harus bertanggungjawab pada Qirani. Kamu yang bikin dia putus dari Galih, kamu yang gangguin hubungan dia sama pacarnya itu. Benar, kan ? "
Sambung Doni lagi.
" Iya sih ... "
Jawab Arga setengah bergumam.
" Jadi, masalah ini udah beres kan ? Nggak perlu lagi dibahas, okey ? "
Indra menegaskan kembali, agar tak penasaran.
Arga mengangguk pelan, tanda setuju. Doni dan Indrapun tersenyum, bernafas dengan lega. Tak mudah membuat Arga menurut begitu saja, tapi sekarang sepertinya Arga mulai mudah diajak bicara, meskipun terlihat dari wajah Arga, rasa kesalnya masih belum hilang.
" Nah, sekarang kita.... "
" Ah, aku tau sekarang. Aku harus kasih hukuman buat cewek bodoh itu karena sebelumnya sudah cuek padaku. Mmm, hukuman apa ya yang pantas buat dia ? "
Arga memotong ucapan Doni dengan cepat.
Senyumnya mengembang lebar. Kini, bukan lagi raut kesal di wajahnya yang terlihat, tapi aura kelicikan nya lah yang tergambar jelas.
Doni dan Indra hanya bisa mengusap dada dan menghela nafas panjang melihat sahabatnya tersebut.
Dasar !
Bukan Arga kalo gampang banget dirayunya.
__ADS_1
Kirain udah oke-oke aja, nggak mikirin lagi soal itu.
Ternyata, masih aja konyol !!!