Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 26


__ADS_3

" Aduhhh... "


Arga memegangi kepalanya yang langsung berdenyut begitu dia beranjak bangun.


Kepalaku sakit banget...


" Ah, Qirani ! "


Teringat sesuatu yang penting, Arga menoleh ke sisinya.


Kosong. Tak ada Qirani disisinya. Arga melihat ke seluruh ruangan kamar. Qirani tetap tak terlihat. Hanya sepasang baju kebaya yang dikenakan Qirani sebelumnya tergeletak di lantai berserakan dalam kondisi rusak.


" Apa dia pulang ? Bukankah semalem dia pingsan ? Dia sudah sadarkah ? "


Gumam Arga sambil memikirkan kejadian semalam.


" Aku harus ke panti sekarang ! "


Ucapnya dan tanpa menghiraukan sakit kepalanya, Arga bergerak cepat mengenakan pakaian dalamnya yang ada di lantai.


" Celana jins ku mana ? Koq nggak ada ? Flanel ku juga nggak ada... "


Matanya tertuju pada baju kebaya Qirani.


" Pasti dipakai Qirani, bajunya pada robek... "


Arga kembali bergumam, menjawab sendiri pertanyaan yang ia ucapkan sebelumnya.


Kemudian sambil mengenakan kaos birunya yang ia pungut di lantai, Arga melihat dompetnya. Diambilnya dompet tersebut kemudian dibukanya, dan dengan cepat ia menyadari bahwa ia kehilangan kartu kunci kamarnya.


Arga menekan tombol telepon di atas meja kecil tepat disisi ranjang.


" Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu ? "


" Mbak, ini kamar 121, saya minta tolong telponin teman saya, suruh ke kamar saya ya, tolong kasih kartu cadangan saya. "


" Kamar 121 ? "


" Iya. "


" Kebetulan sekitar jam dua tadi ada cewek yang nitip kartu kamar 121, pak. Dia minta teman saya mengembalikan kartu itu kepada pemilik kamar, apakah anda kehilangan kartu kamar ? "


" Jam dua ? Apa cewek itu pake flanel warna biru tua dan kuning ? Apa dia pake jins warna hitam ? "


" Pas oper shift jam tujuh pagi ini, teman saya nggak jelasin soal pakaian nya, pak. Cuma operan soal kartu kamar saja. "


" Bisa tolong saya, bantu cek di cctv, mbak ? "


" Untuk cek cctv, saya harus laporan dan ijin dulu kepada supervisor saya, pak. "


" Oh, gitu... Gini aja deh mbak, tolong telpon ke nomer ini, 0XXXXXXXXXXX, pesan saya, Arga butuh pakaian satu stel, sekarang juga. Itu aja mbak, makasih ya. "


" Ya, pak. Segera saya hubungi nomernya. "


" Satu lagi, mbak. Saya baru bangun, sarapan pasti udah lewat ya, tolong antar lagi ya, menunya apa saja, ditambah kopi hitam, jangan terlalu manis. "


" Ya, pak. Ditunggu ya pak. Saya konfirmasi langsung ke bagian pantry nya. "


" Makasih mbak. "


Dan Argapun menutup telepon.


Jadi Qirani emang pulang duluan...


Kenapa nggak nunggu aku bangun ?

__ADS_1


Nggak sabar banget...


Jam dua lagi keluar hotel...


Kalo ada apa-apa gimana ?


Kadang bingung, itu cewek bodoh kayaknya penakut gitu tapi bisa senekad bonek-bonek maniak bola.


Biarpun aku udah minta ijin Bundanya buat bawa dia main dulu, tapi kalo dia pulang sendirian di jam dua malam gitu, apa Bundanya nggak bakal mikir yang nggak-nggak sama aku ?


Pasti Bundanya bakalan mikir aku ini nggak bener, bawa dia pergi dari siang, pulang nggak dianterin, menjelang pagi lagi...


Apa ya alasanku ?


Terus... dia pake baju ku, pastinya kedodoran.


Apa alasan dia ke Bundanya ?


" Oh my God... "


Lebih gampang urusan sama orang gila sekalipun daripada sama Qirani dan Bundanya.


Harus punya alasan yang nggak bikin mereka tersinggung.


Orang-orang kayak mereka itu pasti mudah sakit hati kalo salah ngomong sedikit, karena mereka sebenarnya rapuh, bukan ?


Ntar deh tunggu Doni datang dulu, biasanya Doni punya banyak cara buat urusan cinta begini.


" Ah... mandi dulu aja deh ! "


Dan Argapun segera masuk ke dalam kamar mandi.


SATU JAM KEMUDIAN


" Arga ! Arga ! Kamu itu ya, bener-bener gila ! Semaleman kita muterin ini hotel nyariin kamu sama cewekmu, nggak taunya... Indehoy sendirian !! "


" Nih, baju mu, aku ambil dari apartemen mu. "


Doni melemparkan sebuah tas jinjing daur ulang ke arah Arga yang sedang sibuk dengan sarapan nya di atas ranjang.


Dengan tangkas, Arga menangkapnya dan melihat kedalam tas tersebut.


" Heemm... okey, thanks ! "


Sahutnya lalu meletakkan tas tersebut di sebelahnya.


" Waduh ! Semalem kalian berantem apa gimana ? Ini baju kenapa sampai pada robek begini ? "


Indra berkomentar sembari merentangkan atasan kebaya berwarna merah muda yang dikenakan Qirani sebelumnya.


Arga tak menjawabnya, hanya melirik ke arah Indra sekilas kemudian melanjutkan makannya.


" Ini... Ga, apa yang terjadi ? Apa yang kamu lakuin ? "


Doni tampak terkejut setengah mati saat melangkah mendekat ke ranjang dan melihat bercak darah pada sprei ranjang berwarna kuning gading tersebut.


Kali ini, Arga menghentikan makannya dan ikut melihat ke arah bercak darah tersebut. Indra yang penasaran, ikut mendekati ranjang dan sempat terbelalak karena kaget.


" Kamu gila, Ga ! Dia baru lulus kemarin, dan kamu merusaknya ! Guys, kita udah sepakat bukan, biarpun bandel, kita nggak akan ngelakuin hal kayak gini kalo belum nikah... Kita sudah berjanji, bakal tetap suci sampai pernikahan, biar kita beda sama cowok-cowok lain... "


Kata Indra panjang lebar.


" Aku juga nggak mau ngelakuin itu, tapi aku terpaksa ! Kalian nggak tau, semalam aku ngerasa... Aku yakin, ada yang kasih obat ke aku. Semalam aku bener-bener nggak bisa kendaliin diriku sendiri ! "


Sahut Arga membela diri.

__ADS_1


" Kenapa kamu nggak bilang ke kita, hah ? Kalo semalem kamu bilang, kita bantu kamu dengan cara lain, bukan nya malah memperkosa Qirani kayak gini ! "


" Hei, hei... mulutmu jangan terlalu jujur kayak gitu, Don. Kalo ada yang dengar, ini bisa jadi masalah besar. "


" Emang itu kan faktanya ?! Kalo mereka ngelakuin nya suka sama suka, nggak akan ada baju robek kayak yang kamu pegang sekarang ! Nggak ada juga itu cewek tengah malem pulang senekad itu ! "


" Okey, aku akui, aku salah ! Aku salah !! Iya, aku emang paksa dia semalem. Aku suka sama dia, daripada aku ngelakuinnya sama cewek sembarangan, mending aku ngelakuin sama dia, sama-sama yang pertama, dan aku siap tanggungjawab !! Aku akan minta Ayah ngelamar dia hari ini juga ! "


Kata Arga dengan lantang.


" Bodoh ! Apa kamu pikir dia bakal mau kamu nikahi gitu aja ?! Dia itu beda, Ga ! Dia bukan cewek biasa yang bakal iya iya aja segampang itu ! Pemikirannya lebih sensitif dari orang biasa ! Masa kamu nggak ngerti sih ?! "


" Don, kamu itu temenku apa bukan sih ?! Kenapa kamu nggak ada enak-enaknya ngomong sama aku ?! "


" Aku cuma mau buka pikiranmu aja ! Apa yang kamu lakuin itu salah dan bakal bikin lebih kacau hidup Qirani, tau ? "


" Apa maksudmu ? Aku kan udah bilang, aku mau nikahi dia, kalo perlu, hari ini aku nikahi dia !! "


" Ayolah... jangan berdebat terus kayak gini. Kita ini kan temenan udah dari kecil. Kenapa juga malah bikin masalah tambah runyam... Ayo deh kita ngomong tanpa tarik urat. Okey... ? Ayo, tenang dulu... Santai. "


Indra pun mencoba menjadi penengah diantara keduanya.


Doni duduk di sisi ranjang dengan wajah masam. Arga membekap wajah dengan kedua tangannya.


" Pakai dulu bajumu, Ga. Nggak enak banget ngeliat kamu telanjang bulat gitu cuma pake selimut. "


Kata Indra.


Arga menurutinya. Tanpa berpindah tempat, ia mengenakan pakaiannya di hadapan Doni dan Indra. Selesai mengenakan pakaiannya, Arga melempar tubuhnya dan terduduk di sofa terdekat dari ranjang.


" Aku nggak tau gimana sebelumnya, aku ngerasa gerah pas kita masih main kartu. Lama-lama aku makin kepanasan, dadaku deg-degan makin kencang. Aku memilih ke toilet. "


Arga memulai obrolan terlebih dahulu, sesaat setelah suasana hening.


" Elisa ? Dia nyusulin kamu ke toilet, ketemu nggak ? "


Tanya Indra.


" Ketemu, dia mengikuti ku sampai keluar toilet dan aku ketemu juga sama Qirani pas mau ke arah lift. Aku pikir, aku pingin pulang aja. "


Jawab Arga.


" Kapan kamu sadar itu afrodisiak ? "


Doni penuh tanda tanya, mencoba mencari tahu lebih dalam.


" Pas Elisa masuk ke toilet nyamperin aku. Begitu dia deket, aku langsung bereaksi, nggak tau itu kenapa langsung nafsu gitu aja, tapi aku masih bisa kendaliin sih... Makanya aku langsung keluar toilet dan pingin pulang. "


" Ya namanya afrodisiak... Obat perangsang. Yang bisa bikin hasratmu kepancing buat ngelampiasin nafsu seksmu. "


Sambung Doni sembari berpikir.


" Biasanya reaksi obat itu kan butuh waktu, nggak langsung berasa gitu aja. Aku yakin, beberapa saat sebelum itu, ada yang kasih obat itu ke kamu, tapi siapa ? "


Lanjut Doni, kembali keningnya berkerut.


Hening sesaat, ketiganya bersamaan hanyut dalam pikiran masing-masing. Mencoba mengingat setiap detik kejadian kemarin berulangkali. Mencari petunjuk atas apa yang jadi pertanyaan Doni tadi.


" Apa pemikiran ku sama dengan kalian ? "


Tiba-tiba Indra bersuara lebih dahulu.


" Intan !! "


" Intan !! "

__ADS_1


" Intan !! "


Tanpa disadari, ketiganya kompak menyebutkan satu nama secara bersamaan.


__ADS_2