
Arga menatap berkas yang baru saja disodorkan oleh Indra. Ia membacanya dengan sangat serius. Keningnya tampak berkerut.
" Itu yang aku dapat. "
Kata Indra.
" Hamdi Sulistiyanto... Dari laporan mu ini, kayaknya nggak ada yang salah dengan orang ini. Pekerja kantoran biasa, berkeluarga baik-baik saja, hidupnya juga nggak bermasalah. Tapi, kenapa bisa dihajar habis-habisan oleh Aditya ? "
Kata Arga sembari melipat kedua lengannya di depan dada.
" Laporan di kepolisian, dia yang mencabut laporannya sendiri begitu dia sadar dan pulang dari rumah sakit. Isi laporannya juga cuma penyerangan karena pengaruh alkohol. Nggak ada yang aneh. "
" Aditya itu orang yang jenius. Punya kewaspadaan tinggi, dan disiplin yang kuat. Bukan tipe orang yang suka ribut dan bisa mabuk sembarangan. Apa kamu nggak ngerasa ada yang ganjil ? "
" Kamu terlalu banyak mikir. Namanya laki-laki, wajarlah ribut-ribut karena mabuk. Dan lagi, korban juga nggak perpanjang masalahnya. Ngapain juga kita pusing-pusing ? "
" Nggak, buatku ini aneh. Aneh banget. Nggak mungkin nggak ada alasannya. "
Arga mengalihkan pandangannya dari berkas di atas mejanya. Ia menatap rintik hujan di luar jendela kantornya.
" Periksa lebih dalam lagi. Feelingku biasanya nggak pernah salah. Ada sesuatu yang mencurigakan berhubungan dengan Aditya. Cari tau apapun tentang Hamdi ini. "
Kata Arga dengan serius.
" Okey. "
Jawab Indra.
" By the way... Gimana urusanmu dengan Nyonya Besar dan ayahmu ? "
Indra mengganti topik pembicaraan.
" Masih marah. Yang bikin aku bingung, alasan kemarahan mereka nggak jelas. Kupikir, diam agar semuanya tenang bakalan bisa selesaiin masalah ini baik-baik. Tapi sudah hampir tiga bulan menikah, aku masih nggak bisa membawa Qirani ke kediaman oma dan ayah. "
Kata Arga yang beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan mendekati jendela kantornya.
Diluar, rintik hujan masih sama, tak deras sama sekali. Arga melihat ke arah langit. Awan tampak gelap di pagi hari.
" Hujan yang begini bakalan awet... "
Gumamnya lirih.
Indra duduk di sofa terdekat dengan Arga berdiri. Ditatapnya Arga sekilas, kemudian ia mengambil handphonenya. Mencari sebuah nomer dan mulai mengetik untuk mengirim pesan.
" Doni dan Sherina mau adain acara tujuh bulanan buat anak kedua mereka. Ada yang perlu aku siapin ? "
Tanya Indra dengan jari-jarinya yang lincah di atas layar handphonenya.
" Acara tujuh bulanan ? Bukannya itu cuma buat anak pertama ? "
Tanya Arga.
Kini ia memutar tubuhnya dan berjalan mendekati sofa dimana Indra duduk.
" Seharusnya kayaknya sih emang buat anak pertama. Tapi Sherina bilang, mau anak yang keberapa, selama mereka mampu, mereka akan bikin acara tujuh bulanan pada anak mereka. Sekalian bikin acara perpisahan katanya sih. Tahun ini Doni kan mau ambil S3 nya di Australia, mereka berniat tinggal disana. "
Jelas Indra.
" Oh, baru tau aku soal itu. "
" Itu obrolan semalam lagi main kerumah mereka. Kamu ditunggu nggak dateng-dateng. Semalam nggak keluar rumah ? "
" Nggak, dirumah aja. "
" Melototin Qiranin ? "
" Dia banyak kerjaan. Aku cuma pingin nemenin dia begadang aja. Nggak enak kalo aku malah keluar rumah, padahal dia lagi begadang gitu. "
" Apa ada kemajuan setelah itu ? "
" Kemajuan apa... Dia sibuk sendiri, aku main game. Dia tidur, aku juga ikut tidur. Udah, gitu doang. "
__ADS_1
" Nggak bosen ? "
" Jangan nanya. "
" Kayaknya nggak dianggap ada ya ? "
" Heemm... "
" Padahal mas kawinmu itu lain dari yang lain. Saham perusahaan Grup Ekajaya terbesar. Sayangnya, lebih berharga sahamnya daripada orang yang punya saham. Hehehe... "
" Diam kamu ! "
BBUGGG !!!
Sebuah bantal sofa dilemparkan oleh Arga ke arah wajah Indra. Namun, Indra lebih cekatan. Dengan sigap, ia menangkap bantal tersebut.
" Eh... Aku jadi ingat sesuatu. "
Kata Arga tiba-tiba.
" Apa ? "
Tanya Indra yang masih tertawa kecil meledek.
" Ngomongin saham perusahaan. Kemarin sore, Om Herman bertanya padaku. Tumben banget. Dia itu kan nggak pernah ngebahas soal perusahaan denganku, tapi tiba-tiba dia ngomongin itu. Kata dia, apa aku nggak punya rencana cadangan buat jaga-jaga grup ini jatuh nanti. Aneh kan ? Padahal saham kita bukannya sudah mulai stabil ? Ya, aku akui... Harga saham kita belum setinggi sebelumnya. Tapi apa yang dia pikirin ya ? Kayak kuatir, Grup Ekajaya ini bakalan jatuh lagi. "
Cerita Arga.
" Apa karena kita masih berhutang pada Grup Paradise ? Jadi dia takut soal itu ? Nggak. Bener kata kamu, Ga. Ini aneh. Dia nggak seharusnya kuatir soal hutang. "
" Perusahaan-perusahaan kita yang sebelumnya hampir bangkrut kan udah mulai bangkit. Ditambah investasi dari Grup Paradise, kita nggak kekurangan uang buat bayar hutang dan membuat perusahaan berkembang kembali. "
" Harga saham kita belum tinggi, tapi sanggup bertahan di angka yang stabil sekarang ini. Itu juga bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. "
Sahut Indra panjang lebar.
" Itu maksudku. Aku ngerasa ganjilnya disitu. Apa yang bisa bikin Om Herman kayak berpikir, Grup Ekajaya ini harus punya rencana cadangan ?... "
" Apa dia kuatir karena saham mu ada di tangan Qirani ? "
Kata Indra menebak.
" Kenapa dia harus kuatir ? Qirani kan istriku. Nggak mungkin Qirani ngelakuin hal yang ngerugiin perusahaan suaminya sendiri. "
" Iya juga sih. Cuma masalahnya adalah saham terbesar grup ini menjadi milik Qirani. Sedangkan semua tau, Qirani putrinya Bu Citra, CEO Grup Paradise. Kalo mereka memiliki niat jahat, mengakuisisi grup ini, itu bukan hal yang susah. "
" Mengakuisisi Grup Ekajaya ? Atas alasan apa ? Perjanjian kontrak kita jelas, bukan ? Pokok pinjaman dan bunganya, kita nggak pernah terlambat membayar. Investasi dari mereka juga, kita transparan. Nggak ada yang namanya merugikan. Kenapa mereka ingin mengakuisisi kita ? "
Arga tampak bingung.
" Kan aku bilang, kalo mereka berniat jahat... "
Sambung Indra.
Arga duduk di sofa di hadapan Indra. Ia mengangkat satu kakinya dan meletakkannya di atas satu kaki yang lain. Satu tangannya melipat di depan dada. Sedangkan satu lagi, memangku dagunya.
Melihat posisi Arga, Indra memilih diam. Membiarkan Arga berpikir dengan tenang. Indra mematikan layar handphone nya dan meletakkannya ke atas meja.
" Jujur saja... Perasaan Qirani padaku, sampai hari ini aku nggak begitu jelas. Selalu menghindar, tak peduli, dan acuh tak acuh. Soal ragu, apa dia bakalan terus bersamaku juga itu benar banget. Aku emang ragu. Tapi apa untungnya buat Qirani kalo dia ngejatuhin perusahaan ku ? "
" Gimana soal hubungan antara ayahmu dan bunda ? "
" Nggak nyangka, bunda ternyata cinta pertama ayah. Tapi karena oma, ayah menikah dengan mama. Setelah mama meninggal, beliau-beliau ini sempet balikan, tapi ayah nggak tau kenapa bunda ini tau-tau menghilang. Itu versi ayah. Versi bunda, aku nggak tau. Bunda beberapa kali kerumah, menemui Qirani, tapi beliau selalu menghindariku. "
" Perlu kuselidiki ? "
Tanya Indra.
" Apa perlu ? "
Arga balik bertanya.
__ADS_1
" Entahlah. Tapi daripada penasaran ? "
" Daripada penasaran... ? "
" Apa kamu nggak mau tau soal oma, ayah, ibu mertuamu, dan bunda ? "
Kata Indra.
Arga kembali diam. Termenung. Memikirkan semua hal. Memikirkan semua perkataan Indra.
" Ada satu kalimat yang aku pingin tau artinya. Saat pernikahanku. Siapa yang seharusnya mati ?! "
Ucap Arga.
" Baiklah. Aku akan mengurus semuanya. Secepatnya, aku akan memberimu laporan. "
Kata Indra memutuskan dengan sepihak.
" Atur aja. Lakukan diam-diam. "
" Pasti. "
Sahut Indra.
Setelah itu, Indra bangun dan berjalan ke arah pintu keluar.
" Satu lagi, belikan perlengkapan bayi yang paling bagus buat Sherina. "
Pesan Arga sebelum Indra membuka pintu.
" Oke ! Oh iya, ngomongin soal perlengkapan bayi, aku jadi punya saran buatmu demi menaklukkan Qirani. "
Indra memutar tubuhnya sembari tersenyum misterius.
" Apa ?! "
Arga sangat penasaran dan tertarik.
" Bikin dia hamil aja. "
Sahut Indra yang segera membuka pintu dan keluar.
Sepeninggal Indra, Arga kembali merenung.
Menghamili Qirani ?
Nggak segampang itu.
Biarpun selama ini tidur sekamar, satu ranjang, dia selalu memunggungiku.
Darimana bisa aku menghamilinya ?
Menyentuhnya aja nggak bisa.
Apalagi aku sudah janji padanya.
Aku nggak akan memaksanya...
Atau haruskah aku pakai sesuatu yang lain agar aku bisa melakukannya ?
Tapi... itu sama saja membohongi diri sendiri.
Menghamilinya...
Usul itu nggak buruk.
Kalo dia sampai hamil, oma dan ayah mau nggak mau juga akhirnya menyerah dan menerimanya sebagai menantu.
Kalo dia bisa hamil anak ku, bukankah itu akan membuatnya menganggapku ada ?
Kayaknya... perlu dicoba.
__ADS_1