Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 57


__ADS_3

Qirani menghela nafas panjang. Satu persatu perhiasan yang dikenakannya dilepas dan diletakkannya pada sebuah kotak persegi dengan ukirannya yang indah. Matanya menatap ke arah cermin di hadapannya.


Nyonya Arga Ekadanta...


Istri seorang calon pewaris Grup Ekajaya.


Hemmm....


Siapa yang tau akan masa depan ?


Aku yang sebelumnya cuma seorang anak panti asuhan, ternyata seorang putri tunggal pemilik Grup Paradise.


Dan sekarang...


Qirani tersenyum pada dirinya sendiri melalui cermin di hadapannya.


Pak Bima beneran shock ngeliat bunda dan mama.


Bu Eka apalagi, sampai pingsan.


Apa mereka itu sadar, kalo mereka punya salah yang sangat besar kepada keluargaku ?


Senyum Qirani menghilang.


Rencana mama berjalan mulus sampai tahap ini...


Qirani mengangkat tangannya, meletakkannya di atas meja rias. Ditatapnya sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian yang tersemat di jari manisnya sebelah kanan.


Cincin yang indah...


Pastinya bernilai tinggi.


Bukti cintanya...


Senyum Qirani mengembang. Bukan sebuah senyum kebahagiaan, tapi lebih tepatnya adalah senyum kemenangan.


Permainan pun dimulai...


Siapa yang akan pergi dari pernikahan ini lebih dulu ?


Aku atau kamu, tuan Arga ?


Ucap Qirani dalam hati.


TOK !!! TOK !!! TOK !!!


" Ya... "


Sahut Qirani membalas ketukan di pintu kamarnya.


Pintupun dibuka dari luar, dan seseorang masuk ke dalam kamar. Ternyata sang pengantin lelaki, Arga Ekadanta.


" Sudah mau ganti pakaian ? "


Tanya Arga.


" Ya, aku lelah... "


Sahut Qirani.


Arga mendekat. Ditatapnya sosok cantik yang sedang berusaha melepas tiara di atas rambutnya.


" Sini, biar kubantu. "


Kata Arga.


Ia pun berdiri di belakang Qirani, membantu melepas tiara tersebut. Mengambil satu persatu penjepitnya dari rambut Qirani yang kini berwarna kecoklatan seluruhnya.


" Rambutmu... Sejak kapan berganti warna ? "


Tanya Arga, berbasa-basi.


" Dua hari lalu... "


Jawab Qirani.


" Oh... "


" Kenapa ? "


" Nggak... Nggak papa. Bagus, cocok dengan kamu. "


" Oh... "


Sejenak keduanya terdiam. Arga kembali berpikir, mencoba mencari topik pembicaraan. Suasana terasa canggung dan kaku.


" Kamu... "


" Tadi... "


Mendadak keduanya membuka mulut dan berhenti bicara secara bersamaan. Kembali suasana menjadi canggung dan kaku.


Qirani dan Arga tak sengaja beradu pandang melalui cermin di hadapan Qirani.


" Tadi Adit memberiku dua tiket ke Italia, sebagai hadiah pernikahan kita. Ini... "


Kata Arga.


Ia pun mengeluarkan dua lembar tiket dari balik jas nya. Meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Qirani. Qirani melihatnya sekilas tanpa ekspresi.


" Kalo kamu mau, kita bisa be... "


" Nggak. Aku nggak mau. Simpan saja atau kasih ke siapa yang kamu mau. Kerjaan ku udah numpuk banyak gara-gara ngurusin pernikahan ini. Aku nggak ada waktu buat bulan madu ataupun bersantai. "


Kata Qirani dengan tegas, memotong ucapan Arga.


" Ah, oke... "


Sahut Arga lirih, dengan nada suara yang terdengar kecewa.

__ADS_1


Menolakku ?!


Nggak papa...


Sabar, sabar, sabar...


Dia butuh waktu, semua butuh proses.


Menikahinya juga nggak berarti harus memaksanya menurutiku.


Ingat, ini penebusan dosaku.


Aku harus bisa terima setiap penolakannya.


Dia bukan lagi Qirani yang penakut dan yang bisa aku perlakukan semena-mena kayak dulu...


Dia berbeda sekarang.


Oke, aku nggak masalah.


Aku harus kuat, biar dia nggak kabur dariku...


Batin Arga.


" Tiaranya sudah bisa dilepas... Bisa minta tolong, bukain ritsleting gaunku ? "


Kata Qirani.


Arga segera tersadar dari lamunannya. Dan benar seperti apa yang dikatakan Qirani, tiara di atas rambut Qirani sudah bisa dilepas. Arga segera meletakkan tiara tersebut ke atas meja.


Qirani bangun dari tempat duduknya. Arga mulai mencoba membuka ritsleting gaun pengantin sang istri. Tangannya mulai gemetar, saat ritsleting itu mulai turun dan memperlihatkan punggung hingga ke pinggang tubuh Qirani.


" Kayak nggak pernah lihat badanku aja... Gemetaran kayak gitu. "


Ujar Qirani sembari tersenyum geli.


Ia merasakan jari jemari Arga yang gemetar pada kulit punggungnya.


Aku gemetar bukan karena nggak pernah liat badanmu.


Aku gemetar karena harus menahan diri agar nggak main peluk sembarangan.


Apa kamu nggak paham ?


Pingiiinnn banget meluk kamu saat ini, melampiaskan semua rasa kangen ku selama ini.


Tapi aku takut kamu marah, aku takut kamu nggak suka, aku takut kamu jadi jauh lagi ntar...


Batin Arga.


" Sudah... "


Ucap Arga begitu ritsleting sudah turun di paling ujung bawah.


" Makasih. "


Kemudian dia memutar tubuhnya, menghadap ke arah Arga. Arga melihatnya dengan bingung.


Apa dia mau...


" A-apa ? "


Tanya Arga setengah gugup, wajahnya tampak memerah.


Apa sih yang ada di otaknya ?


Mesum !


Batin Qirani setengah kesal.


" Aku mau ganti baju. Apa kamu masih mau tetap disini melihatku telanjang ?! "


Ketus Qirani.


Oohh... kirain...


Arga merasa malu pada dirinya sendiri.


" Ya, aku keluar. "


Kata Arga akhirnya.


Dan dengan langkah kaki yang terpaksa, Arga pun menuju pintu keluar. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti sebelum mencapai pintu. Ia berbalik.


" Aku lupa. Bukankah kita sudah menikah ? Jadi kenapa aku harus keluar ? Kita suami istri, jadi... "


Kata Arga, yang sengaja menggantungkan kalimatnya, berharap Qirani mengerti maksud hatinya.


Qirani memikirkan ucapan Arga.


Iya, emang sudah nikah.


Emang suami istri...


Tapi...


" Aku belum siap. Bisa minta waktu ? "


Kata Qirani bersikap tegas.


" Bisa, bisa... Aku nggak akan paksa kamu kalo kamu belum siap. Nggak papa, nggak papa. "


Jawab Arga cepat.


Kemudian dia membuka jas pengantinnya. Melemparkannya di atas tempat tidur yang dipenuhi dengan taburan bunga mawar merah dan putih.


" Aku nggak akan mengintip mu. "


Kata Arga.

__ADS_1


Lalu ia pun merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Merenggangkan pita dasinya. Dan memejamkan matanya.


Melihat Arga yang sudah terpejam, Qirani pun mulai menurunkan gaunnya. Melepasnya dengan hati-hati.


Arga yang sebelumnya terpejam, kini membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke arah Qirani dengan perlahan.


Tampak di matanya, tubuh Qirani yang kini hanya mengenakan lingerie. Arga menelan ludah. Tubuhnya terasa mulai menghangat. Pikirannya mulai berisi hal-hal yang menggairahkan.


Segera Arga membuang mukanya ke arah atas, menatap langit-langit kamar. Wajahnya merah, terasa panas. Arga segera mengatur nafasnya yang mulai tal stabil.


Tahan...


Tahan...


Tahan...


Ucapnya berkali-kali dalam hati.


Dipejamkannya kembali matanya. Mulai mengalihkan perhatiannya sendiri ke hal yang lain. Mencob memikirkan sesuatu yang kiranya bisa menghilangkan gairahnya.


" Ini, ganti bajumu. Nggak nyaman tidur dengan pakaian formal begitu. "


Suara Qirani terdengar begitu dekat.


Arga membuka matanya dan mendapati Qirani yang sudah berada di sisi tempat tidur. Di tangannya terlihat sebuah piyama dengan motif garis horisontal berwarna biru dan kuning.


Arga bangun dan terduduk di tepi tempat tidur. Diambilnya piyama tersebut dari tangan Qirani. Dilihatnya, Qirani kini sudah mengenakan piyama dengan motif yang sama.


" Kembaran ? "


Kata Arga.


" Hemm... Kayaknya lucu aja. Nggak suka ? Sini, aku ambilin piya... "


" Nggak, aku suka. Aku sangat suka. "


Potong Arga cepat.


" Oh... Syukurlah. "


Sahut Qirani.


Qirani merangkak naik ke atas tempat tidur. Mengacak-acak taburan bunga mawar di sekitar tubuhnya.


" Siapa yang nyiapin kamar pengantin kita ? "


Tanya Qirani seraya mengubah posisi duduknya, membelakangi Arga.


" Doni dan Sherina. "


Jawab Arga sambil melepaskan pakaian di tubuhnya.


" Oh... Sherina ? Siapa Sherina ? "


Tanya Qirani.


" Istrinya Doni. Temen kuliah juga. "


Jawab Arga yang kini mulai mengenakan piyama dari Qirani tadi.


" Mmm, mereka sudah punya anak ? "


" Sudah, satu. Tapi Sherina lagi hamil yang kedua, baru empat bulanan. "


" Keluarga kecil. "


Gumam Qirani.


" Apa ? "


Tanya Arga yang tak mendengar jelas apa kata Qirani.


" Nggak... "


Sahut Qirani.


" Aku kunci pintu kamar dulu. "


Kata Arga setelah selesai mengganti pakaiannya.


Tak menunggu jawaban, Arga bergegas ke arah pintu. Ia merapatkan pintu lalu memutar anak kunci pada lubangnya dan mencabutnya. Diletakkannya kunci tersebut di atas meja.


Di tempat tidur, Qirani sudah berada di dalam selimut dengan posisi miring memunggunginya. Ada sebuah guling yang tergeletak di tengah tempat tidur.


" Baiklah... Malam ini tidur dengan nyenyak. "


Gumamnya lirih.


Kemudian Arga menaiki tempat tidur dan merebahkan dirinya. Berusaha untuk santai dan menyamankan tubuhnya. Ditatapnya langit-langit kamar. Mencoba untuk tidur.


Qirani diam tak bergerak dalam posisi miringnya. Menatap cincin pernikahan di jari manisnya.


Situasi ini...


Bukankah seharusnya aku merasa senang ?


Sekarang semua sesuai dengan rencana.


Dia juga nggak berani menyentuhku tanpa ijinku.


Gantian aku yang mempermainkan dia, bukankah itu bagus ?


Tapi...


Kenapa aku ngerasa seharusnya nggak kayak gini... ?


Kayak ada yang nggak kurang.


Apa ya...

__ADS_1


__ADS_2