
" Bunda, saya serius. Saya butuh ketemu Qirani. "
Arga memohon dengan sangat untuk kesekian kalinya.
" Qirani nggak mau ketemu kamu, dia nggak mau kamu jadi wali asuhnya. Tolonglah nak, kasihani dia. Dia cuma mau sendiri sekarang ini. "
Sahut Bunda dengan sedih.
Sebenarnya apa yang terjadi juga aku nggak tau, tapi Qirani udah pesen, nggak mau ketemu lagi sama dia.
Padahal apa yang salah sama si Arga ini...
Biarpun dia orang kaya, tapi dia sangat peduli sama Qirani dan anak-anak panti yang lain...
Batin Bunda.
" Tapi.... Saya cuma minta waktu dia sebentar aja. Ada yang mau saya omongin sedikit. "
" Kamu sudah coba ke sekolah nya ? "
" Sudah, seminggu ini saya selalu nungguin di depan sekolahnya, tapi saya nggak ketemu juga, saya juga ke kelasnya, dia juga nggak ada. Saya juga bingung, kata temen-temennya, dia masuk tapi kenapa bisa nggak ketemu ya.... "
" Apa karena kamu keliatan mencolok, jadi dia bisa langsung sembunyi duluan ? Kamu kan tau, sekolahnya Qirani itu cuma sekolah biasa yang jarang kedatangan seseorang yang beda kayak kamu gini. Mobil kamu bagus, penampilan kamu lain dari yang lain, keliatan beda.... "
Mendengar kata-kata Bunda, Arga merenungkannya.
Apa iya ya....
Ah, bisa jadi.
Terakhir ke sekolah dia waktu itu aja, semua murid di situ ngeliatin aku udah kayak ngeliat artis gitu, pada heboh...
" Hari ini Qirani sekolah kan ? Ada ekskul nggak ? "
" Iya dia ke sekolah, tapi nggak tau deh ada ekskul apa nggak, kan dia udah kelar ujian, tinggal tunggu kelulusan. "
" Ya udah, Bunda. Saya pamit ya, jangan telepon Qirani saya mau ke sekolahnya. "
" Ah iya.... Semoga masalah kalian cepat selesai ya... "
" Iya, makasih Bun... "
Dan tanpa sempat Bunda membuka mulut kembali, Arga sudah melesat pergi.
DI SEKOLAH QIRANI
Luna memperhatikan sahabatnya yang tengah bengong di dalam perpustakaan sekolah. Buku yang dipinjamnya sih terbuka lebar di hadapannya, tetapi tatapan Qirani tidak tertuju pada buku tersebut.
Luna melangkah masuk ke dalam perpustakaan. Menghampiri dimana Qirani yang masih melamun dan tak menyadari kedatangannya.
" Qiran... Woi ! "
Tegur Luna sambil mencubit lengan Qirani.
" Auuw.... Luna ! Sakiitt.... "
Qirani tersentak kaget, meringis kesakitan sambil mengusap lengannya.
" Ini perpustakaan, tempat membaca bukan tempat melamun. "
Kata Luna mengingatkan, dan ia mengambil tempat duduk tepat di hadapan Qirani.
" Justru karena ini perpustakaan, jadi pas buat melamun kan ?... "
Qirani membantahnya sambil melempar senyum.
" Oohh....Okey, melamunlah sepuas hati kau ! "
Sahut Luna kesal sambil membuang muka ke arah lain, pura-pura melihat ke sekelilingnya.
" Aku... Okey, okey.... aku curhat deh sama kamu. "
Melihat kekesalan sahabatnya, Qirani tersenyum. Luna menoleh, menatap Qirani dengan penuh semangat.
" Nah, itu yang aku mau. Jangan selalu menanggung semuanya sendiri. Aku ini temenan sama kamu udah lama, harusnya kamu bisa berbagi cerita sama aku. Aku aja suka curhat sama kamu. "
" Iya, maaf. Aku tau aku salah.... "
Kata Qirani yang kemudian menggenggam jari jemari Luna dengan hangat.
" Apa yang membuatmu bingung ? "
Tanya Luna penasaran.
" Apa yang kamu lakukan kalo kamu itu ternyata seorang pengganti di masa lalu seseorang ? "
Jawab Qirani sambil menatap serius ke arah Luna.
" Pengganti ? Maksudmu apa ? Aku nggak ngerti... "
Luna terlihat kebingungan, bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Qirani, ia malah balik bertanya.
" Ada seseorang... Dia bilang dia suka padamu, sayang, tapi itu karena kamu itu mirip dengan pacarnya yang udah meninggal. Apa yang harus.... "
" Ntar dulu ! Jangan bilang, ini tentang kamu ?! "
Luna memotong kalimat Qirani dengan cepat.
" Ini emang tentang aku.... "
Sahut Qirani lirih sembari menganggukkan kepalanya.
" Iisshhh.... cowok itu ! Mentang-mentang cakep, tajir, keren, tapi semena-mena sama kamu ! Aku nggak terima ini. Apa-apaan itu, berani jadiin kamu sebagai pengganti pacarnya, hah ?! Kamu ya kamu, pacarnya ya pacarnya ! Mana bisa di sama.... "
" Sssttt.... Kecilin suaramu, ini perpustakaan. Jangan sampai kita diusir sama Bu Peni. "
Qirani langsung memperingatkan Luna agar segera tenang, sambil melirik ke arah Bu Peni, sang penjaga perpustakaan.
__ADS_1
Benar saja, Bu Peni tengah memelototi keduanya dari tempatnya duduk. Qirani dan Luna langsung tersenyum bersamaan.
" Udah putusin aja cowok itu. Dia nggak baik buat kamu. Kamu jangan takut, kalo perlu, aku yang akan temui itu cowok sebagai wakilmu, gimana ? "
Luna kembali melanjutkan percakapan dengan nada suara yang lebih pelan.
" Jujur aja, aku takut ngomongnya. Aku itu kalo deket sama dia, bawaannya langsung gagap kalo ngomong. Dia itu arogan, jahat dan mengerikan. Dia udah ambil my first kiss, tau... Padahal pacaran sama Mas Galih, aku belum pernah dicium. "
" Wah, parah juga itu cowok. Dia lahir dari apaan sih ? Dia anak presiden apa gimana ? Bisa semau perut begitu ? "
" Ayahnya pemilik usaha properti terbesar di negara ini, mungkin itulah yang bikin dia semena-mena. Eh, tapi Lun.... Dia itu baik banget sama keluarga di panti ku... "
" Iiihh, kamu ini gimana sih ? Koq berubah gitu ? Jadi sebenarnya gimana ? Dia ini baik apa jahat ? "
" Mmm, aku bingung. Dia emang galak tapi dia peduli... Jadinya gimana ya, dia ini jahat apa baik menurutmu ? "
" Menurutku, kamu itu linglung ! "
Jawaban Luna membuat percakapan mereka terhenti.
Qirani terlihat pasang muka masam. Luna lebih masam lagi melihatnya.
" Tuh kan, bingung ih ! "
Keluh Qirani lagi.
" Biar nggak bingung, ayo ikut aku sekarang... "
Tiba-tiba muncul seseorang sudah berdiri di sisi Qirani.
Qirani dan Luna mendongak ke atas dan melihat siapa yang berbicara.
" Ih ?! "
" Koq... "
Sontak keduanya terkejut saat mendapati Arga yang tengah berdiri tersebut. Mengenakan seragam putih abu-abu dan topi hitam.
" Niat amat, segala menyamar jadi murid sini... "
Komentar Luna dengan nada ketus.
" Aku masih ada pelajaran... "
Kata Qirani sembari menurunkan pandangannya dari sosok Arga ke buku di hadapannya.
Dari kapan dia berdiri disini ?
Kenapa aku bisa nggak sadar dia tau-tau ada ?
Semoga dia nggak denger apa yang aku omongin sama Luna tadi...
Batin Qirani cemas.
" Jangan bohong, kamu kan udah selesai ujian, mana ada pelajaran. Geser ! "
" Kamu itu kasar, nggak pantes buat Qirani. "
Kata Luna, lagi-lagi dengan nada ketusnya.
" Siapa kamu ?! Jangan sok ngatur aku pantes apa nggak buat dia. Dia ini udah sah jadi pacarku. "
Sahut Arga sama ketusnya sembari melingkarkan lengannya ke bahu Qirani.
" Kak, ini perpustakaan.... "
Kata Qirani merasa jengah dengan rangkulan Arga, kemudian menepis lengan Arga dengan pelan.
" Kamu ! "
Arga meradang. Dan tangannya kembali merangkul Qirani dengan paksa dan erat.
" Gila ih, parah ! "
Komentar Luna dengan tatapan yang terlihat tidak suka kepada Arga.
" Berisik ! "
" Kamu yang berisik, ini sekolahan ku, perpustakaan ku, kamu siapa ? Berani-beraninya nyelonong masuk kesini, coba aja aku panggil pak satpam ! "
" Hei, cewek tengil ! Jangan suka ikut campur ya ! Aku beli sekolahmu ini, aku drop out kamu langsung ! "
" Jiaahhh ! Jangan sok kaya ! "
" Aku emang kaya, masalah buat mu ? "
" Cih ! Yang kaya itu orangtuamu, kamu tuh nggak punya apa-apa selain sikap arogan mu yang nggak banget ! "
" Apa katamu ?! Ulangi sekali lagi ! "
" Kamu itu arogan, jahat, sok kaya, nggak pantes... "
" Kalian bertiga !!! Keluar dari sini !! "
Suara Bu Peni yang menggelegar bak petir di siang bolong, memotong kalimat Luna yang belum selesai.
Dari tempat duduknya, Bu Peni menunjuk ke arah ketiganya dengan wajah yang memerah karena marah.
Qirani segera menutup buku yang dibacanya. Luna bangun dari tempat duduknya dan mengacungkan jari tengahnya ke arah Arga sebelum ia meninggalkan perpustakaan terlebih dahulu.
" Ayo, Kak.... "
Kata Qirani menarik tangan Arga untuk mengikuti jejak Luna, keluar dari perpustakaan.
" Maaf, Bu.... Lain kali nggak akan diulangi lagi. "
Ucap Qirani saat melewati Bu Peni yang masih tampak kesal.
__ADS_1
" Kamu berani ulangi lagi, rame di perpustakaan, jangan harap bisa masuk lagi ke perpustakaan ! "
" Ya Bu, maaf.... "
Qirani menganggukkan kepala pelan. Kemudian dengan menyeret Arga, meninggalkan ruang perpustakaan.
Arga yang mengikuti jejak Qirani dari belakang, tersenyum senang saat menatap genggaman Qirani pada tangannya. Dan dengan cepat, Arga membaliknya, membuat dia lah yang menggandeng Qirani.
Qirani menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang. Ditatapnya tangan Arga yang kini berbalik menggenggamnya. Kemudian ia mengalihkan tatapannya ke wajah Arga. Ada senyum yang mengembang disana.
" Aku ini cowok mu, jadi akulah yang gandeng kamu, dasar cewek bodoh ! Ayo, ikut aku pulang. "
Kata Arga sembari menyentil kening Qirani.
" Aku nggak bisa ikut, Kak... ".
" Wah, kemajuan ya. Seminggu nggak ketemu aku, menghindari ku terus, kamu bisa bilang nggak tanpa gagap. Apa karena ini di sekolahmu ? Jadi kamu nggak lagi takut padaku, hah ? "
Kata Arga dengan sinis.
" Bukan itu... Maksud aku, aku masih ada... "
" Lihat ini... Oh, okey. Semakin menolak ku, semakin bikin aku semangat buat menghukum mu ! "
Arga memotong kalimat Qirani dengan cepat.
Perlahan, Arga mendekat ke arah Qirani. Tinggal seinchi lagi, Arga menghentikan langkahnya. Qirani menatap ke arahnya.
Jangan bicara lagi.
Jangan ngomong apa-apa lagi.
Jangan provokasi dia....
Ini sekolahan, kalo dia aneh-aneh, aku yang bakal malu...
Okey, ikuti aja maunya.
" Aku mau tanya sama kamu, kenapa nggak mau ketemu aku ? "
" Aku ... "
" Kenapa menghindari ku terus, hah ? "
" Itu... "
" Apa kamu punya pacar baru ? Balikan sama Galih ? "
" Haa ? Aku bukan cewek .... "
" Aku nggak suka ditolak. Apa alasanmu menolak ku terus terusan ? "
" Aku bukan pengganti, AKU BUKAN ADHISTY !!! "
Dengan jelas, Qirani menegaskan apa yang selama ini ada di pikirannya. Arga seketika terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Genggaman nya pada Qirani terlepas dengan sendirinya.
" Ka-kamu... "
Arga tergagap, tampak shock dengan yang dikatakan Qirani.
" Terakhir kita ketemu, kakak mabuk parah. Dan manggil-manggil nama Adhisty. Aku udah tau, siapa Adhisty. Pacarmu yang udah meninggal. "
" Aku tanya sama kamu, siapa yang kasih tau ku soal dia ?! "
" Nggak penting siapa yang kasih tau aku ! Yang pasti, Kakak selama ini anggap aku adalah Adhisty, bukan ? Semua kepedulian kakak, semua kata sayang kakak, semua yang kakak lakuin buat aku, itu nggak pernah buat aku sepenuhnya, itu karena aku mirip Adhisty, bukan ?! "
" Diam ! "
" Berhenti mencari ku lagi, jangan pernah datang ke panti atau ke sekolahku lagi. Aku nggak akan pernah mau ketemu kakak lagi. Cukup sampai disini. "
" Kamu berani mutusin aku ?! "
" Aku Qirani Asha, anak panti asuhan, bukan Adhisty, teman masa kecilmu yang jadi pacarmu. Jadi aku mohon, kak. Bangunlah dari mimpimu. Terima kenyataan. Aku bukan Adhisty, aku nggak mau jadi penggantinya. "
" Lalu kenapa kalo aku mau kamu tetap jadi penggantinya ? Pacaran sama aku, bisa bikin kamu yang anak panti ini bakal hepi, aku bisa beri semua yang kamu dan anak panti lainnya asal kamu tetep diam disisiku, apapun statusmu. Jadi pengganti juga bukan sesuatu yang... "
PLLAAKKK !!!
Belum selesai Arga berbicara, Qirani menamparnya dengan sangat keras. Hingga meninggalkan bekas merah di pipi kiri Arga.
" Kamu ?! Kamu berani-beraninya menamparku ?! "
Arga langsung mencekal pergelangan tangan Qirani.
" Lepasin ! "
Kata Qirani dengan tegas sambil menghempaskan tangan Arga.
" Brengsek ! Kamu beneran be... "
" Mulai hari ini, lihat aku !!! Aku Qirani, bukan Adhisty ! "
Kata Qirani sambil melotot kepada Arga.
Tanpa menunggu jawaban dari Arga, Qirani memutar tubuhnya dan berlalu meninggalkan Arga yang masih geram dengan sikap Qirani.
Cewek bodoh !!!
Siapa sih yang cerita soal Adhisty ke dia ?
Lagi emang kenapa kalo dia jadi pengganti Adhisty, Adhisty juga udah meninggal, nggak perlu juga dia marah...
Salah dia, kenapa dia terlalu mirip dengan Adhisty.
Salah dia, kenapa juga sikap dan sifatnya bikin aku ingat Adhisty.
Harusnya dia bersyukur, biarpun aku menganggapnya sebagai Adhisty, dia bakalan bahagia bersamaku...
__ADS_1
Dasar bodoh ! Cewek bodoh !!!