Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
Amara kembali masuk rumah sakit


__ADS_3

"Selamat pagi pak" Seorang penjaga pintu gerbang utama perusahaan menyapa atasannya dengan sorot bingung. Tidak biasanya sang atasan menghampirinya saat jam kerja baru saja di mulai. Benar-benar hal yang baru pertama kali Tama lakukan.


"Selamat pagi" Dengan ramah dan senyum mengembang Tama membalas sapaannya. "Pak Dodi ya?"


"Benar pak, saya"


Tama mengangguk meresponnya. "Sudah berapa lama bapak kerja di sini?"


"Hampir sepuluh tahun pak"


"Cukup lama ya?"


"Betul pak"


Lagi, Tama merespon dengan bahasa tubuhnya, mengangguk.


Sempat hening selama beberapa detik, Tama kembali berucap. "Jika bapak ingin bekerja di sini lebih lama lagi" katanya dengan nada lembut tapi seperti sebuah ancaman. "Tolong katakan apakah bapak pernah mengusir istri saya Naraya ketika dia berkunjung kemari, DULU?" Tambahnya dengan penuh penekanan.


Resah sekaligus cemas, itulah yang terlihat dari gestur tubuh pria berkemeja putih. Wajahnya pucat pasi menahan gugup yang kian lebih.


"Apakah bunda yang sudah menyuruh bapak melakukan pengusiran terhadap istri dari atasan bapak sendiri?"


Rentetan pertanyaan membuat satpam bernama Dodi menampilkan raut gelisah.


"Saya pastikan ketidakjujuran bapak akan mempengaruhi karir bapak"


"Pak s-saya"


"Jujur saja pak!" Potong Tama cepat. "Karena jika bapak berbohong, saya akan langsung memecat bapak saat ini juga, dan bapak tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dimanapun"


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya pak, kami mendapat perintah dari nyonya besar"


"Bunda?" Mata Tama memicing. "Kami?"


"I-iya pak, kami berempat, tiga yang lainnya sudah resign"


"Begitu ya?"


"Betul pak, tapi sejujurnya saya tidak pernah mengusir nona Nara, sebab saat nona datang kemari, kebetulan pas bukan shift saya"


"Jadi_" Tama menggantung ucapannya berharap Dody akan menjelaskan lebih detail.


"Waktu itu nyonya besar memberi kami briefing pak, nyonya menyuruh kami untuk segera mengusir nona Nara jika datang kemari dan tidak memperbolehkan nona menemui bapak"


Tertegun, Tama mendengar jawaban Dody. Tapi pria itu sama sekali tak heran dengan sikap bundanya. Menghela napas berat, ia sepertinya tak ingin menanyakan pada satpam komplek rumah orang tuanya, karena Tama yakin akan mendapatkan jawaban yang sama seperti satpam di sini.


Bunda tega sekali terhadap menantu bunda sendiri.


"Baiklah pak, jangan bilang apapun pada bunda jika saya menanyakan hal ini pada bapak"


"B-baik pak, saya juga memohon agar saya bisa tetap bekerja disini"


"Iya, dan ingat! jangan pernah mau untuk melakukan sesuatu yang tidak di benarkan"


"Siap pak, sekali lagi saya mohon maaf"

__ADS_1


"Hmm"


Tama berbalik, lalu melangkah. Bukan ruangannya tujuan pria itu, melainkan area parkir. Dia akan ke rumah sakit guna memperjelas tentang Amara. Tama akan melakukan tes DNA sesuai dengan informasi yang di dapat melalui search di halaman google, segala persyaratanpun sudah Tama persiapkan sejak semalam.


Menghidupkan mesin, Ia memutar roda kemudi ke arah kiri dengan pandangan menatap spion luar sebelah kanan, mobil pun mulai melaju dengan kecepatan rendah keluar dari tempat parkir.


Setibanya di rumah sakit, pria itu berjalan menuju bagian informasi untuk menayakan perihal tes DNA, salah satu pegawai mengantarnya menuju ruang laboratorium untuk melakukan tahapan tes yang akan Tama lakukan. Sudah ada seorang dokter yang menunggu kedatangannya, sebab sebelumnya Tama memang sudah membuat janji dengan dokter kenalan dari temannya.


"Pak Tama?"


"Benar"


Mereka saling berjabat tangan dengan melengkungkan bibir ke atas.


"Saya dokter Ardi, temannya Chandra"


"Iya Chandra sudah bercerita tentang anda pada saya. Senang berkenalan dengan anda"


Kedua pria itu sama-sama mengulas senyum, lalu dokter Ardi membawa Tama memasuki ruang pemeriksaan.


Sungguh Tama melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain serta tanpa sepengetahuan dari siapapun. Rasanya, ia tidak ingin percaya lagi pada siapapun termasuk orang tuanya. kepercayaan itu benar-benar hilang setelah mendengar pengakuan dari Soni, Bik Sani dan satpam. Kepada temannya Chandra pun Tama tidak mengatakan bahwa dirinyalah yang akan melakukan DNA tersebut. Ia benar-benar ingin membuktikannya sendiri dengan caranya.


Meskipun bisa saja dia menyewa seseorang untuk menyelidikinya, tapi kalau untuk menggeledah rumahnya sendiri demi mencari sertifikat dan flaskdisk berisi video asli yang kemungkinan bundanyalah pembuatnya dan tersimpan di rumah orang tuanya, sepertinya tidak mungkin. Itu sebabnya dia akan melakukan secara diam-diam agar Rania tak bisa lagi berkelit.


"Baik pak Tama, pemeriksaan sudah selesai, anda bisa menunggu hasilnya selama kurang lebih sepuluh hari"


"Terimakasih dokter Ardi"


"Kami akan segera menghubungi anda begitu hasilnya keluar"


"Tidak perlu sungkan" si dokter menerima ulurang tangan Tama lengkap dengan ukiran senyum.


"Kalau begitu, saya permisi"


"Ya silakan"


****


Tak ingin kembali ke kantor, Tama menjalankan mobilnya menuju rumah Nara. Ia berniat melihat Amara meski dari kejauhan.


Namun saat sampai di dekat area rumahnya, netra Tama menatap seorang pria tengah bermain-main dengan dua anak gadis salah satunya Amara.


"Ara mau pa"


"Mita juga mau dad"


"Siapa pria itu?" kenapa Amara memanggilnya papa? siapa anak perempuan lainnya?"


Tama bergumam seraya terus mempertajam pendengaran dan fokus sepenuhnya ke arah mereka.


Selang tiga detik, Aksa seperti merogoh saku celana lalu mengeluarkan benda pipih dari dalam sana.


Entah apa yang dia katakan melalui sambungan telfon, sebab suaranya sangat lirih, membuat Tama tak bisa mendengarnya. Tapi sekian detik kemudian pria itu sedikit berteriak memanggil nama Amara yang terdengar sangat jelas di telinganya.


"Amara" Teriaknya membuat kedua anak itu menoleh ke arah Aksa. "Mommy telfon sayang"

__ADS_1


"Papa Aksa bilang ke mommy, Ara lagi sibuk banyak-banyak, lagi main masak-masak sama Mita, Ara nggak mau ngomong sama mommy, bilang juga ke mommy Ara baik-baik ajah" ujarnya tanpa jeda.


"Dia suaminya Nara? nggak mungkin, aku dengar sendiri saat Aldika bertanya tentang statusnya. Dia bilang belum menikah"


Tunggu,,,!


"Aksa" Tama bergumam lirih mencoba mengingat-ingat nama yang pernah Nara sebutkan tempo dulu "ahh kenapa aku lupa. Tapi aku yakin sekali pria itu hanya temannya"


Memikirkan banyak hal, membuat kepala Tama semakin berdenyut. Semua benar-benar penuh misteri. Satu hal yang masih mengganggu pikiranya, yaitu tentang video tak senonoh yang sampai saat ini masih berkelebat dalam otaknya.


Menyalakan mobil, pria itu menginjak pedal gas dan kopling secara bersamaan, setelahnya melepaskan tuas rem tangan di samping kirinya.


Perlahan, mobil berjalan menjauh dari area sekitar rumah Nara.


Seperginya Tama, Amara langsung mengalihkan pandangan ke arah jalan, persekian detik ia berlari seraya memanggil Daddynya, membuat Aksa mengernyit keheranan.


"Amara" pekik Aksa sambil berlari mengikuti langkah Ara.


"Daddy" berteriak sangat keras, tiba-tiba semuanya gelap. Anak itu jatuh pingsan karena terik matahari, di tambah rasa lelah setelah bermain bersama Mita.


"Ara" Aksa kian panik ketika melihat tubuh Amara tumbang.


Dia segera menggendong Amara lalu membawanya menuju mobil.


"Daffa!" Suara Aksa membuat jantung Daffa berdetak sangat kencang. Ia buru-buru keluar dari dalam toko bersamaan dengan pak Ramdan.


"Ada apa dengan Amara bang" Panik dan takut itulah yang di rasakan Daffa.


"Cepat bawa Amara ke rumah sakit, kendarai mobilku"


"K-kuncinya bang?"


"Masih ada di mobil belum ku cabut"


Sementara Mitta menangis sesenggukan melihat Amara hilang kesadaran.


"Pah, tolong jaga Mita, kami akan membawa Amara ke rumah sakit"


"I-iya nak iya, hati-hati kalian" sahutnya sambil membukakan pintu untuk Aksa. Jantungnya berdebam sangat kuat, sementara tangannya gemetar menahan rasa takut akan terjadi sesuatu pada sang cucu.


Dengan terburu-buru Daffa mengendarai mobil berwarna putih susu.


Aksa yang duduk di kursi penumpang bagian belakang seraya menggendong Ara di pangkuannya, terus memberikan bisikan-bisikan kecil di telinga Amara sambil melonggarkan pakaiannya.


"Ara sayang, kuat ya nak, kita akan segera sampai di rumah sakit"


BERSAMBUNG...


Insya Allah mulai besok saya update satu part setiap hari...!


Spesial hanya buat kalian yang udah dukung dengan memberikan like dan komentar.


Salam sayang dariku...😘😘


Regard

__ADS_1


Ane


__ADS_2