
Hari sudah berganti minggu, lalu minggu berganti bulan. Nara tetap pergi ke kantor meski usia kandungannya sudah menginjak bulan ke sembilan. Putri kecil mereka, lambat laun bisa kembali normal dan benar-benar terbebas dari leukimia. Intensitas pertemuan antara Tama, Nara dan Amara terasa berkurang sebab Amara sudah mulai memiliki banyak kegiatan di sekolah, sementara Tama dan Nara sibuk dengan bisnisnya. Namun semua itu, tak membuat mereka hilang waktu kebersamaan.
Rania yang sudah kembali bisa berjalan dan lebih aktif, selalu mendampingi sang cucu dalam mengisi hari-harinya termasuk mengantar sekolah, menemaninya les berenang dan melukis. Banyak di antara wali murid dari teman-teman Amara yang mengatakan jika Rania adalah oma muda yang cantik dan energik.
Gadis kecil itu tak sedikitpun kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Sebab Tama dan Nara sesekali mengajaknya jalan-jalan untuk mengisi hari libur mereka.
Selain Rania yang tampak aktif, Idris dan Ramdanpun kerap di juluki opa tampan dan keren. Kedua pria paruh baya itu sering sekali bertemu dan bermain catur, kadang pergi ke pesantren untuk memberikan donasi dan mengikuti pengajian.
Mereka tampak bahagia apalagi sebentar lagi akan hadir dua cucu sekaligus.
Tentang Nara, seperti yang Rania katakan, perutnya yang semakin hari kian membesar, rupanya juga mulai membatasi setiap pergerakan Nara. Ia mulai merasa cepat lelah jika harus naik turun tangga. Dia bahkan sudah tak mampu bertahan lama jika harus berdiri di dapur untuk membantu ARTnya memasak.
Tama bukannya tak peduli dan membiarkan istrinya tetap bekerja di tengah-tengah kehamilan besarnya. Semua karena keinginan Nara sendiri. Dia tak betah kalau hanya duduk dan berdiam diri di rumah. Ia akan lebih senang bertemu dengan kolega dan para karyawan yang jelas memberikan kebahagiaan batin. Toh jika di rumah saja, ia pasti akan merasa bosan sebab sang putri tak ada di rumah dari pagi hingga sore. Karena kondisinya juga, Tama harus bolak-balik mengurus Plaza dan perusahaanya. Pria itu memiliki kesibukan yang kian lebih sebab mengurus dua bisnis sekaligus.
Dan mengenai Angkasa Group, Keluarga Tama sudah membayar lunas perusahaan mereka dengan cara mengajukan pinjaman kepada pihak bank.
"Tidur deh mas" tegur Nara ketika baru saja keluar dari kamar mandi.
Tama tengah bersandar di kursi kerja dengan kedua tangan terlipat di belakang kepala. "Mas pasti sangat lelah, kan?" Sambung Nara seraya duduk di depan meja rias. Tangannya mengeluarkan toner lalu menyapukan ke wajahnya secara perlahan.
"Lagi nanggung sayang, kalau pindah ke tempat tidur nanti malah kebablasan sampai pagi"
Nara melirik kaca rias, detik itu juga netranya menangkap Tama yang tahu-tahu bangkit dan beranjak dari meja kerja.
"Jadi bagus kan kalau ketiduran sampai besok, mas akan cukup istirahat"
"Tapi laporan belum selesai" sahut Tama dengan suara cukup dekat tepat di samping Nara. Tangannya terulur meraih lotion khusus yang di belikannya beberapa waktu lalu. "Sini duduk di ranjang" Tambahnya kemudian menuntun Nara ke arah tempat tidur.
Tama mendudukkan tubuh Nara agar punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Dia turut duduk di tepi kasur menghadap ke sang istri.
Pria itu membuka tali kimono mandi yang di kenakan istrinya kemudian menuang isi lotion ke telapak tangan dan mengusapnya secara lembut di area perut yang sudah tampak begitu besar.
Sekalipun tak pernah Nara bayangkan jika kehamilan keduanya akan mendapatkan perhatian lebih dari sang suami. Berbeda dengan kehamilan pertama yang harus mandiri dan melakukan apapun tanpa bantuan orang lain. Bahkan ia sempat meneteskan air mata ketika menginginkan ice cream di malam hari, dan dia harus pergi mencarinya sendiri demi untuk memenuhi keinginan Amara saat di dalam kandungan.
Bagaimana Tama memijat kakinya menjelang tidur, mengusapkan lotion di area perut supaya rasa gatal sedikit berkurang, membantu memotongkan kuku, membantunya mencuci rambut serta mengeringkan rambut, sampai terjaga semalaman untuk menjaganya yang selalu merasa gelisah kerena kesulitan mencari posisi tidur yang nyaman. Semua itu sama sekali tak pernah ada dalam khayalan Nara.
"Maaf ya, setiap malam aku rewel, gerak-gerak terus jadinya mas nggak cukup tidur" ucap Nara merasa bersalah.
"Enggak kok"
"Enggak salah maksudnya?" timpal Nara yang membuat pria itu menyunggingkan senyum.
"Harus berapa kali mas bilang, kamu sama sekali nggak pernah merepotkan mas, mas yakin semua wanita hamil pasti merasakan apa yang kamu rasakan. Kalau kamu merasa nggak nyaman, selalu kesulitan mencari posisi tidur yang enak dan merasa gelisah, mas maklum, apalagi bayi di perutmu ada dua. Mas nggak akan merasa terganggu apalagi merasa di repotkan" jelasnya tanpa jeda.
"Lagi pula" lanjut Tama kali ini tangannya mengoles lotion ke lengan Nara "Apa kamu lupa, mas sudah kehilangan masa-masa kehamilanmu saat mengandung Amara. Jadi di sini mas ingin melimpahkan waktu yang terbuang saat dulu"
"Tapi kan tetap saja aku merepot_"
"Merealisasikan adek buat Amara, justru sangat menyenangkan buatku" potong Tama dengan seringai jahil.
"Aku belum selesai ngomong mas"
Tama tergelak, kemudian mempersilahkan Nara untuk kembali bicara.
"Sekarang pekerjaan mas tambah banyak, mas juga harus ngurus aku di malam harinya, terkadang juga Amara pengin minta gendong dan main-main sama mas, mas pasti capeknya banyak-banyak kan?"
"Capek sudah pasti, tapi ngurus kamu dan Amara itu kewajiban mas kan?"
Nara mengerjap sambil menekan bibirnya ke dalam. "By the way, menurut USG kan anak kita perempuan dan laki-laki, mas sudah cari nama buat mereka?"
"Sudah"
"Siapa?"
Sebelum menjawab, Tama bangkit karena sudah selesai mengoleskan lotion di seluruh tubuh istrinya. Ia meletakkan lotion di meja rias lalu meraih remot AC dan mengatur suhunya. "Dua empat terlalu dingin enggak?"
"Dua-dua deh mas, dua empat masih terasa kepanasan"
"Tapi selimut nggak boleh pergi ya"
"Ish mas, memangnya selimutnya punya kaki"
Tama merebahkan diri di samping Nara.
"Siapa namanya?"
"Yang cowok mas kasih nama Pijar Gala Nalendra, kalau yang cewe Pelita Suci Nalendra"
"Apa artinya?" Tanya Nara ingin tahu.
"Pijar itu cahaya (menyala terang) Gala pemberani, sementara Nalendra sudah jelas itu garis keturunan dari ayah"
"Jadi artinya Cahaya pemberani, begitu?"
Tama mengangguk merespon ucapan Nara.
"Terus yang cewek apa artinya?"
"Pelita itu pada dasarnya kan juga menerangi sama seperti Pijar yang juga berarti cahaya, iya kan?" kata Tama frontal. "Sedangkan Suci kamu tahu sendiri apa artinya. Jadi Pelita Suci bisa di artikan dengan Cahaya Suci nan putih"
"Bagus, mas dapat inspirasi dari mana?"
"Insting aja dan berusaha gabungin kata-kata yang memang memiliki arti yang bagus"
__ADS_1
"Hmm" Nara bergumam.
"Setuju enggak, mas kasih nama itu?"
"Setuju" Nara tersenyum, sedikit merapatkan tubuhnya melekat di tubuh Tama lalu mendaratkan lengan di atas perutnya.
"Lucu deh bayangin kamu, Amara sama Pelita nanti kalau mereka udah pada besar-besar"
"Bayangin yang gimana?"
"Bayangin kalian shoping bareng, beli pakaian, nyalon sama-sama, dan nongkrong-nongkrong cantik di cafe sambil ngopi"
Nara tergelak mendengar ucapan sang suami.
"Kalau itu kejadian," kata Nara setelah tawanya reda. "Nanti shopingnya di Plazanya daddy, terus tagihannya di limpahkan ke daddy semua"
"Tidak masalah kalau untuk ketiga wanita kesayangan daddy" Sahut Tama santai. "Dan daddy akan bekerja keras mulai dari sekarang supaya kalian bisa bersenang-senang"
Nara kembali tergelak, lalu mengecup kilat bibir Tama.
Dengat sorot mata Tama lekat tertuju pada Nara, mereka sama-sama melebarkan senyum.
Melihat Tama termenung menatapnya, Nara tak bisa menahan diri, ia lalu mencium bibir Tama dan memberi Lum@ tan lembut.
"Kalau dia sudah umur setahun, kita plan lagi mau?" tanya Tama ketika melepaskan tautan di bibirnya.
"Plan apa?" Kening Nara mengernyit.
"Baby"
"Baby?" ulang Nara dengan mata membola.
"Hmm, jadi nanti kalau usia si kembar sudah dua tahun, adeknya udah lahir lagi"
"Aku nggak keberatan untuk hamil, tapi mengingat mas kerepotan ngurusin wanita hamil, aku jadi ragu"
"Ragu kenapa?"
"Aku nggak mau mas capek banyak-banyak"
"Sudah ku bilang aku senang merawat wanita hamil, lucu melihat gimana perutmu setiap bulan bertambah besar"
Nara membuang napas pasrah. "Terserah mas saja, lagipula banyak anak banyak rezeki, iya kan"
"Tidurlah, sudah malam" kata Tama memerintahkan.
"Mas juga tidur ya"
"Setelah selesai bikin laporan mas akan tidur"
Tiga puluh menit paling"
"Kalau gitu mas selesaikan sekarang, aku akan tunggu mas sambil rebahan"
"Okey" Tama mengecup kening Nara sebelum bangun dari rebahnya.
****
Tama dan Nara sepakat untuk melakukan caesar pada tanggal dimana Amara juga terlahir di tanggal itu. Dan hari ini adalah tanggal yang sudah mereka tentukan.
Bukan hal pertama bagi Nara memasuki ruang operasi, sebab dia juga melakukan caesar saat melahirkan Amara yang lahir di rumah sakit Incheon Korea Selatan.
Sedikitpun ia tak merasa gugup atau takut.
Jika dulu hanya di temani oleh ART saja dia bisa melalui semuanya, apalagi sekarang yang jelas di temani oleh keluarga dan juga suami. Sudah pasti ketakutan itu lebih dulu sirna dalam dirinya.
"Na, dokter meminta mas menemanimu"
"Ya terus?"
"Mas takut"
"Doain saja, supaya lancar"
"Itu sudah pasti"
"Apa yang mas takuti?"
"Kamu?" jawab Tama to the point. "Berusaha ya Na, demi anak kita, demi mas juga"
"Iya" Nara mengusap salah satu pipi wajah Tama.
"Ingat, mas tidak mau kehilanganmu"
Wanita itu mengangguk.
"Bu Naraya sudah siap?" kata suster yang membuat jantung Tama persekian detik berdegup kencang. Bahkan mengalahkan mobil balap yang melaju sangat cepat.
Pria itu menelan saliva berusaha menetralkan perasaan yang terlampau cemas campur takut.
"Tama, rileks saja nak" kata Rania mencoba mengurangi rasa gugup pada putranya.
"Iya bun"
__ADS_1
"Doa bunda selalu mengiringimu, berikan kabar baik untuk Amara, papa, ayah dan bunda ya sayang" kalimat itu ia tujukan untuk sang menantu.
"Insya Allah bun, minta doanya"
"Tentu bunda akan selalu doain kamu" Rania mengecup kening Nara sebelum suster mendorong brankar miliknya.
Ketika menemani Nara melalukan caesar, tak sanggup menahan diri dari rasa takut dan gelisah, Tama tiba-tiba pingsan begitu menyaksikan perut Nara ters*ayat.
Entah apa yang terjadi di meja operasi setelah itu, yang jelas, ketika tangisan bayi menggelegar memenuhi ruangan, Tama langsung tersadar. Ia menatap haru pada dua bayi laki-laki dan perempuan yang sudah dalam kondisi bersih. Salah satu di antara mereka tengah di ukur berat dan panjangnya, satu bayi lainnya tengah di gendong oleh suster.
Berlinang air mata, Tama menoleh ke arah Nara yang sedang di jahit bekas sayatan di perutnya. Miris itulah kesan Tama, dalam hati ia berjanji akan selalu setia pada sang istri, menjadi suami yang baik serta daddy yang sayang pada anak-anaknya.
"Pak Tama ini bayi perempun lebih dulu keluar, itu artinya bayi laki-laki adalah adiknya" kata suster memecah lamunan Tama. "Silakan bapak bisa mengadzani sekarang"
"Baik suster" jawab Tama.
Dengan suara bergetar Tama mengadzani dan mengiqomah kedua bayinya. Lagi-lagi pria itu tak mampu membendung air mata yang kian berjatuhan.
"Putra dan putri daddy, assalamualaikum nak, selamat datang di dunia. Jadi anak baik dan sholeh sholehah ya nak" gumam Tama lirih.
Operasi telah selesai, Nara sudah di pindahkan ke ruang nifas. Tama dengan sabar menanti Nara tersadar dari efek anestasi.
Hingga satu jam berlalu, Nara terbangun dari ketidaksadarannya.
"Mas, air"
Segera Tama meraih gelas di atas nakas.
"Minum sayang" Tama mengarahkan sedotak ke mulut Nara.
"Anak kita gimana mas?"
"Ada di kamar bayi"
"Mereka sehat?"
Tama mengangguk. "Masyaa Allah, Mereka sehat dan sempurna, tampan dan cantik, kakaknya cewe dan yang cowok adeknya"
Nara tersenyum penuh syukur. "Boleh lihat"
"Boleh, mas akan meminta suster untuk membawanya kemari"_____
Selang sekitar lima belas menit, dua suster membawa bayi masing-masing satu bayi. Nara langsung di minta untuk memberikan kolostrum pada kedua bayinya.
Di tengah-tengah aktifitas menyusui, Nara menatap lekat-lekat bayinya. Pikirannya malang melintang merasakan kebahagiaan yang tiada Tara.
Sabar ...
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan sesungguhnya sabar itu tak bertepi dan tak berbatas.
Sabar ...
Menanti hingga pintu dapat terbuka. Tak perlu dengan kekerasan, keindahan itu akan datang di waktu yang tepat. Seperti di mana hujan telah reda, di situlah pelangi akan muncul serta bunga-bunga kian bermekaran.
Nara melirik ke arah suaminya dengan senyum bahagia.
Tetapi sayangnya, kebahagiaan itu hanya singgah sejenak.
Seperti yang kemudian mereka rasakan, semua rasa manis yang sempat mereka nikmati selama dua hari ini mendadak berganti dengan rasa pahit ketika menjelang pagi, Tama dan Nara mendapatkan kabar bahwa salah satu bayi mereka hilang.... dan Pelita, entah siapa yang sudah membawanya pergi.
*****
"Tama, Nara! penderitaan kalian karena kehilangan anak adalah kepuasan bagiku"
"Selamat menerima penderitaan dariku, bahkan sampai seumur hidup kalian, kalian akan hidup dengan memendam kerinduan terhadap putrimu"
"Sekali dayung dua pulau terlampaui"
Hanya dengan satu cara, aku bisa membalaskan rasa sakit hatiku pada dua keluarga sekaligus.
"Nalendra dan Mahardani"
...π·ENDπ·...
Sudah selesai untuk Naskah Menggapai rindu daddy ya, biar nggak muter-muter dan keluar dari judul cerita, jadi saya akhiri sampai disini. Toh Amara sudah bisa menggapai rindunya pada sang daddy.
Untuk karya selanjutnya nanti di infokan..
Tetap dukung saya biar ada semangat buat terus berkarya ya..
Follow, Beri Rating, like, komentar, Vote.. Saya akan berhenti nulis ketika benar-benar sudah tidak ada pembaca. Selagi ada pembaca, insya Allah saya akan terus berkarya.
Dan satu lagi. Novel saya insya Allah vulgarnya masih wajar, kalau cari yang nggak wajar, dalam tanda kutip "Hot, dan fanas" πππ cari di novel lain.
Kalau kalian sukanya yang hot hot, itu artinya kita tidak sejalur. πππ
Sehat-sehat ya kalian para readers. Doa terbaik untuk kalian yang selalu mendukung dan memberi semangat di setiap novel yang saya buat.
See you next novel...
Typonya nanti di perbaiki.
Regard
__ADS_1
Ane