Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
50


__ADS_3

Sampai di eps 50 terimakasih atas suport dan dukungannya.


Maaf ngga bisa crazy up, tapi dalam satu bab saya bikin panjang, 1000 kata lebih bahkan hingga 2000 kata. Kalau di bikin rata-rata per babnya 500-800k misalnya, mungkin ini sudah sampai di eps 100 😇😇. Tapi saya gamam banget kalau bikin per bab nya di bawah 1000 kata.


Kurang bgt bagiku 😃😃


Makasih banyak-banyak.


Sudah mau sabar nunggu kelanjutannya.


Selamat puasa and Happy Reading


Regard


Ane


...***...


Dua sosok menghampiri kami dan anak kecil berusia sekitar dua belas tahun.


Ada sorot terkejut sekaligus bingung di wajah mas Tama begitu mendapati sosok mas Setya berjalan mendekat seraya menggandeng tangan Anya.


Mas Setya adalah wajah pria yang ikut terlibat dalam video syur itu. Bu Rania memang begitu cerdik memanipulasinya sehingga mas Setya sendiri tak pernah tahu jika wajah dirinya pernah di ikut sertakan dalam aksinya memfitnahku.


Rania sungguh pintar menyembunyikan rahasia dari tatapan mata publik. Hanya mas Tama, ayah, dan orang tuakulah yang tahu soal video itu. Mungkin sebagian tetanggaku juga mengetahuinya, tapi tak terlalu fokus dengan wajah si pria sebab saat video itu tersebar, wajah mas Setya di blur sedemikian rupa. Mereka hanya fokus dengan wajah ku, sementara mas Tama dan ayah, mereka tahu persis jika wajah pria itu adalah milik pria yang saat ini mengunjungi Amara.


Benar-benar di rencanakan dengan sangat matang, dia tak memviralkan video itu tentu saja tidak ingin mas Setya mengetahuinya, karena jika mas Setya sampai tahu, pastilah akan berbuntut panjang. Demikian pula denganku yang tak pernah menceritakan siapa pemeran pria pada sahabat-sahabatku, selain menjaga perasaan Anya, aku terlalu malu jika harus menceritakan hal menjijikan itu. Di tambah lagi pemeran dengan wajahku dan mas Setya, mereka sangat bergairah dan agresif dalam melakukannya.


Aku sampai geli sendiri jika membayangkannya.


Selepas mengingat sedikit tentang masa lalu, sepasang mataku menangkap Vita berlari menghampiri Ara lalu memeluknya. Anak gadis yang sebentar lagi akan masuk SMP langsung menangis setelah melihat Amara.


"Gimana kabarnya mbak?" Tanya Anya sambil memelukku, kami berpelukan cukup lama. Di bahu Anya aku menumpahkan segala permasalahan yang membelitku saat ini. Aku berharap pelukan ini mampu mengurangi bebanku yang begitu berat.


"Sabar ya mbak, selalu yakin kalau Ara pasti sembuh"


"Makasih Anya"


Kami masih berpelukan, membiarkan mas Tama dan mas Setya saling berkenalan dan berjabat tangan. Ku lihat mas Tama terus berusaha meneguk ludahnya sendiri. Aku sangat yakin kalau dia tengah berfikir keras menerka-nerka tentang sosok mas Setya yang tiba-tiba datang membawa anak serta istrinya.


"Ayo duduklah" ajakku setelah mengurai pelukanku dengan Anya.


"Apa kabar mas" Aku memeluk mas Setya sesaat. Itu adalah hal biasa bagiku, Anita dan Sasa.


Mas Setya adalah kakak bagi kami, sikapnya yang dewasa dan sosok yang melindungi, membuat kami hilang rasa canggung terhadapnya.


"Baik, kamu gimana?"


Pria yang kini masih memelukku, memberikan sedikit usapan lembut di punggungku.


"Alhamdulillah baik juga" jawabku sambil melepas pelukannya.


"Mas Tama, ini mas Setya, dia sudah seperti kakak bagiku, dan ini istrinya, Anya" Aku menunjuk Anya yang duduk di sebelah mas Setya. "Itu anaknya" tambahku menunjuk Vita yang sedang menemani Amara.


"Abi nggak di ajak Anya?"


"Enggak, dia sama mama Ami di rumah, ini kebetulan mas Setya lagi ada perjalanan bisnis ke sini, dia ngajak aku buat sekalian jenguk Ara" Ujar Anya, Aku mengangguk paham. "Lagipula si kakak sudah pengin ketemu sama Amara, dia maksa-maksa dari minggu lalu pengin lihat Ara katanya"


"Si kakak memang pemaksa, kapan ujian dia?"


"Dua bulan lagi mbak, katanya dia nggak ada semangat belajar kalau belum lihat Amara"


Kami tertawa renyah.

__ADS_1


"Mau lihat Amara kan, ayo" Aku dan Anya bangkit dari duduknya, meninggalkan dua pria yang sedang berbincang masalah saham. Mereka tampak nyambung satu sama lain, baru berkenalan sudah akrab dan saling tersenyum di sela-sela obrolannya.


Tepat ketika kami sampai di samping ranjang Amara, dua pria itu tahu-tahu muncul dan bergabung dengan kami.


"Kakak belum nyapa mama Nana kan?" kata Anya lembut. Dia ibu tiri tapi sayang banget sama Vita. "Ayo sapa dulu! sun tangan mama sama dadnya Ara"


"Mama apa kabar?"


"Mama baik sayang"


"Mama yang sabar ya, Ita selalu doain mama sama dedek Ara" Dia mengatakannya dengan kondisi tangan melingkar di pinggangku.


"Makasih banyak-banyak ya kak"


"Ini daddynya Ara nak, ayo sun juga tangannya" Perintah Anya pada sang putri.


"Halo papa"


"Halo juga, siapa namanya?" sahut mas Tama dengan seulas senyum.


"Ita pa"


"Nggak apa-apa ya mas di panggil papa, Anak-anak memang suka gitu, Ara juga panggil mas Setya papa"


"Nggak apa-apa Na, justru itu bagus"


"Ara bobo ma, pa, tadi katanya ngantuk banyak-banyak, abis ngobrol lama-lama sama mommy sama daddynya, jadinya sekarang bobo"


"Itu bagus sayang, biar dedek Ara istirahat" Timpal Anya, sementara aku, mas Tama dan mas Setya tersenyum.


Kami kembali duduk di ruang TV menyisakan Vita yang meminta menemani Ara tidur.


Banyak hal yang kami bicarakan termasuk soal bisnis maupun mas Aksa dan Sasa yang katanya akan berkunjung kemari membawa serta papa Ramdan, papi Anjar dan juga mami Diana.


Ayah dan bu Rania, kedua orang itu terkejut mendapati mas Setya berada di sini. Enggak mungkin mereka nggak ngenalin mas Setya. Aku yakin sekali, keterkejutan mereka pasti karena merasa tidak asing dengan wajah mas Setya.


"Ayah, bunda?" Sapa mas Tama sembari bangkit.


"Tama! ini?"


"Ini mas Setya yah" potongku cepat "Dan istrinya, Anya, mereka sahabatku tapi sudah seperti keluarga, mas Setya ini sudah seperti kakak bagiku"


Mas Setya langsung mengulurkan tangan, begitu juga dengan Anya. Sementara ayah dan bu Rania, mereka seperti tercengang setelah aku memperkenalkan mas Setya.


Mereka saling berjabat tangan secara bergantian, termasuk dengan Rania yang ku lihat menampakkan gestur santai, tapi tidak dengan raut wajahnya yang justru terlihat gugup, dan aku tahu persis apa yang ada dalam pikirannya sekarang.


"Duduk yah" Aku berdiri memberikan tempatku untuk ayah setelah mengecup punggung tangannya.


"Dia salah satu pimpinan di Dandelion group, cucunya kakek Rudito"


Setelah mendengar ucapanku, ayah seperti memikirkan sesuatu.


"Rudito yang Anak serta dua menantunya pernah kecelakaan itu bukan? puluhan tahun yang lalu"


"Benar pak, mereka papah, om dan tante saya"


"Ah iya, saya pernah terlibat satu acara dengan mereka. Namanya pak Raka dan bu shafira kan?"


"Benar sekali pak"


"Hmm" desis Ayah di iringi anggukan kepala. "Anda putra dari pak Raka atau pak Ghani?"


"Ghani pak"

__ADS_1


"Kok bisa kenal sama Nara?"


"Nara adalah sahabat dari adik ipar saya pak, istrinya Aksa, putra om Raka dan tante Shafira"


"Oh, ya ya"


Selagi ayah mengobrol dengan mas Setya dan juga Anya, fokusku terus tertuju pada Rania.


Aku masih canggung padanya teringat sikapku yang pernah berlaku tidak sopan. Tapi ketidak sopananku ini beralasan. Sikap dia sendiri yang membuatku tidak ingin menghargainya. Karena kebaikan ayah dan mas Tama, aku berusaha mengendalikan diriku untuk tidak mengeluarkan rentetan umpatan serta sumpah serapah untuknya.


"Kita pulang apa dek?" Mas Setya bertanya pada Anya.


"Ayo" balas Anya tersenyum.


"Kok pulang?" tanya Ayah.


"Sudah dari tadi kita di sini pak, lagi pula ini sudah hampir petang"


"Kita pamit dulu sama Ara mas"


"Iya"


***


Seperginya Keluarga mas Setya, aku sengaja meninggalkan ketiga orang itu di ruang TV sebab harus mengompres Amara.


Sembari mengelap tubuh Amara menggunakan air hangat dan washlap, sesekali aku mencuri dengar obrolan antara mas Tama, ayah dan Rania.


"Syukurlah kalau hasilnya cocok, lalu kapan transplantasi akan di laksanakan?"


"Kurang lebih dua minggu lagi yah"


"Lama juga ya Tam"


"Iya, soalnya Amara harus kemoterapi atau nggak radioterapi dulu untuk menghancurkan sel kankernya yah, setelah itu istirahat beberapa hari baru kemudian operasi transplantasi"


"Kemoterapi? harus ada kemoterapi kah?"


Begitulah yang sempat ku dengar, sedikit heran karena ada tahap kemo sebelum operasi.


"Mom kak Ita udah pulang ya?"


"Udah sayang, tadi papa Setya sama mama Anya titip salam buat Ara"


"Terus itu siapa yang lagi ngobrol sama daddy?"


"Opa sama oma"


"Opa sama Oma?" Amara melebarkan kedua mata. "Ara pengin lihat opa sama oma mom"


"Nanti ya setelah ganti baju"_____


Wanita itu, masih melempar tatapan sinisnya padaku, seakan rasa bencinya sudah mendarah daging dan tak bisa di tolerir.


Tenang saja Rania, aku kembali bukan untuk rujuk dengan putramu. Tapi jika mas Tama dan Amara memaksaku, aku tidak punya pilihan lain. Dan aku, akan bersikap tegas jika kamu masih berusaha memisahkan Amara dan mas Tama.


Lagi pula, aku dan mas Tama masih saling mencintai, di tambah ada Amara di tengah-tengah kami yang akan memperkuat hubungan kami.


Bisa apa kamu Rania?


Tatapan sinis dan rasa bencimu padaku, sama sekali tidak ada artinya buatku.


Lihat saja, akulah yang akan keluar sebagai pemenang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2