Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
54


__ADS_3

Happy reading kesayangan.. 😙😙😙


...🌷🌷🌷...


Aku masih dalam pelukan mas Tama, menempelkan salah satu sisi wajahku di perutnya. Ketika kedua lenganku mengerat, tiba-tiba ada suara yang keluar dari mulut bunda.


"Kalian ini malu-maluin, di tempat umum pake peluk-pelukan segala"


Aku dan mas Tama yang mendengar, sontak mengurai pelukan kami.


Merasa tak enak hati, reflek tanganku menyelipkan rambut ke belakang telingaku.


"Nggak apa-apa bund, anak mereka kan berhasil menjalani operasi"


"Ya nggak gitu juga kali yah, lebay jadinya"


Aku hanya bisa diam sembari menunduk, sementara mas Tama menatap bundanya dengan ekspresi yang tak bisa ku tebak.


"Aku peluk istriku bun, bukan istri orang lain"


"Tapi buka matamu Tama, ini rumah sakit, nggak elok di lihat banyak orang"


Mendengkus kasar, mas Tama tak lagi menyanggah ucapan bunda. Ku rasa bunda memang ada benarnya, mengingat di sini ada beberapa suster dan beberapa pengunjung rumah sakit yang lain.


"Nggak apa-apa Tama, kalian berhak mengekspresikan kebahagiaan kalian, yang penting masih dalam batas wajar"


Benar kata ayah, sikapku dan mas Tama tadi masih berada di level aman menurutku. Tapi menurut bunda itu berlebihan, akupun membenarkan ucapan bunda, karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda.


"Pak Tama dan bu Nara, mari ikut saya, dokter meminta anda untuk menemuinya"


"Kalian pergilah, ayah dan bunda akan disini menunggu Amara"


Mas Tama menggandeng tanganku setelah mengiyakan ucapan ayah. Langkah kami mengekor di belakang suster yang akan mengantar kami menuju ruangan dokter.


Setibanya kami di tujuan, kami duduk setelah di persilakan. Jujur, aku sangat tegang dengan apa yang akan di katakannya. Bahkan saking tegangnya, untuk menghirup napas saja aku merasa kesulitan.


"Seperti yang saya katakan tadi, operasi Amara berjalan lancar, dan untuk selanjutnya, setelah proses transplantasi paramedis akan memantau kondisi pasien sampai kondisinya di pastikan membaik" Aku dan mas Tama dengan serius mendengarkan penjelasan dokter. "Amara akan di rawat selama beberapa minggu ke depan untuk menghindari terjadinya infeksi ataupun komplikasi lain"


"Butuh waktu berapa minggu dok sampai Amara pulih?"


"Kurang lebih dua minggu hingga dua bulan" Sahutnya tenang. "Di minggu pertama, kami akan kembali mengobservasi dan melakukan transfusi sel darah merah serta sel keping secara berkala, sampai sumsum tulang dapat memproduksi sel darah dalam jumlah yang cukup"


"Jadi apa harus menjalani rawat inap selama dua bulan, dok?" tanyaku memastikan.


"Benar sekali, dan jika dalam waktu dua bulan kondisi Amara terus membaik, maka kami akan mengijinkan Amara pulang"


Mas Tama tiba-tiba menyatukan jemari kami lalu menguncinya, berharap genggaman ini mampu menyalurkan kekuatan satu sama lain.


"Tapi" lanjut dokter yang mendadak membuat jantungku seperti habis berlari di atas treadmil.


"Amara butuh waktu enam bulan sampai satu tahun untuk benar-benar pulih total dan terbebas dari sel kanker pasca transplantasi sumsum tulang. Jadi saya sarankan setelah dua bulan kami melakukan peninjauan di rumah sakit, seperti memberikan antibiotik, antivirus, memberikan obat untuk penekanan kekebalan tubuh, sampai pihak kami mengijinkannya pulang, jangan biarkan Amara terlalu lelah beraktivitas"


"Iya dok kami mengerti" balas mas Tama ramah.


"Usai operasi, untuk sementara Amara dalam pemantauan kami di ruang ICU, besok pagi baru kami pindahkan ke ruang rawat inap"


"Baik dokter"


"Demikian yang bisa saya informasikan, untuk selanjutnya, kita menunggu kondisi Amara"


"Terimakasih dok, kami permisi"


"Iya silakan!"


****


Semuanya butuh proses, sebisa mungkin aku akan menikmati proses itu sampai Amara benar-benar sembuh dari sakitnya. Meski membutuhkan waktu enam bulan, satu tahun, atau bahkan lebih, sekuat tenaga aku akan mengabdikan diriku untuk putriku.


"Na" Panggilan mas Tama membuatku tersentak. "Besok setelah Amara keluar dari ruang ICU, dan memastikan kondisi Amara baik-baik saja, boleh aku balik dulu ke Jakarta?"

__ADS_1


Aku yang tengah menatap keluar jendela sambil mengeringkan rambut dan menikmati pemandangan malam dengan gemerlapnya lampu-lampu yang menyala terang, terkesiap dengan perkataan mas Tama, lalu menghentikan gerakanku di atas kepala.


"Hanya beberapa hari Na, soalnya kantor butuh aku"


"Kapan mas ke Jakarta?" tanyaku menatapnya.


"Kita pastikan kondisi Amara dulu ya"


Aku hanya berdehem meresponnya, lalu berkata "Kalau mas mau, mas bisa pulang bareng ayah besok"


"Tunggu Amara saja"


Malam ini hanya ada aku dan mas Tama di bangsal Amara, sebab dia masih di ICU untuk mendapatkan pelayanan dokter usai operasi. Sementara ayah dan bunda ada di hotel tempat mereka menginap.


"Mas mau mandi sekarang atau masih ada kerjaan?"


"Bentar lagi Na"


Selesai mengeringkan rambut, aku bergegas menyiapkan baju ganti untuk mas Tama, kemudian naik ke atas ranjang.


"Baju gantinya ada di atas sofa" kataku sambil merebahkan diri di sampingnya.


"Hmm makasih"


Tak ada percakapan lagi di antara kami setelah ucapan terimakasih darinya, aku tidur dengan memunggunginya. Selang sekitar lima menit, ada suara turn of dari laptopnya lalu aku merasakan sentuhan tangan mendarat di pinggangku.


"Sudah mau tidur Na?"


"Iya, memangnya mau ngapain?"


"Ngobrol dulu mungkin"


"Mas belum mandi, lebih baik mandi dulu"


"Nanti selesai mandi, tahu-tahu kamunya sudah tidur pulas" Dia mengatakannya sambil memelukku dari arah belakang, mengecup tengkukku dan detik itu juga entah ada apa dengan jantungku, tiba-tiba melompat-lompat dengan sangat lincah. Tiga minggu tinggal dalam satu ruangan, rasa canggung itu perlahan menghilang tanpa jejak.


Aku hanya bisa menelan ludahku sendiri ketika tangan mas Tama membelai pipiku kemudian mengecup keningku sedikit agak lama.


"Jangan terlalu banyak pikiran" kata mas Tama lalu mengecup kedua mataku.


"M-mas belum mandi kan?"


Bukannya menjawab, mas Tama malah mengecup bibirku, bukan sekedar mengecup, tapi menciumnya penuh intens. Ciuman itu kian dalam, kian lama, hangat dan lembut, membuatku persekian detik kehilangan akal sehatku.


"Kenyal kayak squishi" ucapnya setelah bibir kami terurai. "Masih belum mau juga?"


"Bukannya nggak mau, tapi apa boleh? kita berpisah sangat lama, bahkan tidak saling memberikan kabar"


"Kenapa masih mempermasalahkan soal itu?"


"Mas yakin nggak pernah menceraikanku?"


Pertanyaanku, membuat mas Tama mengernyit keheranan. "Maksudku, apa mas benar-benar tidak pernah mengucapkan kata talak, baik di sengaja ataupun tak sengaja?"


"Nggak pernah Na"


"Ada jeda cukup lama, apa mas tidak pernah melakukannya dengan wanita lain?"


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, kita berpisah lama-lama, mas nggak pernah menuntaskan kebutuhan bioligis mas pada wanita lain kan?"


"Enggak pernah?"


"Sama sekali enggak?"


"Sama sekali enggak" sahut mas Tama mengulang kalimatku.


Mata kami lekat saling menatap, aku berusaha masuk ke dalam retinanya untuk mencari apakah ada kebohongan di sana, namun tak ada apapun yang bisa ku temukan.

__ADS_1


"Kamu nggak capek bohongin diri sendiri Na, kamu juga mau kan?"


Pertanyaannya yang bernada meledek, langsung ku balas dengan cubitan di pinggangnya, dan senyum mas Tama justru semakin terkembang.


"Meskipun kamu menolak, dan masih bersikeras nggak mau menerima ajakanku ini, tapi ciuman kamu barusan menandakan kalau kamu sebenarnya juga pengin, kamu nggak bisa bohong Na"


Begitu mendengar ucapannya, jariku langsung mengapit bibirnya.


"Mandi sana!"


"Ok, kalau kamu mau, kamu tinggal ngomong ke aku"


"Ngomong apa?"


"Masih nggak mau ngaku?"


"Masih nggak mau bangun dari atas tubuhku?"


"Kalau enggak, kenapa?" sahutnya sambil melakukan pergerakan besar. Dia merubah posisi kami dan saat ini aku yang berada di atas tubuh mas Tama.


Tangannya meraih bantal di samping mas Tama dan meletakannya di bawah kepalanya agar lebih tinggi.


"Kamu hutang penjelasan padaku"


"Hutang penjelasan?"


"Hmm" sahutnya sambil menyisikan anak-anak rambut yang menutupi keningku.


"Bagaimana bisa kamu menjalani hari-harimu ketika mengandung Amara tanpa dampingan dari suamimu"


"Menyedihkan"


Salah satu alis mas Tama terangkat. "Lalu?"


"Lalu apa? aku harus berusaha dan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan nutrisi Amara selama di dalam kandungan, dan mempersiapkan segalanya sendiri"


"Maaf"


"Tidak perlu, karena ucapan itu, seharusnya bundamu yang mengatakannya"


"Aku janji tidak akan memberikan celah untuk bunda menyakitimu lagi, tidak hanya bunda, orang lainpun tak akan pernah bisa menyentuh apalagi menyakitimu dan Amara"


Fokusku terus tertuju pada manik hitam mas Tama. "Kamu dan Amara harus bahagia selalu, mengerti?"


Aku mengangguk pelan, bukan berarti meragukannya, tapi masih belum yakin dengan bunda, bayangan tentang perlakuannya benar-benar tak bisa ku hempaskan dari pikiranku. Apalagi ketika mengusir Amara dari rumah sakit tempatnya bekerja, itu sangat memantik kemarahanku. Nggak mudah juga untuk bunda langsung bisa menerimaku dan Amara. Sebab sampai detik ini sikap bunda padaku dan Amara pun masih kaku dan dingin tak tersentuh.


"Kenapa Na?"


Tanya mas Tama yang membuatku tersadar kalau aku tengah sibuk dengan pikiranku sendiri gara-gara teringat bunda.


"Nggak" Jawabku sambil berusaha menormalkan ekspresiku. "Mas mandi dulu, setelah itu istirahat"


"Mikir apa?"


"Aku?"


"Memangnya ada orang lain di sini selain kamu?"


"Ini sudah larut malam, mas belum mandi"


"Katakan dulu kamu mikir apa?"


"Nggak ada" sahutku sembari mengulas senyum detik berikutnya aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya lebih dulu.


Cukup lama mas Tama tak membalas ciumanku, ketika aku hendak melepas tautan kami, dia justru menahannya lalu membalas dengan m*lum@tnya sangat lembut.


Ahh,, ciumannya kian panas, membuatku kian hanyut bahkan isi kepalaku sudah berantakan kemana-mana.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2