
"Apa sebenarnya yang harus dia lenyapkan?"
"Yaa Rabb, ada apa dengan istriku? apa ini berhubungan dengan Nara dan Amara?"
Saat ini, Idris tengah duduk di atas ranjang dengan tangan terlipat di dada dan punggung bersandar pada headboard.
Sepasang matanya terus tertuju ke arah kamar mandi yang pintunya tertutup rapat. Dimana sang istri sedang berada di dalam sana saat ini.
Pria itu berniat mencari sesuatu yang Rania simpan di dalam koper bersamaan dengan baju yang akan di bawa ke Surabaya.
Beberapa detik kemudian Idris bergerak pelan untuk turun dari ranjang. Langkahnya tertuju pada koper yang teronggok di samping meja rias.
Sebelum melancarkan niatnya, ia lebih dulu mengetuk pintu kamar mandi memastikan jika sang istri masih lama dengan aktifitas mandinya.
"Bunda"
Tok,, tok,,
Tak ada respon dari Rania, dengan cepat Idris melangkah menuju koper yang teronggok di samping meja rias.
Perlahan ia membuka koper itu dan mulai mengacak-acak isinya yang sudah tertata rapi. Tak ada apapun yang ia temukan di sana kecuali pakaian dan perlengkapan make up.
Menghela napas berat, Idris menoleh memindai pandangannya pada pintu berwarna silver.
Padahal jelas aku lihat Rania menaruhnya di dalam koper, terselip di antara baju-bajunya. Tapi kenapa tidak ada?
Mendesah pelan, Idris kembali menata pakaian Rania. Baru saja hendak menutup koper, tiba-tiba panggilan Rania mendengung di telinganya.
"Yah!"
"B-bunda" Berdiri dengan gugup dan debaran jantung yang sedikit kencang.
"Apa yang ayah lakukan?"
"T-tidak ada bun, tadi ayah cuma mau lihat apakah bunda sudah membawa charger atau belum" Melirik ke arah nakas. "Soalnya charger ponsel bunda masih ada di atas nakas"
"Kan memang lagi di pakai buat isi daya ponsel bunda yah"
"Oh, iya ya, kok ayah nggak sadar ya bun?"
"Ayah-ayah, makannya fokus yah, jangan banyak pikiran" Samar bibirnya tersungging.
Pasti ayah penasaran dengan apa yang sempat ku selipkan di antara baju-bajuku.
Beruntung tadi aku lihat bayangan mas Idris ketika berdiri di ambang pintu, kalau tidak pasti sudah menemukan sertifikat beserta ponsel dan flashdisk dari dalam koper, aman juga hasil DNA Amara.
"Besok ayah nyusul ke Surabaya jam berapa?" tanyanya sambil mengoles lipstik di bibir.
"Sorean ya bun, pulang dari kantor"
"Ya sudah bunda tunggu ya yah"
"Iya"
"Bunda berangkat dulu" wanita itu dengan santainya melenggang keluar kamar setelah mengecup punggung tangan suaminya.
*Semua s*udah ku titipkan pada bik Jum, jadi aku tidak perlu khawatir. Aku yakin mas Idris nggak kepikiran untuk mencari ke kamar bik Jumi.
"Bik Jum, saya berangkat dulu ya, jangan lupa besok pagi siapin Quaker sama susu buat suami saya"
"Iya Nyonya"
"Dan jangan lupa, simpan baik-baik dokumen penting saya, jangan sampai suami saya tahu, Ngerti?" Dia berbisik lirih.
"Ngerti nyonya"
Bersamaan dengan jawaban Bik Jum, terdengar bunyi klakson dari luar, Rania tahu siapa yang datang.
"Itu pasti Shella" gumamnya sumringah. "Bik, mbak embak, saya pergi dulu ya, jaga baik-baik rumah saya. Saya akan pergi selama tiga hari"
"Iya nyonya, hati-hati"_______
Didalam kamar, Idris masih berfikir keras tentang sesuatu yang membuatnya penasaran, bayangan map bening berisi seperti dokumen berkelebat bebas mengisi kepalanya.
"Sebaiknya aku geledah kamar ini, siapa tahu bunda menyimpannya disini"
Sebelum mencarinya, Idris menuju dapur hendak meminta bik Jum membuatkan kopi untuknya.
__ADS_1
Tepat ketika langkahnya di ambang pintu yang membatasi antara dapur dengan ruang makan, Idris mendengar pembicaraan antara bik Jum dan dua ART lainnya. Persekian detik pria itu menghentikan langkah lalu mencuri dengar obrolan para ART.
"Bik Jum pasti sudah lama ya, kerja di sini sampai-sampai Nyonya Rania menitipkan dokumen penting pada bibik"
" Hampir tujuh tahun" Jawabnya dengan tatapan terus fokus mengelap piring. Dua ART yang usianya setara dengan putrinya, hanya mengangguk penuh takjub.
"Bibik juga nggak tahu, Ini pertama kalinya nyonya menitipkan dokumen penting pada bibik"
"Kira-kira apa itu bik, kok tuan besar tidak boleh tahu"
Bik Jum mengedikkan bahu pelan sebelum kemudian kembali berkata. "Mungkin dokumen penting perusahaan atau mengenai rumah sakit nona Shella"
Dokumen? Idris membatin dengan kondisi hati di penuhi tanda tanya.
Apa dokumen yang sempat ku lihat tadi?
Dia kembali menajamkan pendengaran demi mendapatkan informasi lebih tentang sesuatu yang di sembunyikan oleh sang istri, dan tentu saja sesuatu hal yang sangat mengganggu fikirannya.
"Awas itu bik, jangan sampai tuan besar tahu"
"Tenang saja, sudah bibi simpan di tempat yang aman"
"Ehem,,,"
"T-ttuan" Mereka bertiga terkesiap dengan hati berdebar.
"Buatkan saya kopi" Perintahnya dengan nada datar khas miliknya. Kedua tangan masuk ke dalam saku celana, sementara manik hitamnya menyorot tajam. Sikap datar, acuh dan pendiam seperti putranya, namun memiliki cinta dan kasih sayang yang besar terhadap keluarga.
"B-baik tuan" Sahut bik Jum takut-takut, dalam hati ia berdoa berharap majikannya tak mendengar obrolan mereka.
"Apa yang kalian bicarakan tadi? dokumen apa yang istri saya titipkan pada kalian?"
"T-tuan, b-bukan apa-apa tuan" Dia yang tengah merebus air untuk menyeduh kopi, tiba-tiba tangannya gemetar ketika terulur hendak meraih cangkir di dalam lemari, dua ART lainnya terus menunduk.
"Sejak kapan bik Jum berbohong pada bosnya? apa selama bekerja dengan saya bik Jum sering melakukan kebohongan?"
"T-tidak tuan" kilahnya cepat.
"Kalau begitu, berikan padaku dokumen yang kalian bicarakan"
"Berikan pada saya, atau kalian akan masuk penjara"
Bik Jum, Isna serta Yani terpaku dengan sorot terkejut. Mendengar kata-kata penjara seolah hidup mereka seperti berakhir detik itu juga.
"T-tapi tuan, tuan tidak boleh tahu"
"Jangan banyak menyanggah, serahkan saja pada saya sekarang juga"
"T-tapi tuan, kalau saya memberikannya pada tuan, nyonya besar pasti akan sangat marah"
"Kamu tidak perlu khawatir, kalian akan aman jika menyerahkan itu pada saya"
"Tapi be-benar kan tuan, saya tidak akan kena marah sama nyonya?"
"Sudah kamu tenang saja, cepat ambil dan bawa kehadapan saya, SEKARANG!" Nadanya meninggi membuat bik Jum kian takut.
Detik berikutnya, ia berlari tergopoh menuju kamar.
Selang Sekitar tiga menit, bik Jum kembali ke dapur dengan membawa apa yang Rania titipkan, ia langsung menyerahkannya pada majikan lelakinya. Setelah di terima, bik Jum kembali bersuara.
"Jangan pecat saya tuan, saya masih butuh pekerjaan"
"Bik Jum tenang saja, seperti yang saya katakan, saya tidak akan membuat kalian mendapat masalah" ujarnya lebih tenang. "Tolong antarkan kopi saya ke kamar"
"Baik tuan?"
Tak merespon lagi, Idris berbalik kemudian melangkah meninggalkan area dapur.
*****
Sesampainya di kamar, ia langsung membuka map itu lalu mengeluarkan bingkisan plastik berwarna gelap.
"Bingkisan apa ini?"
Dengan cepat ia merogoh sesuatu dari dalam palstik.
"Sertifikat rumah?" tiba-tiba fokusnya di interupsi oleh suara ketukan pintu.
__ADS_1
Tok,, tok,, Idris menoleh ke arah sumber suara.
"Kopinya tuan"
"Taruh di meja"
Perlahan Idris membuka lembar demi lembar sertifikat yang sudah agak usang, ia cek dengan teliti dan betapa terkejutnya ketika sepasang matanya menangkap tulisan sertifikat itu atas nama Ramdan Hidayat.
"Ramdan Hidayat, apakah Ramdan ayahnya Nara?"
"Ini alamat rumah orang tua Nara" Ucapnya lirih ketika menemukan bukti pembayaran tersisip di antara lembaran kertas. "Astaghfirullah, Nara benar, bunda sudah membeli rumah mereka"
Menghirup napas, ia kembali merogoh plastik dan meraih sebuah benda tipis.
"Ponsel? Apa ini milik Nara?"
Ponsel dalam kondisi non aktif. Ia bergegas menuju meja di samping tempat tidur, lalu membuka laci mencari charger untuk mengisi baterai.
Layar ponsel menunjukan indikator pengisian daya setelah Idris mencolokan charger. Dengan tidak sabar dia menekan tombol power pada sisi ponsel mencoba menyalakannya. Butuh lebih dari satu menit menunggu layar menyala sempurna.
Tangannya memilih menu gallery berharap ada sesuatu untuk mengetahui siapa pemiliknya.
"Foto Nara?" Apa ini miliknya? bunda yang sudah mencuri ponsel Nara?"
Idris menyugar rambutnya menggunakan salah satu tangan. Tangan lainnya masih memegang ponsel dan membuka isi pesan.
"Astaghfirullah bunda? apa ini bun?"
Puas melihat isi ponsel, Ia
Meletakkannya di atas Nakas.
Pandangannya ia alihkan kembali pada plastik gelap lalu meraihnya. Ada sesuatu yang lain yang membuat Idris cukup terkejut. Sepersekian detik keningnya mengerut tajam.
Sebuah flashdisk berukuran kecil dan amplop putih bertuliskan Pelita IMC Healthy Center 2"
"Rumah sakit Shella?"
"Apa ini? bukankah rumah sakit yang bunda kepalai itu Pelita IMC satu?"
Penasaran, pria itu buru-buru membuka amplop tersebut kemudian membuka lipatan kertas berisi sebuah tabel di barisan pertama.
Apa maksudnya ini? Tanya Idris dalam hati. Lalu kembali membaca tulisan yang tersusun di paragraf berikutnya.
Penentuan profil DNA dengan menggunakan metode standar terhadap sampel sikat gigi (Ayah) dan darah (Anak). Dengan berdasarkan bukti ilmiah, dapat di simpulkan bahwa probabilitas Gautama Nalendra sebagai ayah biologis dari Amara Stevani Nalendra adalah 99,98 %.
"J-jadi benar Amara putri kandung Tama? Alhamdulillah yaa Rabb" dia mengusap wajahnya lembut setelah mengetahui fakta tentang Amara. Ada kelegaan serta kebahagiaan dalam diri Idris. Namun, ada amarah yang juga terselip di hatinya untuk sang istri.
"Ternyata bunda sudah tahu kalau Amara adalah cucunya"
Mendesah pelan,,,
"Terbuat dari apa hatimu bun? ayah baru tahu kalau bunda sejahat ini, astaghfirullah bunda?" desisnya di iringi dengan tatapan tertuju pada benda kecil bernama flaskdisk.
Pria yang masih tampan di usianya terus bermonolog dengan gumaman-gumaman lirih.
Apa isinya? Apakah juga rahasia bunda tentang Nara?
Bangkit dari duduknya, Idris berjalan keluar kamar menuju ruang kerja.
Lagi-lagi hatinya mencelos ketika membuka file berisi empat video tak senonoh.
Dua Video dengan menampilkan wajah wanita asing, dan dua lainnya dengan wajah Nara.
Untuk kesekian kalinya pria itu beristighfar usai menyaksikan separuh dari masing masing video.
Menutup wajah dengan kedua tangan, dia menghela napas panjang kemudian mengeluarkannya secara perlahan.
"Ternyata apa yang di katakan Naraya semuanya benar"
"Bagaimana bisa kamu melakukan hal keji seperti itu Rania, apa ada seseorang yang membantumu?"
Perasaan bersalah pada menantu dan cucunya, serta rasa kecewa terhadap sang istri tiba-tiba berebut masuk memporak-porandakkan isi kepalanya.
"Jika Tama tahu semua perbuatan bunda, entah apa yang akan di lakukan oleh anak itu"
Bersambung
__ADS_1